Modern System

Modern System
#52 "Bagaimana kabar anak kita, Iska?"


__ADS_3

Setelah Cakra dan Carissa menyelesaikan misi mereka, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke Kota Aly esok hari atau saat matahari terbit.


Keesokan harinya, cuaca benar-benar tidak bisa diduga. Hujan deras mengguyur desa itu, hingga akhirnya berhenti tepat pada tengah hari.


Cakra yang memiliki kepribadian tidak sabaran langsung mengendarai motor, meskipun dirinya tau jika jalanan sedang becek dan bahkan tidak aman untuk dilalui.


Cakra terlihat terus memacu motornya ditengah jalanan yang berlumpur.


*SRAAAS*


"Carissa, lompat!!!"


*BRUAAK*


Disaat Cakra bertemu dengan tikungan, Cakra tidak mampu lagi mengendalikan motornya. Cakra jatuh tersungkur dan tertimpa motornya. Tapi tidak dengan Carissa, ia berhasil melompat tepat setelah Cakra memintanya.


"Ayang!!!" Teriak Carissa histeris melihat Cakra jatuh tertimpa motor. Lalu ia langsung berlari kearah Cakra.


Carissa berusaha menyingkirkan motor itu dari tubuh Cakra. "Kau tidak apa-apa?" Ucap Carissa sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Cakra.


Cakra meraih tangan Carissa. Dan disaat itu juga Carissa langsung menarik Cakra untuk membantunya berdiri.


"Ya, aku tidak apa-apa." Ucap Cakra sambil berusaha membersihkan noda lumpur dipakainya. "Kau sendiri?" Lanjutnya.


"Aku juga tidak apa-apa." Ucap Carissa yang memasang ekspresi cemas di wajahnya.


"Hah~ sepertinya ini salahku juga, motor ini tidak cocok di segala medan, aku tinggal sajalah." Ucap Cakra sambil memperhatikan keadaan motornya. Setelah itu Cakra langsung memalingkan pandangannya. "System."


Kendaraan militer lapis baja beroda enam muncul di hadapan Cakra.


"Ayo."


*****


*****


Setelah Cakra dan Carissa memberikan bukti selesainya misi mereka di guild petualang, dan juga setelah mereka berdua membersihkan diri. Mereka berdua terlihat berjalan bersama menuju tempat yang tak asing.


"Ayang, sepertinya aku tidak membutuhkan ini." Ucap Carissa sambil mengeluarkan pistol GN-2 Premium yang Cakra berikan kepada Carissa (Bab-47).


"Hah? Maksudnya?" Ucap Cakra sambil memandang Carissa.


"Memang benar jika pedangku tidak akan mampu melukai lawan di jarak puluhan meter, tapi apa kau lupa jika aku memiliki sihir? Yah, meskipun jarak maksimal sihir ku hanya sepuluh meter." Ucap Carissa sambil menyerahkan kembali pistol GN-2 Premium ke pemiliknya. "Ehm... Mungkin jika kau mau memberi sesuatu yang lain akan aku terima dengan senang hati." Lanjutnya dengan nada pelan.


"Benar juga sih." Ucap Cakra sambil menerima kembali pistolnya. "Tapi sebentar! Apa yang kau katakan terakhir tadi? Apa kau berniat merampas seluruh uangku?" Ucap Cakra yang mendengar kalimat terakhir Carissa meskipun Carissa sudah mengatakannya dengan sangat pelan.


"Tidak! Tidak bukan begitu!" Ucap Carissa yang tiba-tiba panik.

__ADS_1


"Hahahaha." Cakra tertawa melihat tingkah Carissa. Setelah itu Cakra menyentuh kepala Carissa dan mengacak-acak rambutnya.


"Ayang!!!" Ucap Carissa sambil menggembungkan pipinya.


"Memangnya apa yang kau mau?" Ucap Cakra tanpa memandang lawan bicaranya, tapi tangan kanan Cakra di kepala Carissa, tak bergerak sama sekali.


"Ehm... Cincin perni-." Ucap Carissa terpotong.


"Sudah sampai, ayo makan dulu." Ucap Cakra menyela kalimat Carissa, setelah sesampainya mereka didepan pintu sebuah restoran.


"Ayang, apa kau tidak mendengarkan aku?!" Ucap Carissa kesal kalimatnya dipotong Cakra.


"Sudahlah, nanti kita bicarakan didalam!" Tepat setelah Cakra mengucapkan kalimatnya, ia langsung berjalan masuk ke restoran itu.


"Benar juga sih aku tidak pernah melihat Carissa menggunakan cincin pernikahan, bahkan aku pun juga. ... Sebenarnya Cakra yang dulu ngapain aja sih? Hingga tidak menyiapkan cincin pernikahan?" Ucap Cakra dalam hati.


*****


"Selamat datang di restoran kami." Ucap Vanya menyambut pelanggan sambil membungkuk. Saat Vanya menegakkan kembali tubuhnya dan melihat siapa yang datang. "Tuan Cakra!!!" Teriak Vanya sangat senang dan ia langsung memeluk erat tubuh Cakra.


Teriakan Vanya tentunya terdengar Silvi dan Sachi. Sontak mereka berdua langsung berlari menuju Cakra dan ikut memeluk Cakra.


Sesaat kemudian, Vanya, Silvi dan Sachi melepaskan pelukan mereka dari Cakra ketika mereka melihat Carissa. Dan mereka giliran memeluk erat Carissa.


"Apa kalian baik-baik saja?" Ucap Carissa sambil membalas pelukan Vanya.


Setelah itu, Vanya, Silvi dan Sachi langsung mengantarkan Cakra dan Carissa ke meja yang sepi. Dan meja itu berada dekat dengan kasir.


"Selamat datang tuan Cakra dan nona Carissa." Ucap Iska sambil tersenyum.


Cakra dan Carissa hanya menanggapi sapaan Iska dengan tersenyum. Setelah mereka berdua duduk, mereka berdua langsung memesan makanan.


Tanpa menunggu lama-lama, dua porsi nasi goreng dan dua minuman sampai di meja Cakra dan Carissa.


"Selamat menikmati." Ucap Silvi yang kemudian berlalu pergi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, Cakra langsung menyantap makanan yang ada dihadapannya. Diikuti oleh Carissa.


Cakra dan Carissa terus menikmati makanan mereka hingga akhirnya dan tiba-tiba mereka berdua mendengar.


"Bagaimana kabar anak kita, Iska?"


"Uhuk, uhuk, uhuk." Cakra terkejut hingga membuat terdesak makanan. Sejujurnya Cakra benar-benar terkejut karena mendengar pria lain menanyakan kabar anak kita kepada Iska.


Jika itu adalah orang lain seharusnya kalimatnya seperti. "Bagaimana kabar anakmu, Iska?" Bukan. "Bagaimana kabar anak kita, Iska?" Ya, seperti itulah apa yang dipikirkan oleh otak Cakra.


"Mohon maaf putra mahkota Nicole, bolehkah saya tau pesanan anda?" Ucap Iska yang cukup ketakutan.

__ADS_1


"Hei, Iska! Aku tanya kabar tentang anak kita, kenapa kau tidak menjawabnya?" Ucap Nicole sambil tersenyum licik.


"Maaf putra mahkota Nicole, bisakah saya p


A dihidup tenang dengan keluarga saya? Saya harap anda tidak menggangu saya lagi?" Ucap Iska sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap lawan bicaranya.


"Iska, berani sekali kau memperintah ku? Apa kau tidak mau hidup bergelimang harta? Iska kau itu enak, makanya aku kesini menawarkan mu untuk kembali." Ucap Nicole masih sambil tersenyum.


"Tuan putra mahkota Nicole, maaf saya lancang, tapi mohon biarkan Iska hidup tenang!" Saut Evans yang tiba-tiba keluar dari dapur.


"Heh." Nicole menatap rendah Evans. "Oh... Jadi kau yang menjadi suami Iska dan kau yang menggantikan aku untuk bertanggung jawab, ehm... Kau boleh membawa anak Iska karena aku tidak membutuhkannya, tapi Iska harus kembali menjadi bud4k terbaikku."


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!!!" Ucap Evans dengan nada tinggi.


"Cih, menyusahkan, pengawal!" Ucap Nicole sambil menyeringai.


Dua pria berpakaian layaknya pasukan kerajaan berjalan maju melewati Nicole untuk menangkap Evans.


"Tidak, kalian tidak boleh menangkap tuan Evans!!!" Saut Vanya dengan nada tinggi sambil berjalan menuju Evans dan tongkat yang digenggamnya.


"Bagaimana jika aku hancurkan saja tempat ini? .... Pasukan!" Nicole.


"Tunggu!!!" Teriak Iska.


"...."


"...."


Keadaan menjadi hening beberapa saat, hingga akhirnya.


"Tunggu, tunggu saat festival bud4k aku akan menurutimu." Ucap Iska yang terlihat sedih, terbukti dari air mata yang keluar dari kedua matanya.


Bersambung......


My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.


Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan


Like


Comment


Vote


Rating 5🌟


Subscribe

__ADS_1


Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.


__ADS_2