
Di jalanan Ibukota Kerajaan Aila, Kota Aly. Terlihat Cakra, Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi berjalan menuju tempat tinggal Evans. Terlihat juga orang-orang yang berada tidak jauh dari Cakra dan yang lainnya, mengamati Cakra dan yang lainnya dengan tatapan iri.
Bagaimana tidak? Cakra memiliki ketampanan luar biasa, ditambah dengan gaya rambut dan pakaian yang tidak biasa mereka lihat, membuat para wanita langsung jatuh hati begitu saja.
Dan juga Cakra membuat banyak sekali para pria iri. Cakra berjalan atau bahkan dikelilingi oleh empat wanita cantik sekaligus, meskipun dua diantara keempat wanita itu masihlah anak-anak.
Benar, mereka semua mengira jika Cakra tak lain dan tak bukan adalah Raja Harem.
"Oi, ini bukan cerita dari Jepang, ini asli dari Indonesia. ... Memangnya apa iya jika aku terlihat seperti Raja Harem?" Ucap Cakra dalam hati tidak terima dengan narasi yang dibuat My Project.
*****
Cakra, Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi berhenti di depan pintu masuk sebuah rumah.
*TOK... TOK... TOK...*
"Apakah ada orang?" Ucap Cakra sambil mengetuk pintu rumah itu.
Setelah beberapa saat. Pintu itu terbuka, terlihat seorang wanita kira-kira berusia 19 tahun, berdiri dibalik pintu itu. Ya, wanita itu ialah istri Evans, ia bernama Iska.
"Tuan dan rombongan cari siapa?" Ucap Iska berusaha se-sopan mungkin.
"Apakah ini rumah Evans? Kalau iya, kami diminta datang kesini oleh Evans." Ucap Cakra sambil menunjukkan dan memberikan kertas yang diberikan Evans kepada Iska.
Iska menerima kertas itu dan dibacanya.
"Iya, ini adalah kediaman Evans suami saya, tuan dan rombongan silahkan masuk." Ucap Iska yang langsung mempersilahkan Cakra dan yang lainnya untuk masuk, setelah membaca apa yang dituliskan Evans di kertas itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Cakra langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah Evans.
"Permisi." Ucap Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi secara bersamaan ketika melewati Iska untuk masuk ke dalam rumah Evans.
Setelah mereka semua berada di ruang tamu milik Evans atau Iska.
"Maaf jika adanya seperti ini." Ucap Iska merendah karena memang rumahnya tidaklah besar dan mewah. Tapi, itu sudah cukup bagi keluarga Evans untuk tinggal!
Cakra dan yang lainnya memaklumi keadaan itu dan bahkan sama sekali tidak peduli. "Tidak apa-apa." Tepat setelah Carissa mengucapkan kalimatnya, Ia dan yang lainnya langsung duduk di lantai rumah itu.
"Aku buatkan minum dulu." Ucap Iska sambil berjalan memasuki rumahnya.
"Sayang, sebenarnya apa yang kau dan tuan Evans bicarakan, hingga dia mengizinkan kita untuk tinggal dirumahnya?" Ucap Carissa sambil memasang ekspresi penuh berharap kepada Cakra.
"Bukan apa-apa." Ucap Cakra menjawab sejujur-jujurnya.
"Heh!" Carissa langsung memalingkan wajahnya dari Cakra.
.....
Tak lama kemudian Iska keluar dari dalam rumahnya, sambil membawa nampan yang diatasnya terdapat lima gelas berisi air minum. Meskipun hidup Iska bisa dibilang serba kekurangan. Tapi Iska tetap berusaha menyuguhkan yang terbaik yang dimiliki kepada tamu-tamunya.
"Silahkan diminum!" Ucap Iska sambil meletakkan gelas berisi air teh yang dibawanya di hadapan Cakra dan yang lainnya. Lalu dirinya duduk tak jauh dari para tamunya.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Carissa sambil tersenyum.
"Oh iya maaf, saya lupa memperkenalkan diri, tuan dan rombongan bisa memanggil saya Iska." Ucap Iska memulai pembicaraan sekaligus berkenalan.
"Saya Carissa, dan ini suami saya, Cakra." Ucap Carissa sambil memeluk Cakra.
"Saya Cakra." Ucap Cakra sambil berusaha melepaskan pelukan Carissa.
"Saya Vanya."
"Saya Silvi."
"Saya Sachi."
Mereka semua berkenalan.
"Kalau boleh tau, tuan dan nona pasti petualang kaya." Ucap Iska sambil tersenyum.
"Maksudnya?" Ucap Cakra tidak mengerti. Begitu pula dengan Carissa, ia juga tidak mengerti dengan maksud Iska.
"Tuan dan nona memiliki empat bud4k, pas-." Ucap Iska terpotong.
"Maaf, saya tidak suka ada orang yang mengucapkan kata bud4k dihadapan ku, lagi pula mereka adalah temanku, bukan bud4k ku!" Ucap Cakra menyela kalimat Iska dengan tegas.
"...."
"Maaf, Cakra memang seperti ini, tolong maafkan kelancangan kami." Ucap Carissa tidak enak.
....
Hari itu berlalu begitu saja, tidak ada hal yang cukup penting untuk diceritakan disini.
*****
Keesokan harinya.
Di kursi yang berada di halaman rumah keluarga Evans, terlihat sosok Cakra sedang duduk menikmati udara pagi dengan sebatang rokok yang berada di antara jari telunjuk dan jari tengah.
"Huh~" Cakra menghembuskan asap rokok.
*KREEK*
Pintu rumah keluarga Evans terbuka, terlihat sosok Evans keluar dan segera berjalan mendekati Cakra.
"Tuan Cakra." Ucap Evans ketika sudah berada dekat dengan Cakra.
"Apa?" Ucap Cakra sambil menoleh ke Evans.
"Bolehkah saya minta tolong? Tolong bantu Iska di pasar. .... Saya harus ke restoran segera, saya tidak sempat untuk membantu istri saya." Evans.
"...." Cakra berpikir sejenak.
__ADS_1
"Boleh." Ucap Cakra sambil berdiri.
"Terima kasih, tuan... Kalau begitu saya tinggal dulu." Tepat setelah Evans mengucapkan kalimatnya, ia langsung pergi meninggalkan Cakra.
"E... B4ngke'!!!" Ucap Cakra sambil terus menatap kepergian Evans.
Tanpa banyak pikir panjang lagi. "System, buka maps." Ucap Cakra dalam hati.
Setelah layar system muncul di hadapan Cakra, dengan tampilan layar keadaan sekitar, Cakra mulai melangkahkan kaki.
*****
Setelah Cakra berjalan cukup jauh, akhirnya Cakra mendengar.
"Cabai murah... Cabai murah..."
"Sayurannya... Sayurannya..."
Ya, itulah teriakan para pedagang pasar. Dengan semangat Cakra berjalan memasuki pasar itu. Cakra terus berjalan melewati orang-orang yang sedang melakukan transaksi dan tawar-menawar. Cakra sendiri juga heran, kenapa bumbu dapur seperti garam, lada, dan masih banyak lagi, juga dijual di dunia itu.
Saat Cakra berjalan di depan salah satu lapak. Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang dikenalnya.
Cakra menolehkan kepalanya kearah asal suara teriakan tersebut. Dan benar saja Cakra langsung berjalan mendekati lapak dagangan Iska yang sepi pembeli.
Pasti taulah kenapa ekspresi Iska tampak sedih. Sebagai pedagang pastinya akan merasa sedih jika barang dagangannya tidak ada yang laku terjual.
"Sayur-sayuran, ya." Gumam Cakra sambil mengangguk-angguk melihat barang dagangan Iska.
Cakra berjalan mendekat dan langsung berdiri dengan posisi membelakangi lapak Iska. Dengan lantangnya Cakra berteriak. "Ibu-ibu, sayurannya... Ibu-ibu sayurannya♪..."
Ya benar, memang ibu-ibulah yang menjadi pemeran utama untuk urusan dapur.
Bersambung......
Permisi, nolep numpang lewat.
Ehm... Dilihat dari like dan komentar yang semakin menurun, sepertinya pembaca lebih menyukai karakter Cakra pada awal cerita ya?
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
__ADS_1
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.