Modern System

Modern System
#56 Istana Kerajaan


__ADS_3

"Kalau besok sepertinya tidak bisa, besok pasti kakakku akan mengadakan acara dengan para pedagang bud4k." Ucap Dilla yang seakan menyesal terbukti dari raut wajahnya.


"Kan aku perlunya sama kau, bukan ama kakakmu." Ucap Cakra sambil terus menatap mata Dilla.


"Ehm.... Baiklah, kau boleh kesini besok, tapi janji langsung temui aku." Ucap Dilla sambil tersenyum manis.


"Kalau begitu, dah, sampai besok." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan pergi.


"Dah, hati-hati." Ucap Dilla sambil melambaikan tangan.


Cakra terus menyusuri jalanan Ibukota Kerajaan Aila, Kota Aly. Cakra dapat menyaksikan jika para pedagang bud4k sudah mulai berdatangan, hal itu terbukti dari banyak sekali bud4k berbagai ras mau itu tua, muda, pria, wanita tertidur di pinggir jalan.


Kedua telapak tangan Cakra mengepal erat menyaksikan keadaan sesama makhluk hidup yang diperjualbelikan, antara marah atau sedih dan mungkin kedua perasaan itu sudah bercampur aduk dalam diri Cakra.


"Akan ku hapus peraturan gila ini!" Ucap Cakra dalam hati yang sudah berkobar api amarah.


*****


*****


*****


"Tidak salah aku datang ke sini."


Cakra menyaksikan sosok Evans duduk menunduk termenung di depan rumahnya sendiri.


"Yo, I'm back." Ucap Cakra sambil mengangkat tangan kanannya dan berjalan mendekati Evans.


Evans mengangkat kepalanya. "Tuan Cakra." Ucap Evans sambil berusaha tersenyum meskipun sulit.


Cakra duduk begitu saja di samping Evans, tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.


"Rokok?" Ucap Cakra sambil menyodorkan sebungkus rokok ke Evans.


"Heh."


Karena tidak mendapatkan tanggapan, Cakra langsung menyalakan rokok untuk dirinya sendiri.


"Huh~."


"Apakah seperti ini rasanya sedih karena tidak mampu melindungi orang tersayang?" Ucap Evans dengan nada lemah sambil terus menunduk.


"Huh~." Cakra menghembuskan asap rokok. "Kenapa kau sedih? Bukankah dulu kau menikahi Iska hanya untuk menebus kesalahanmu." Ucap Cakra tanpa memandang lawan bicaranya.


"Dulu? Memang benar seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu rasa sayang tumbuh tanpa aku sadari."


".... Menutupi rahasia dari orang kuat seperti tuan memang tidak bisa, andai saja aku kuat, akan ku hancurkan siapapun demi melindungi orang yang berharga bagiku." Ucap Evans sambil lagi tersenyum getir.


"Huh~ aku paham dengan maksudmu, tapi menangis hanya untuk seorang wanita itu memalukan." Ucap Cakra sambil menatap tajam Evans yang masih menunduk.


"Tidak bisa dipercaya, aku mendengar kalimat seperti itu dari pria yang sudah menikah. .... Tuan bisa berkata seperti itu, tapi apa tuan bisa tau perasaan wanita ketika mendengar kalimat seperti tadi?" Ucap Evans giliran menatap tajam Cakra.


!!!!

__ADS_1


Mata Cakra terbuka lebar ketika mendengar kalimat terakhir Evans. Cakra memalingkan wajahnya dan lalu menunduk. Cakra seakan tersadar dari kebodohannya selama ini, Cakra memiliki mata yang bisa digunakan untuk melihat apakah orang itu berbohong atau tidak.


Tapi, Cakra malah dibutakan oleh masa lalunya ketika melihat wanita yang sebenarnya selalu menunggu dirinya, Carissa Berly.


"Mungkin kau benar. .... Ternyata selama ini aku dibutakan oleh masa laluku." Ucap Cakra sambil secara perlahan mengangkat kepalanya.


"Tuan, bolehkah aku meminta bantuan mu? Mungkin ini akan menjadi permintaan terakhirku, akan aku berikan apapun yang kau mau jika kau membantuku kali ini." Ucap Evans dengan penuh berharap.


".... Tidak usah kau minta aku akan tetap membantumu, yah~ sebenarnya aku juga me- bukan! Lebih tepatnya mencari masalah dengan siapa tadi? Ni...cole, ya Nicole!" Cakra.


*KREEK*


Tiba-tiba pintu rumah Evans terbuka.


"Ayang! kau dari mana saja?!!"


Carissa segera mendekati Cakra dengan cepat. Tanpa ragu-ragu Carissa langsung memeluk Cakra.


Hidung Carissa tiba-tiba mencium aroma aneh ketika memeluk Cakra, bukan bau rokok tapi.


"Bau parfum wanita." Ucap Carissa yang tiba-tiba membeku. "Ayang, kau habis apa?"


Cakra menggerakkan tangan kanannya untuk mencubit hidung Carissa.


"Ach~ sakit!" Erang Carissa.


"Jangan berpikir aneh-aneh, aku hanya menemui Dilla." Ucap Cakra sambil memandang Carissa.


Carissa menggembungkan pipinya. "Kau meninggalkan istrimu yang cantik ini untuk menemui wanita lain?!"


Sedangkan disisi lain, Carissa terlihat sangat senang atau bisa dibilang bahagia, dapat melihat kembali Cakra tersenyum manis nan tulus sejak mereka berdua menikah.


"Aku akan masuk dulu, maaf jika mengganggu kalian." Ucap Evans sambil berusaha berdiri.


Cakra langsung menoleh kearah Evans dan berkata. "Bolehkah kami tinggal disini sementara?"


"Kenapa kau meminta izin? Rumahku selalu terbuka untuk kalian, dan sepertinya Vanya dan yang lainnya sudah tidur, cepat masuk!" Evans.


*****


*****


*****


Keesokan harinya.


Terlihat sosok Cakra berjalan seorang diri menuju istana kerajaan. Ia memiliki janji hari ini dengan Dilla di istana.


Ketika Cakra sampai didepan gerbang istana, Cakra diperhatikan oleh dua prajurit yang sedang berjaga.


"Siapa anda dan ada urusan apa anda datang ke istana?" Ucap salah satu prajurit.


"Namaku Cakra Aditya, aku datang untuk menemui putri Dilla." Ucap Cakra berusaha bersikap sopan, karena jika tidak, tidak mungkin ia diizinkan masuk.

__ADS_1


"Baiklah, anda tunggu disini sebentar!" Tepat setelah salah satu prajurit mengucapkan kalimatnya, ia langsung berlari masuk ke istana.


*****


Beberapa saat kemudian.


Seorang prajurit berlari keluar dari dalam istana menuju gerbang.


"Silahkan masuk, putri Dilla sudah menunggu anda." Ucap prajurit itu.


Prajurit yang satunya lagi langsung membukakan gerbang, mempersilahkan Cakra masuk.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Cakra berjalan masuk. Cakra berjalan dengan sangat santai menuju pintu masuk istana Kerajaan Aila.


"Selamat datang, Cakra."


Sesampainya Cakra di pintu masuk istana, ia langsung disambut oleh Dilla, yang sepertinya sudah menunggu kedatangan Cakra.


"Jadi seperti ini istana kerajaan." Ucap Cakra sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Ayo ke kamarku!" Ucap Dilla sambil menarik tangan Cakra.


Cakra hanya menuruti Dilla, Cakra terus berjalan di belakang Dilla.


Sayangnya kamar Dilla harus melewati ruang makan istana, jadi mau tak mau mereka berdua harus berjalan melewati beberapa orang yang sedang menikmati hidangan yang disajikan.


"Dilla, kau tidak sopan sekali, ayo makan dulu." Ucap Nicole ketika melihat Dilla melintas.


"Aku sudah kenyang." Ucap Dilla acuh tak acuh sambil terus berjalan.


"Dilla, berhenti!!! Ayah tidak pernah mengajarkanmu bersikap seperti itu!!!" Ucap sang raja yang juga berada di tempat yang sama dengan nada tinggi.


Bersambung......


Permisi, Nolep Tim numpang lewat. Nama saya Lais Aly, disini saya bertugas sebagai edi-.


"Haik." My Project.


MYP sialan!!! Saya Lais Aly, saya adalah Raja Kerajaan Aila, entah kenapa MYP tidak mau memperkenalkan saya (mungkin MYP lagi mabuk janda). Jadi saya memperkenalkan diri sendiri. Ingat Lais Aly adalah karakter Raja Kerajaan Aila.


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟


Subscribe

__ADS_1


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2