
"tapi sepertinya bukan di kota ini deh kiyai, anda membuat replika ya di kota lain dan mana pesantren yang asli." tanya Alex masih ngotot. "sudah lah sekarang kita ke rumah saya dulu akan saya ceritakan semuanya kepadamu sembari kita menyeruput kopi kesukaan mu." ujar kiyai Halim. Mereka berdua kembali berjalan dan kemudian sampailah mereka di sebuah rumah. Rumah itu sangat tidak asing di mata Alex. Dia hafal betul rumah itu, ya memang itu rumah kediaman kiyai Halim. Sesaat kemudian Alex mencuci muka nya di sebuah keran yang ada di dekat rumah kiyai Halim. Setelah mencuci muka dia kembali melihat ke arah pesantren. Kali ini dia baru sadar jika itu lah pesantren yang di dirikan bersama kiyai Halim beberapa waktu silam. Setelah itu mereka berdua masuk ke rumah kiyai Halim. Beliau langsung menyuruh istrinya membuatkan kopi untuk tamu mereka. Kiyai Halim kemudian mempersilahkan Alex untuk duduk di atas sebuah karpet. Setelah itu mereka sedikit berbincang mengenai pesantren itu. Saat sedang asyik berbincang datanglah istri dari kiyai Halim yang membawa dua cangkir berisi kopi dan juga sekaleng camilan ringan. Kemudian istri kiyai Halim pun langsung kembali ke dalam lagi. Beberapa saat kemudian beliau kembali keluar dan memperhatikan tamunya itu. Dia seperti agak mengenali tamu suaminya itu. Bu nyai memperhatikan setiap detail dari tubuh Alex sampai akhirnya dia sadar kalau itu adalah Alex.
__ADS_1
"lho Abah ini Alex kan yang dulu di pesantren ini." tanya Bu nyai pada suaminya. "iya itu Alex, lebih tepatnya kiyai Alex. Beliau dulu yang membangun pesantren ini bersama Abah. Dan beliau juga pernah menetap di sini. Rumah beliau yang sekarang di buat ruang tamu itu lho umi." sahut Kiyai Halim. "Oalah. Bagaimana kamar kamu nak sehat." tanya Bu nyai pada Alex. "Alhamdulillah umi saya sehat. Umi bagaimana kabarnya." ujar Alex. "Alhamdulillah umi juga sehat. Ngomong-ngomong ada acara apa nak Alex ke sini lagi. Atau nak Alex mau kembali lagi mengabdi di pesantren ini." tanya Bu nyai. "tidak kok umi. Aku di panggil oleh ayah untuk ke sini katanya mau membahas soal bisnis, jadinya mau tidak mau aku ke sini deh. Kebetulan baru saja main dan gak sadar mampir ke sini tadi." jawab Alex. "iya umi, tadi dia seperti orang kebingungan karena semua santri mencium tangannya. Mungkin sudah sedikit lupa dengan pesantren ini." ujar kiyai Halim pada istrinya. "bukan sedikit lagi tapi udah beneran lupa." sahut Alex. "ya jangan gitu dong kan ini juga pesantren kamu yang mendirikan, coba kalau tidak ada kamu entah nasib penduduk di jepang ini." ujar Bu nyai. "iya umi Alhamdulillah sekarang aku sudah ingat kok." sahut Alex sembari cengengesan. "ya sudah umi masuk duluan ya, silahkan kalian melanjutkan berbincang nya. Jangan lupa kopinya di seruput juga camilan nya juga di makan." kata Bu nyai sembari bangkit dan langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Saat sedang asyik berbincang dengan sangat serius tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kiyai Halim. Perbincangan mereka pun terhenti sejenak dan kiyai Halim langsung berdiri menyambut orang itu. Dia mempersilahkan duduk kepada tamunya itu dan segera menyuruh istrinya untuk membuatkan minum.
__ADS_1