
"Baiklah, ayo kita berjalan kembali." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan, dan tentu saja diikuti Vanya dan yang lainnya.
Mereka berempat kembali berjalan menyusuri lorong labirin. Cakra memimpin langkah mereka semua dengan bantuan maps dari system.
"Alah-alah, apa lagi... itu?!" Ucap Cakra dalam hati saat kedua matanya menangkap bentuk panjang dan memiliki kaki dibalik gelapnya lorong labirin.
"Tuan, di sana ada monster!" Ucap Silvi dengan nada tinggi sambil menunjuk ke depan.
"Apa?" Vanya.
Tepat setelah itu, Vanya, Silvi dan Sachi langsung berjalan maju melewati Cakra dan langsung mengambil sikap siaga bertarung dengan senjatanya masing-masing. Vanya dengan tongkat, Silvi dengan palu besar dan Sachi dengan sepasang belati.
"Heh." Cakra hanya bisa tersenyum melihat ketiga gadis itu mencoba melindungi dirinya.
*TAP... TAP... TAP...*
Vanya langsung berlari maju sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkatnya, saat monster kelabang raksasa sebesar manusia dewasa sudah terlihat.
*PLAAAK*
Vanya menyabetkan tongkat kayunya ke kepala kelabang raksasa itu. Vanya tidak berhenti sampai disitu saja, Vanya segera menarik kembali tongkatnya, saat kelabang raksasa mengangkat kepalanya pertanda bahwa dia siap menyerang atau bertarung.
Vanya memanfaatkan kelengahan kelabang raksasa dengan sangat baik. Vanya menyodokkan ujung tongkatnya ke bagian bawah kepala kelabang raksasa, dan menahannya agar tetap diposisi itu.
*TAP... TAP... TAP...*
Dari arah belakang Vanya, terlihat Silvi berlari maju. Silvi langsung mengayunkan palu besarnya secara horizontal setelah melewati tubuh Vanya.
*BHAAAM*
Hantaman keras dari palu besar Silvi, membuat kelabang raksasa mundur beberapa langkah kebelakang dan menggeliat kesakitan.
*CLEB*
Tiba-tiba saja muncul Sachi yang langsung menusukkan kedua belati miliknya, ke kepala kelabang raksasa.
"A-apa itu tadi?" Ucap Cakra dengan mulut dan mata terbuka lebar melihat pembantaian seekor kelabang raksasa. "Katanya tidak terlalu pandai, tapi kok?" Lanjutnya dalam hati.
Setelah melamun beberapa saat, Cakra langsung mengamati layar system kembali. "Carissa, tetaplah disitu, jangan pergi kemana-mana!" Ucap Cakra dalam hati frustasi saat melihat kumpulan orang yang ada di layar system mulai menunjukkan pergerakan.
"Sial! Bagaimana ini? Kalau aku naik motor, mereka gimana?" Ucap Cakra masih dalam hati saat melihat Vanya dan yang lainnya masih sibuk bersenang-senang dengan mayat kelabang raksasa yang baru saja mereka bantai.
Cakra berfikir keras untuk mencari jalan keluar dari masalahnya.
"Oh iya, Galang!" Ucap Cakra dengan ekspresi gembira.
"Galang, bisakah kau keluar bersama pasukan mu?! Alvin, kau juga!" Ucap Cakra saat sudah berada di luar tenda.
*SWUUUT... SWUUUT...*
Semua Pasukan Kebangkitan yang terdiri dari 11 monster serigala sudah termasuk Galang, dan satu Elf yang diberi nama Alvin muncul di hadapan Cakra.
Kemunculan Pasukan Kebangkitan membuat Vanya, Silvi dan Sachi gemetar ketakutan. Mereka tidak pernah menyangka atau bahkan bermimpi akan bertemu dengan monster sebanyak itu.
Vanya, Silvi dan Sachi memang bisa menghadapi seekor monster kelabang raksasa, tapi apa kabar jika mereka disuruh berhadapan dengan Pasukan Kebangkitan yang berjumlah hampir tiga kali lipat dari mereka.
Untungnya.
__ADS_1
"Oi, sini! Jangan takut!" Ucap Cakra memanggil Vanya dan yang lainnya.
"...."
Karena tidak memiliki pilihan lain, Vanya, Silvi dan Sachi memberanikan diri untuk berjalan menuju Cakra melewati barisan Pasukan Kebangkitan.
"Jangan takut, mereka tidak akan melakukan apa-apa kepada kalian." Ucap Cakra menenangkan Vanya dan yang lainnya saat sudah berdiri di dekatnya.
"Ba-baik." Vanya.
"Ada apa tuan memanggil kami?" Ucap Alvin memulai pembicaraan.
"Sekarang aku membutuhkan kecepatan untuk mengejar. .... Ikuti aku dan lindungi aku." Cakra.
"Baik, tuan." Galang.
"Alvin, kau naik ke punggung Galang!" Ucap Cakra sebelum memandang Vanya dan yang lainnya. "Kalian naiklah juga ke monster serigala yang lainnya!" Ucap Cakra kepada Vanya dan yang lainnya.
"Baik." Ucap Vanya dan yang lainnya secara bersamaan. Mereka bertiga masih terlihat ketakutan saat berjalan mendekati monster serigala. Tapi akhirnya, mereka tetap naik ke punggung monster serigala.
"System."
Cakra langsung menaiki motor Satria FI-150 yang muncul di hadapannya, setelah Alvin naik ke punggung Galang, Vanya, Silvi dan Sachi juga naik ke punggung masing-masing monster serigala yang lainnya.
*BRUUUM*
*WHOOOOM*
Cakra langsung memacu motornya untuk mengejar pergerakan kelompok Carissa. Tentu saja, Galang dan yang lainnya langsung mengejar Cakra dari belakang.
*WHOOOOM*
Raungan mesin terdengar saat Cakra menekan kopling motor untuk berbelok.
"Alah-alah." Ucap Cakra saat melihat banyak sekali monster kelelawar di depannya.
*SWUUUT*
Sebuah anak panah melesat melewati kepala Cakra.
*CLEB*
Cakra memperlambat laju motornya. Pasukan kebangkitan terus berlari melewati Cakra.
"Auuuuu!" Auman Galang terdengar keras pertanda bahwa ia meminta pasukannya untuk membantai monster kelelawar yang menghadang.
Semua monster serigala yang tak membawa tunggangan di punggung mereka, langsung menerkam para monster kelelawar secara serentak.
Alvin yang duduk di punggung Galang, juga tidak mau kalah, ia langsung menembakkan anak panahnya secara terus-menerus.
*CLEB*
*CLEB*
*CLEB*
Tidak perlu memikirkan Alvin kehabisan anak panah, karena setiap Anak panah yang ditembakkan, akan kembali ke pemiliknya kembali.
__ADS_1
*SWUUUT*
Tiba-tiba saja terlihat monster serigala yang ditunggangi Silvi melompat tinggi.
*BHAAAM*
*BHAAAM*
*BHAAAM*
Silvi memutarkan palu besarnya untuk menghantam seluruh monster kelelawar yang ada di sekitarnya.
*WHOOOOM*
Setelah jalan di depannya sudah dibersihkan, Cakra langsung melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan akselerasi Cakra sampai membuat motornya hand stand atau roda depan terangkat.
*****
*****
*****
Terlihat terjadi pertarungan disisi lain labirin. Pertarungan itu melibatkan manusia dalam jumlah cukup banyak melawan 15 monster laba-laba.
Dari pihak manusia sudah banyak korban yang terperangkap di jaring laba-laba. Dari pihak monster laba-laba belum tercatat adanya korban jiwa.
*SRUUUT*
Seekor monster laba-laba menembakkan jaringnya ke salah satu wanita cantik dengan rambut panjang berwarna biru. Ya, wanita itu adalah Carissa Berly.
Carissa yang sadar akan hal itu langsung mengarahkan telapak tangan kirinya ke jaring laba-laba yang menuju kearahnya.
Sebuah lingkaran sihir muncul di depan telapak tangan Carissa. "Dewi Air, Serangan pertama : Jet Air."
Lingkaran sihir itu menembakkan air bertekanan super tinggi lurus ke depan.
*BHRUUS*
Tekanan air yang begitu tinggi juga membuat monster laba-laba yang menembakkan jaringnya ke Carissa, ikut terhempas kebelakang, monster itu juga terkena semburan jet air.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
__ADS_1