
Terlihat seorang prajurit berjalan di lorong istana kerajaan pada malam hari. Nampak ada keanehan pada prajurit itu, ia berjalan dengan tatapan kosong seakan mayat hidup.
Prajurit itu berhenti di depan salah satu pintu.
*BRUUK*
Tiba-tiba saja prajurit itu jatuh pingsan, dan disaat yang bersamaan keluar sesosok bayangan hitam dari tubuh prajurit itu.
*****
*****
Malam hari di salah satu kamar istana kerajaan setelah pertandingan. Terlihat sosok Nicole duduk termenung di atas ranjang dengan balutan perban di kepalanya.
"Bagaimana bisa aku kalah dari orang seperti itu?" Ucap Nicole dengan nada datar dan tetap menunduk.
"Kau terlalu lemah untuk menghadapi Cakra."
Nicole tiba-tiba mendengar suara aneh yang entah dari mana asalnya. Tapi Nicole tidak terlalu memperdulikan suara itu, Nicole kembali menunduk dan melamun.
"...."
"Apakah iya aku lebih lemah dari pada Cakra?" Nicole tiba-tiba mencoba berbicara dengan pemilik suara aneh yang didengarnya.
"Apa kau mau balas dendam?"
"Tentu saja, aku sangat ingin menghancurkan orang itu hingga tak tersisa." Nicole.
"Apa kau mau bekerja sama denganku?"
"Bekerja sama? Apa maksudnya?" Ucap Nicole sambil mengangkat kepalanya untuk mencari pemilik suara itu.
"Tentu saja membunuh Cakra." Sesosok aneh dan bahkan sulit dijelaskan muncul dari kegelapan di sudut ruangan.
"Mo-monster!!!" Ucap Nicole takut sekaligus panik melihat kemunculan pemilik suara yang diajaknya bicara.
"Tenang saja, aku kesini untuk mengajak bekerja sama, aku tidak memiliki niat jahat." Ucap sosok itu sambil terus mendekati Nicole.
Jika dilihat dengan seksama, monster itu ialah sosok monster sama, monster yang dulu pernah berhasil mengirim Cakra dan penduduk Kota Herla ke labirin mematikan (Bab-23-25).
"Aku tidak percaya, mana mungkin monster bekerja sama dengan manusia?" Nicole.
"Sebenarnya aku juga tidak mau bekerja sama denganmu, tapi karena kita memiliki musuh yang sama, aku mencoba menawarkan kerja sama kepadamu." Ucap sosok itu sambil mengarahkan telapak jari telunjuknya ke dahi Nicole.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?!" Ucap Nicole tambah panik.
Dari jari telunjuk sosok itu mengalir Mana hitam ke dahi Nicole.
Dan ajaibnya, semua rasa sakit yang dirasakan Nicole tiba-tiba menghilang begitu saja, tepat setelah Mana sosok itu masuk ke dalam diri Nicole.
"Bagaimana? Apa kau mau bekerja sama denganku?" Ucap sosok itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
Nicole yang masih terpana dengan kemampuan menyembuhkan sosok itu, tanpa pikir panjang lagi ia langsung menerima jabat tangan sosok itu.
__ADS_1
*SWUUUT*
Sosok itu tiba-tiba masuk ke dalam diri Nicole, setelah Nicole menerima jabat tangannya.
*****
*****
*****
Keesokan harinya, Ibukota Aly diguyur hujan lebat yang memaksa seluruh aktivitas masyarakat terhenti sejenak hingga hujan reda.
Didalam sebuah restoran. Terlihat sosok Cakra duduk seorang diri sambil memainkan benda persegi, dan terlihat juga benda hitam kecil terpasang di kedua telinga Cakra.
Disisi meja lain, terlihat Carissa dan yang lainnya sedang sibuk bercerita satu sama lain.
"Kau pasti bohong, Cakra pernah bilang kepadaku, jika dia belum pernah menyentuhmu. .... Apa mungkin Cakra tidak menyukaiku?" Ucap Dilla sambil tersenyum manis.
"Hei, kenapa kau ada disini? Sana kau kembali ke istanamu saja!!!" Ucap Carissa tidak terima dengan kalimat Dilla.
"Nona Carissa, apakah yang dikatakan Putri Dilla benar? .... Atau jangan-jangan tuan Cakra memiliki wanita lain?" Ucap Iska ikut menggoda Carissa.
"Tidak-tidak, itu tidak boleh!!!" Ucap Carissa dengan nada tinggi.
"Iya, tuan Cakra tidak mungkin seperti itu." Ucap Vanya memihak Carissa.
"Kakak, sebenarnya kalian bicara tentang apa?" Ucap Silvi yang tidak paham apa yang dibicarakan sejak tadi.
"Iya, Sachi juga tidak mengerti." Ucap Sachi melanjutkan.
Saat itu juga, wajah Carissa, Dilla, Iska dan Vanya langsung memerah malu.
"Kenapa tuan Cakra duduk sendirian di sana?" Ucap Evans kepada Carissa dan yang lainnya.
"Entah, sejak pagi Cakra bilang sedang membaca." Ucap Carissa sambil memandang dari tempatnya.
"Membaca? Apa yang dibaca? Bukannya dia hanya menatap benda persegi itu?" Ucap Evans sambil menunjuk Cakra.
"Aku juga tidak paham, Cakra bilang dia sedang membaca Modern? Modern apa ya?... Ah! Pokoknya ada Modern dan Cultivation!" Ucap Carissa lupa-lupa ingat.
"Oh...." Evans mengangguk mencoba untuk paham.
"Ah~ kenapa hujannya tidak reda-reda?" Ucap Dilla mengeluh.
"Apakah sudah buka?"
"Ah! Silahkan da-."
Evans yang berniat menyambut pelanggan, langsung mengurungkan niatnya ketika melihat siapa yang datang ke restorannya.
"Nicole!!!" Ucap Dilla dengan nada tinggi sambil berdiri. "Mau apa kau kesini?" Lanjutnya.
Nicole tiba-tiba melemparkan lengan manusia yang dibawanya ke hadapan Dilla dan yang lainnya.
__ADS_1
"!!!!" Mata semua orang terbuka lebar-lebar melihat tangan manusia yang masih bersimbah darah menggelinding dihadapan mereka.
"Apa yang kau lakukan kepada ayah?!" Ucap Dilla sambil menatap tajam Nicole.
"Kenapa kau marah? Bukannya kau juga benci kepada ayahmu sendiri, Dilla?" Ucap Nicole sambil mengangkat bahunya. "Dan tenang saja, dia belum mati, yah~ cuma buntung lah." Lanjutnya.
"Dasar sialan kau Nicole!!!" Ucap Dilla sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Hei, tenang saja! Aku kesini bukan untuk bertemu denganmu, aku kesini untuk mencari b4jingan Cakra." Ucap Nicole sambil menoleh ke sana kemari.
"Kau akan mati dulu!!!" Teriak Dilla sambil secara tiba-tiba berlari menuju Nicole.
Tepat lima langkah dari Nicole, Dilla langsung menarik mundur tangan kanannya.
*SWUUUT*
Dilla melancarkan pukulan lurus yang diarahkan tepat ke wajah Nicole. Tapi Nicole berhasil menghindar hanya dengan bergerak sedikit ke kiri.
*SWUUUT*
Nicole menggunakan tangan kanannya untuk mencekik leher dan mengangkat tubuh Dilla.
"Jangan banyak gaya adikku sayang." Ucap Nicole sambil terus mencekik dan mengangkat tubuh Dilla.
"Ach!!! Lepaskan aku! Ach!!!" Dilla berusaha memberontak, tapi sayang cengkraman tangan Nicole terlalu kuat untuk dirinya.
"Sesuai keinginanmu." Tepat setelah Nicole mengucapkan kalimatnya, ia langsung melemparkan tubuh Dilla ke meja yang berada di sudut ruangan.
"Dilla!!!" Teriak Carissa dan yang lainnya secara bersamaan.
*BRUAAk*
Cakra yang sibuk menatap layar ponsel, tiba-tiba dikejutkan dengan meja dihadapannya yang hancur akibat dihantam tubuh Dilla.
"Oi, ada apa ini?" Ucap Cakra yang langsung melepas headset dari kedua telinganya.
"Cakra." Ucap Dilla sambil menunjuk Nicole yang berdiri sambil menyeringai.
"Ah~ kau ini menyusahkan kali." Ucap Cakra sambil berdiri.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Modern System" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
__ADS_1
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.