Modern System

Modern System
#54 Hantu Sniper


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?!!!" Teriak Dilla sambil memberontak.


"Putri bodoh, kami ditugaskan untuk melenyapkan mu!" Ucap salah satu prajurit (si A).


"Hei, bagaimana jika kita gunakan dulu tubuh Dilla?" Ucap salah satu prajurit lain sambil memperhatikan tubuh Dilla (si B).


"Boleh juga itu."


Lima prajurit yang seharusnya melindungi Dilla, malah berencana menggunakan orang yang seharusnya mereka lindungi sebagai pelampiasan n4fsu bejat.


"Apa yang kalian rencanakan? Jangan berani macam-macam denganku!!!" Ucap Dilla dengan nada tinggi.


"Memangnya kau bisa apa melawan lima pria sekaligus?" Ucap si B sambil menyeringai.


"Dilla bodoh, memangnya kau masih memiliki kesempatan untuk mengancam?" Ucap si A yang kemudian dengan kasar meraba dad4 Dilla.


"Hei, lepaskan!!!" Teriak Dilla sambil berusaha melepaskan diri.


Si C berjalan mendekati Dilla, dan tiba-tiba ia mencium bibir Dilla.


"Uhm!!!" Dilla.


*PLAAAK*


Si C menampar Dilla ketika keinginannya tidak dituruti. Ia kemudian berjalan mundur kembali.


"Apa yang kalian lakukan?" Ucap Dilla yang seakan tak mampu melawan lagi.


Si A yang mendekap tubuh Dilla dari belakang dan meraba dad4 Dilla. Mulai menurunkan tangannya menuju **** ********** Dilla.


"Tidak, jangan, jangan!" Ucap Dilla ketakutan melihat tangan si A mulai menyentuhnya.


"Ah~ jangan! Aku moh- ah~." Ucap Dilla terpotong erangannya sendiri.


Si B yang sejak tadi menonton, mulai berjalan maju. "Buat dia jongkok!" Ucapnya untuk si A.


"Baik." Ucap si A sambil menarik Dilla untuk jongkok.


Si B langsung mengeluarkan ayam jagonya di hadapan Dilla.


"Jangan, aku mohon jangan, akan aku memberikan apapun yang kalian mau jika melepaskan ku." Ucap Dilla tambah-tambah takut.


"Ach~." Dilla mengerang tambah keras ketika si A memainkan bagian kewanitaannya kembali.


"Kau mesum juga, Putri bodoh!" Ucap si B sambil mencubit atau menutup hidung Dilla agar ia tak bisa bernafas.


Secara naluriah Dilla langsung membuka mulutnya untuk bernafas, ketika hidung tidak dapat digunakan.


Dengan santainya si B memasukkan ayam jagonya ke mulut Dilla.


Dan secara bersamaan pula, air mata Dilla terlihat mulai menetes. "A-aku mohon keluarkan benda menjijikkan ini, a-aku mohon siapapun tolong!!!" Ucap Dilla dalam hati yang begitu terpukul.


Disisi lain, terlihat Cakra yang terus mengamati keadaan Dilla dari balik teleskop senapan. Entah kenapa Cakra dibuat sangat kesal ketika melihat apa yang disaksikannya, hal itu terbukti dari gigi Cakra yang terus bergetar.


"Sepertinya aku memang tidak menyukai pelecehan seksu4l!" Ucap Cakra sambil mengarahkan bidikannya.

__ADS_1


*DOR*


Tanpa ragu Cakra menari pelatuk senapan yang sebenarnya dibuat khusus untuk menghancurkan kendaraan lapis baja, hanya untuk membunuh seorang manusia.


"!!!"


Daya hantam yang begitu kuat dari peluru senapan SPR-2 membuat tubuh si B terhempas, meskipun peluru itu juga berhasil menembus kepala si B.


[Ding~ selamat tuan rumah berhasil membunuh makhluk hidup berlevel Hijau. Tuan rumah mendapatkan 100 poin Exp]


"Apa itu?"


Mendapatkan serangan secara tiba-tiba dan tak diketahui asalnya, membuat para prajurit panik. Mereka segera berusaha mencari sumber asal serangan yang membunuh rekan mereka.


"Siapa kau?! Munculkan wujud-mu jika berani!!!" Teriak si C sambil mencari sumber arah serangan.


*DOR*


"Ach!!!"


Si A yang sejak tadi berada dibelakang Dilla tiba-tiba ia menunjukkan wajahnya, disaat yang hampir bersamaan sebutir peluru menghantam dahi si A hingga tembus kebelakang. Si A jatuh dengan kepala yang terus mengeluarkan darah layaknya air keran.


"Siapa kau bajingan?!!" Teriak si C.


Kepanikan dan kebingungan terjadi ditempat itu, para prajurit seakan melawan hantu yang tidak bisa dilihat tapi bisa membunuh.


*DOR*


Tubuh si C terhempas kebelakang meskipun peluru yang menghantamnya berhasil menembus dadanya.


"Cepat keluar kalau berani, pecundang!!!" Teriak si D sambil terus bersiap meskipun ia tidak tau dimana musuhnya berada.


*DOR*


Belum sempat si E menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah terhempas terhantam peluru terlebih dulu.


"Bajingan, kau benar-benar pecundang!!!" Teriak si D. Satu-satunya prajurit yang masih tersisa.


"Oi, dasar bodoh, aku ada di belakangmu!!!"


Secara refleks si D langsung membalikan tubuhnya, dan benar saja ia tak menemukan siapapun selain Dilla yang masih duduk termenung.


"Dimana kau? Dimana kau bajingan?!!!" Si D


"Aku disini!!!"


Si D kembali membalikkan tubuhnya, dan kembali ia tak menemukan siapapun.


"Oi, aku disini bodoh!!!"


"Hehehe, kau dimana? Kau dimana? Aku tidak takut denganmu!!!" Si D.


"Ah~ mental-mu lemah kali! Baru seperti ini mental udah down! aku akhiri saja!!!"


*DOR*

__ADS_1


Moncong senapan SPR-2 memuntahkan sebutir peluru, yang dijamin akan langsung menonaktifkan nyawa manusia jika terkena.


*CRAAAT*


Darah mengucur deras keluar melalui leher si D yang berlubang.


[Ding~ selamat tuan rumah berhasil membunuh makhluk hidup berlevel Hijau. Tuan rumah mendapatkan 100 poin Exp]


"Hah~ tidak disangka prajurit kerajaan ini mentalnya pada lemah.... System." Cakra langsung melompat turun setelah senjata dan alat penyadap suara hilang dari pandangan.


Cakra berjalan menuju tempat Dilla duduk termenung.


"Oi, kau bodoh apa gimana? Kenapa kau tidak lari saat ada kesempatan?" Ucap Cakra sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Dilla berdiri.


"...."


"Buset, aku dicuekin, atau jangan-jangan kau memang ingin diperkos4?" Ucap Cakra yang kemudian duduk di samping Dilla.


"Siapa kau?" Ucap Dilla dengan nada lemah.


"Apa kau lupa dengan orang yang pernah kau tantang berduel dan akhirnya malah menyelamatkan-mu?" Ucap Cakra sambil menatap Dilla.


"Apa kau juga salah satu prajurit-ku?" Ucap Dilla masih dengan nada lemah.


"Hah? Prajurit-mu? Makanya liat sini!" Ucap Cakra tidak terima.


Secara perlahan Dilla menoleh kearah orang yang mengajaknya berbicara.


"Apa kau Cakra?" Ucap Dilla masih dengan nada lemah.


"Oi, aku tau kau syok dengan apa yang terjadi, tapi tidak ada untungnya menyesali apa yang terlah terjadi." Ucap Cakra yang kemudian berdiri. "Mau kembali ke Kota Aly?" Lanjutnya sambil mengulurkan tangannya.


"Baik." Ucap Dilla sambil meraih tangan Cakra.


"Cakra, apa kau membawa air? Aku mau membersihkan mulutku dari benda paling menjijikkan yang ada di dunia." Ucap Dilla sambil memandang Cakra dengan penuh harapan.


"Hah~ aku tidak membawa air, tapi aku bisa membawamu ke sumbernya air terdekat." Ucap Cakra juga sambil memandang Dilla.


"Tolong, tolong bawa aku ke tempat itu!" Dilla.


"Ayo, .... System."


Bersambung......


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟

__ADS_1


Subscribe


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2