
"assalamualaikum." kata Leo pada kedua adiknya. "waalaikum salam." sahut kedua adiknya. "eh loe pada mau balik ke Indonesia kapan, ada yang mau gua obrolin nih." kata Leo. "semingguan lagi lah bang, masih banyak yang harus di uris di sini soalnya." sahut Andri. "gua juga sama bang palingan semingguan lagi kok." sahut Alex. "ya udah kalau gitu, eh ngomong-ngomong gimana kabar orang tua kalian." tanya Leo. "ya Alhamdulillah pada sehat." sahut Andri. "loe lagi ama siapa sih bang. Kok kaya rame gitu." tanya Alex. "ini nyokap bokap gua dateng kemari." ujar Leo kemudian dia memperlihatkan bapak dan ibunya. "halo bude pakde apa kabar." tanya Andri. "kabar kami baik kok. Kalau kamu bagaimana sehat." kata ibu Leo. "sehat kok bude disini sehat semua." sahut Andri. "ini kita kapan nih kumpul keluarga lagi." tanya Alex. "ya nunggu kalian selesai kan misi kita baru kumpul keluarga." sahut bapak Leo. "ya doakan aja lah ya semoga semuanya lancar dan segera tuntas." kata Alex. "ya udah ya bang gua sibuk nih." ujar Andri kemudian dia menutup teleponnya. Alex pun sama karena dia juga sedang ada di luar saat itu. Kemudian adzan ashar berkumandang, Leo mengajak bapaknya untuk pulang pergi ke mushala terdekat guna melaksanakan shalat berjamaah. Sementara ibu Leo membangunkan adiknya untuk shalat. Leo dan bapaknya keluar dari rumah itu dan langsung berjalan menuju ke mushala, bapak Leo sangat kagum dengan desain rumah kosan milik anaknya itu. Dengan biaya sewa yang cukup murah tapi mereka mendapatkan fasilitas yang cukup memadai. Ini sangat jarang terjadi di kota besar karena jangankan untuk biaya sewa, untuk membeli bahan pangan saja sangat mahal. Namun itu semua tidak menjadi alasan untuk memberi harga murah sewa kosan milik anaknya itu. "nak itu kosan putri ya kok ada tamannya gitu." tanya bapak Leo. "iya itu kosan putri, Alex yang mendesain taman itu, katanya supaya jadi indah, ya biar yang ngekos di sini banyak juga sih." sahut Leo. Kemudian mereka melanjutkan berjalan menuju mushala. Sepanjang jalan mereka bertemu dengan beberapa warga yang sedang melintas dan beraktivitas. Tak lupa mereka juga menyapa para warga yang mereka jumpai. Bapak Leo sekalian berkenalan karena baru kali ini dia datang ke desa itu. "sore pak, habis pulang ngerumput nih." kata bapak Leo ketika melihat seorang warga yang membawa seikat besar rumput. "iya pak, bapak ini siapanya nak Leo ya." ujar warga itu. "ya ke betulan saya ini bapaknya Leo. Saya baru menyempatkan datang ke sini karena saya selalu sibuk. Saya juga tinggal di luar negri bukan di Indonesia." ujar bapak Leo. "oh begitu, ya pantesan anaknya pintar dan baik, ternyata nurunin bapaknya." puji warga itu sembari sedikit tertawa. "ah bapak bisa aja." sahut bapak Leo dan kemudian mereka tertawa bersama. "ya sudah pak mari, kami mau ke mushala dulu." ujar Leo. "ya silahkan." sahut warga itu dan kemudian Leo serta bapaknya melanjutkan pergi ke mushala.
__ADS_1
...****************...
__ADS_1
"nih. Kamu mau pesan apa." kata Alex sembari menyodorkan buku menu yang di berikan oleh pelayan. "aku mau gurita pedas sama minumnya capuccino aja." sahut Khanza. "ya sudah gurita pedas satu sama ramen nya satu terus minumnya capuccino dan coklat late satu. Air mineral juga sebotol." kata Alex pada pelayan itu. "baiklah silahkan di tunggu pesanannya." kata pelayan itu kemudian dia pergi. Sembari menunggu pesanan mereka Alex hanya sibuk dengan ponselnya saja. Sedangkan Khanza dia terus memandangi wajah Alex pujaan hatinya. Beberapa saat kemudian Alex menelfon seseorang dan dia juga mengajak nya untuk datang ke restoran itu. "Alex-kun, siapa yang kamu ajak kesini." tanya Khanza yang mengetahui Alex mengajak seseorang melalui ponselnya. "sudah nanti kamu juga tau." sahut Alex. Khanza hanya terdiam karena rencananya gagal untuk berduaan dengan Alex. Tak lama kemudian datang lah seseorang wanita yang mendekati tempat duduk Alex dak Khanza. Wanita itu langsung duduk dan mencium tangan Alex. "Alex-kun, enak ya berduaan di sini." kata Mika kepada Alex. Dia tampak sangat cemburu kepada gadis yang ada di samping Alex itu. "ya mangkanya aku ngajakin kamu supaya kita bertiga di sini." ujar Alex. "mau apa ngajakin aku ke sini, kamu mau meledek aku. Atau kamu mau minta putus sama aku." kata Mika dengan muka memasang muka tak suka pada Alex. "bukan kaya gitu lho. Aku sengaja ngajak kamu kesini biar ada teman ngobrolnya dia, lagian juga kebetulan kan kamu lagi di mall ini." kata Alex pada Mika. "oh berati kalau aku di rumah kamu gak mau ngajakin aku." ujar Mika kesal pada Alex. "ya enggak lah kalau kamu di rumahnya aku tetap ngajak kamu biar ada temanya." ujar Alex. "hah bohong. Udahlah aku pergi aja, lagian gak ada gunanya juga aku di sini." kata Mika kemudian dia bangkit dari duduknya. Namun dengan cepat Alex meraih tangannya dan menyuruh Mika untuk duduk lagi. "ih lepasin, udah lah kalian berduaan saja di sini. Toh bunda kamu juga gak mau kita ada hubungan lagi kan. Mending aku pergi dan kamu tidak usah menghubungi aku lagi." kata Mika berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Alex. Namun Alex tidak membiarkan Mika untuk pergi karena dia ingin membuat Khanza tau jika dia sudah punya pasangan, agar Khanza tidak mengharapkan cintanya lagi. Dengan terpaksa Alex menarik keras tangan Mika sehingga dia kembali duduk. Namun Mika menangis karena kesakitan di tangannya. Melihat itu Alex langsung memeluk Mika dan meminta maaf kepadanya. Namun Mika yang terlanjur sakit hati berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Alex. Tapi Alex memeluknya dengan sangat erat sehingga Mika hanya pasrah dan menangis di pelukan Alex. Sesaat kemudian Alex melepaskan pelukannya, kemudian Alex melihat ke arah lengan Mika, lengannya tampak merah Alex kemudian meniup lengan Mika dan tak lupa dia memberinya obat pereda nyeri. Mika sedikit kesakitan saat Alex mengobati tangannya. "sudah ya, walaupun bunda tidak mau kita bersama, tapi yang menjalani hubungan ini adalah kita. Aku janji apapun yang terjadi aku bakalan terus mempertahankan hubungan ini." ujar Alex sembari mengobati tangan Mika. Kemudian Alex memandangi Mika dan mengisap air matanya. "sudah ya jangan nangis lagi. Nanti cantiknya luntur gimana." ujar Alex. Mika pun perlahan tersenyum dengan perlakuan Alex, sebenarnya dia masih memendam rasa yang amat dalam kepada Alex namun perkataan dan perlakuan bunda Alex lah yang membuat dia ragu tentang apakah ingin melanjutkan hubungan itu atau harus mengakhirinya.
__ADS_1