
Cakra menolehkan kepalanya kebelakang. Cakra lagi-lagi dibuat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Cakra melihat gadis lain juga memiliki telinga hampir mirip dengan yang memeluk dirinya tapi memiliki ekor seperti kucing, dan satu lagi gadis yang kira-kira lebih tua tiga tahun memiliki ekor seperti kadal.
"I-iya."
Gadis itupun langsung berlari menuju yang lainnya.
Mereka semua sesaat menundukkan kepala mereka dan setelah itu langsung pergi.
Kini hanya tersisa Cakra dan Carissa di tempat itu. Ya, sebenarnya masih ada satu pria, tapi karena dia sudah tewas, anggap saja tidak ada.
"Kita tidak bisa menyatukan pikiran, mungkin kau akan terus tersakiti jika berada di dekatku. .... Semua pilihan ada padamu, jika masih mau denganku aku ada di penginapan waktu itu (bab-5)."
".... Tapi ingatkan sekali lagi, jika kau masih berada di dekatku kau akan semakin tersakiti." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan pergi meninggalkan Carissa seorang diri.
Carissa jatuh dengan posisi duduk kaki ditarik kebelakang.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Carissa menangis tersedu-sedu. Carissa tidak percaya jika pria yang disayangi akan membunuhnya jika tidak diselamatkan gadis bud4k.
Apakah ini pertanda jika Cakra sudah tidak menyayangi, turun! Mencintai, turun lagi! Menyukai, turun sekali lagi! .... Apalagi anjing?!
Yah, pokoknya itu! Apakah ini pertanda jika Cakra memang sudah benar-benar tidak menganggap Carissa?
Carissa mengusap air matanya. Setelah itu ia menekuk lututnya dan langsung
"Aku masih sangat mencintai Cakra, tapi apa Cakra juga mencintaiku? Tidak adil jika hanya aku yang mencintai Cakra. .... Sebenarnya aku ini apa di mata Cakra?"
".... Semua ini bermula saat pernikahan, Cakra berubah sejak ayah mengirim anak buahnya untuk membunuh keluarga Cakra dan membawaku pulang. .... Ayah, aku tambah benci kepadamu!" Ucap Carissa mencurahkan isi hatinya.
*****
Beberapa saat kemudian
"Aku harus kuat! Cakra berubah karena ayah. Meskipun aku benci ayah, tapi aku tidak membenci Cakra." Ucap Carissa menguatkan dirinya sendiri dan langsung berdiri.
"Baiklah, aku harus kembali ke Cakra!" Tepat setelah Carissa mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan menuju penginapan yang dimaksud Cakra.
*****
Didepan salah satu kamar penginapan, terlihat sosok Carissa yang ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Bukannya apa, Carissa tentunya takut jika salah kamar.
"Hah~" Carissa menghela nafas panjangnya.
*TOK... TOK... TOK...*
"Permisi."
Carissa berulang kali mengetuk pintu kamar, tapi tetap saja tidak ada tanggapan.
"Apa aku salah kamar? Tapi resepsionis itu bilang kamar nomor 9, atau Cakra masih marah?"
Carissa memberanikan diri untuk menyentuh gagang pintu.
"Permisi." Carissa membuka pintu itu.
"...." Sudah nggak usah drama!
Cakra benar berada di kamar itu.
__ADS_1
Carissa melihat Cakra berbaring di atas ranjang sambil memandangi benda persegi aneh, di lubang telinga Cakra juga terlihat terpasang benda aneh berwarna hitam.
"Sayang, kok tidak dikunci?" Ucap Carissa sambil berjalan masuk dan langsung menutup pintu tak lupa menguncinya.
"Sayang." Ucap Carissa saat sudah berdiri di sebelah ranjang.
"Sayang!"
Cakra masih belum menanggapi.
"Sayang! Sayang! Sayang!!!"
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Carissa langsung mengguncang tubuh Cakra.
Cakra akhirnya memandang Carissa dan langsung menjeda apa yang ditontonnya.
"Apa?" Ucap Cakra dingin.
"Sayang, ak-"
"Sejak kapan kau memanggilku sayang?" Cakra.
"Sejak tadi!" Ucap Carissa sambil menggembungkan pipinya.
"Oh..."
"Jangan cuma 'oh'!" Ucap Carissa kesal.
"Ehm..." Cakra tidak memperdulikan apa yang dilakukan Carissa, Cakra langsung memandang kembali layar handphonenya.
"Hei, sayang!" Ucap Carissa sambil menggenggam tangan kiri Cakra agar Cakra tak mengalihkan pandangannya.
"Apa?"
"Sudah dari tadi, bahkan aku juga sudah lupa."
"Serius?"
"...." Cakra lebih memilih untuk tidak menjawab.
"Sayang, boleh aku di sana?" Ucap Carissa sambil menunjuk tempat kosong sebelah Cakra.
"Ya."
Tanpa pikir panjang Carissa langsung lewat tepat di atas tubuh Cakra, bukannya memutar.
"Hah~" Cakra hanya bisa menghela nafas dalam-dalam melihat kelakuan istrinya.
"Sayang, kau lagi apa sih? Dan itu benda apa?" Ucap Carissa sambil tiba-tiba menarik tangan kanan Cakra hingga membuat ponsel Cakra hampir jatuh jika Cakra memegang ponsel itu dengan satu tangan.
Carissa langsung membaringkan tubuhnya dan menempatkan kepalanya di dada kanan atas Cakra.
"Kerasukan apa toh anak ini?" Ucap Cakra dalam hati yang bingung sendiri.
"Sayang, kok ada orang di situ, dan kenapa mereka kecil-kecil semua?" Ucap Carissa saat melihat apa yang ada di layar ponsel.
"Kalau dijelaskan apa kau paham?" Ucap Cakra sambil menggerakkan tangan kanannya untuk menyentuh kepala Carissa.
"Memangnya aku bodoh?" Carissa.
__ADS_1
"Oh iya, aku mau tanya serius, jawab ya?" Ucap Cakra sambil memainkan rambut Carissa yang panjang nan halus.
"Tanya apa? Ehm... Biar aku tebak! Apa yang aku suka darimu?" Ucap Carissa dengan sangat percaya diri.
"Kalau itu tidak penting, kalau kau sudah tidak suka kepadaku kau bisa pe-"
"Tidak, tidak, tidak." Ucap Carissa dengan cepat menyela kalimat Cakra.
"Heh, sebenarnya ini berhubungan dengan bud4k." Ucap Cakra mulai masuk ke inti.
".... Apa kau masih marah?" Ucap Carissa cemas, khawatir atau bahkan takut.
"Hah~ sejak kapan bud4k ada, dan sejak kapan disini ada bud4k?" Cakra.
"Kalau kapan, aku tidak tau pasti, untuk yang kedua, bud4k tidak hanya ada di kerajaan ini." Carissa.
"Tidak hanya ada di kerajaan ini? Maksudnya?" Ucap Cakra masih memainkan rambut Carissa.
"Ya, bud4k ada di seluruh dunia."
"Apa? Di seluruh dunia?" Ucap Cakra cukup terkejut.
"Iya, serius, memangnya kenapa kok ngomongin bud4k?" Carissa.
"Gimana ya? Kalau dibilang, aku sangat-sangat menentang adanya perbud4kan, kalau bisa aku pasti akan menghapus perbud4kan di seluruh dunia dan memerdekakan seluruh bud4k." Cakra.
"Oh, jadi itu tujuanmu, akan aku dukung. ... Kalau menghapus sepertinya sulit, kalau memerdekakan pasti bisa." Carissa.
"Gimana?" Cakra.
"Tinggal beli bud4k itu dan merdeka-kan." Carissa.
".... Masuk akal juga sih, tapi kalau seperti itu sama saja aku mendukung perbud4kan, aku tidak akan pernah memberikan uangku kepada para pelaku perbud4kan, mereka terlalu b4jingan untuk uang yang susah-susah aku hasilkan."
Meskipun terdengar serius, tapi Cakra masih saja memainkan rambut Carissa.
".... Aku tidak bisa jawab." Carissa.
"Kok aku lapar ya? Cari makan yuk!" Cakra.
"Ya, ayo!" Carissa langsung bangkit dari posisi sebelumnya, diikuti dengan Cakra.
Cakra dan Carissa berjalan keluar kamar untuk mencari makanan.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
__ADS_1
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.