
Namun bagaimana pun itu sudah menjadi takdir yang harus dia jalani. Karena kelelahan menangis maka Liana langsung tertidur dengan pulas. Sejenak ia melupakan kejadian itu dan untuk menenangkan pikirannya. Namun saat tertidur tanpa sadar Liana mengigau menyebut nama pria itu. Begitu mendalamnya rasa Liana pada pria itu, namun pada akhirnya mereka tidak bersatu.
__ADS_1
Keesokan harinya Liana terbangun di pagi hari dengan muka yang suram, sepertinya ia belum sepenuhnya mengikhlaskan pria itu dengan wanita lain. Namun ia tidak mau terus-menerus dalam keterpurukan dan kesedihan. Liana langsung mengerjakan pekerjaannya untuk berdagang di pagi itu. Ia merasa dengan melakukan aktivitas positif maka sejenak akan melupakan masalahnya. Liana melayani pembelinya dengan ramah walau hatinya sedang gundah. Karena banyaknya pembeli pada pagi itu Liana pun menjadi sedikit kewalahan. Untung saja ibu Liana datang untuk membantu dirinya yang sedikit kerepotan. Dengan gesit Liana meracik nasi bungkus dan juga membungkus gorengan. Ibunya hanya menerima pembayaran dari pembeli dan sedikit membantu menggoreng. Setelah mereka berjibaku dengan dagangan akhirnya mereka berdua bisa beristirahat untuk sejenak. Kemudian ibu Liana memberikan sebuah kaleng berisi uang pada Liana dan langsung kembali ke rumahnya. Liana pun tak lupa mengucapkan terimakasih pada ibunya karena sudah membantu dirinya. Setelah itu Liana langsung menghitung hasil penjualan itu dan cukup banyak ia mendapatkan uang. Ia juga tak lupa melihat stok bahan untuk esok hari, ternyata semua bahan sudah habis dan ia memutuskan pergi ke pasar saat pulang nanti. Setelah itu Liana langsung kembali ke rumahnya dan segera bersiap untuk berangkat sekolah. Hari itu seperti hari yang sedikit membahagiakan untuk Liana. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian semalam dan fokus pada pelajarannya. Setelah selesai mandi Liana langsung menuju ke tempat makan dan menyantap sarapan yang telah di buat oleh ibunya. Hari itu ia melihat ayahnya seperti sudah mulai bisa tersenyum lagi. Terlihat ayahnya sudah mulai menegur Liana dan nampak dari wajahnya ada keceriaan tersendiri pada hari itu. "nak gimana jualannya pagi ini." tanya ayah Liana. "laris kok yah syukurlah, agak kerepotan sih pagi tadi namun ibu datang jadinya bisa bantu-bantu." sahut Liana. "ya intinya terus berusaha aja nak, soal rejeki ada yang mengatur, jadi poinnya kita hanya bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh hari ini." ujar ayah Liana. "iya yah makasih." ujar Liana.
__ADS_1
Setelah Liana menyantap sarapannya ia langsung berangkat ke sekolahnya. Seperti biasa ia mengendarai motor miliknya dan langsung cus ke sekolah. Di sepanjang jalan ia merasakan sebuah kebahagiaan, namun ia tidak tau kebahagiaan apa yang membuat dirinya tersenyum. Namun yang pasti ia sangat bahagia pada hari itu, melihat ayahnya kembali bersemangat dan juga dagangannya laku keras, mungkin saja itu sebagian dari apa yang membuat Liana bahagia. Di tengah jalan Liana bertemu dengan ketiga temanya dan langsung meminta pada mereka untuk berangkat bersama. Tak lama setelah itu mereka sampai di sekolah dan langsung memarkirkan motornya. Kemudian mereka langsung menuju ke sekolah masing-masing karena bel sudah hampir berbunyi. Liana sedikit kaget saat ia masuk ke kelasnya, ia melihat ada seorang pria memakai jaket dengan sangat rapat, ia juga memakai masker di wajahnya sehingga ia tidak dapat mengenali dirinya. Karena ia di kelas hanya berdua dengan pria itu maka ia segera pergi keluar kelas takut pria itu berbuat macam-macam dengan dirinya. Saat ia keluar kelas ia menabrak Laila karena terburu-buru, mereka berdua pun jatuh dan masing-masing saling minta maaf. "kak ada apa sih, kok kaya ketakutan gitu." tanya Laila pada Liana. "itu lho ada pria misterius di kelas kakak, kakak takut, makanya kakak buru-buru keluar kelas." sahut Liana. "siswa baru kali kak. Tapi aneh juga sih dia kok menutup diri dengan rapat gitu ya." kata Laila. Saat mereka sedang sibuk membahas pria itu datanglah seorang teman kelas Liana. Ia memberi tahu jika Liana dalam ancaman serius. Sekarang Sigit datang dengan membawa dua polisi dan juga ayahnya. Mereka menyebut nama Liana saat di berbicara dengan kepala sekolah di dalam kantor. Liana yang mendapatkan kabar itu langsung lemas, ia tidak menyangka jika Sigit berani berbuat Setega itu pada dirinya. Liana pun segera masuk ke kelasnya saat bel telah berbunyi. Laila yang juga mendengar kabar itu ikut syok seperti Liana. Namun ia akan berjanji dan menjadi saksi jika Liana terseret ke hukum. Liana pun segera masuk ke kelas dengan perasaan yang tidak karuan. Ia tak mau di tangkap karena mempertanggung jawabkan perbuatan yang tidak ia lakukan. Saat sedang merasa panik Liana mendapat pesan dari pria itu yang berisi jika dia tidak bisa menolongnya untuk menyelesaikan masalah miliknya karena ia harus terbang ke luar negeri untuk suatu urusan. Liana pun tidak menghiraukan pesan dari pria itu setelah membaca pesan itu Liana langsung mematikan ponselnya dan terus fokus pada kejadian yang mungkin akan ia alami saat sebentar lagi.
__ADS_1
Kemudian datanglah kepala sekolah beserta kedua polisi dan juga Sigit yang mukanya penuh dengan luka. Kemudian kepala sekolah menyuruh pada kedua polisi itu untuk segera mengaman kan Liana. Karena tidak mau di bawa ke kantor Liana pun sedikit memberontak. Ia terus berteriak tidak mau karena memang bukan dia pelakunya, justru dia lah yang menjadi korban dari Sigit. Melihat kejadian itu pria misterius itu langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian menggebrak meja di depannya. "berhenti. Dia gak salah, justru dia lah korban dari kejahatan Sigit." kata pria itu dengan lantang. "eh bocah baru jangan sok jadi pahlawan disini." kata Sigit pada pria itu. "emang aku ini masih baru namun aku tau semua yang kamu perbuat sama dia." sahut pria itu. Sigit pun sedikit ketakutan mendengar penuturan pria itu. Kemudian pria itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukan sebuah rekaman kejadian kemarin siang pada kepala sokolah itu.
__ADS_1