Misteri Teror Arwah Mika

Misteri Teror Arwah Mika
Mulai meneror


__ADS_3

"ya udah situ ngambek aja gpp kok." jawab Alex santai. "ihh kok gitu, kamu gak sayang lagi ya sama aku." kata Mika. "ya sayang, tapi kalau ngambek kan itu urusan kamu jadinya aku gak bisa maksa, kalau mau ngambek ya silahkan aja." kata Alex pada Mika. "ya udah deh kalau gitu, tapi besok kamu harus jemput aku ya sekalian antar ke kampus." kata Mika pada Alex. "iya besok jemput jam berapa." tanya Alex. "jam 07:00 aja nanti aku tunggu di depan rumah. Oh iya besok kamu sarapan di rumah aku ya. Pokoknya aku deh yang masakin buat kamu." kata Mika merayu Alex. "iya, ya sudah sekarang kamu tidur ya sudah malam soalnya." kata Alex. "ya siap, konbawa gozaimasu. Oi." kata Mika kemudian ia menutup teleponnya. Kemudian Alex melanjutkan makan nya yang masih tersisa. Setelah itu ia ke dapur untuk mencuci piring dan segera duduk bersama keluarganya. "kak aku kok heran ya." kata Syifa pada Alex. "heran kenapa, yang ada Kakak yang heran sama kamu." ujar Alex pada Mika. "lha kakak ngeheranin aku kenapa." tanya Syifa seolah tidak tahu permasalahanya. "kakak heran kenapa kamu selalu gangguin kakak sama Mika setiap kakak ke sini." kata Alex pada Syifa. "itu kan aku gak niat ngeganggu kakak. Tapi ya emang hobi aku kaya gitu." sahut Syifa. "yeh malah di jadiin hobi. Hobi itu yang bermanfaat lho. Gangguin orang kok hobi." ujar Alex pada Syifa. "lho itu ada manfaatnya kak, kakak aja yang enggak tau manfaatnya apa." sahut Syifa. "emang apaan manfaatnya." tanya bunda yang sedari tadi menyimak obrolan kedua anaknya. "ya biar aku bisa ketawa kan happy jadinya." kata Syifa sembari tertawa terbahak-bahak. "yeh kamu yang seneng kakak yang gerem." ujar Alex sembari mendorong pelan Syifa. "sudah-sudah kalian berdua ini ya dari dulu kalau ketemu pasti berantam. Coba sekali aja akur gitu kan enak lihatnya." kata ayah menyela mereka. "lho dari pada diem-dieman ntar di katain bukan kakak adek lagi." sahut Alex. Mendengar itu ayah dan bunda hanya bisa menggelengkan kepala. "udah lah Alex mau tidur duluan." kata Alex di barengi dengan menguap dan langsung berjalan menuju ke kamarnya. Sementara itu ayah, bunda dan adiknya masih asyik menonton televisi. Alex pun langsung tertidur saat ia baru saja menyentuh kasur. Ia nampak sangat capek hari itu. Hari di mana dia baru datang dan di beri banyak kejadian sekaligus. Ia pun tertidur dengan lelap hingga tak sadar ada yang sepasang mata yang mengawasinya dari balik jendela. Sorotan mata itu tampak tajam mengisyaratkan ia sangat dendam pada Alex. Namun entah siapa dia dan apa tujuannya sehingga ia menatap Alex dengan tatapan yang begitu sinis dan penuh dengan kebencian.

__ADS_1


...****************...

__ADS_1


Sementara itu Liana tidak bisa tidur karena selalu kepikiran dengan Alex. Ia sudah berusaha membolak-balik kan badanya agar cepat tidur namun sayang semua itu sia-sia. "ya ampun kenapa sih aku kepikiran orang yang nyebelin itu terus." kata Liana yang teramat stres dengan perilaku Alex. Kemudian Liana langsung bangkit dari tempat tidur untuk berwudhu supaya pikirannya bisa sedikit tenang. Namun ia justru harus menghadapi hal lain. Saat ia hendak menuju ke tempat wudhu ia melihat sekelebat bayangan berwarna hitam yang melintas di dekat pintu dapur. Karena penasaran ia pun memberanikan diri untuk mengecek ke dapur takut ada sesuatu yang mencurigakan. Namun saat lampu dapur di nyalakan ia tidak melihat sesuatu pun di sana. Ia lalu kembali berjalan menuju tempat wudhu dan ingin segera cepat ke kamarnya. Setelah berwudhu ia langsung menuju ke kamarnya, tapi ia melihat ada seseorang yang sedang duduk di meja makan. Liana pun mengamati orang itu takut ia salah melihat lagi. Namun kali ini ia merasa yakin dengan apa yang di lihatnya. Ia pun mendekati sosok itu sembari memanggil bunda, karena ia kira itu adalah bundanya. Namun saat sudah dekat dengan sosok itu ia merasa ada hawa yang aneh menjalar di sekitar tubuhnya. Ia merasa merinding tidak karuan badanya panas dingin dan ia merasa sedikit takut pada sosok itu. Namun dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya ia pun mencoba menepuk bahu sosok itu. Namun sosok itu masih bungkam dan tidak menoleh sama sekali. Ketika ia menepuk ketiga kalinya sosok itu pun menoleh dan menampakan wajahnya yang hancur dan hitam seperti gosong. Ia mengeluarkan darah dari matanya, mulutnya tidak berhenti mengucapkan "tolong aku Liana.". Melihat hal itu Liana langsung membungkam mulutnya. Ia berteriak sejadi-jadinya berharap ada anggota keluarganya yang bisa menolongnya. Tiba-tiba sosok itu bangkit dan menatap Liana dengan tatapan amarah, kemudian ia langsung berjalan ke arah Liana dan langsung mencekik leher Liana. Liana pun berusaha untuk melepas cekikan dari sosok itu. Hingga akhirnya ia berhasil melepaskannya namun karena terlalu menghempaskan cekikan itu ia pun terpental dan menabrak meja makan. Karena benturan itu Liana pun terbangun dari tidurnya. "untung lah ini cuma mimpi kalau beneran gimana ya." kata Liana sambil menenangkan diri. Setelah itu Liana kembali melanjutkan tidurnya, tak lupa ia membaca doa supaya tidak ada gangguan lagi dan tidurnya kembali nyenyak. Namun ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Mata itu mengisyaratkan ingin meminta tolong pada Liana namun ia ragu karena takut Liana takut kepadanya.

__ADS_1


...****************...

__ADS_1


Pagi pun tiba Liana langsung terbangun saat adzan subuh berkumandang. Ia sampai tidak jualan karena semalam susah sekali tidur. Namun untung saja sebelum tidur ia sempat menanak nasi di warung kecilnya. Setelah itu ia langsung menuju ke kamar mandi guna menuntaskan hajatnya dan kemudian berwudhu untuk shalat. Setelah shalat ia langsung menuju ke warung dan langsung memasak lauk dan sayuran guna ia jualan. Sebenarnya ia tidak yakin akan berjualan pagi itu namun karena ia ingin melupakan mimpinya maka ia memutuskan untuk berjualan. Ia pun segera meracik bumbu yang telah ia kupas semalam dan juga mengaduk tepung untuk membuat gorengan setelah itu ia langsung memasak semua itu dengan cepat. Tepat setelah selesai menggoreng ada seorang pembeli datang dan langsung membeli beberapa gorengan serta sayurnya. Setelah melayani pembeli itu Liana langsung duduk menunggu gorengannya matang sembari memainkan ponselnya. Ia tak menyangka jika ada beberapa notifikasi di ponselnya yang belum dia baca. Ia pun membaca notifikasi itu yang berasal dari temanya yang mengabarkan jika dia salah seorang dari mereka ada yang di teror oleh arwah Mika.

__ADS_1


__ADS_2