
Namun apa yang Alex katakan benar, mereka berdua lah yang menjalani hubungan itu, merekalah yang merasakan pahit, asam, manis kehidupan masing-masing. Jadi kesimpulannya orang lain hanyalah melihat dari satu sisi tidak melihat dari segala sisi. Sesaat setelah Alex selesai mengobati tangan Mika, pesanan yang tadi telah datang. Alex pun menerima pesanan itu dan dia meminta menu yang sama satu lagi. Pelayan itu pun kembali ke dapur untuk memberi tahukan kepada koki atas pesanan Alex. Setelah itu Alex menyuruh Khanza dan Mika untuk menyantap hidangan terlebih dahulu. Namun seperti biasa Mika enggan makan jika Alex tidak ikut makan. Mika pun menunggu pesanan Alex dengan memainkan ponselnya dan sesekali menunjukan sesuatu yang ada di ponsel miliknya itu. Sesekali mereka berdua tertawa karena melihat isi ponsel Mika, hal itu membuat Khanza merasa risih karena perilaku Mika tidak membuatnya nyaman. "heh mbak bisa gak sih ketawanya jangan keras-keras." hardik Khanza pada Mika. Kali ini Mika tidak mau menanggapi perkataan Khanza, dia sudah sangat benci sama dia saat pertama kali melihat dia dan Alex sedang berduaan. Mika hanya diam menanggapi perkataan Khanza. Ia tidak mau membayar keributan lagi, karena sudah capek berurusan dengan Alex tadi. "ya udah kamu makan duluan." kata Alex mengalihkan suasana. Mika pun segera mengambil makanan itu dengan sumpit kemudian dia langsung menyuapkan kepada Alex. Alex langsung membuka mulutnya saat Mika menyiapkan makanan itu kepadanya. Setelah itu mereka berdua saling lempar senyum satu sama lain sampai Khanza merasa dia tidak di anggap di antara mereka. Namun Alex yang mengetahui suasana langsung mencoba mencairkan nya. Dia tak ingin ada yang di cuekin di antara mereka. "khanza-chan, selain kamu mengajar di pesantren apa kesibukanmu." tanya Alex sok akrab dengan Khanza. "enggak ada cuma itu aja, palingan ya ketemu sama orang yang mau ta'arufan sama aku doang." sahut khanza. "lha emang banyak ya yang mau ta'arufan sama kamu." tanya Alex basa-basi. "banyak sih cuma gak ada yang cocok sama aku. Sekali ada yang cocok eh ternyata sudah ada yang punya." ujar Khanza. "tuh Mika dengerin, dia mau cari pasangan aja susah, sekali nya ada yang cocok sama dia, eh malah udah ada yang punya. Mangkanya kamu kalau sudah punya jangan minta putus terus." ujar Alex pada Mika. Sebenarnya Alex tau dia lah orang yang di maksud oleh Khanza. Namun Alex berusaha untuk tenang saat dia di sindir seperti itu, walaupun ia sangat tidak suka dengan perkataan Khanza yang takutnya membuat Mika cemburu lagi.
__ADS_1
Saat sedang asyik ngobrol pesanan mereka Alex pun datang ke hadapannya. Pelayan itu menyajikan dengan penuh rasa hormat kepada tamunya. Setelah itu Alex menyantap makanan itu, tak lupa dia menyeruput sedikit kuah nya yang menandakan dia puas dengan pelayanan restoran itu. Saat sedang asyik menikmati hidangan umi Khanza datang setelah menyelesaikan belanjanya. Ia kemudian menghampiri mereka bertiga, namun ia heran saat melihat ada seorang gadis yang berada di sisi Alex. "udah belanjanya umi." tanya Alex pada umi Khanza. "sudah kok, maaf ini siapa ya nak." tanya umi kepada Alex. "oh ya umi ini pacar aku, kenalin namanya Mika." kata Alex mengenalkan Mika pada umi Khanza. Lalu umi memandanginya dengan cermat setiap inci dari penampilan Mika. "hal anta muta'akidu minha." tanya umi yang kurang lebih artinya. "apakah kamu yakin dengan dia." "na'am anna wastikun minha jiddan.'' sahut Alex yang artinya.'' iya aku sangat yakin kepadanya.'' ''tazawajatuha lays lijamaliha,
__ADS_1
wamae dhalika, hunak hadaf wahid lam 'atamakan min tahqiqih hataa al'an.'' kata Alex melanjutkan. Yang kurang lebih artinya," aku ingin menikahinya bukan karena kecantikannya tapi karena sebuah tujuan yang belum aku wujudkan hingga sekarang.". Umi hanya mengangguk mendengar perkataan Alex, ia seperti sudah paham apa yang akan Alex lakukan Jika menikahi gadis itu. Oleh sebab itu lah dia sangat berharap jika putrinya mau melupakan Alex untuk kepentingan agama. "umi mau makan, tinggal pesan saja." tawar Alex. "tidak usah, umi sudah makan tadi." sahut umi, setelah itu umi mengeluarkan ponselnya dan sibuk dengan ponsel itu hingga mereka selesai makan.
__ADS_1
...****************...
__ADS_1
Setelah Andri menyelesaikan makanya dia langsung menuju ke kasur yang ada di sisi rumah keluarga mereka. Andri langsung berbaring di atasnya, kemudian dia tertidur pulas karena kecapean. Mila yang sudah lama kangen dengan abangnya itu langsung berusaha menjahili Andri yang sedang tertidur. Dia melakukan beberapa hal yang membuat Andri sedikit terganggu. Namun bukanya marah Andri justru menarik tangan Mila dan kemudian memeluknya erat-erat. Mila pun memberontak karena dirinya susah bernafas. Kemudian Andri melepaskan pelukannya dan langsung kembali melanjutkan tidurnya. Sampai akhirnya ibunya datang untuk membangunkannya. "nak bangun nak shalat Dzuhur dulu." kata ibu Andri membangunkannya. Andri pun segera bangun dan langsung ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya dan juga bersuci. setelah itu dia pergi ke sebuah masjid di kota Moskow Rusia, masjid itu sudah cukup ramai dan juga megah, orang yang berjamaah di sana juga sudah banyak sehingga membuat Andri tersenyum dan tak lupa mensyukuri nikmat dari Tuhannya. Ia kemudian berjalan masuk ke dalam dan langsung duduk di salah satu saff masjid. Saat sedang asyik berzikir tiba-tiba Andri di datangi oleh seseorang yang ada tato di sekujur tubuhnya. Orang itu kemudian menyalami tangan Andri dan mengucapkan salam kepadanya. "assalamualaikum tuan Andri." ujar orang itu." waalaikum salam. Wah kamu pankrati. Apa kabar." tanya Andri. "kabar saya baik, anda apa kabar." tanya pankrati kepada Andri. " saya juga baik, sekarang pekerjaan kamu apa pankrati." ujar Andri
__ADS_1