Misteri Teror Arwah Mika

Misteri Teror Arwah Mika
Mengagumi pria itu


__ADS_3

Siang itu Liana pulang dalam keadaan lesu di temani oleh beberapa temannya. Ia tampak gusar karena memikirkan kejadian yang baru saja ia alami. Namun di sisi lain dia sangat beruntung bisa selamat dari kejadian itu. Namun ia tak menyangka jika yang menyelamatkannya adalah kakak dari orang yang sangat ia kagumi. Di antara mereka berdua ada perbedaan yang cukup menonjol dimana sang kakak lebih ramah dari pada sang adik yang begitu cuek. Namun entah mengapa jika hatinya selalu tertuju pada adiknya yaitu orang yang semalam di tabrak oleh ibu nya. Liana begitu resah jika memikirkan dia, entah karena ia sudah jatuh cinta dengan pria itu atau rasa bersalahlah yang membuat ia selalu terbayang wajahnya. Untung saja saat ia pulang ibunya tidak ada di rumah, sepertinya sedang mengirim paket orderan miliknya. Sebelum temannya pulang Liana menyuruh mereka untuk duduk terlebih dahulu untuk sekedar menemaninya. "kalian tunggu di sini dulu ya." kata Liana pada temannya, mereka semua pun mengangguk tanda mereka mau. Setelah itu Liana membuatkan minum untuk mereka sebagai tanda terimakasih karena sudah mengantarkannya pulang. "ini minumnya di minum dulu ya." kata Liana pada temannya. "eh kak, cowok yang tadi kok cuek banget ya, yang kakinya pincang itu." kata Laila. "gak tau tuh dari kemaren aku ketemu dia kaya gitu orangnya." kata Liana kesal. "ngomong-ngomong kakak suka ya sama cowok itu." tanya marla pada Liana. "mana ada kakak suka sama dia tau namanya juga enggak. Lagian juga dia orangnya gak jelas juga. Kalau aku deketin pasti ngejauh, udah kaya layangan tau gak." ujar Liana. "kalau kaya gitu mendingan kakak gak terlalu berharap deh sama dia. Karena sejatinya cewek itu yang harus di perjuangin oleh cowok, bukan cowok yang di perjuangin cewek." kata Dian pada Liana. "lagian siapa yang merjuangin dia, ngaco bgt." kata Liana kesal. Saat sedang asyik membahas pria itu tiba-tiba ibu Liana masuk dengan membawa beberapa barang. Melihat ibunya seperti kesusahan maka Liana langsung bangkit dan membantu ibunya. "lho nak udah pulang ternyata." kata ibu Liana pada anaknya. "iya buk aku udah pulang." sahut Liana sembari meletakan barang yang di beli ibunya. "Hay Tante apa kabar." sapa Laila pada ibu Liana. "baik kalian juga datang ke sini." kata ibu Liana. Mereka semua lantas mencium tangan ibu Liana sebagai tanda hormat padanya. Kemudian ibu Liana duduk di sofa bersama mereka dan sedikit berbincang, sementara Liana mengambilkan air minum untuk ibunya. "ini buk minumnya." kata Liana sembari menyuguhkan segelas air.

__ADS_1


"nak tau gak tadi ibu lewat di dekat proyek pembangunan hotel itu. Waktu itu ibu melihat cowok semalam lagi mangkal di sana." kata ibu Liana. "mangkal gimana buk." tanya Liana pada ibunya dengan keheranan. "dia jadi tukang ojek." sahut ibu Liana. "masa sih buk tadi aja aku ketemu kok sama dia. Masa iya cowok seganteng itu jadi tukang ojek. Mana motornya keren lagi. Ibu ini salah liat kali." timpal Liana. "apa tadi kamu bilang, ganteng, cie kamu suka ya sama dia." ledek ibunya pada Liana. "ih ibu apaan sih, malu tau aku ibu bilang kaya gitu di depan teman-teman aku." kata Liana kesal. "iya deh ibu minta maaf. Tapi beneran lho ibu liat dia di pangkalan ojek. Nih kalau kamu gak percaya." kata ibunya sembari memberikan foto pria itu saat di pangkalan ojek. Liana dan semua temanya melihat foto itu, benar saja ternyata dia sedang ada di sana dengan motor sportnya dan jaket ojek yang lengkap. Namun Liana belum sepenuhnya percaya jika ia adalah driver ojek, karena dari tampilannya saja sudah tidak ada pantes-pantesnya jadi tukang ojek. "tapi enggak mungkin sih buk dia itu tukang ojek, masa iya ngojek pake motor sport kaya gitu. Mending yang ngojek anak sekolah. Lha kalau nenek-nenek gimana." argumen Liana membuat ibu dan semua temannya tertawa. "kok malah ketawa sih kan bener apa yang aku omongin." kata Liana cemberut. Namun di sisi lain Liana justru memiliki kesempatan jika benar dia adalah tukang ojek. Liana bisa meminta dia untuk mengantar jemput dia di sekolah. Namun di sisi yang lain ia tidak terima jika pria idamannya itu menjadi seorang tukang ojek, sebab ia pasti akan sering memboncengi wanita lain selain dirinya. "kak kami pulang dulu ya. Udah siang nih takut di cariin." kata Dian pada Liana. "oh iya makasih ya udah mampir ke rumah ku." kata Liana pada mereka. Kemudian mereka langsung berpamitan pada ibu Liana dan mencium tangannya. Liana kemudian mengantarkan mereka hingga pintu gerbang. Sebelum pulang Laila mengajak Liana untuk pergi malam nanti. Liana pun setuju, karena besok juga guru mereka ada acara jadi mereka di liburkan. Kemudian Liana kembali ke dalam rumah setelah semua temanya pergi. Liana lantas masuk ke kamarnya dan langsung membuka ponselnya. Ia lalu mencari nomor pria itu, namun ia mengurungkan niatnya karena pasti dia tidak akan membalas pesan darinya. Liana kemudian rebahan di kasur memandangi langit-langit kamarnya dan membayangkan kejadian tadi. Ia begitu marah dengan Sigit dia hampir saja merenggut kesucian Liana. Namun berkat kakak dari pria itu dia berhasil selamat dari kejadian itu. Juga berkat pria itu lah kakak Sigit yang cukup kuat itu berhasil di lumpuhkan. Ia bertambah kagum saat mengingat kejadian itu. Karena dengan kondisi kakinya yang sakit dia berhasil melumpuhkan semua teman-teman kakaknya Sigit sehingga mereka semua lari ketakutan. Ia tidak menyangka jika pria yang sangat di kaguminya itu adalah orang yang memiliki ilmu beladiri, sungguh beruntung sekali perempuan yang bisa mendapatkannya. Karena kecapean Liana pun tak sengaja tertidur pulas hingga ibunya membangunkan untuk shalat ashar.

__ADS_1


"nak bangun udah ashar. Shalat dulu." kata ibunya pada Liana. Liana pun lantas bangun dan segera menuju kamar mandi untuk berwudhu guna menunaikan shalat. Setelah shalat ia berdoa untuk dirinya dan kedua orang tuanya, tanpa ia sadari ia juga menyelipkan doa untuk dirinya supaya bisa di dekatkan dengan pria itu. Setelah shalat ia langsung keluar kamar dan menemui ibunya. Ia sangat lapar karena sedari siang ia tidak makan. Saat hendak ke meja makan ia melihat ayahnya ternyata sudah pulang. Namun dari air muka ayahnya ia seperti sedang ada masalah. Liana yang biasanya langsung bercanda dengan ayahnya kali ini memilih untuk diam, karena di takutkan ayahnya akan marah padanya. Ia hanya menyapa ayahnya dan kemudian ia duduk di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2