
Ya benar, memang ibu-ibulah yang menjadi pemeran utama untuk urusan dapur.
Sontak teriakan Cakra membuat Iska terkejut dan tersadar dari lamunannya. "Cakra."
Cakra menolehkan kepalanya dan tersenyum sejenak kepada Iska. Setelah itu Cakra kembali meneriakkan kalimat yang sama seperti sebelumnya.
Dan benar saja, setelah Cakra meneriakkan kalimat itu untuk kedua kalinya. Datang 10 ibu-ibu yang langsung mengerumuni lapak Ava, untuk tentunya membeli sayuran.
Tapi satu satu ibu-ibu berusia 43 tahun yang mendekati Cakra. "Anak muda, kenapa kau bisa ganteng banget?" Sambil membelai wajah Cakra.
"...."
Bukanya merasa jijik atau apa. Cakra malah mendapatkan ide untuk menggunakan ketampanannya untuk membantu Iska agar barang dagangannya lebih laris lagi.
"Pastinya karena aku memakan sayuran yang dijual oleh wanita itu." Ucap Cakra kepada ibu yang membelainya. "Jika mau anak laki-laki ibu ganteng seperti saya, ayo beli banyak-banyak sayuran dari wanita itu!" Lanjutnya.
Meskipun cara itu seperti tidak masuk akal. Tapi nyatanya, ibu yang membelai Cakra langsung ikut mengerubungi lapak dagangan Iska, untuk membeli sayuran dari Iska.
Melihat hal itu juga, membuat Cakra menjadi lebih yakin untuk menjual ketampanannya. Dengan lantang Cakra berteriak. "Bagi yang ingin anak laki-lakinya ganteng seperti saya. Direkomendasikan, untuk membeli sayuran dari Iska!!!"
Cara konyol dari Cakra ternyata ampuh juga. Kini lapak dagangan Iska disesaki oleh banyaknya ibu-ibu yang ingin anaknya menjadi tampan seperti Cakra. Dengan cara memberikan makanan kepada anaknya, dengan sayuran yang dibeli dari Ava.
"Hehehe." Cakra tertawa puas karena ketampanannya bermanfaat juga.
*****
Iska segera mengemasi barang-barangnya tepat setelah dagangannya habis-habisan karena bantuan dari Cakra.
"Cakra, terima kasih." Entah kenapa Iska terlihat malu-malu kepada Cakra.
Jujur saja! Baru kali ini Iska bertemu dengan seorang pria, yang mau turun langsung ke pasar. Karena biasanya, seorang pria selalu gengsi untuk diajak pergi ke pasar, bahkan suami Iska saja juga tidak mau diajak ke pasar.
.....
"Sama-sama." Cakra.
"Cakra, mau tidak temenin aku ke kebun?" Ucap Iska sambil menundukkan kepalanya karena malu.
"Kebun? Ehm... Boleh saja." Cakra.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Iska langsung berjalan menuju kebun yang dimaksudnya.
Cakra hanya bisa mengikuti Iska dari belakang. Karena Cakra tau, dirinya bisa-bisa tersesat jika mendahului Iska. Tapi karena hal itu pula. Cakra dapat dengan jelas melihat anu gemas Iska berguncang kesana-kemari karena Iska berjalan.
Cakra menelan air liurnya sendiri karena hampir mabuk kepayang melihat pemandangan itu. "Jangan pernah tanya milik Carissa!!!"
__ADS_1
*****
*****
*****
Kebun sayur yang berada sekitar 500 meter sebelah selatan dari rumah keluarga Evans. Terlihat banyak sekali sayur-sayuran berbeda jenis tumbuh subur di kebun itu. Ada kangkung, bayam, wortel, tomat, cabai, bawang merah, bawah putih dan masih banyak lagi.
"Iska, ini kebun sayur siapa?"
Pertanyaan dari seorang pria kepada seorang wanita yang berdiri disebelah kirinya.
"Ini kebun sayur milikku."
Sontak jawaban dari wanita itu, langsung membuat mulut dan mata si pria terbuka lebar karena terkejut tidak percaya.
Bagaimana tidak terkejut?! Si pria tau sendiri kalau si wanita hidup dengan bisa dibilang kekurangan bersama putri dan suaminya. Tapi kali ini si wanita mengaku kalau kebun sayur seluas 1 hektar adalah miliknya. Ya, si pria adalah Cakra Aditya dan si wanita adalah Iska.
Cakra masih mengamati kebun sayur yang diakui oleh Iska sebagai miliknya dengan mata dan mulut yang masih terbuka lebar. Cakra masih tidak habis pikir! Bagaimana bisa Iska memiliki kebun sayur yang sangat luas?
Iska tersenyum saat melihat ekspresi terkejut dari Cakra. Dengan lembut Iska berkata. "Ini adalah kebun sayur peninggalan keluarga bangsawan Ansel, keluarga suamiku."
"Oh..." Cakra mencoba memahami ucapan Iska meskipun masih mengganjal di benaknya.
"Lalu kita mau apa di sini, Ava?" Ucap Cakra berusaha mengalihkan keraguan yang ada di benaknya, meskipun dengan sangat jelas Cakra bisa melihat jika Iska berkata jujur dengan kemampuan dari Mata Matahari.
"Baik!" Cakra langsung berjalan menuju tumpukan karung itu.
Iska tersenyum sejenak saat Cakra menyetujui untuk membantunya tanpa banyak permintaan. Setelah itu Iska langsung berjalan menyusul Cakra.
"Iska, memangnya sayuran apa yang hampir habis?" Ucap Cakra yang pastinya tidak mau salah menanam sayur, makanya dari itu Cakra bertanya terlebih dahulu sebelum bertindak.
"Ehm... Pagi tadi aku lihat?... Ah, sawi sama wortel hampir habis." Ucap Iska setelah mengingat-ingat.
"Baik!" Ucap Cakra yang langsung mencari bibit sawi dan wortel untuk ditanannya.
Setelah mendapatkan kedua bibit sayur tersebut. Cakra dan Iska langsung membagi tugas, Cakra menanam wortel dan Ava menanam sawi.
Karena jarak keduanya cukup jauh, Cakra maupun Iska tidak ada yang membuka suara. Tapi karena hal itu pula, keduanya dapat lebih cepat menyelesaikan tugasnya masing-masing.
Cakra dan Ava berjalan menuju pondok kecil yang berada di tepi kebun untuk beristirahat. Keduanya benar-benar terlihat sangat kelelahan, terbukti dari keringat yang membasahi tubuh mereka berdua.
"Hah... Meskipun tetap lelah, tapi, jika dilakukan berdua rasanya lebih mudah ya." Ucap Iska sambil menempatkan kedua tangannya di belakang tubuhnya, untuk menjadi sandarannya.
Cakra tersenyum lalu menoleh kearah kanan tepat dimana Iska berada.
__ADS_1
"...."
Cakra kesulitan menelan air liurnya sendiri, saat melihat belahan dua gunung Iska terpampang jelas dimatanya. Ditambah adanya keringat yang muncul dari tubuh Iska, membuat dua gunung Iska terlihat mengkilap.
"Oi, sadar! Oi, sadar!" Ucap Cakra dalam hati untuk menghilangkan pikiran joroknya.
"Cakra." Ucap Ava sambil menoleh kearah Cakra.
Sontak Cakra langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dan berharap, Iska tidak melihat jika dirinya memandangi dua gunung kembarnya.
Tapi ternyata tidak!
Iska langsung menutupi dua gunung kembarnya dengan kedua tangannya. Wajahnya langsung memerah seperti tomat karena malu. Bagaimanapun juga Iska sadar jika dua gunung kembarnya sangat indah, besar dan menantang.
Keadaan seketika menjadi hening cukup lama. Keduanya tidak ada yang membuka suara karena sama-sama tersipu malu.
Hingga akhirnya Cakra memberanikan diri untuk berkata. "Sekarang kita mau kemana, Iska?"
Dengan gugup Iska menjawab. "Ehm... A-a-, pulang saja."
"Baiklah, ayo!" Ucap Cakra sambil berdiri.
"Ehm... Ya." Masih dengan perasaan malu, Iska berdiri dari duduknya dan segera berjalan pulang ke rumah.
*****
Kali ini Cakra berjalan bersebelahan dengan Iska. Cakra tidak mau jika dirinya dibuat mabuk kepayang lagi melihat anu gemas Iska saat berjalan.
Karena tidak tau apa yang ada di kepala Cakra, Iska malah tambah gugup saat Cakra berjalan bersebelahan dengan dirinya.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
__ADS_1
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.