
"Alah-alah, hanya orang rendahan yang mengingkari janjinya sendiri." Ucap Cakra merendahkan.
"Heh... Tunggu saja pembalasanku!" Ucap Xhaka geram. Lalu Xhaka langsung berjalan turun dari panggung pertandingan.
"Baiklah, sekarang tugasku telah selesai, terima kasih atas makanannya." Tepat setelah Nicole mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan pergi.
*****
*****
*****
Tiga hari telah berlalu sejak pertandingan memasak antara Cakra dan Evans melawan Xhaka dibantu asistennya berakhir.
Efek dari pertandingan yang dimenangkan oleh tim Cakra begitu berdampak positif bagi restoran Evans. Restoran Evans selalu ramai pelanggan setelah pertandingan, hal itu tak lepas dari Cakra yang tak pelit membagikan ilmu yang dimilikinya.
"Pesanan meja tiga selesai." Ucap Cakra dengan nada cukup tinggi untuk memanggil pelayan.
"Biar aku yang mengantarkan, tuan Cakra." Ucap Vanya sambil berjalan kearah Cakra untuk mengambil dan segera mengantarkan pesanan pelanggan.
Ya, saat ini Cakra dan yang lainnya sedang membantu Evans dan Iska menjalankan bisnis restoran mereka. Jika Cakra menjadi chef maka Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi dapat menempati posisi sebagai pelayan.
"Tuan Cakra, tahu gimbal (makanan khas Semarang) dua." Ucap Iska sambil menyerahkan kertas yang tertulis pesanan pelanggan.
"Baik." Cakra.
Cakra segera kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan pelanggan.
Di dalam dapur terlihat Evans yang masih berusaha mempelajari seluruh resep yang Cakra berikan kepadanya. Maka dari itu, Cakra sendiri yang akan menyiapkan seluruh pesanan selama Evans mempelajari seluruh resep masakan yang Cakra berikan.
*****
Malam hari di jalanan Ibukota Kerajaan Aila, Kota Aly. Terlihat Cakra, Carissa, Vanya, Silvi, Sachi, Evans dan Iska tengah berjalan menuju tempat tinggal Evans. Tentunya setelah selesai bekerja.
Tak lama kemudian, mereka semua sampai di depan sebuah rumah. Iska segera membuka pintu, dan setelah itu Iska membalikan tubuhnya sambil berkata. "Silahkan."
"Evans, bisa bicara sebentar?" Ucap Cakra ketika melihat Evans hendak masuk ke dalam rumahnya.
Evans membalikkan tubuhnya. "Bisa." Ucap Evans sambil berjalan mendekati Cakra.
"Ayang, apa yang mau kau bicarakan?" Ucap Carissa sambil memandang Cakra dengan tatapan heran.
"A-ada apa, tuan Cakra? Apa tidak bisa dibicarakan di dalam saja?" Ucap Iska antara takut atau khawatir. Bagaimanapun juga Cakra adalah orang asing yang baru bertemu dengan Iska beberapa hari lalu, Iska belum bisa percaya sepenuhnya kepada orang yang baru saja ditemuinya, meskipun orang itu telah membantunya.
"Kalian tidak usah khawatir, sebaiknya kalian cepat masuk!" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh, yang tentu saja langsung disusul Evans.
Iska tentu saja tambah khawatir dengan keselamatan Evans. Bagaimanapun juga Iska sadar jika Cakra bisa dibilang tipe orang yang ringan tangan, hal itu dibuktikan saat Cakra dengan mudahnya menonaktifkan nyawa seseorang (Bab 42-43).
"Nona Iska tenang saja, tuan Cakra tidak akan melakukan hal buruk, Sachi percaya itu." Ucap Sachi sambil memegang tangan Iska.
*****
Cakra terlihat merogoh kantong hoodie-nya sambil terus berjalan, ditemani Evans yang berjalan di sampingnya.
Cakra mengeluarkan sebungkus rokok beserta korek api.
"Huh~." Cakra kembali memasukkan rokok beserta korek api ke kantongnya setelah menghidupkan rokok.
__ADS_1
"Tuan, sebenarnya kita mau kemana?" Ucap Evans sambil terus berjalan di samping Cakra.
"Huh~ tidak ada tujuan pasti, yang pasti aku ingin membicarakan hal ini." Ucap Cakra tanpa memandang Evans, alias terus menghadap lurus.
"Berbicara tentang apa, tuan?" Ucap Evans yang refleks langsung menatap Cakra.
"Kau tau kan, jika aku sangat membenci perbud4kan, kejadian di restoran-mu tadi sangat membuatku marah."
*****
*****
*****
Beberapa saat yang lalu di restoran Evans saat Sachi sedang mengantarkan pesanan ke salah satu pelanggan.
"Permisi." Ucap Sachi sambil menghidangkan pesanan ke salah satu meja yang berada empat pelanggan di meja itu.
Salah satu pelanggan (pelanggan A) menoleh kearah Sachi.
"Ras campuran!!!" Tiba-tiba pelanggan A berteriak keras dan langsung mengambil mangkuk yang berisi makanan dengan kuah panas, dengan kejamnya pelanggan A menyiram Sachi dengan kuah panas itu.
"Aaach!!!" Erang Sachi kepanasan sambil menutup mukanya, karena mukanya lah yang terkena siraman kuah panas.
"Benar, dia budak, hahaha!!!" Teriak pelanggan B sambil melakukan hal yang sama dengan pelanggan A, yakni menyiram Sachi dengan kuah panas.
"Aaach!!!" Sachi kembali berteriak kesakitan sambil berusaha lari dari tempat itu.
*KEP*
Pelanggan C dan Pelanggan D secara bersamaan menyiramkan kuah panas kepada Sachi.
"Aaach!!!" Sachi berteriak sangat-sangat kesakitan.
Pelanggan A mengangkat ekor Sachi ke atas hingga membuat kaki Sachi tidak menyentuh tanah.
**
Cakra segera berjalan keluar ketika mendengar suara teriakkan yang tak asing baginya.
Mata Cakra terbuka lebar melihat apa yang di alami Sachi, dan tak ada satupun orang yang menolong.
"System."
Pistol GN-2 Premium langsung muncul digenggaman tangan kanan Cakra.
"Cakra, jangan!" Ucap Carissa yang langsung menghadang Cakra.
"Menyingkir-lah!!!" Ucap Cakra dengan tegas saat Carissa menghalangi jalannya.
"Tenanglah, biar nona Iska yang mengurusnya!!!" Ucap Carissa sambil menunjuk Iska yang sedang berjalan menuju tempat Sachi diperlakukan kasar.
"Maaf, tuan-tuan, bisakah kalian melepaskan gadis itu?!" Ucap Iska berusaha se-sopan mungkin.
"Tidak bisa, salah kalian sendiri meminta bud4k yang mengantarkan pesanan kami." Ucap pelanggan B.
"Ehm... Kami hanya bermain dengan sebentar dengan bud4k kalian." Ucap pelanggan A sambil mengangkat ekor Sachi lebih tinggi.
__ADS_1
"Aaach!!!" Erang Sachi tambah kesakitan.
"Bisakah kalian melepaskan Sachi sekarang!!! Atau cepat pergi dari sini!!!" Ucap Iska dengan tegas ketika melihat Sachi tambah kesakitan.
"Hah? Siapa kau? Kami hanya ingin bersenang-senang." Ucap pelanggan B dengan tatapan tajam.
"Hahahaha." Pelanggan A, B, C dan D tertawa keras saat Sachi dibuat menderita.
*DOR*
*BRUUUK*
Pelanggan A tiba-tiba jatuh dengan kepala berlubang, dan hal itu tentu saja juga melepaskan Sachi.
*****
*****
*****
Kembali ke saat ini.
"Aku paham maksudmu, aku sungguh minta maaf atas kejadian tadi." Ucap Evans sambil menunduk.
"Huh~ aku tidak menyalahkan mu, tapi kembali menjadi petualang bukanlah hal yang buruk, besok aku akan keluar dari rumahmu." Ucap Cakra dengan nada dan ekspresi datar.
"Apa tuan serius? Memangnya kenapa? Apakah rumahku tidak nyaman bagi tuan?" Evans.
"Bukan karena itu, jika aku menjadi petualang, aku bisa saja menerima misi dari Bangsawan dan mencoba memengaruhinya." Cakra.
"Kalau begitu baiklah, tapi aku ada permintaan, apakah boleh Vanya, Silvi dan Sachi ditinggal?" Ucap Evans sambil memandang Cakra.
"Hah? Aku tidak salah dengar?" Ucap Cakra sambil menatap tajam Evans.
"Bukan begitu, tuan.... Aku berencana untuk memperkejakan mereka di restoran, aku berjanji akan memberikan upah yang sesuai." Evans.
"Kalau begitu baiklah, tapi jika aku berkunjung ke restoran dan mendapatkan laporan dari mereka, aku tidak akan segan membakar restoran-mu." Cakra.
"Tenang saja, tuan."
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
__ADS_1