
"Saya bekerja di perusahaan ayah anda, ya walaupun sebagai ofisial boy, tapi tidak mengapa karena halal itu penting." sahut pankrati. "oh baguslah jika begitu, ngomong-ngomong rekan satu mafia kita kemana semua." tanya Andri. "setahun setelah anda meninggalkan kelompok mafia ini ketua kita meninggal akibat di tembak. Kami semua menjadi buronan hingga beberapa di antara kami ada yang tertangkap."kata pankrati memulai ceritanya. "sepertinya musuh bebuyutan kita tahu jika andalah kunci dari kemenangan kelompok kita beberapa tahun belakangan. Namun setelah anda memutuskan untuk kembali ke Indonesia maka mereka dengan leluasa mengintimidasi kita semua. Sampai pada puncaknya saat ketua kita sedang sakit-sakitan, mereka memanfaatkan ini semua dengan terus meneror kami. Sehingga mental ketua kami sangat goyah. Awalnya dia memerintahkan kepada kami selaku anak buahnya untuk pergi meninggalkannya saja. Tapi pantang bagi kami untuk meninggalkan ketua, walaupun dia sangat kejam namun karena dia lah kami bisa tumbuh kuat dan tau apa arti dari kehidupan serta apa manfaat dari kehidupan. Kami pun memutuskan untuk setia dengan ketua apa pun yang terjadi. Hingga pada suatu malam terjadi suara letupan senjata api di dua titik kota Moskow. Satu letupan berhasil mengenai seorang tunawisma dan satunya lagi mengenai ketua kami. Karena sudah tidak berdaya maka seketika ketua langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Kami sangat terpukul dengan meninggalnya ketua kami. Kami pun mengkremasi jasadnya serta menaburkan abu nya di sungai. Sesaat setelah kami menyelesaikan ritual itu, tiba-tiba datanglah segerombolan polisi dan langsung menyergap kami. Untung saja aku saat itu berada di barisan terbelakang dari mereka sehingga aku berhasil kabur dengan leluasa. Aku kabur dengan beberapa teman ku yang sengaja aku tarik karena aku lah yang pertama kali melihat kedatangan polisi itu. Kemudian kami berjalan tak tentu arah dan Samapi akhirnya aku memisahkan diri dari rekan-rekanku. Aku terus terkatung-katung di jalan menjadi tunawisma, hingga datang lah seorang yang menghampiri ku. Dia menawarkan ku sebuah pekerjaan dan aku pun mau mengambil nya karena mungkin itu lah yang akan membuat hidupku berubah. Aku pun di ajak masuk ke mobilnya, awalnya terbesit dalam pikiran ku untuk merampok dia saja. Namun saat aku hendak menodongkan pisau ke arahnya sontak ada sesosok pria tua yang bermuka mengerikan sedang memandangiku dengan tatapan yang menakutkan. Aku mencoba menepis pikiran ku itu, aku mengira jika itu hanya halusinasi ku saja. Namun saat ke dua kalinya aku mencoba dia datang dan kali yang kedua dia menunjukan aura yang lebih seram lagi. Aku pun kembali memasukan pisau ke dalam kantong bajuku. Kemudian secara spontan pria itu berkata kepadaku, "hai anak muda aku jika kamu ingin memiliki hartaku maka kamu cukup dengan bekerja kepadaku tidak perlu kamu membunuhku. Aku tekankan kepadamu jika putraku adalah salah satu gembong mafia di kota Moskow ini. Jika kamu berani membunuhku maka dia akan membuatmu menderita seumur hidup mu sebelum kamu menemui ajalmu." ujar pria itu. Saat itu lah aku merasakan keringat dingin dan badan ku bergetar hebat. Aku tidak bisa berkata-kata sehingga dia memberhentikan mobilnya di depan masjid ini. Kemudian dia turun dari mobil dan tak lupa dia juga mengajak ku. Aku di arahkan menuju ke kedai kopi dekat masjid dan pria itu memesankan makanan dan minuman untuk ku. Sementara dia langsung masuk ke masjid, aku makan dengan lahab setelah makanan itu terhidang di depan ku. Setelah kenyang aku meminta sebatang rokok kepada penjual tadi dengan sedikit membentak nya. Namun dia tidak sedikit pun merasa takut, bahkan dia tersenyum dan mengingatkanku untuk tidak mengeraskan suara karena sedang banyak orang yang beribadah. Entah mengapa aku langsung terdiam mendengar perkataan penjual itu. Setelah itu aku mendengar sebuah lantunan suara yang sangat merdu dan belum pernah aku dengar sebelumnya. Aku pun bertanya pada penjual tadi tantang suara itu. Namun dia seperti tergesa-gesa memasuki masjid setelah mendengar suara itu. Aku pun heran di buatnya, karena penasaran aku pun mendatangi masjid itu dan melihat apa yang sedang orang-orang lakukan di sana. Aku melihat semua orang berkumpul dan melakukan sebuah gerakan yang saat itu aku rasa aneh. Pada saat aku sedang memperhatikan mereka melaksanakan shalat, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menabrak ku. Anak kecil yang sangat indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia memandangi ku dengan pandangan heran sehingga dia berusaha mendekatiku. Aku pun melihatnya dengan tatapan yang sangat sinis, namun dengan kepolosannya dia tidak merasa takut, dia justru memberiku sebuah kain dan berkata, "ayo kak kita shalat dulu, pakai kain itu dan ikatkan di pinggang mu." kata bocah tadi dan kemudian dia pergi dari hadapan ku menuju ke dalam masjid. Aku masih bingung dengan perkataan bocah itu. Namun aku hiraukan ajakannya saja karena aku tidak tahu tentang kain itu. Kemudian aku kembali ke warung tadi dan duduk di sana menunggu orang yang membawaku itu datang. Aku terus duduk dan baru kali ini lah aku merasakan ada ketenangan di hatiku. Setelah sekian lama pemilik warung itu pun datang dan langsung melepas atribut yang ia kenakan. Tak menyia-nyiakan kesempatan aku pun bertanya kembali perihal suara yang sangat indah tadi. Orang itu menjawab jika itu suara iqomah, suara yang menandakan shalat harus di mulai. Aku pun hanya terbengong mendengar perkataan orang itu. Aku ingin bertanya lagi namun orang yang membawaku ke situ langsung memanggilku, dia berdiri di pintu masjid bersama dengan bocah yang memberikan aku sebuah kain tadi. Aku pun mendatanginya dan memberikan kain itu pada bocah tadi. Dia tersenyum saat menerima kain miliknya itu. Setelah itu aku dan pria tadi pergi meninggalkan masjid. Kemudian aku pun bekerja di perusahaan miliknya dan sampai suatu ketika aku melihat bingkai foto yang terdapat fotomu dan pria itu. Karena penasaran aku pun memberanikan bertanya kepada pria itu dan pria itu menjawab jika itu foto dirinya dan anaknya saat berada di Indonesia. Mulai saat itu lah aku tahu jika itu adalah ayah mu. Beberapa Minggu kemudian aku memutuskan untuk memeluk agama Islam dengan tanpa ada paksaan, kemudian aku mendapatkan semua kebahagiaan yang dulu belum sempat aku miliki." ujar pankrati menceritakan kisahnya. Andri sangat kagum dan terharu mendengar kisah yang prankarti ceritakan. "terus apa kah kamu tahu di mana semua rekan kita sekarang." tanya Andri pada prankarti. "saya tahu namun tidak saat ini aku menceritakan kepada mu." sahut prankarti seperti sedang menyembunyikan sesuatu.