Modern System

Modern System
#43 Iska 2


__ADS_3

"Turunkan pedangmu!" Ucap Cakra dengan tatapan tajam.


"Kau mengancam ku dengan benda aneh a-"


*DOR*


Cakra langsung menekan pelatuk pistol GN-2 Premium sebelum pengawal itu bisa menyelesaikan kalimatnya.


Suasana yang tadinya ramai orang bersorak, seketika menjadi hening dalam hitungan detik.


Semua orang terheran-heran ketika melihat pengawal itu tiba-tiba tumbang dengan darah mengucur keluar dari kepalanya.


"A-apa itu tadi?" Ucap pria bangsawan dengan ekspresi ketakutan yang tergambar sangat jelas di wajahnya.


"Tenang, tuan! Kita berdua akan melindungi tuan." Ucap kedua pengawal yang tersisa secara bersamaan, dan secara bersamaan pula mereka berdua langsung berdiri tepat di hadapan pria bangsawan.


"Oi, aku tidak memiliki urusan dengan kalian, cepat menyingkir-lah!" Ucap Cakra sambil tersenyum sinis ketika menyaksikan kedua pengawal tiba-tiba berdiri dihadapannya, dan tentu saja menutup jalur Cakra ke pria bangsawan.


"Sialan kau! Apa kau pikir aku takut kepadamu!!!" Ucap salah satu pengawal dengan nada tinggi sambil.


*SRIINK*


Pengawal itu langsung menempatkan bilah pedangnya ke leher Cakra.


"Heh, .... Oi, kita baru saja bertemu disini, apa kalian mau membunuhku tanpa mengetahui namaku terlebih dulu? Nanti susah lho membuat batu nisannya!" Ucap Cakra yang masih dengan senyum sinis.


"Kalau begitu, siapa namamu?!" Ucap pengawal itu.


Cakra menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat. "Selamat tinggal!"


*DOR*


Sebutir peluru bersarang di wajah atau lebih tepatnya di bawah mata kiri pengawal itu.


"Apa?" Pengawal yang lain sejenak berpikir. Dan akhirnya ia langsung mengangkat tinggi-tinggi pedangnya.


Sepersekian detik kemudian, pengawal itu langsung mengayunkan pedangnya secara vertikal kearah Cakra.


"Heh." Cakra hanya menanggapi serangan itu dengan mundur beberapa langkah kebelakang.


Cakra lalu memutar tubuhnya searah jarum jam hanya dengan bertumpu dengan kaki kiri, karena kaki kanannya diangkat.


*BHUAAK*


Pengawal itu terhuyung beberapa langkah ke samping, setelah pipi kanannya menerima hantaman Spinning Heel Kick atau tendangan tumit berputar dari Cakra.


"Aduh, alah-alah, lemahnya. Hahahaha." Cakra tertawa lepas dibalik tangan kiri yang menutup mulutnya.


"Si-sialan kau!!!" Teriak pengawal itu tidak terima setelah ia berhasil berdiri tegak kembali.


"Bunuh dia!!!" Teriak pria bangsawan.


Pengawal itu menarik mundur pedangnya dengan posisi ujung bilah menghadap lurus ke depan. Dengan tatapan marahnya ia langsung menghunuskan pedangnya ke perut Cakra.


"Heh." Cakra tersenyum sinis sambil melompat ke samping tentunya untuk menghindar.


Disaat Cakra melompat ia juga sekalian membidik kaki lawannya.


*DOR*

__ADS_1


*KLOTANG*


"Argh!!!" Pengawal itu jatuh ke atas tanah, ia mengerang kesakitan dengan sangat-sangat keras.


Massa yang ada disekitar dan sebelumnya bersorak sorai, tiba-tiba diam tak mengeluarkan suara apa lagi bergerak. Mereka semua tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan.


"Monster." Ucap pria bangsawan dengan nada lemah, dan terlihat jika keringat dingin mulai mengucur.


"Oi, santai saja!" Ucap Cakra sambil mengarahkan moncong pistol GN-2 Premium ke kepala pengawal itu.


*DOR*


"...."


"...."


Cakra melangkahkan kaki untuk mendekati pria bangsawan.


"Tolong, tolong ampuni aku tuan, aku, Keluarga Bangsawan An-." Ucap pria bangsawan terpotong.


"Ibu, aku lapar!!!" Teriak seorang anak kecil memotong kalimat pria bangsawan.


".... B4ngke' lah!" Ucap Cakra sambil memandang anak kecil yang berlari meninggalkan kerumunan.


Cakra kembali menatap pria bangsawan. Dan berkata. "Apa yang akan kau katakan tadi?"


"Tolong, tolong ampuni aku tuan, aku, Keluarga Bangsawan Ansel akan memberikan apapun yang kau mau." Tepat setelah pria bangsawan mengucapkan kalimatnya, ia langsung berlutut di hadapan Cakra.


".... Hah~, kenapa rasanya aku yang jadi antagonis disini? Tapi tak apalah." Ucap Cakra sambil tersenyum sinis. "Keluarkan semua uangmu!" Lanjutnya.


"Ba-baik." Ucap pria bangsawan yang kemudian langsung mengeluarkan sekantong koin emas. "Ini tuan." Pria bangsawan langsung memberikan sekantong uang itu kepada Cakra.


"Terima kasih." Ucap Cakra sambil menerima sekantong uang itu.


"Be-benar, tuan?" Ucap pria bangsawan sangat senang.


"Ya." Cakra.


Tanpa pikir panjang lagi, pria bangsawan itu langsung berdiri. Ia dengan segera membalikkan tubuhnya dan langsung lari tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


*DOR*


Punggung pria bangsawan tiba-tiba mengucurkan darah segar. Sepersekian detik kemudian, ia jatuh terkapar.


"Alah-alah, maaf~." Ucap Cakra yang masih mengarahkan moncong pistol GN-2 Premium kearah pria bangsawan lari.


"...."


"...."


Suasana hening tercipta setelah pria bangsawan tumbang.


"Hah~ sudah selesai ya?" Ucap Cakra sambil menoleh ke sana kemari. "Oi, kenapa kalian masih belum bubar?" Lanjutnya.


Massa pun akhirnya membubarkan diri.


"Oi, tunggu-tunggu! Dimana Iska?" Ucap Cakra panik sekaligus bingung tak melihat sosok Iska diantara massa yang membubarkan diri.


"System."

__ADS_1


Pistol GN-2 Premium milik Cakra tiba-tiba menghilang dari pandangan. Pistol GN-2 Premium tersimpan di penyimpanan system.


[Iska memiliki trauma masa lalu yang membuatnya tidak sanggup menyaksikan darah manusia menetes keluar]


"Maksudnya?" Ucap Cakra dalam hati yang tak mengerti maksud penjelasan system.


[Mudahnya Iska sudah pulang]


"Tinggal bilang begitu aja apa susahnya sih?" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya dalam hati, ia langsung berjalan menuju rumah keluarga Evans.


*****


"Cakra!!!"


Seorang wanita cantik keluar dari sebuah rumah, wanita itu berlari menuju Cakra yang berdiri tak jauh dari rumah itu. Ya, wanita itu ialah Carissa Berly.


"Hah~ Apa?" Ucap Cakra dengan nada dan ekspresi datar.


"Sayang, ada apa dengan nona Iska?" Ucap Carissa dengan ekspresi khawatir.


".... Memangnya dia kenapa?" Cakra.


"Saat nona Iska kembali dia terlihat sangat ketakutan, aku takut jika terjadi sesuatu dengannya, sekarang jawab dulu pertanyaan ku!" Carissa.


"Terjadi sedikit masalah tadi." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan melewati Carissa yang ada di depannya. "Sekarang dia ada dimana?" Lanjutnya sambil terus berjalan.


Dengan cepat, Carissa langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan di samping Cakra. "Dia ada di kamarnya."


*****


"Tuan."


"Tuan."


"Tuan."


Vanya, Silvi dan Sachi langsung memeluk erat tubuh Cakra, ketika mereka melihat Cakra sudah kembali ke rumah keluarga Evans.


Vanya, Silvi dan Sachi sudah menunggu sejak tadi!


"Tuan, ada apa dengan nona Iska?"


Pertanyaan yang sama kembali didengar oleh Cakra. Tapi pertanyaan kali ini keluar dari mulut Vanya.


"Ada sedikit masalah." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan menuju kamar Iska.


Bersambung......


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟

__ADS_1


Subscribe


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2