Modern System

Modern System
#25 Lorong Labirin


__ADS_3

"Ada apa, tuan?" Ucap Vanya terkejut karena Cakra. Tidak hanya Vanya, Silvi dan Sachi juga ikut terkejut karena Cakra.


"Ah, tidak apa-apa. Hehehe." Cakra tertawa kecil.


Cakra kembali mengamati maps. "Sepertinya disini ada kumpulan orang." Ucap Cakra dalam hati. Dan setelah itu Cakra mengingat-ingat kejadian sebelum dirinya ada di labirin ini.


"Carissa! Oh iya, dimana Carissa? Apa dia juga bersama kumpulan orang ini?" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung menghidupkan rokok yang sejak tadi sudah ada di tangannya.


"Huh~" Cakra menghembuskan asap rokok.


"Ayo ikuti aku!" Ucap Cakra sambil melangkahkan kaki menuju arah yang sudah ditentukan.


Vanya, Silvi dan Sachi hanya bisa mengikuti Cakra dari belakang.


Mereka berempat terus menyusuri labirin dengan sangat waspada. Sambil terus berjalan, Cakra selalu berusaha membuat Vanya, Silvi dan Sachi bisa akrab dengannya.


"Berhenti!" Ucap Cakra sambil membentangkan kedua tangannya agar Vanya, Silvi dan Sachi tidak berjalan mendahuluinya.


"Ada apa, tuan?" Ucap Vanya terkejut.


"Lihat di sana!" Ucap Cakra sambil menunjuk ke depan.


Dan benar saja, tak perlu menunggu waktu lama setelah Cakra menunjuk. Tiba-tiba dari lorong labirin muncul lima semut raksasa sebesar tinggi badan manusia dewasa berjalan menuju kearahnya.


"A-a-apa itu, kakak?" Ucap Silvi ketakutan sambil memeluk Vanya. Begitu pula dengan Sachi, ia terlihat ketakutan dan langsung memeluk Vanya.


"System."


Cakra mengambil pistol GN-2 Premium yang muncul dan melayang di hadapannya. Cakra langsung mengarahkan moncong pistolnya ke salah satu semut raksasa.


*DOR*


[Ding~ selamat, tuan rumah berhasil membunuh seekor semut raksasa, tuan rumah mendapatkan 1.000 poin exp]


Notifikasi system terdengar saat salah satu semut raksasa jatuh, dan mengeluarkan cairan biru dari bagian tubuh yang tertembus peluru dari Cakra.


Keempat semut raksasa yang lainnya langsung merespon kematian salah satu kawanan mereka. Keempat semut raksasa langsung menuju Cakra secara bersamaan.


Dengan sangat sigap Cakra langsung mengarahkan moncong pistolnya ke salah satu semut raksasa, dan diakhiri dengan menekan pelatuk.


*DOR*


[Ding~ selamat, tuan rumah berhasil membunuh seekor semut raksasa, tuan rumah mendapatkan 1.000 poin exp]


Disisi lain, terdapat seekor semut raksasa yang sudah berhasil mendekati Cakra. Semut itu langsung mengarahkan mulutnya ke kepala Cakra.

__ADS_1


*TAP*


Dengan refleks yang dimiliki, Cakra berhasil menghindar dengan melompat ke samping sambil mengarahkan moncong pistolnya ke semut raksasa itu.


*DOR*


[Ding~ selamat, tuan rumah berhasil membunuh seekor semut raksasa, tuan rumah mendapatkan 1.000 poin exp]


Bisa dibilang Cakra mendarat dengan sangat tidak mulus, punggungnya menghantam dinding labirin dengan sangat keras, hingga membuat pistol yang ada di genggamannya jatuh kebawah.


Sontak Cakra langsung membungkukkan tubuh untuk mengambil kembali pistolnya. Tapi sayang, seekor semut raksasa ternyata sudah mendekat dan bersiap memotong tubuh Cakra dengan capit yang ada di depan mulutnya.


*CTAAAK*


Tiba-tiba saja sebuah batu cukup besar menghantam kepala semut itu, hingga membuat semut itu sedikit kehilangan keseimbangan.


Jika dilihat dari asal batu cukup besar itu berasal, maka kita bisa tau jika Vanya lah orang yang telah menyelamatkan nyawa Cakra.


*DOR*


Tanpa banyak basa-basi Cakra langsung menembak mati semut itu. Dan setelah itu Cakra langsung mengarahkan moncong pistolnya ke semut yang tersisa.


*DOR*


[Ding~ selamat, tuan rumah berhasil membunuh dua semut raksasa, tuan rumah mendapatkan 2.000 poin exp]


"Terima kasih." Ucap Cakra kepada Vanya.


"Ti-tidak perlu mengucapkan terima kasih, tuan, sudah seharusnya bagi para bud4k melindungi tuanya." Ucap Vanya sambil menundukkan kepalanya.


"Hehe, apa kalian bisa bertarung?" Cakra.


"Uhm.... Dulu saya pernah belajar menggunakan tongkat, tuan." Vanya.


"Kalau aku mungkin tidak terlalu baik menggunakan belati, tapi saya pernah belajar menggunakan belati." Sachi.


"...."


"Kalau kamu?" Ucap Cakra kepada Silvi, karena memang hanya Silvi yang belum memberikan jawaban.


"Tuan, adik saya Silvi tidak pernah belajar bertarung, apalagi menggunakan senjata. .... Tolong maafkan, tuan." Ucap Vanya sambil memeluk Silvi, karena Vanya takut jika terjadi apa-apa kepada Silvi.


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apa-apa. .... Apa Silvi tidak pernah sekalipun memegang senjata? Atau setidaknya peralatan yang bisa digunakan untuk membela diri?" Cakra.


"Sa-saya dulu sering bekerja di pembangunan, mungkin kalau peralatan, palu." Ucap Silvi gugup.

__ADS_1


"Baiklah, sudah cukup." Cakra.


*****


Beberapa saat kemudian.


Cakra memberikan sebuah tongkat kayu kepada Vanya, sepasang belati kepada Sachi dan sebuah palu cukup besar kepada Silvi.


Cakra mendapatkan senjata-senjata itu tentu saja dari toko system. Cakra memilih senjata yang bisa mereka kuasai. Kalau ditanya tingkat ketiga senjata tersebut, maka jawabannya, Tingkat A.


Cakra harus merelakan 3.200 poinnya untuk membeli ketiga senjata tersebut. Oh iya, berbicara tentang Tingkat senjata. Jika mengacu pada ucapan Carissa sebelumnya (Bab-22), maka senjata Vanya, Silvi dan Sachi sudah tergolong dalam senjata tingkat tinggi dan langka.


"Ap-apa ini, tuan?" Ucap Vanya tidak enak hati menerima pemberian Cakra. Begitu juga dengan Silvi dan Sachi, mereka berdua juga tidak mau menerima pemberian Cakra secara cuma-cuma.


"Sudahlah, itu untuk kalian? Aku kan sudah bilang, kita akan keluar dari sini hidup-hidup, jadi kita harus saling melindungi agar selamat. .... Oh, maaf, apa Silvi kuat?" Ucap Cakra sedikit ragu saat melihat palu yang dibawa Sachi.


"Kuat, tuan, palu ini ternyata ringan." Ucap Silvi sambil memainkan palu besarnya.


"Hahaha, kalau kalian masih kesulitan, bilang saja! Aku akan membantu mengajari kalian." Ucap Cakra sambil memandang Vanya dan yang lainnya secara bergantian.


"Baik, tuan." Ucap Vanya, Silvi dan Sachi secara bersamaan, dan bersamaan pula mereka bertiga memasang senyum manis.


"Baiklah, ayo kita berjalan kembali." Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan, dan tentu saja diikuti Vanya dan yang lainnya.


Mereka berempat kembali berjalan menyusuri lorong labirin. Cakra memimpin langkah mereka semua dengan bantuan maps dari system.


Di dalam perjalanan, mereka berempat pernah menghadapi monster hewan, yakni kelabang raksasa. Dalam pertarungan melawan kelabang raksasa, bisa dibilang Cakra tidak ambil bagian. Atau lebih tepatnya, Vanya, Silvi dan Sachi yang membantai kelabang raksasa itu.


"Carissa, tetaplah disitu, jangan pergi kemana-mana!" Ucap Cakra dalam hati frustasi melihat kumpulan orang yang ada di layar system mulai menunjukkan pergerakan.


"Sial! Bagaimana ini? Kalau aku naik motor, mereka gimana?" Ucap Cakra masih dalam hati saat melihat Vanya dan yang lainnya masih sibuk bersenang-senang dengan mayat kelabang raksasa yang baru saja mereka bantai.


Bersambung......


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟

__ADS_1


Subscribe


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2