
Saat di kamar Liana mencoba untuk menelfon Alex. Kali ini panggilannya berhasil masuk, namun sayang teleponnya tidak di angkat oleh Alex, Liana pun positif tinking jika mungkin Alex sedang ada urusan di sana. Namun pikirannya masih di lema oleh masalahnya dengan Alex. Liana sangat tidak tenang jika ia mempunyai kesalahan dengan orang lain. Namun ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi hal ini, ia begitu bingung karena ia sangat kesulitan untuk sekedar bertemu dengannya. Namun dalam dirinya ada tekat kuat untuk berusaha menemui pria bernama Alex itu. Ia kemudian membuka aplikasi hijau miliknya dan tumben kali ini masih kosong, tidak seperti biasanya yang amat banyak sekali pesan masuk ke ponselnya. Karena di rasa tidak ada kerjaan maka Liana langsung keluar kamar menemui adiknya. Ia segera mengerjai adiknya yang masih terbilang kecil itu. Ia dan adiknya sering bergurau sembari menikmati senja hari. Setelah capek bergurau dengan adiknya Liana pun keluar rumah ingin melihat para petani di desanya pulang kerja. Mereka semua menyapa Liana saat kebetulan melewati depan rumah Liana. Walaupun rumah itu di pagar tinggi namun semua orang masih bisa melihat seisi area rumah itu. Liana pun membalas sapaan warga desa itu saat ia hendak duduk di kursi taman rumahnya. Ia menikmati sore yang indah itu dengan bersantai dan juga menghilangkan pikiran yang mengganggunya saat ini. Sebenarnya ia ingin sekali mengajak teman-temannya untuk bersantai di taman rumahnya itu, namun ia tidak enak hati karena selama ini ia belum pernah bermain di rumah salah seorang dari mereka sekalipun. Namun sudahlah nikmati saja sore yang cerah itu sembari membalas sapaan dari warga yang melewati depan rumahnya. Dalam hati Liana ada sedikit rasa iba pada warga di desa tempat ia tinggal. Mereka terpaksa menjual semua lahan sawahnya pada saat musim paceklik 2 tahun silam. Mereka juga menjual dalam harga yang cukup rendah karena faktor ekonomi yang mendesaknya, juga karena juragan tanah itu sangat licik sehingga menawar harga dengan sangat rendah serta mengancam mereka. Kemudian juragan itu menyuruh mereka menggarap sawahnya dengan gaji yang cukup kecil dan juga tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Karena terpaksa sebagian di antara mereka ada yang berhutang pada juragan licik itu. Tentunya tidak mudah bunga yang perlu mereka bayar juga besar sehingga mereka begitu menderita di saat musim paceklik tiba. Namun suatu hari ada seorang pria yang datang ke desa itu membeli semua sawah dari juragan itu. Namun dengan sangat licik juragan itu menawarkan dengan harga yang cukup tinggi pada pria itu. Pria itu pun menolak karena harga terlalu tinggi, itu sangat tidak sesuai dengan harga belinya, lagi pula ia baru membeli sawah itu baru beberapa bulan saja. Juragan itu pun menolak karena ia tidak mau merugi. "jika anda tidak punya uang maka jangan sok-soan mau membeli sawah, apa lagi seluruh sawah katanya." ujar juragan pada pria itu. "bukanya saya tidak punya uang, jangan kan sawah harga diri anda juga bisa saja saya beli. Tapi buat apa hanya membuang uang saja. Jadi gimana harga awal 18 juta per petak di sebelah Utara sementara di selatan harga awal 25 juta per petak sekarang saya akan membayar 20 juta sawah bagian Utara dan 28 juta sawah bagian selatan. Bagaimana setuju tidak." tanya pria itu. Bukanya menjawab juragan itu justru tertawa mendengar penuturan dari pria itu. "dengan harga segitu kamu mau membayar sawah seluas ini. Sudahlah mending kamu pulang saja dari pada kamu bakal malu di hadapan seluruh warga desa ini." kata juragan itu dengan angkuhnya. "justru anda yang akan saya buat malu di sini. Sekarang anda harus menyetujui harga yang saya tawarkan itu. Jika tidak maka saya akan buat anda menyesal." ancam pria itu. "bedebah beraninya kau orang asing mengancam aku." kata juragan itu dengan sangat marah. "sangat berani jangan kan mengancam menjebloskan anda ke penjara juga berani karena saya memiliki bukti untuk kejahatan anda selama ini. Anda jangan macam-macam dengan saya. Sekarang serahkan semua sertifikat sawah di desa ini kemudian terima uang pembayaran dari saya atau saya akan membuat anda menyesal di kemudian hari." ancam pria itu. Juragan itu pun hanya tersenyum karena ia merasa jika dia lah yang paling kaya di situ dan semua orang tidak lebih dari bawahannya. Kemudian pria itu langsung menyuruh istrinya untuk pulang dari tempat itu, karena ia tidak mau istrinya menjadi sasaran dari mulut bejat juragan serakah itu. "siap-siap anda akan di panggil oleh polisi di beberapa hari lagi." ancam pria itu sembari membukakan pintu untuk istrinya.
__ADS_1
Mendengar perkataannya juragan serakah itu pun segera menyuruh kedua asistennya untuk segera menyerang pria itu. Namun sebelum menyentuh pria itu kedua asisten juragan serakah langsung terjatuh karena menabrak pintu mobil belakang milik pria itu. Pintu itu sengaja di buka oleh seseorang yang ada di dalam nya. Mereka tidak mengira akan mengalami kejadian itu, sehingga mereka tidak bisa mengelak lagi. Setelah itu turunlah seorang anak muda memakai Hoodie hitam dan menggunakan topi. Setelah menutup mobilnya ia langsung menghampiri kedua preman asisten juragan itu dan menarik bajunya seketika. "kalau kalian berani sama orang jangan main belakang, jadi laki-laki itu yang sempurna jangan setengah-setengah." kata anak itu sembari menghempaskan kedua preman itu. "ayah segera menjauh biar aku saja yang menghadapi dua cecunguk ini." kata anak itu pada ayahnya. "baiklah nak tapi kamu hati-hati, ayah juga berharap semua sawah di desa ini kita yang menguasainya." kata pria itu pada anaknya.
__ADS_1
Tanpa menjawab dan hanya mengangguk pria itu langsung menghampiri juragan itu tanpa ada rasa takut sedikitpun. Melihat anak itu mendekat juragan itu langsung menghunuskan golok miliknya dan bersiap untuk menyerang pria itu jika ia sudah berada di dekatnya. Kedua preman asisten juragan itu pun segera bangkit dan langsung berlari mengejar anak muda itu, berniat untuk menyerang dari belakang. Tapi sayang anak muda itu cukup cerdik, ia langsung menangkis serangan kedua preman itu dan langsung menghajarnya hingga keduanya terjatuh untuk kedua kalinya. Kemudian anak muda itu segera menginjak leher dengan keras salah seorang preman itu dan memukul dengan siku nya preman yang kedua. Karena terkena pukulan itu membuatnya langsung pingsan seketika. Melihat temanya terkapar preman yang lehernya di injak langsung meminta ampun pada anak muda itu dan supaya lehernya tidak di injak lagi oleh nya. Karena kasihan anak muda itu pun langsung mengendurkan sedikit injakannya pada preman itu. Namun secara tiba-tiba ia kembali menginjaknya kali ini dengan sedikit lebih kencang dan ia langsung mengancam juragan itu dengan ancaman yang membuat darah juragan itu mendidih.
__ADS_1