Modern System

Modern System
#39 Menerima Tantangan


__ADS_3

"Oi, ribut kali kalian ini!!!" Ucap Cakra dengan nada tinggi sambil berdiri.


Evans dan Xhaka secara serentak menoleh kearah sumber suara yang mereka dengar.


"Woi, siapa kau?! Berani sekali menyela kalimatku?!" Ucap Xhaka dengan nada tinggi sambil berjalan menuju tempat Cakra berada.


"Jangan tuan, dia hanyalah pelanggan!" Ucap Evans berusaha menghentikan Xhaka agar tidak terjadi apa-apa dengan pelanggannya.


"Oh... Hanya pelanggan, orang yang hanya tau makan tanpa mengerti perjuangan para juru masak, tidak pantas melawan ku!" Ucap Xhaka sambil memandang rendah Cakra.


".... Alah-alah, kau ini meremehkan ku ya?" Ucap Cakra sambil tersenyum sinis dan hendak melangkahkan kaki menuju tempat Xhaka dan Evans.


Carissa langsung meraih tangan Cakra ketika melihat Cakra hendak melangkahkan kaki.


"Sayang, sudahlah." Ucap Carissa memohon agar Cakra tak bertindak lebih jauh lagi.


Cakra tak memperdulikan Carissa, Cakra langsung menarik tangannya dan langsung berjalan menuju tempat Evans dan Xhaka berada.


"Woi, kau mau apa? Disini masih ada hukum yang berlaku!" Ucap Xhaka sambil menatap tajam Cakra. "Lagi pula aku ini orang yang berada, aku tidak akan mengurusi orang yang hanya tau cara menyakiti diri sendiri, sepertimu, dasar orang bodoh!" Lanjutnya.


*BRUAAK*


*BRUAAK*


Vanya, Silvi dan Sachi langsung berdiri dan bersiap bertarung jika terjadi kemungkinan terburuk setelah mendengar ucapan Xhaka.


"Tuan-tuan, tolong berhenti, tolong jangan membuat keributan disini!" Ucap Evans yang dengan sigap menempatkan dirinya di antara Cakra dan Xhaka.


"Orang terpandang? Maksudnya?" Ucap Cakra sambil tersenyum sinis.


"Heh, aku adalah salah satu chef terbaik di Kerajaan Aila, jelas saja aku adalah orang terpandang, tidak seperti mu!" Ucap Xhaka dengan membusungkan dadanya.


"Alah-alah, aku kira apa, ternyata cuma chef,... Jangan banyak belagu lah, masih banyak orang yang lebih pandai memasak dari pada kau!" Ucap Cakra dengan tatapan merendahkan.


"Heh, memangnya siapa lagi? Hanya ada dua orang yang memang pantas disebut lebih pandai dari pada aku, dan tidak akan pernah ada lagi." Ucap Xhaka sambil menunjuk wajah Cakra.


"Seriusan? Kok aku nggak yakin!" Cakra.


"Dasar b4jingan! Sebenarnya kau ini siapa?!" Ucap Xhaka dengan nada tinggi karena sudah muak dengan tatapan merendahkan dari Cakra.


"Alah-alah, aku? Aku adalah chef terbaik di Asia Tenggara, dan wilayah itu lebih luas dan lebih besar dari kerajaan ini." Ucap Cakra sambil membentangkan kedua tangannya sebagai bentuk provokasi.


"Hah?"


"???"


"Apa?"

__ADS_1


Terkejut, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan seperti apa keadaan semua orang saat ini.


Bahkan disini, Carissa lah orang yang paling terkejut. Carissa sudah mengenal Cakra selama hampir tiga tahun, tapi Carissa benar-benar tidak tau jika Cakra adalah seorang juru masak.


Dan dari mana asalnya tadi?


Asia Tenggara, lebih tepatnya Indonesia.


Tentu saja tidak ada yang tau wilayah bernama Asia Tenggara atau Negara Indonesia. Karena Indonesia ada di dunia nyata, bukan di dunia fiksi seperti ini.


"Kenapa semuanya diam? Apa kalian terkejut jika aku adalah chef dari negara yang lebih besar, luas dan tentunya lebih baik dari kerajaan ini?" Ucap Cakra memecah keheningan yang terjadi beberapa saat.


"Jika kau memang chef, cepat buktikan, jangan hanya bisa bicara saja!" Ucap Xhaka dengan nada tinggi.


"Alah-alah, masih tidak percaya? Kalau begitu bagaimana caranya aku membuktikan?" Ucap Cakra sambil tersenyum sinis.


"Kita bertanding! Jika kau kalah, kau harus menyerahkan mereka semua kepadaku." Ucap Xhaka sambil menunjuk Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi.


"Heh, jika kau kalah, kau harus pergi dari kota-, bukan! Dari dunia ini." Ucap Cakra sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.


"Setuju, pertandingan dilaksanakan tiga hari lagi, disini." Tepat setelah Xhaka mengucapkan kalimatnya, ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.


"...."


Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Cakra langsung membalikkan tubuhnya dan langsung berjalan menuju mejanya kembali.


"Hah~" Cakra menghela nafas panjang sambil duduk di kursinya.


Cakra menoleh ke kanan tepat dimana Carissa duduk, dan Cakra berkata. "Tanya apa?"


"Kau benar-benar Cakra, kan?" Carissa.


"Hah~ dulu kan sudah bilang, jika aku bukan Cakra, aku siapa? Karyono, Juminten atau Paijo? Sudahlah, itu tidak penting!" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung meraih gelas yang berisi air.


"Tuan, Asia Tenggara itu dimana?" Ucap Vanya bersamaan ketika Cakra meminum air minumnya.


"Kalian tidak akan pernah menemukannya meskipun sudah berkeliling dunia." Ucap Cakra sambil meletakkan gelasnya.


.....


"Permisi, tuan."


Cakra, Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi secara serentak menoleh kearah sumber suara yang baru saja mereka dengar.


"Ada apa?" Ucap Cakra ketika melihat Evans berdiri.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih, dan izinkan saya membantu tuan melawan Xhaka." Evans.

__ADS_1


"Membantu? Kau memiliki niat apa?" Ucap Cakra yang sudah dapat melihat niat Evans.


"Jika Xhaka pergi dari kota ini, maka dia tidak akan pernah lagi mengganggu restoran keluarga ku." Ucap Evans mengucapkan niatnya secara jujur.


"Heh, boleh juga, kalau begitu, saat ini kita menjadi partner." Ucap Cakra sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.


"Baik." Ucap Evans sambil menerima jabat tangan Cakra. "Maukah tuan ikut denganku ke dapur restoran?" Lanjutnya.


"Kenapa tidak?" Ucap Cakra sambil berdiri dari kursinya. "Kalian tunggu disini." Ucap Cakra kepada Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi.


"Ya."


Cakra langsung berjalan mengikuti Evans menuju dapur restoran meninggalkan Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi.


*****


"Disinilah kami memasak." Ucap Evans memperlihatkan keadaan dapur restoran.


"Tidak terlalu buruk untuk di zaman seperti ini." Ucap Cakra memaklumi keadaan dapur karena teknologi kompor gas belum di temukan di zaman ini


Cakra berjalan menuju salah satu panci yang masih digunakan untuk memasak, tapi dengan api kecil. Cakra membuka tutup panci itu.


"Jangan mengaku koki atau bahkan chef hebat jika tidak bisa menanak nasi dengan cara tradisional." Ucap Cakra dalam hati ketika melihat isi panci itu.


Cakra kembali menutup panci.


"Tuan." Evans memanggil Cakra.


"Ya." Cakra menoleh ke Evans.


"Tuan datanglah ke rumahku, di rumahku ada istri dan anakku, tuan dan rombongan tuan bisa beristirahat di rumahku." Ucap Evans sambil menyerahkan kertas yang tertulis alamat.


Cakra menerima kertas itu dan berkata. "Terima kasih."


Bersambung......


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟

__ADS_1


Subscribe


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2