
*BRUAAK*
*BRUAAK*
*BRUAAK*
Tiga perampok tewas dihantam kendaraan lapis baja, enam yang lainnya berhasil menghindari hantaman dengan melompat ke berbagai arah.
Kendaraan lapis baja tiba-tiba berjalan mundur.
"Argh!!!"
Seorang perampok yang sialnya malah berada di belakang kendaraan lapis baja, harus menerima tubuhnya dilindas tanpa ampun.
.....
Setelah melindas tubuh salah satu perampok, tiba-tiba saja kendaraan lapis baja itu tak mengeluarkan suara seperti sebelumnya. Alias mesin kendaraan lapis baja, mati.
Pintu yang berada di sebelah kanan kendaraan lapis baja, terbuka. Cakra yang mengendarai kendaraan itu pastinya berada di sebelah kanan. Cakra langsung melompat keluar tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.
Cakra meregangkan tubuhnya, dan setelah itu ia berkata. "Alah-alah, ada apa ini?"
"Si-siapa kau? Kenapa kau bisa keluar dari monster itu?" Ucap salah satu perampok yang sudah yakin umurnya tidak akan lama lagi. Tentu saja ia sangat putus asa, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri rekan-rekannya tewas dengan mengenaskan.
"Hah~ kau bisa bertanya kepada orang itu!" Ucap Cakra sambil menunjuk Dilla yang mematung di tempatnya berdiri. "Iya, kan, Putri Dilla?" Lanjutnya.
"Tuan, apa kau punya masalah dengan putri lemah itu? .... Bagaimana kalau kita bekerja sama, kita bisa meminta tebusan yang sangat besar kepada kerajaan jika berhasil menangkap putri lemah itu, tembusannya nanti kita bagi 60% untuk tuan, apakah tuan mau?" Ucap perampok yang lain.
"Heh." Cakra tersenyum dan memandang sinis Dilla, setelah mendengar tawaran perampok untuknya.
"Kalian tidak akan pernah mendapatkan apa-apa dari kerajaan, jikapun kalian berhasil menangkap ku." Ucap Dilla dengan nada lemah sambil menunduk.
"...."
"...."
Cakra dan para perampok hanya bisa terdiam kebingungan dengan maksud ucapan Dilla.
"Percuma kalian menangkap ku, kerajaan tidak akan menggubris atau bahkan mendengar permintaan tebusan yang kalian kirim." Dilla.
"...."
"Ngomong apa sih?" Ucap Cakra dengan sangat santai seakan tak pernah memiliki dosa sama sekali.
"Tuan, jangan pedulikan apa yang dikatakan putri lemah itu, ayo cepat tangkap dia tuan!" Ucap perampok yang lain dengan nada tinggi dan tempo cepat.
"Bentar, tunggu dulu! Kok kalian malah memerintah ku? Aku belum setuju bergabung dengan kalian lho. .... Lagi pula aku sudah menerima misi yang harus aku selesaikan." Ucap Cakra sambil secara bergantian memandang para perampok yang tersisa.
"System, GN-2 Premium."
Cakra langsung meraih pistol yang muncul dan melayang dihadapannya. Cakra langsung melangkah secara perlahan menuju para perampok sambil memasang senyum sinis di wajahnya.
"Tuan, kita memberikan tawaran yang bagus, apa serius tuan tidak mau bekerjasama dengan kami?" Ucap salah satu perampok sambil berjalan mundur ketakutan.
"Alah-alah, aku tidak membutuhkan uang kalian!" Ucap Cakra sambil mengarahkan moncong pistolnya dan.
__ADS_1
*DOR*
Tanpa banyak basa-basi lagi, Cakra langsung menekan pelatuk pistol GN-2 Premium.
[Ding~ selamat tuan rumah berhasil mengalahkan seorang manusia dengan level Hijau. Tuan rumah mendapatkan 100 poin Exp]
Para perampok yang sebelumnya memandang ke rekan mereka yang tewas, secara perlahan mulai memandang kembali ke arah Cakra.
"...."
Ketakutan para perampok bertambah besar ketika melihat Cakra tidak ada di hadapan.
"Alah-alah, cari siapa, mas?" Ucap Cakra yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang salah satu perampok, sambil mengarahkan moncong pistolnya ke kepala belakang perampok itu.
*DOR*
*DOR*
*DOR*
[Ding~ selamat tuan rumah berhasil mengalahkan 4 orang manusia dengan level Hijau. Tuan rumah mendapatkan 400 poin Exp]
[Ding~ selamat tuan rumah telah berhasil menyelesaikan misi dari system. Tuan rumah mendapatkan 1.000 poin system dan 1 kotak hadiah kelas 4]
Dengan sangat mudah Cakra memenangkan pertarungan ini. Kemenangan kali ini berhasil diraih mudah oleh Cakra, karena Cakra sudah berhasil meruntuhkan mental lawan-lawannya sebelumnya.
Sebelum menghadapi para lawan, Cakra membunuh rekan-rekan perampok dengan sangat sadis, yakni ditabrak dan ada juga yang dilindas. Kejadian itu dilihat secara langsung oleh para perampok, dan kejadian itu berhasil meruntuhkan mental para perampok sebelum bertarung.
"Hah~" Cakra menghela nafas panjang sambil berjalan mendekati Dilla yang masih terlihat ketakutan.
"Oi, kenapa kau hanya diam mematung? Dimana kesombongan mu saat bertemu denganku dulu?" Ucap Cakra dengan nada datar.
"...."
"Heh, jika tidak mau menjawab, ya tidak apa, tapi seingat ku kau pernah menantangku, bagaimana kalau hari ini kita bertarung?" Ucap Cakra yang masih terus mengarahkan pistolnya ke kepala Dilla.
"...."
"...."
*DOR*
Suara letupan senjata api terdengar memecah keheningan.
"Aaach!!!" Teriak Dilla kesakitan saat sebutir peluru bersarang di paha kirinya.
Ya, Cakra sengaja mengganti arah tembakannya. Tapi tetap saja, tertembus peluru meskipun itu di kaki akan mengakibatkan rasa yang teramat sakit.
Buktinya, Dilla sampai mengerang kesakitan sangat keras dan jatuh sambil memegangi bagian yang terkena tembakan.
"Sayang!!!"
Cakra langsung menoleh kebelakang tepat setelah mendengar suara yang tak asing memanggilnya.
"Apa?" Cakra.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Carissa sambil berjalan mendekati Dilla.
"Oke, aku nggak akan melakukan kesalahan yang sama." Ucap Cakra dalam hati takut terkena demo kembali.
"Enggak apa juga kan, memangnya dia ini siapa mu? Atau jangan-jangan kalian sudah akrab?" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung menghilangkan atau menyimpan pistol GN-2 Premium ke penyimpanan system.
"Apa sakit?" Ucap Carissa sambil membantu Dilla duduk.
"Terima kasih, aach!" Ucap Dilla sambil memandang Carissa.
"Apa sesakit itu? Darahmu banyak sekali yang keluar, jangan banyak bergerak dulu! Apa kau punya perban?" Carissa.
"Ada, di-." Ucap Dilla terpotong.
"Oi, kalau aku dicuekin tak tinggal lho!" Ucap Cakra menyela kalimat Dilla.
"Sayang, kau bisa bersikap lembut sedikit tidak sih?" Carissa.
"Ehm... Entah, aku sendiri juga tidak tau." Ucap Cakra sambil mengangkat bahu.
"Sayang, ini bagaimana cara mengobatinya?" Carissa.
"Keluarkan dulu pelurunya." Cakra.
"Caranya?" Carissa.
"Hah~." Cakra menghela nafas panjang. "System!" Dalam hati.
Bukan sulap, bukan sihir, tiba-tiba saja peluru yang bersarang di paha kiri Dilla keluar dan jatuh di atas tanah.
Carissa dan Dilla yang melihat hal itu hanya bisa bertanya pada diri mereka sendiri, 'benda apa itu?'
"System."
Cakra mengambil sebuah pil yang muncul dan melayang-layang di hadapannya.
"Minum pil ini!" Ucap Cakra sambil menyodorkan sebuah pil ke Dilla.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
__ADS_1