
"Ya, aku tidak apa-apa."
Cakra kembali bersiap ketika kedua matanya menangkap pergerakan orang-orang yang berniat jahat, mendekat secara bersamaan.
"Berhenti ditempat!!!" Ucap salah satu dari mereka dengan nada tinggi, dan ia juga langsung mengarahkan senjatanya ke Cakra dan Carissa seperti yang dilakukan orang-orang yang lain.
"System."
Cakra langsung meraih senapan serbu SSR-3 yang muncul dihadapannya, dan ia langsung bersiap untuk kemungkinan terburuk. Begitu pula dengan Carissa, ia juga langsung bersiap.
"Siapa kalian?" Ucap Pria cukup tua yang berada di belakang orang-orang itu.
"Heh, ya~ aku cuma nolep numpang lewat saja, tidak usah terlalu serius." Ucap Cakra dengan sangat santai seakan tak pernah memiliki dosa sama sekali.
"Hei, jangan bercanda!!!" Ucap salah satu dari mereka dengan nada tinggi.
Carissa yang sadar jika sifat Cakra tidak akan cocok untuk menghadapi situasi seperti ini, dengan cepat langsung mengambil alih pembicaraan dengan berkata.
"Kami dari guild petualang Kota Aly, kami menerima misi untuk membantu desa ini menghadapi naga, sebelum itu apakah benar jika naga tengah menyerang desa?"
Warga desa tiba-tiba tersenyum dan langsung menurunkan senjatanya masing-masing, setelah mendengar apa yang dikatakan Carissa.
Kabut asap yang sejak tadi menyelimuti, tiba-tiba juga menghilang bersamaan dengan tenangnya para warga itu.
"Maaf jika sambutan yang kami berikan sangat buruk, tapi kami memiliki alasan untuk melakukan ini." Pria tua itu berjala maju. "Saya Hildan kepala desa ini." Lanjutnya.
"Saya Carissa, dan ini suami saya Cakra." Ucap Carissa memperkenalkan diri sekaligus memperkenalkan Cakra.
"Oi, yang kalian hadapi itu naga atau apa? Strategi kalian tadi tidak akan mampu untuk menghadapi naga." Ucap Cakra merasa ada yang janggal.
"...."
Para warga seakan kompak tutup mulut mendengar pertanyaan dari Cakra.
"Jika tidak keberatan tuan dan nona mari ikut saya berkeliling desa sebentar." Ucap Hildan se-sopan mungkin.
"Baiklah." Cakra.
"Kalian kembalilah ke persembunyian!" Titah Hildan untuk warganya.
"Baik, kepala desa." Ucap salah satu warga. Dan mereka segera kembali ke tempat perlindungan mereka.
"Mari." Hildan.
Cakra dan Carissa berjalan mengikuti Hildan tanpa rasa ragu sedikitpun dalam diri mereka. Jika saja Hildan memang memiliki niat buruk, Cakra sudah pasti dapat melihatnya dan langsung menonaktifkan Hildan.
Cakra dan Carissa dapat melihat seberapa hancurnya desa ini selama mereka berkeliling. Mereka berdua dapat melihat banyak sekali bangunan yang runtuh akibat kebakaran.
"Maaf jika kami membuat misi palsu, hal itu kami lakukan karena kami tidak memiliki banyak biaya." Hildan tiba-tiba berkata sambil terus berjalan.
"Maksudnya?" Ucap Carissa yang tentu saja tidak paham. Begitu pula dengan Cakra.
"Sejak pertama kali naga menyerang, banyak sekali warga kami yang menghilang secara misterius, kami sudah berulang kali meminta bantuan kepada kerajaan, tapi hingga saat ini tidak ada bantuan yang datang."
".... Kami terpaksa membuat misi ini untuk menyelamatkan desa beserta para warga, jika kami membuat misi untuk membantu mencari korban yang menghilang, petualang lemah tentu saja akan langsung mengambilnya."
__ADS_1
".... Tapi jika kami membuat misi menyelamatkan desa dari serangan naga, pasti hanya petualang kuat saja yang berani menerima misi ini. .... Meskipun biaya yang kami keluarkan lebih banyak, tapi itu akan lebih murah jika kedua masalah kami masukkan ke dalam misi."
Hildan menceritakan semua masalah yang dialami desanya.
"Dengan kata lain, kalian ingin petualang yang kuat tapi dengan biaya yang rendah?" Ucap Cakra dengan entengnya.
"Sekali lagi saya minta maaf." Hildan.
"Ayang, sekarang kita akan apa?" Ucap Carissa yang sudah paham dengan kondisi mereka berdua.
"Tidak ada jalan lagi untuk mundur, setidaknya kita bisa menjual bagian tubuh naga untuk mendapatkan uang lebih." Ucap Cakra dengan nada dan ekspresi datar. "Lalu kapan naga itu akan menyerang lagi?" Lanjutnya.
"Saya tidak tau pasti, yang pasti para warga sudah sangat ketakutan bahkan ketakutan mereka sudah sangat berlebih, mereka sudah sangat takut bahkan hanya dengan mendengar kata naga." Hildan.
"Baiklah, terima kasih informasinya." Ucap Cakra yang tiba-tiba berjalan menuju pohon yang masih utuh dan berdiri tegak.
"Ayang, kau mau apa?" Ucap Carissa yang tentu saja heran dengan apa yang dilakukan Cakra.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin beristirahat." Ucap Cakra tanpa memandang kebelakang dan sambil terus berjalan menuju pohon itu.
"Ayang, apakah aku boleh melihat para korban di perlindungan?!" Teriak Carissa sebelum Cakra semakin menjauh.
"Pergilah." Cakra.
**
Cakra duduk bersandar, dan tiba-tiba berkata. "Rencana awal sudah gagal." Sambil terus berfikir.
Ya, rencana Cakra dari awal adalah memunculkan Aidan dan mungkin beserta seluruh Pasukan Kebangkitan divisi udara untuk melawan naga yang menyerang.
"Hah~ sekarang apa rencana paling masuk akal?" Ucap Cakra bertanya pada dirinya sendiri.
"Status."
[Nama : Cakra Aditya]
[Usia : 19 tahun]
[Ras : Manusia]
[Level : Langit-5 Bintang-5]
[Exp : 2.291.603.610/2.400.724.332]
[Tubuh : Mata Matahari, Tangan Penghancur]
[Elemen :-]
[Skill : Pasukan Kebangkitan]
[Senjata : SSR-3, PPG-7, SPR-2]
[Atribut :-]
[Pekerjaan :-]
__ADS_1
[Penyimpanan : Motor, Ponsel, kendaraan lapis baja]
[Kotak Hadiah : 1 kotak hadiah kelas 4]
[Poin : 30.000]
[Toko»]
"Alah-alah, hanya tinggal PPG-7 dan SPR-2 untuk menghadapi naga, aku yakin peluru SSR-3 tidak akan mampu menembus kulit naga yang terkenal tebal."
*****
Malam hari di perlindungan desa, Cakra dan dua warga terlihat tengah berjaga.
"Oi, aku masuk dulu, ada cairan yang harus keluar." Ucap Cakra untuk kedua warga yang sedang berjaga.
"Baiklah."
Cakra segera berjalan masuk kedalam perlindungan, untuk melakukan aktivitas buang air kecil.
"Hah~ gini kan lega." Ucap Cakra sambil mengeluarkan cairannya.
*TOK!!! TOK!!! TOK!!!*
Cakra tiba-tiba saja mendengar suara tanda bahaya ketika sedang sibuk.
"Dasar naga sialan!!! Kenapa disaat seperti ini?! Belum selesai juga!!!." Ucap Cakra panik karena urusan dengan alam belum selesai.
**
Cakra segera berlari keluar setelah panggilan alam yang dialaminya selesai. Sesampainya Cakra diluar, ia melihat Carissa dan para warga berdiri tegak menantang bahaya yang akan segera datang.
"Kau juga takut kan." Ucap Cakra dalam hati ketika melihat tubuh Carissa bergetar.
*WHUUUS*
"System."
Cakra segera meraih senapan penembak runduk jenis anti material yang muncul dihadapannya ketika sosok naga sudah terlihat.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
__ADS_1
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.