
Kemudian Alex menyuruh pengemudi itu untuk melajukan mobilnya. Di dalam mobil mereka berempat hanya diam tanpa ada yang berbicara sepatah kata pun. Hanya si pengemudi yang sesekali berbicara menanyakan arah yang akan mereka tuju. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka pun sampai di apartemen milik Alex. Setelah sampai Syifa langsung turun dan bergegas menuju tempat tinggal nya menemui sang bunda. Sedangkan Alex ia berjalan perlahan di papah oleh Mika karena kondisinya yang masih belum pulih total. Saat mereka baru mau masuk, anggota mafia itu bergegas menghampiri Alex dan segera menyerahkan kunci mobil miliknya. Alex pun menerima kunci itu dan dia juga memberikan sedikit uang untuk nya. Namun dia menolak dengan suatu alasan. Tapi Alex terus memaksanya dan berkata, jika dirinya tidak mau maka gunakan untuk keperluan kelompok. Karena terus di paksa maka ia pun menerimanya dan segera pamit untuk kembali ke basecamp nya. Alex menanyakan dia kembali dengan siapa, mengingat basecamp nya yang cukup jauh dari tempat umum dan juga banyak supir taksi yang enggan untuk mengantarkan hingga ke depan area basecamp. Ia pun menjawab jika ada yang menjemputnya. Benar saja beberapa saat kemudian ada seseorang yang mengendarai sebuah motor dan membunyikan klakson tepat di depan mereka. Melihat rekannya datang orang itu pun segera memberitahu pada Alex dan ia langsung pamit pulang. Alex pun mengiyakan dan berpesan kepadanya supaya mereka hati-hati. Setelah mereka cukup jauh Alex langsung mengajak Mika untuk menuju ke apartemen keluarganya. Mika pun kembali membantu Alex berjalan ke dalam lift. Mereka menunggu lift terbuka dan saat sudah terbuka mereka langsung masuk ke dalam nya dan Mika segera memencet tombol lantai menuju ke arah apartemen milik keluarga Alex. Lift pun berjalan dan ke arah tujuan mereka. Setelah sampai di lantai yang tertuju Alex sangat terkejut dia melihat bunda dan Syifa sedang berdiri di sana menunggu dirinya sampai. Bunda pun langsung memeluk Alex dan meminta maaf kepadanya karena tidak memberitahukan perihal kejadian mobil itu pada Alex. Alex hanya tersenyum dan mengatakan tidak mengapa, justru dia lah yang harusnya meminta maaf pada bunda karena dia tidak bisa menjaga adik satu-satunya. Kemudian bunda mengambil alih tubuh Alex dan dia kini yang memapahnya. Mika berjalan mengikuti mereka sembari merangkul Syifa. Mereka kemudian masuk dan bunda langsung mendudukkan Alex di sofa serta tak lupa memberi bantal untuk mengganjal tubuh Alex. Setelah itu bunda membawakan semangkuk sup ayam untuk Alex makan. Namun Alex sedikit menolak dan beralasan dia sudah makan sangat banyak. Namun bunda tidak perduli dengan perkataan Alex, ia tetap menyuapi sup itu kepada anaknya. Mika pun menawarkan diri untuk menggantikan bunda menyuapi Alex. Namun bunda menjawab dengan sangat ketus, dia seperti bukan bunda yang Mika kenal. Bahkan bunda membentak Mika dan menyuruhnya untuk segera keluar dari apartemen nya. Dia juga berpesan pada Mika untuk tidak mendekati anaknya lagi. Karena ia tidak mau jika anaknya akan terluka demi menjaga Mika. Mendengar perkataan bunda yang menyakiti hatinya itu membuat matanya seketika berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika akan di perlakukan seperti ini oleh bunda, orang yang telah dia anggap seperti ibunya sendiri bahkan lebih dari itu. Mika kemudian bersimpuh di hadapan bunda dia memberi nya hormat dan menanyakan apa kesalahannya yang membuat dirinya di perlakukan seperti itu. "kamu itu harusnya sadar diri, kamu dan anak saya berbeda keyakinan. Anak saya ini seorang muslim yang taat dan dia juga pernah berguru pada seorang kiyai. Sementara kamu tidak beragama sama sekali, jadi sampai sini paham kan. Sekarang kamu pergi dan jangan sesekali kembali ke sini untuk menemui anak saya, kamu mengerti kan." kata bunda pada Mika. Akhirnya air mata Mika pun mengalir deras, dia tak kuasa menahan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu dan langsung meninggikan apartemen milik keluarga Alex. Namun Alex segera menahan langkah kakinya dan dia segera memeluk Mika. Namun seketika bunda melepaskan pelukannya dan langsung menampar Alex dengan sangat keras. Melihat Alex di tampar oleh ibunya membuat tangis Mika semakin keras. Ia beberapa kali mengelus pipi Alex yang memerah akibat tamparan dari bunda. Melihat itu bunda segera menjambak rambut Mika dan menariknya. Namun lagi-lagi Alex menahan dan dia kembali mendapat tamparan dari bunda nya. Kemudian Alex menyembunyikan Mika di belakang tubuhnya. "Alex kenapa kamu melindungi wanita seperti itu. Apa sih istimewanya dia, sehingga kamu sebegitu nya cinta pada wanita yang tidak jelas ini." kata bunda pada Alex. "sudah cukup bunda, walaupun dia bukan kriteria yang bunda sebutkan tapi dia juga punya perasaan, bunda tidak boleh seperti ini padanya." kata Alex mencoba menasehati bunda nya. "kamu jangan kurang ajar ya sama bunda. Oh apa gara-gara wanita ini kamu sekarang sudah berani melawan bunda." tanya bunda pada Alex. "sebenarnya aku tidak mau melawan bunda namun bunda sudah cukup keterlaluan kepada Mika. Bunda Alex mohon jangan karena wanita Alex menjadi durhaka pada bunda." pinta Alex pada bundanya. Namun bundanya tidak memperdulikan perkataan Alex. Dia berusaha menggapai tubuh Mika dan terus mengumpat kepadanya. Mendengar umpatan itu membuat Mika menangis histeris. Karena baginya baru kali ini dia di perlakukan tidak baik di keluarga ini. "Alex cepat kamu suruh dia keluar dari sini atau bunda akan berbuat lebih nekat dari ini." kata bunda mengancam Alex. Secara perlahan Alex pun membawa Mika keluar dari apartemennya. Ia kemudian merangkul Mika dan membawanya ke dalam mobil. Namun Mika menolak, dia lebih baik menaiki taksi dari pada harus bersama Alex. Karena dia sudah cukup sakit hati kepada bunda nya. Melihat Mika pergi menaiki taksi Alex pun segera mengejar taksi itu dengan mobilnya. Usahanya membuahkan hasil, Alex berhasil memepet taksi itu dan membuatnya terpaksa menghentikan laju mobilnya. Kemudian Alex turun dan menyuruh Mika untuk membukakan pintu nya. Tapi Mika tidak mau membukakan pintu taksinya dan menyuruh pengemudi untuk mengunci pintu itu. Alex pun terus membujuk Mika untuk keluar dan dia berjanji akan mengantarkannya hingga ke depan rumah. Tapi perkataan nya tidak di tanggapi oleh Mika, di dalam mobil, Mika terus menangis dan tidak mau melihat wajah Alex lagi. Kali ini hatinya benar-benar hancur dan dia tidak tahu lagi hendak kemana. Di rumahnya pasti tidak akan ada orang yang bisa menenangkan nya. Sepanjang hidupnya hanya Alex dan keluarganya lah yang bisa menjadi tempat curhat Mika.