
"Maaf, petualang itu sendiri yang setuju mengambil misi ini, kami hanya menjalankan tugas." Ucap resepsionis itu sambil menundukkan kepalanya.
"Pada ngomongin apa sih?" Ucap Cakra dalam hati sambil menghisap rokoknya. "Entahlah, bukan urusanku!" Lanjutnya masih dalam hati.
"Permisi." Ucap Cakra tak memperdulikan apa yang dilihatnya.
"Sebentar, apa kau tidak melihat kami sedang apa?" Ucap Hans tanpa menoleh kebelakang.
"Itu bukan urusanku." Ucap Cakra dengan nada dan ekspresi datar.
"Sudahlah, Hans." Ucap Carissa tidak ingin mengganggu aktivitas di dalam guild petualang.
Carissa membalikkan tubuhnya ke kanan untuk memberikan jalan bagi Cakra.
Cakra menghisap rokoknya kembali saat melihat Carissa malah menghadap ke tubuh Hans.
"Huh~" Cakra menghembuskan asap rokok. "Pantas aku disebut My Project, Ampas." Ucap Cakra sambil berjalan maju ke meja resepsionis.
"Cakra? Apakah anda petualang bernama Cakra?" Ucap resepsionis itu terkejut melihat wajah yang dilihatnya di formulir tentang Cakra.
"...." Carissa berhenti menangis saat mendengar nama yang diucapkan resepsionis itu. Secara perlahan Carissa membalikkan tubuhnya.
"Ca-Ca-Cakra!!!" Carissa langsung memeluk erat tubuh Cakra.
"Cih, kenapa harus kembali orang itu?!" Ucap Hans dalam hati. "Aku tidak akan mundur!" Lanjutnya.
"Cakra, kamu tidak apa-apa kan? Apa kamu terluka? Kenapa kamu mengambil misi berbahaya? Kau, kau, kau- .... Haaaaa." Carissa menangis di pelukan Cakra.
Cakra berfikir sejenak apa yang harus dirinya lakukan. "Hah~" Cakra menghela nafas panjangnya dan menjatuhkan rokoknya. "Sudahlah." Cakra memberanikan diri menggerakkan tangan kiri untuk menyentuh kepala Carissa.
"Sudahlah, jangan menangis!" Ucap Cakra sambil mengelus kepala belakang Carissa
"Hiks... Hiks... Hiks..." Carissa berusaha berhenti menangis. "Kau harus janji tidak akan mengambil misi berbahaya lagi!" Ucap Carissa sambil memandang wajah Cakra.
Cakra mengusap air mata Carissa dengan kedua tangannya. "Ya, aku janji!"
"Maaf mengganggu, apakah ada yang bisa saya bantu?" Ucap resepsionis yang sejak tadi menyaksikan drama di depan matanya.
"Oh iya, maaf, bentar." Ucap Cakra sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Carissa.
"System." Ucap Cakra dalam hati.
Bukan sulap, bukan sihir, 20 tanduk monster serigala tiba-tiba muncul di meja resepsionis.
"...." Semua orang yang ada disitu dibuat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bagaimana bisa benda tak terlihat bisa-bisa muncul begitu saja.
"Misi saya sudah selesai." Cakra.
"Ah, iya." Ucap resepsionis itu tersadar dari lamunannya dan ia segera melihat dengan teliti misi apa yang Cakra ambil.
"15 tanduk monster serigala bertanduk, tuan berhasil mengumpulkan 20. .... Ini upah sekaligus bonus, tuan." Ucap resepsionis itu sambil memberikan beberapa koin emas kepada Cakra.
"Terima kasih, dan dimana saya bisa menjual kristal dungeon?" Ucap Cakra setelah menerima imbalannya.
"Hah?"
"Apa?"
__ADS_1
Resepsionis itu, Hans dan Carissa dibuat terkejut untuk kedua kalinya.
"Cakra, kau tidak masuk dungeon kan?!" Ucap Carissa khawatir.
"...." Cakra sendiri bingung harus menjawab apa, jika Cakra jawab 'masuk' kemungkinan Carissa tambah khawatir.
"Memangnya anda menemukan kristal dungeon dimana tuan?" Hans yang sejak tadi diam, kini mulai berbicara.
"Hanyutan kali, mungkin kristal yang aku bawa milik orang yang nasibnya apes." Ucap Cakra menjawab tanpa pikir panjang.
"Kau tidak masuk dungeon kan, Cakra?" Carissa mengulangi pertanyaannya.
"Sudahlah! ribet amat mau jual kristal dungeon." Ucap Cakra sudah tidak tahan.
"System."
kristal-kristal kecil muncul di meja resepsionis. Meskipun bentuknya sama dengan kristal biasa, tapi jika orang itu sudah berpengalaman minimal satu tahun di dunia petualang, pasti ia bisa membedakan mana kristal dungeon dan mana kristal biasa.
"I-ini kristal dungeon." Ucap resepsionis itu dengan mata terbuka lebar.
"Cakra, kau dapat ini dari mana?!" Ucap Carissa mengulang pertanyaannya untuk ketiga kalinya.
"Iya-iya aku masuk dungeon! Puas?" Ucap Cakra sambil menatap tajam Carissa.
"Kenapa kau masuk dungeon?! Apa kau tidak tau dungeon itu sangat berbahaya?!" Ucap Carissa juga sambil menatap tajam Cakra.
"Memangnya kenapa?! Yang penting aku berhasil keluar!" Cakra.
"Aku mengkhawatirkan mu! Aku tidak mau kau kenapa-napa di sana!" Carissa.
"...."
Kalimat terakhir Cakra membuat Carissa diam dan menundukkan kepalanya.
Cakra langsung memalingkan pandangannya ke resepsionis kembali.
"Hah~ apakah bisa menjual kristal dungeon disini?" Ucap Cakra berusaha tenang.
"Bi-bisa." Resepsionis itu gugup.
Resepsionis itu menimbang berat seluruh kristal dungeon Cakra.
"Ini, tuan." Ucap resepsionis itu sambil memberikan sekantong koin emas kepada Cakra.
"Te-" saat Cakra hendak menerima uangnya, tiba-tiba saja Cakra mendapatkan firasat buruk di belakangnya.
Cakra langsung memiringkan tubuhnya ke kiri. Dan benar saja, ternyata Hans menyerang dengan memukul Cakra dari belakang.
Setelah Hans menarik kembali pukulannya, Cakra langsung menggunakan tangan kirinya untuk melancarkan bogem mentah ke wajah Hans sebagai serangan balasan.
*BHAAAM*
Pukulan Cakra mendarat tepat di hidung Hans, hingga membuat Hans tersungkur kebelakang.
*BHUAAK*
"Woi, kalau ribut jangan disini!"
__ADS_1
Para petualang yang lain langsung berdiri untuk mengambil tindakan jika keributan benar-benar terjadi di guild petualang.
"Oi, kenapa kau menyerang ku?!" Ucap Cakra sambil menatap tajam Hans.
"Apa kau tidak bisa bersikap lebih baik kepada Carissa?!" Ucap Hans sambil memegangi hidung yang berdarah.
"Memangnya ada urusan apa denganmu?" Ucap Cakra sambil melangkah mendekati Hans.
"Woi, kalau ribut jangan disini!"
"Cakra, sudahlah!" Ucap Carissa yang langsung meraih tangan kiri Cakra dan langsung menarik Cakra untuk mundur.
"Lepaskan!" Ucap Cakra sambil menarik tangannya kembali.
"Cakra, sudahlah!" Carissa tetap berusaha menahan Cakra.
"Apa sekarang kau membelanya?" Cakra.
".... Apa yang kau katakan? Aku akan tetap disisi mu! Aku tidak ingin kau membuat kegaduhan disini!" Carissa.
"Sial!" Ucap Cakra sambil membalikkan tubuhnya kembali untuk mengambil uangnya dan langsung berjalan pergi.
"Jika aku melihatmu lagi, kau akan bertemu malaikat maut!" Ucap Cakra saat berdiri di dekat Hans.
"Cakra, tunggu!!!" Carissa berlari mengejar Cakra.
Carissa terus berjalan dibelakang Cakra. Mereka berdua tidak ada yang bersuara sejak keluar dari guild petualang.
"Ca-Cakra, kita akan kem-" Carissa tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Cakra berjalan memasuki celah dua bangunan.
"Kenapa Cakra masuk kesini?" Ucap Carissa dalam hati sambil terus mengikuti Cakra.
Cakra dan Carissa berhenti saat melihat seorang gadis muda kira-kira berusia 14 tahun sedang mendapatkan kekerasan fisik, yang dilakukan oleh tiga pria.
"System."
Cakra mengambil pistol GN-2 Premium yang melayang di hadapannya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Cakra langsung berjalan maju.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
__ADS_1