
Liana memakan masakan ibunya dengan lahap, ia seperti sudah beberapa hari tidak makan. Kemudian ia langsung pergi ke kamarnya untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Namun dengan mengingat sekolah, ia jadi teringat akan kejadian tadi siang. Ia bingung harus berbuat apa namun yang pasti ia tidak bisa keluar dari sekolah itu karena sebentar lagi ia akan lulus, oleh sebab itu ia tidak mau mengulang kelas lagi jika ia pindah sekolah. Namun di sekolah juga dia merasa tidak aman karena ada lelaki biadab itu ia seperti kehilangan harapan. Namun ia kembali teringat dengan pria itu. Ia berfikir dalam hatinya apakah ia bisa meminta tolong padanya. Namun di sisi yang lain ia juga merasa akan sia-sia jika memohon kepadanya. Tapi sudah lah itu urusannya esok hari, yang terpenting sekarang bisa mengerjakan semua tugas itu supaya tidak di marahi oleh gurunya. Saat mengerjakan pekerjaan rumahnya ia selalu terbayang bagaimana pria idamannya itu melawan grombolan kakaknya Sigit. Ia menjadi sering tersenyum sendiri karena itu. Tak terasa jika ia telah menyelesaikan tugas dari sekolahnya. Ia pun kemudian rebahan dan langsung memainkan ponselnya. Ia mengirim pesan pada pria itu yang berisi permohonan untuk membantunya. Namun ternyata ponselnya tidak merespon pesan dari Liana. Ia pun diam-diam melacak keberadaannya melalui ponsel miliknya. Namun keberadaan pria itu tidak jelas, ia seperti di suatu tempat yang Liana sendiri tidak tau dimana itu. Namun pikirannya mengarah jika pria itu kesal padanya. Tapi tidak mungkin jika ia marah maka tadi tidak akan menolong dirinya saat di semak-semak itu. Sungguh pirikan itu membuat Liana gelisah, perasaanya campur aduk tidak jelas karena memikirkan pria itu. Saat sedang memikirkan pria itu, tiba-tiba ponsel Liana berbunyi. Mendengar ponselnya berbunyi Liana pun lantas meraihnya dan segera menyalakannya berharap jika itu berasal dari pria tersebut. Namun itu ternyata dari Laila, ia mengingatkan Liana untuk pergi malam nanti, jujur saja sebetulnya ia enggan untuk pergi, tapi karena itu permintaan sahabatnya maka ia dengan senang hati memenuhinya. Setelah membalas pesan dari Laila, Liana pun segera pergi ke kamar mandi guna membersihkan badannya. Setelah itu ia langsung pergi ke ruang keluarga untuk menonton acara TV bersama. Ia masih melihat ayahnya yang bermuka masam seperti memiliki masalah. Ia hendak bertanya namun ia segan karena ia tidak mau mengetahui urusan orang tuanya. Namun di sisi lain ia juga kasihan kepadanya karena menanggung beban sendirian. Ayahnya tipe orang yang sangat penutup jika memiliki masalah, namun jika mempunyai kabar baik maka ia langsung mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan keluarganya itu. Tiba-tiba ponsel ayahnya berbunyi tanda ada orang yang menelepon. Karena ponsel itu berada di dekat Liana maka ia langsung meraihnya dan memberikan ponsel itu pada ayahnya. Saat memberikan ponsel itu Liana sempat melihat yang menelpon adalah asisten pribadi ayahnya di kantor.
__ADS_1
Setelah menerima ponsel itu ayah Liana langsung mengangkatnya dan membicarakan sesuatu yang sepertinya sangat serius. Dari yang Liana dengar ayahnya membicarakan jika ia membutuhkan konsultan bisnis karena dan juga donatur untuk membantu perusahaan milik ayah Liana. Namun asistennya itu hanya bisa mendapatkan konsultan bisnis, sebenarnya ia sudah mendapatkan donatur bisnis tersebut, namun karena mereka akan membahas tentang proyek pembangunan maka donatur itu tidak jadi untuk membantu nya. Ayah Liana pun sedikit kecewa, namun ia menghargai kinerja dari asistennya itu. Kemudian ayah Liana meminta nomor konsultan itu untuk mengetahui lebih jelas siapa dia sebenarnya. Setelah ayah Liana mendapatkan nomor itu ia langsung menghubunginya. Namun ternyata nomor itu tidak aktif mungkin saja ia sedang sibuk, tapi syukurlah ia bisa menyelamatkan perusahaanya jika ia berhasil bekerja sama dengan konsultan itu. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor itu ayah Liana pun kembali meletakan ponselnya karena tidak ada respon. Kemudian ayah Liana bangkit dan menuju ruang kerja miliknya seperti ingin mengurus berkas yang mungkin saja di butuhkan. Sementara Liana kembali asyik menonton TV, kali ini ia sedikit lega karena ayahnya sudah kembali ceria. Tiba-tiba ibunya datang membawakan sepiring gorengan. Tanpa di suruh Liana pun langsung menyomot gorengan itu dan segera memakannya. Ibunya lantas bertanya dimana ayahnya berada, Liana menjawab jika ayahnya berada di ruang kerja miliknya. Ibu Liana pun langsung bangkit dan pergi ke dapur. Kemudian ia kembali dengan membawa secangkir kopi dan juga sepiring gorengan. Ia lantas mengetuk ruang kerja milik suaminya itu, setelah di perbolehkan masuk ia pun lantas masuk dan menaruh semua itu di dekat meja kerja suaminya, kemudian ia bergegas keluar karena takut menganggu suaminya.
__ADS_1
Saat sedang asyik memakan gorengan tiba-tiba adik Liana datang dan langsung memindahkan channel TV yang sedang Liana tonton. Liana pun kesal karena ia selalu di usilin oleh adiknya itu. Ia langsung melemparkan bantal di Sofanya kepada adiknya. Bantal itu pun tepat mengenai kepala adiknya dan langsung membuatnya menangis. Ibu Liana yang mendengar tangisan itu langsung bergegas menuju ruang keluarga dan ia segera membawa adik Liana dari tempat itu supaya tidak menggangu kerja suaminya. Liana pun kembali menonton acara favoritnya dan tak terasa adzan magrib sudah berkumandang. Ia pun segera mematikan TV nya dan segera mengambil wudhu kemudian shalat magrib. Setelah shalat magrib Liana langsung mengaji terlebih dahulu, Liana biasa menggaji setelah magrib karena pada waktu itu lah ia merasa tenang untuk mengaji. Setelah selesai mengaji ia kembali ke ruang keluarganya. Ia melihat adiknya sedang menonton acara favoritnya. Saat melihat Liana ia langsung menyembunyikan remote TV itu di balik bajunya. "kamu kenapa sih dek." tanya Liana pada adiknya. "gak boleh di ganti." adik Liana padanya. "siapa juga yang mau ganti, Kakak juga mau ke warung kok beli bahan buat besok." ujar Liana pada adiknya kemudian ia langsung pergi. Mendengar kakaknya hendak ke warung adiknya pun segera berlari menghampirinya. Ia meminta pada Liana untuk ikut ke warung. Karena kasihan Liana pun membolehkan adiknya untuk ikut tapi ia harus berjanji untuk tidak meminta sesuatu saat sudah di warung. Adiknya pun menyetujuinya dan mereka langsung berangkat ke warung. Saat di warung Liana melihat adiknya memperhatikan sesuatu seperti ingin membelinya. Namun ia sudah berjanji pada kakaknya untuk tidak meminta apapun saat di warung. Karena kasihan Liana pun langsung mengambil benda itu dan kemudian memberikan pada penjualnya untuk segera di hitung. Setelah semuanya beres mereka pun pulang ke rumah, di tengah jalan Liana langsung memberikan jajanan itu pada adiknya, adiknya pun senang karena di belikan jajan oleh kakaknya. Liana pun juga merasa senang karena bisa membelikan jajan untuk adiknya dari jerih payahnya sendiri. Lagian sang adik juga sudah belajar hidup mandiri sejak dini ia tidak pernah meminta uang jajan pada ibunya sepulang sekolah. Bahkan saat berangkat sekolah ia juga tidak pernah meminta uang jajan pada ibunya. Jika ia di kasih maka ia bisa jajan di sekolah namun jika tidak ia hanya memakan bekal yang telah ia persiapkan dari rumah, oleh sebab itu ia sangat sayang pada adiknya.
__ADS_1