
Setelah sampai Ketty langsung duduk di saung itu. Sungguh nyaman pemandangan bunga jika di lihat dari saung, ia juga melihat beberapa kelinci yang sedang berlarian di taman itu. "kak ini semua siapa yang buat." tanya Ketty pada Raya. "oh ini ketiga kakak kamu yang membuatnya, mungkin sih soalnya waktu aku baru ke sini ini semua sudah ada kok." jawab Raya. "bagus juga ya, ternyata kreatif juga orang itu." ujar Ketty. "emm dek kakak boleh nanya enggak ya." tanya raya pada Ketty. "emang mau nanya apa." sahut Ketty. "ngomong-ngomong kakak kamu itu sudah punya pacar belum ya." tanya Raya. "ah orang modelan bang Leo mana bisa pacaran. Orang nya aja dingin gitu, jangan kan pacaran sama aku yang adiknya aja jarang banget ngobrol." sahut Ketty. "oh gitu ya, emm Kakak boleh minta tolong enggak." tanya Raya. "minta tolong apaan." sahut Ketty. "tolong dong bilangin ke Abang kamu kalau kak Raya suka sama dia." ujar Raya. "ah males, tadi aja aku di jorokin sama dia. Kakak bilang aja sendiri ya." sahut Ketty. "ya elah gitu amat sama calon kakak ipar." bujuk Raya. "hidih ngarep banget, setahu aku speak ceweknya bang Leo itu orang luar negri. Tapi ya bisa aja kalau mau berjuang, siapa tahu jodoh kan. Udah lah ya aku mau ke rumah bang Leo dulu." kata Ketty sembari pergi meninggalkan mereka berdua. "hidih dingin banget enggak kakaknya enggak adiknya sama aja. Untung aja dia calon adik ipar kalau enggak udah aku jambak dia." gerutu Raya. "ya elah Ray kamu itu harusnya sadar diri dong, kan tadi dia sudah bilang kalau kak Leo itu mau ya cari cewek luar negri. Jadi udah lah jangan terlalu berharap sama dia." ujar Siti pada Raya. "diam ah, bukannya ngasih semangat malah manas-manasin." kata Raya kesal kemudian meninggalkan Siti sendirian. "ya elah gitu aja kok ngambek." kata Siti kemudian dia mengikuti Raya dari belakang.
__ADS_1
Sementara Ketty dia langsung masuk ke rumah dan segera duduk, kemudian dia langsung menuangkan air ke dalam gelas dan segera meminumnya. "nak kamu kenapa kok kaya kesel gitu." tanya bapak pada Ketty. "tadi pas lagi enak-enak main di taman eh datang anak kosan Abang. Mana udah norak songong lagi." ujar Ketty. "lha emang kamu di apain sama mereka." tanya Leo pada Ketty. "gak di apa-apain sih cuma ya gitu lah gak bikin mood aku ilang aja." sahut Ketty. "kebiasaan mood ilang nyalahin orang lain." kata Leo pada adiknya. "ihh apaan sih Abang. Gak kakak kosan gak adik kosan sama aja. Mending aku tidur aja lah." kata Ketty kesal kemudian dia masuk ke kamar Alex. "eh dek jangan masuk kamar situ. Itu kamar Alex." kata Leo memperingati Ketty. Kemudian Ketty pun keluar dan menanyakan dia harus tidur dimana. Leo pun menunjuk kamar nya dan dia suruh tidur di situ saja. Ketty pun masuk ke kamar Leo dan kemudian dia keluar lagi sembari muntah-muntah. "ihh Abang kamarnya bau banget udah fentilasinya enggak di buka lagi." ujar Ketty sembari mengibaskan tangan di depan hidungnya. "ya udah bukain tadi abang lupa ngebuka jendelanya." kata Leo pada Ketty. Dengan kesal Ketty pun segera memasuki kamar Leo dan langsung membuka jendela kamarnya. Kemudian dia mencari bantal yang tidak di pakai oleh Leo, tapi karena dia tidak menemukanya Ketty pun berteriak menanyakan bantal itu. "Abang ada bantal yang lain enggak." tanya Ketty pada Leo. "itu di lemari ada bantal angin kalau kamu mau pakai aja." sahut Leo. Kemudian Ketty pun mencari bantal itu, setelah ketemu dia langsung menipunya dan segera merebahkan badanya di atas kasur. Tak butuh waktu lama Ketty pun tertidur, dia seperti kecapean karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh.
__ADS_1
Sedangkan di jepang Alex sudah mengantar Mika pulang ke rumahnya. Mika masih sesenggukan karena menangis sepanjang perjalanan tadi. "Alex Kun terimakasih sudah mengantar aku pulang." kata Mika sembari membungkukkan badan dan langsung buru-buru pergi. Alex berusaha mengejar Mika dia ingin berbicara dengannya namun Mika justru langsung menutup pintu rumahnya sehingga muka Alex harus terbentur oleh pintu itu. Alex hanya mengerang kesakitan, kemudian dia memandangi rumah Mika dan langsung pergi dari tempat itu. Alex sesekali menengok ke arah rumah Mika untuk melihat kalau saja Mika mengintipnya dari gorden rumahnya. Namun keputusan Mika seperti sudah bulat dia tidak mau lagi bertemu dengan Alex. Alex pun hanya mengendus pelan dan berteriak sejadi-jadinya. Ia kemudian memasuki mobil dan langsung pergi menuju ke apartemennya. Sepanjang perjalanan hatinya selalu bertanya-tanya kenapa bunda nya memperlakukan Mika seperti itu, apakah ada masalah yang belum tuntas atau gimana. Kali ini pikiran Alex sangat kacau, dia bingung karena harus berbuat apa. Di satu sisi dia adalah anak dari bundanya dan dia tidak boleh durhaka sampai kapanpun. Tapi kelakuan bundanya pada Mika membuat ia seperti ingin durhaka kepadanya. Soalnya tanpa ada sebab yang jelas tiba-tiba bundanya memperlakukan Mika seperti itu dan bahkan dia sampai mengusir Mika dari apartemen nya. Karena terus melamun sehingga tanpa sadar ia salah jalan. Ia justru ke sebuah pesantren di sana. Karena kecapean dan waktu shalat sudah hampir mulai Alex pun memutuskan untuk berhenti dan shalat di pesantren itu. Saat dia baru turun dari mobilnya dia langsung di sambut oleh para santri di pesantren itu. Semua santri bersalaman dan mencium tangan Alex. Dia sangat kaget dengan etika santri di pesantren itu. Namun dia juga bingung karena orang lain tidak di perlakukan seperti itu. Hanya dirinya saja lah yang di cegat dan di cium tangannya oleh santri-santri di pesantren itu. Saat itu juga datanglah seorang bapak tua yang tak lain adalah Kiyai Abdul Halim Keisuki. Beliau adalah partner nya saat dulu di pesantren. "assalamualaikum Alex-sama. Bagaimana kabar anda." tanya Kiyai Halim pada Alex. "waalaikum salam, Alhamdulillah saya sehat. Sekarang anda mengabdi di sini, bagaimana pesantren yang dulu kita bangun." tanya Alex. Kiyai Halim hanya tersenyum mendengar perkataan Alex dia kemudian mengajak Alex menuju ke kediamannya. Alex pun menurut dan langsung berjalan di sisi kiyai Halim. "tuan kiyai kenapa anda pergi meninggalkan pesantren itu, sekarang siapa yang menjaganya jika tidak ada anda." tanya Alex pada kiyai Halim. "sepertinya saya dengan anda masih tua saya. Namun anda sudah pelupa ya. Inilah pesantren kita. Pesantren yang di bangun atas dasar keihklasan dari semua warga di sini. Mereka membuat pesantren ini supaya anak-anak mereka bisa leluasa untuk memperdalam ilmu agama." sahut Kiyai Halim.
__ADS_1