
Setelah Leo masuk ke rumah maka seluruh anggota kosan pun segera merapikan tempat itu. Mereka merasa tidak enak pada Andri karena sepertinya ia tidak suka acara itu di lanjutkan. Ayah dan ibu gadis itu hanya bisa melihat tikar-tikar itu di lipat dan di bersihkan oleh semua anak kosan. Mereka tidak ada yang mengobrol dan bahkan berbicara pun tidak. Mereka semua diam karena masih takut dengan ketiga kakak kosannya itu, terlebih Alex dan Andri yang tadi sempat adu mulut. Suasana malam itu yang seharusnya bisa di nikmati malahan jadi kacau akibat keegoisan seseorang. Mereka tampak serius semua dan ingin segera selesai. Ibu dan ayah gadis itu yang melihatnya menjadi sedikit ngeri, lantas ia pun bertanya pada anaknya. "nak kok mereka jadi tegang gitu mukanya." tanya ibu gadis itu. "mereka segan Bu sama kakak kosan karena kejadian tadi. Lagian ibu sama ayah sih malah bilang gitu. Jadinya acaranya kacau kan." kata gadis itu dengan nada lembut. "ayah sama ibu juga gak tau kalau jadinya kaya gini. Setahu kami mereka kan baik gak gampang marah. Lha kok ternyata kalau marah kaya gitu ya." sahut ibu nya. Semua mata memandang mereka bertiga dengan tatapan sinis, semuanya seperti tidak menyukai tindakan konyol mereka. Mereka yang di tatap sedemikian rupa menjadi tidak nyaman mereka pun langsung pamit kembali ke hotel, sementara gadis itu buru-buru masuk ke kamarnya. Setelah sampai di kamar ia menyadari kelakuan orang tuanya serta merasa bersalah dan gak enak pada kakak kosannya itu. Ia sebetulnya ingin berterima kasih pada mereka untuk malam ini. Namun semuanya malah gagal di sebabkan oleh mulut kedua orang tuanya itu. Tak terasa air matanya mengalir di pipinya, ia menangis tanpa suara karena terus mengingat kejadian tadi. Ia tidak menyangka jika kakak kosannya akan semarah itu pada kedua orang tuanya. Ia juga tak mengira di balik sifat baik, ramah dan penolong dari kakak kosannya itu ada juga sifat jahat di baliknya. Namun ia juga menyadari jika manusia tidaklah sempurna. Tanpa sadar gadis itu pun terlelap, ia terbuai dalam mimpi malam itu, hingga ia mendengar adzan subuh berkumandang.
__ADS_1
Sementara Alex ia bersama gadis itu untuk menghadiri acara di kelasnya. Alex merasa canggung dengan mereka semua. Nampaknya semua teman gadis itu adalah orang elite semua karena bisa di lihat dari pakainya dan juga aksesoris yang mereka kenakan. Gadis itu lantas meminta Alex untuk mengikuti nya bertemu dengan teman-temannya. Namun Alex sedikit merasa janggal, karena hanya bertemu temannya saja kenapa harus sama Alex. "ini ada maksud terselubung pastinya." kata Alex pada gadis itu. "maksud kak Alex apa." tanya gadis itu pada Alex. "aku tau sekarang alir ceritanya. Jadi kamu ingin aku pura-pura jadi pacar kamu atau supir kamu bahkan. Supaya kamu terlihat elite kan. Dengerin ya, kalau kamu bisa tampil apa adanya maka itu lebih baik. Dari pada kamu harus tampil ada apanya." kata Alex menasehati. "Kakak itu mau nolong aku apa enggak sih. Kalau kakak gak mau nolong aku ya udah aku bisa sendiri kok." kata gadis itu kesal. "bukanya gitu aku jauh-jauh kesini ya buat nolongin kamu. Tapi kalau begini ya gimana masa iya aku jadi korbannya." kata Alex. "kakak itu gak tau perasaan aku kak. Aku selalu di bully sama mereka karena cuma aku yang gak punya pasangan. Bukannya gak ada cowok yang mau sama aku, tapi aku itu trauma kak karena dulu aku pernah hampir di bunuh sama pacar aku. Jadinya sampai sekarang aku masih belum bisa membuka hati buat siapa pun." jelas gadis itu sembari sedikit sesenggukan. "ohh gitu ya. Ya udah maafin kakak ya. Sekarang kamu ke tempat teman kamu dulu, nanti kakak akan atur rencana biar mereka sedikit kapok. OK." kata Alex pada gadis itu. Gadis itu pun menyanggupi saran dari Alex ia kemudian menghampiri teman-temannya. Seperti dugaan Alex mereka langsung menertawakan gadis itu karena ia tidak punya pasangan. Alex pun mendekati meja mereka untuk menguping alur obrolan mereka untuk membuat rencana yang matang. Benar saja mereka selalu memojokan gadis itu karena hanya dia lah yang tidak memiliki pasangan. Sebetulnya gadis itu biasa saja namun karena ia sering di perlakuan seperti itu maka ada rasa kesal di hatinya. Ia hanya menunduk melihat kelakuan semua temanya dengan pasangannya masing-masing.
__ADS_1
Tiba-tiba tanpa sepengetahuan dari Alex, ternyata managernya yang mengurusi perusahaan di jepang datang juga ke kafe itu. Karena ia melihat Alex sedang memakai jaket ojek dan ia juga sepertinya sedang di bully maka ia memutuskan untuk menghampiri Alex. "assalamualaikum bos gimana kabar anda." tanya orang itu. "waduh Aldi, kapan pulang dari Jepang." tanya Alex pada Aldi. "semalam bos saya mendarat di jakarta terus langsung kembali ke sini, ada urusan yang harus di urus di sini." jawab Aldi. "oh gitu terus gimana. Lancar atau ada kendala." tanya Alex pada Aldi. "sejauh ini aman bos cuma saya memutuskan untuk membatalkan kerja sama ini karena suatu hal." jelas Aldi. "kenapa bukanya kita harus menjalin kerjasama dengan perusahaan lokal di Indonesia supaya kita bisa bersaing di pasar asing." tanya Alex heran. "itulah masalahnya bos. Ternyata ini kerjasama untuk membangun sebuah hotel elite dan letaknya di pinggiran hutan. Jadi ada sebagian hutan yang akan di babat untuk menjalan kan proyek ini." jelas Aldi. "oh kalau itu sih harus di batalkan karena bisa berdampak buruk bagi kita juga. Hutan kan sumber oksigen kita jika mereka tidak ada maka kita hendak bernapas dengan apa. Iya kan." tegas Alex pada Aldi. "iya bos betul mangkanya saya bertekad untuk memutuskan kontrak kerja ini dengan perusahaan itu." kata Aldi dengan yakin. "eh ngomong-ngomong perusahaan gua yang di jepang gimana, lancar." tanya Alex pada aldi
__ADS_1