
"Hah~." Cakra menghela nafas panjang. "System!" Dalam hati.
Bukan sulap, bukan sihir, tiba-tiba saja peluru yang bersarang di paha kiri Dilla keluar dan jatuh di atas tanah.
Carissa dan Dilla yang melihat hal itu hanya bisa bertanya pada diri mereka sendiri, 'benda apa itu?'
"System."
Cakra mengambil sebuah pil yang muncul dan melayang-layang di hadapannya.
"Minum pil ini!" Ucap Cakra sambil menyodorkan sebuah pil ke Dilla.
"...."
Carissa meraih sebutir pil yang ada di tangan Cakra. Setelah itu Carissa langsung menyerahkan pil itu ke Dilla, dan berkata. "Tenang saja." Sambil tersenyum.
Dengan ragu-ragu Dilla menerima pil itu, Dilla memasukkan pil itu ke dalam mulutnya.
*SWUUUT*
Setelah menelan pil itu, keadaan Dilla nampak kembali seperti semula. Luka tembakan sudah menghilang, dan hanya tersisa bekas darah di pakaian yang dikenakannya.
"Sudahkan! Kalau begitu aku tinggal dulu." Ucap Cakra sambil membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah menuju kendaraan lapis baja terparkir.
"Sayang, tunggu!!!" Teriak Carissa.
"Hah~ makannya cepat!" Cakra.
"Tapi,... Ba-." Ucap Carissa terpotong.
"Ajak saja kalau kau tidak tega meninggalkannya!" Ucap Cakra sambil naik ke kendaraan lapis baja.
*****
*WHOOOM*
Disebuah jalan yang berada ditengah hutan. Terlihat sebuah kendaraan militer jenis angkut personel lapis baja melintas, melibas jalanan itu dengan kecepatan sedang.
"Sayang, kita mau kemana?" Ucap Carissa yang duduk di sebelah pengemudi.
"Entah." Ucap Cakra yang ternyata mengemudikan kendaraan itu tanpa memiliki tujuan dan arah yang pasti.
"Ehm.... Bagaimana kalau ke Kota Aly?" Ucap Carissa mengusulkan.
"Kenapa?" Cakra.
"Ya tidak apa,... Lagi pula kenapa kau tiba-tiba pergi dari Kota Herla?" Carissa.
"Hah~ ya, sudahlah." Cakra.
"System, buka maps." Ucap Cakra dalam hati.
Layar hologram system muncul di hadapan Cakra, dengan tampilan keadaan sekitarnya.
*****
Siang hari di hutan yang kemungkinan berjarak 20 meter dari gerbang Ibukota Kerajaan Aila, Kota Aly. Terlihat sebuah kendaraan lapis baja berhenti.
Semua pintu kendaraan lapis baja itu terbuka. Terlihat sosok Cakra keluar dari pintu depan sebelah kanan, Carissa sebelah kiri, Vanya, Silvi dan Sachi ditambah Dilla keluar dari pintu belakang.
__ADS_1
"System." Ucap Cakra dalam hati setelah memastikan semua orang keluar dari kendaraan lapis baja.
*SWUUUT*
Kendaraan lapis baja tiba-tiba menghilang seakan ditelan bumi, kendaraan lapis baja tersimpan di penyimpanan system.
Carissa, Vanya, Silvi dan Sachi mungkin tidak terlalu terkejut melihat lenyapnya kendaraan lapis baja dari hadapan mereka, tapi hal itu tidak berlaku bagi Dilla.
"Ke-kemana benda aneh tadi?" Ucap Dilla antara terkejut, kebingungan atau bahkan takut.
"Benda aneh tapi sangat berguna, kan?" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan menuju gerbang Kota Aly.
"Sudahlah, tidak usah dipikir. Ayo!" Carissa.
"Baik." Dilla.
Carissa, Vanya, Silvi, Sachi dan Dilla langsung berjalan mengikuti Cakra.
Mereka berenam terus berjalan menuju gerbang Kota Aly sambil berbincang-bincang tentang sesuatu yang tidak penting diceritakan. Tapi yang saling berbincang hanya lima orang, karena Cakra malah sibuk dengan status dirinya di layar system.
"Berhenti!"
Cakra dan yang lainnya diberhentikan tepat di depan gerbang kota oleh dua orang prajurit penjaga kota.
"Ada apa?" Dilla.
Mata kedua prajurit penjaga kota terbuka selebar-lebarnya ketika melihat adanya putri Dilla di antara orang-orang yang mereka berhentikan.
"Pu-putri Dilla."
"Maaf, silahkan masuk."
Tanpa pikir panjang, Cakra dan yang lainnya langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam Kota Aly.
"Sekarang aku sudah tidak memiliki hutang kepadamu!" Ucap Dilla secara tiba-tiba.
"...."
"...."
Cakra dan yang lainnya tentu saja tidak mengerti dengan apa maksud kalimat Dilla.
"Kau membantuku ketika dihadang perampok, dan aku sudah membalasnya dengan membantu kalian masuk ke Kota Aly tanpa harus melewati pemeriksaan."
".... Sekarang kita sudah impas, aku tidak memiliki hutang budi apa pun kepadamu, aku harap kau tidak mencari-cari ku lagi!" Tepat setelah Dilla mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan meninggalkan Cakra dan yang lainnya.
"...."
"Cepat amat dia kembali ke sifatnya." Ucap Cakra sambil memandang Dilla yang semakin lama semakin tenggelam di kerumunan massa.
"Tuan, sebenarnya dia ada masalah apa sih?" Ucap Vanya dengan raut wajah kebingungan.
"Entah?" Cakra.
Carissa, Vanya Silvi dan Sachi masih terlihat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada Dilla. Mereka tahu betul jika tadi Dilla bersikap sangat ramah selama di perjalanan.
Tapi yang sebenarnya terjadi, hanya Cakra yang mengetahuinya. Cakra dapat menggunakan kemampuan Mata Matahari untuk melihat jika Dilla hanya berpura-pura baik, karena merasa memiliki hutang budi kepada Cakra dan Carissa.
Dan setelah hutang budi itu dibalas, Dilla kembali ke sifat aslinya.
__ADS_1
"Sudahlah jangan dipikir, ayo cari makan, aku lapar nih!" Cakra.
*****
Di dalam salah satu rumah makan, terlihat sosok Cakra dan yang lainnya sedang menyantap makanan yang mereka pesan.
"Sayang, padahal makanan disini cukup enak, tapi kenapa tidak ada pelanggan selain kita?" Ucap Carissa sambil memperhatikan meja-meja yang ada disekitarnya nampak kosong.
"Kalau sedang makan jangan bicara!" Ucap Cakra sambil menatap tajam Carissa.
"Uhm.... Maaf." Carissa.
Mereka kembali melanjutkan makan.
"Evans bodoh, keluar kau!!!"
Tiba-tiba saja seorang pria masuk dan langsung berteriak.
"Woi, Evans... Keluar kau!!!" Pria itu kembali berteriak.
Sesaat kemudian seorang pria kira-kira berusia 20 tahun keluar dari dapur rumah makan itu. Ya, pria itu adalah Evans.
Evans berjalan menuju pria pengacau itu berdiri.
"Ada apa, tuan Xhaka?" Ucap Evans se-sopan mungkin.
"Woi, Evans... Restoran mu ini sudah lama tidak ada pelanggan, jual saja kepadaku! Aku akan memberikan harga yang baik kepadamu." Ucap pria yang disebut Xhaka.
"Maaf, tuan Evans, saya tidak bisa menjual Resti peninggalan keluarga saya, saya akan berusaha untuk mengem-." Ucap Evans terpotong.
"Hahahaha, Evans, Evans, kau ini bodoh se-." Ucap Xhaka giliran terpotong.
"Oi, ribut kali kalian ini!!!" Ucap Cakra dengan nada tinggi sambil berdiri.
Evans dan Xhaka secara serentak menoleh kearah sumber suara yang mereka dengar.
"Woi, siapa kau?! Berani sekali menyela kalimatku?!" Ucap Xhaka dengan nada tinggi sambil berjalan menuju tempat Cakra berada.
"Jangan tuan, dia hanyalah pelanggan!" Ucap Evans berusaha menghentikan Xhaka agar tidak terjadi apa-apa dengan pelanggannya.
"Oh... Hanya pelanggan, orang yang hanya tau makan tanpa mengerti perjuangan para juru masak, tidak pantas melawan ku!" Ucap Xhaka sambil memandang rendah Cakra.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
__ADS_1