
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Hingga saat ini, Ellena masih belum mengerti kepribadian Hogue yang sebenarnya. Ia hanya tahu bahwa Hogue adalah pria yang tidak menerima bantahan, dan juga sangat kejam. Namun kini Hogue justru membiarkannya untuk bekerja. Sungguh kesempatan yang tidak dapat Ellena sia-siakan.
~ ~ ~
Ellena sudah terlihat begitu rapi, dengan balutan pakaian kantornya. Rambut tergerai panjang, make up tipis, cukup membuat para pria terkagum dengan kecantikannya. Berbeda dengan Hogue, yang menganggap Ell hanya sebatas pesuruhnya saja.
Hogue turun dari kamarnya yang berada di lantai atas. Melangkah menuju pintu utama mansion. “Selamat pagi tuan Hogue..” sapa Ell sambil memberi hormat.
Hogue memandangi Ell dengan begitu lekat. “Tidakkah rokmu terlalu sempit! lebih baik ganti sekarang!” tukas Hogue tanpa protes. Ell pun bergegas berganti pakaian, dan segera kembali.
“Yah, begini lebih baik..” katanya lalu masuk ke dalam mobil mewah yang telah menanti keberangkatannya bersama Ell.
***
“Perusahaan xx”
Mereka pun tiba di salah satu perusahaan milik Hogue. Ell memandangi gedung perusahaan penuh takjub.
“Apakah kau sudah selesai memandangi gedung ini!” ucapan Hogue menyadarkan Ell kembali.
Hh.. “Yah tuan, maaf. Aku terlalu kagum dengan gedung indah ini…” ucap Ell dengan tersenyum ringan.
Hogue menatapnya memalui ekor mata. “Wanita ini bahkan tetap bisa tersenyum setelah apa yang kulakukan padanya. Apakah wanita ini adalah tepat untukku..” batin Hogue.
“Selamat pagi bos Hogue!” sapa para pegawai sembari memberi hormat pada bos besar mereka.
“Kau!” ujar Hogue menunjuk salah seorang pegawainya.
“Yah bos!” ujar sang pegawai wanitanya.
“Kau berikan tugas untuknya! tempatkan dia ke bagian pendataan!” titah Hogue sambil menunjuk ke arah Ell. Tentu saja, Ell akan ditempatkan di bagian pendataan yang cukup riwet.
“Nona Ellena Casey! sebagai pemula, kau akan bekerja sebagai penghantar data-data perusahaan.” Tukas seorang wanita yang cukup cantik, engan perawakannya yang begitu tinggi bak model. Hogue memang tak asal dalam memilih seorang pegawai.
Ell pun melakukan pekerjaan perdananya. Namun ia justru disibukkan dengan memperbanyak berkas-berkas/ foto copy berkas.
Menghela napas dan mencoba untuk tetap menikmati pekerjaannya. Setidaknya, ia tidak lagi menjadi seorang maid, pikirnya kala itu.
Sedari pagi hingga menjelang sore, Ell disibukkan dengan segala tugas tanggung jawabnya.
“Bagaimana pekerjaannya?” tanya Hogue pada seorang wanita yang telah memberi Ell tugas.
“Seperti yang bos lihat, dia sangat cocok dengan tugasnya!” cela si wanita seksi itu, dengan pandangan meremehkan Ell.
__ADS_1
“Awasi dia dengan baik!” titah Hogue. “Baik bos, yang terbaik bagi bos!” ujar si wanita dengan tingkah sensualnya.
Waktu kini menunjukkan sudah hampir malam, namun Ell masih saja sibuk dengan pekerjaannya memperbanyak segala jenis salinan berkas. Lelah dan sangat lapar, ia bahkan tidak diberikan kesempatan untuk beristirahat.
Karena terlalu lelah dan lapar, Ell akhirnya lemas dan sudah kehilangan tenaganya. Ia pun duduk sejenak, hanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.
“Ellena! Ellena!” seru seseorang dari luar ruangan tempat Ell kini berada.
Bhuak… suara bantingan pintu mengejutkan Ell yang tengah terduduk lemas di lantai ruangannya, sambil bersandar di sisi meja.
“Mengapa kau belum pulang juga!” ujar Hogue dengan terengah.
“Maaf tuan, aku belum menyelesaikan tugasku dari nona Viie” ucap Ell sembari terbangun dari tempat ia sedang duduk.
“Apakah kau pikir aku supirmu, yang harus menunggumu! cepat pulang sekarang atau aku akan membiarkamu tidur di sini!” bentak Hogue.
“Baik tuan” jawab Ell sendu.
***
“Mansion kediaman Hogue”
Hogue menarik paksa tangan Ell menuju jalan belakang mansion. “Bodoh! siapa yang menyuruhmu untuk bekerja tanpa beristirahat!” bentak Hogue dengan sorot matanya yang begitu tajam.
“Maaf tuan..—“
“Maaf! maaf! aku sudah muak dengan kata maafmu!” bentak Hogue sambil menaikkan tangannya hendak memukul Ell lagi.
Ell mengangguk. “Iya tuan, aku belum makan” ucap Ell sambil memilin ujung bajunya.
Hogue langsung menarik tangannya kembali menuju ruang makan. “Duduk dan tunggu pelayan membawamu makanan!” titah Hogue. Ell pun duduk manis menanti makanannya.
Setelah makanan tiba, Ell melahap habis makanannya. Ia sangat kelaparan, sangat lapar. Sedari pagi Ell belum menyantap satu pun makanan.
“Apa perlu aku memperkerjakanmu sendiri, sehingga Viie tidak mengerjaimu lagi!” ujar Hogue menghentikan kunyahan Ell.
“Tidak tuan, di situ saja sudah cukup!” ucap Ell dengan tertunduk.
“Atau kau ingin kembali menjaga toko kecilmu itu,” ucapan Hogue membuat Ell menatap dirinya.
Tsk.. Hogue tersenyum miring sambil mendekatkan wajahnya pada Ell. “Jika kau bekerja di toko kecil itu, apa yang dapat kau banggakan pada keluarga brengs*mu itu!” ejek Hogue.
“Apa maksudmu tuan?” tanya Ell heran.
Hogue pun tertawa. “Ellena… kau tahu betapa brengs*knya kedua orangtuamu itu! bahkan saat aku datang untuk menagih hutang-hutang ayahmu. Ibumu langsung menyarankan agar aku mengambilmu sebagai jaminan.”
Ell mulai berpikir dan memahami maksud perkataan Hogue. Namun Ell enggan untuk membicarakan perihal kedua orang tua bajing*nnya.
“Tuan Hogue, terimakasih telah bersedia membiarkanku untuk tinggal bersama tuan. Aku tahu bahkan tubuhku saja tidaklah cukup untuk melunasi hutang-hutang ayahku, namun aku ingin bekerja dengan
__ADS_1
bersungguh-sungguh” tukas Ell dengan tersenyum sendu.
Hogue sungguh tak menyangka jika Ell akan memiliki pemikiran demikian terhadap dirinya.
Hogue yang seorang pria tak kenal belas kasih justru berubah menjadi sosok yang sangat peduli pada Ell. Walau sebelumnya Ell sempat merasakan kekejaman dan kesadisan Hogue terhadap dirinya.
“Kau lebih baik beristirahat sekarang! besok aku akan menunjukkan pekerjaan barumu” tukas Hogue lalu berbalik dari hadapan Ell.
>>
Hogue duduk termenung dan mengingat semua perkataan Ellena terhadapnya. “Mengapa wanita ini begitu optimis! apakah perbuatanku sudah sangat kejam padanya! tapi mengapa senyumannya dan perilakunya terlihat begitu tulus!” batin Hogue.
Baru kali ini Hogue memikirkan seorang wanita yang telah ia siksa sedemikian rupanya. Ell sangat menderita di awal pertemuan hingga Ell tinggal di mansion miliknya.
Tak henti-hentinya, Hogue memperhatikan setiap gerak Ell sedari pagi. “Apakah dia pagi ini bangun dan terlihat sehat?” ujar Hogue pada para asisten/ pekerja mansionnya.
“Nona Ellena sangat baik tuan. Masakan pagi ini adalah hasil kerja keras nona Ellena!” tukas seorang pelayan wanita, yang ialah ketua pelayan mansion.
Ohh.. “Baiklah” Hogue terlihat tersenyum kecil.
“Bagaimana mungkin tuan Hogue bisa tersenyum, hanya karena seorang gadis!” batin sang pelayan sembari menggelengkan kepalanya.
***
Hogue membawa Ell ke bagian gudang penyimpanan barang-barang dagangnya. Barang-barang elektronik dan juga perlengkapan lainnya.
“Kau akan bekerja di sini. Keluar masuk barang-barang adalah tanggung jawabmu!” ujar Hogue sambil menyerahkan beberapa jurnal mau pun berkas-berkas penting.
“Baik tuan. Terimakasih” jawab Ell dengan tersenyum lega. Hogue pun terlihat mulai bersikap baik padanya.
Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan minggu bahkan beberapa bulan saja. Ell berhasil memasarkan
barang-barang dagangan dengan keuntungan yang diluar perkiraan Hogue.
Tidak hanya bertanggung jawab memasarkan, Ell juga terkadang terjun ke lapangan sebagai sales.
Diam-diam, Hogue terus mengawasi gerak-gerik Ell dari cctv yang terpasang di ponsel hingga layar monitor
miliknya. Terkadang ia tersenyum sendiri, bahkan terkekeh setiap melihat ekspresi kelelahan Ell saat bekerja.
***
Ell mengadakan bazar, diskon yang cukup besar untuk barang dagangannya. Karena sudah saatnya cuci gudang. Di sela kesibukkannya menginput laporan-laporan penjualan.
“Permisi nona! aku ingin mencari camera yang recommended, apakah nona memilikinya?” tukas seorang pria yang baru saja tiba. Sesaat Ell melepaskan laporannya, ia pun hendak melayani pria tersebut. Namun…
“Kau!” tukas sang pria tersebut.
__ADS_1
***