
Melihat kedua anak buahnya di pecundangi oleh seorang bocah ingusan maka juragan itu langsung menghunuskan parangnya. Juragan itu seketika langsung berlari ke arah bocah itu dan tanpa rasa gemetar sedikitpun bocah itu juga berlari ke arah juragan serakah. Dengan sekuat tenaga juragan itu langsung menyabetkan parangnya ke arah bocah tadi namun dengan sigap ia langsung menghindarinya. Juragan itu pun seperti di permainkan nya sehingga membuat dirinya sangat marah. Ia pun dengan brutal menyerang bocah tadi sehingga ia terpojok. Melihat kesempatan bagus ia pun langsung menyerang tepat di atas kepalanya. Tapi bocah itu tidak kalah cerdik ia segera menghindari serangan itu dan balik menyerang juragan serakah. Bocah itu memukul sang juragan tepat di dadanya sehingga ia sedikit tersungkur. Kemudian ia menaiki pundak juragan itu dan langsung memukulinya dengan brutal. Kemudian ia menggelantung di badan juragan itu sehingga juragan itu hampir terjatuh. Namun dia segera menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tidak mandi lumpur. Namun secara tiba-tiba bocah itu pun langsung menggerakkan badannya dan membuat juragan itu tersungkur ke lumpur sawah itu. Juragan yang perkasa itu mengerang kesakitan sesaat setelah di banting oleh bocah tadi. Ia tak menyangka jika bocah yang di anggapnya sepele akan mempermalukannya. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya yang tengah tertawa melihat sang juragan durjana itu di kalahkan oleh seorang bocah. Ia sangat marah dan segera melemparkan beberapa lumpur ke arah bocah itu secara membabi-buta. Namun semua lemparannya tidak mengenai bocah itu karena dia sangat lihai untuk menghindari lumpur itu.
__ADS_1
Setelah merasa lemparannya tidak berarti, juragan itu pun kelelahan dan berhenti sejenak. Ia terduduk di lumpur sawah dengan perasaan amarah dan dendam pada bocah itu serta semua keluarganya. Namun ia lebih marah saat melihat semua anak buahnya hanya menonton dirinya saat di permalukan oleh bocah itu. "sudah lah tuan terimalah semua yang di tawarkan oleh ayah saya setelah itu cepatlah anda angkat kaki dari desa ini." kata bocah itu memperlihatkan sang juragan. "kamu siapa bocah, kamu tidak pantas untuk mengatur saya. Kamu cuma anak kemarin sore gak ada hak untuk ngatur saya ngerti." kata juragan itu membentak kesal. "santai saja tuan, anda tidak usah membentak saya. Telinga saya masih berfungsi dengan baik. Seharusnya saya yang membentak anda karena, kuping anda kemasukan lumpur semua." ujar bocah itu meledek sang juragan. Seketika juragan itu pun sangat marah dengan perkataan bocah tengil itu. Ia pun lantas bangkit dan langsung berjalan mendekatinya. Bocah itu hanya mundur beberapa langkah supaya ada ruang cukup untuknya bertarung. Tapi tanpa ia duga semua anak buah juragan itu langsung menyerang nya secara tiba-tiba. Ayah dari bocah itu pun segera berteriak untuk memberitahu sang anak jika ia sedang di kepung. Namun dengan santainya bocah itu malah duduk menunggu mereka semua mendekat. Saat jarak mereka tinggal beberapa meter bocah itu pun langsung bangkit dan segera merayap di badan juragan. Ia kemudian melakukan gerakan yang membuat sang juragan terpental menabrak semua anak buah nya. Seluruh warga pun bersorak saat melihat juragan itu terjatuh tak berdaya. Kemudian bocah itu menyuruh semua warga untuk melempari mereka semua dengan lumpur sawah.
__ADS_1
Para warga yang sudah geram pun berantusias untuk melempari mereka dengan lumpur sawah, membuat mereka semua menggeliat tak tentu arah. Mereka semua di teriaki dan terus di lempari dengan rumput oleh warga. Karena merasa tak berdaya sang juragan pun segera berteriak meminta maaf pada semua warga serta menyetujui semua sawahnya di jual kepada pria itu. Setelah mendengar perkataan juragan itu maka bocah tadi menyuruh semua warga untuk menghentikan perbuatan mereka setelah itu pria tadi menyuruh semua warga untuk mengambilkan air dan menyiramkan kepada mereka. Namun juragan itu menolak ia akan membersihkan badannya sendiri di sungai dekat sawah itu. Setelah ia membersihkan diri maka ia dan anak buahnya segera menghadap pria itu dan membicarakan tentang harga semua sawah tersebut. Setelah di sepakati maka ia menjual semua sawah dengan harga yang telah di tentukan dengan syarat semua sawah itu harus sudah kosong karena pria itu hanya ingin membeli semua sawah kosong bukan yang ada tanamannya. Setelah itu sang pria langsung memberi sekoper uang untuk membayar sawah yang kosong sementara yang masih berisi tanaman ia tangguhkan dulu sehingga sawahnya panen. Karena urusan mereka sudah beres maka mereka berpamitan pada semua warga dan juga juragan itu untuk kembali ke kota. Namun sebelum ia pergi, pria itu memberitahukan jika di desa sebelah sedang ada yang menjual sawahnya jika ia berminat maka dia boleh mengambil nya jika tidak maka pria itu yang akan mengambilnya sendiri. Kemudian pria itu langsung pergi menggunakan mobilnya menjauhi desa itu.
__ADS_1
"Liana sebentar lagi magrib, buruan masuk." kata ibu Liana sehingga membuyarkan lamunan Liana. Mendengar panggilan ibunya Liana pun langsung bangkit dan segera masuk ke rumah. Liana bergegas ke kamar mandi dan langsung menuntaskan keperluannya setelah itu ia segera berwudhu dan langsung melaksanakan shalat menghadap sang ilahi. Setelah itu ia dan keluarganya langsung menuju ke ruang makan dan makan malam bersama. Keluarga ini sangat lah harmonis dimana semua anggota keluarganya saling mengasihi satu sama lain. Mereka jarang sekali bertengkar karena menanamkan kepercayaan pada satu sama lain. Mereka makan dengan lahap hidangan yang telah di siapkan oleh ibu mereka. Mereka makan sembari sesekali berbincang tentang kehidupan mereka masing-masing. Sang ibu mengeluhkan tentang costumer yang enggan membayar produk yang telah ia kirim sehingga ia sedikit rugi dengan hal itu. Sementara Liana membahas tentang sekolahnya dan sedikit memberi tahu tentang seorang pria yang membuat harinya sedikit berbeda. Sementara sang ayah memberitahukan jika beberapa hari lagi akan ada seorang yang datang ke rumah mereka. Liana pun bertanya apa urusan orang itu menghampiri rumahnya. Ayahnya menjawab secara jujur kalau saat ini perusahaannya sedang terancam bangkrut karena kemarin di tipu oleh klien dalam pembangunan hotel yang ternyata dia adalah penipu. Mendengar semua itu ibu Liana langsung naik pitam dan menggebrak meja. "kenapa sih ayah gak bilang sama ibu kalau sedang bangkrut, ibu kan bisa bantu, pantesan ayah ngunciin diri beberapa hari ini. Ibu ayah anggap apa sih kok gak mau cerita." kata ibu pada ayah Liana. Liana dan adiknya sedikit takut, karena mereka baru kali ini melihat ibu semarah itu pada ayah. "udah dulu Bu nanti ayah jelasin. Sekarang kita makan dulu kasihan anak-anak yang ketakutan ngelihat kamu marah. Udah ya nanti ayah jelasin." kata ayah Liana menenangkan istrinya. Ibu Liana pun kembali duduk dan langsung menyantap makanan yang tersisa di piringnya.
__ADS_1