Mr. Devil Season 3

Mr. Devil Season 3
Aku bukan bitch


__ADS_3

“Mr. Devil – Season III”


Author by Natalie Ernison


Semenjak hidup bersama Hogue, kehidupan Ellena benar-benar berubah total. Semua berawal sejak ayahnya terlilit hutang terliunan banyaknya. Ellena pun harus menjadi korban dari keegoisan mau pun keserakahan orang tuanya.


~ ~ ~


Ell pergi menyusuri kota B dengan berjalan kaki. Memuaskan mata dengan segala yang ada di sana. Mulai dari pernak pernik, busana, makanan dan juga barang-barang lainnya.


Karena begitu asyiknya, Ell pun tidak memperhatikan langkahnya, dan…


Bugh… Ell menubruk seorang wanita yang sedang menyusuri area tersebut.


“Kalau melangkah, gunakan matamu!” bentak wanita tersebut dengan sinis.


“Maaf nyonya” ucap Ell dan mendongak ke arah asal suara.


“Kau” ucap sang wanita yang telah Ell tubruk.


“Ibu” ucap Ell, wanita tersebut ialah Mrs. Flia, ibu tirinya.


Cih… “Ternyata begini rupamu sekarang, sungguh jalang yang hebat” cela sang ibu tirinya dengan tatapan menghina.


“Apa maksudmu bu” jawab Ell heran.


Hah.. “Jangan panggil aku ibu, aku tidak sudi memiliki anak seorang wanita jalang. Kau bahkan menikmati kehidupanmu bersama tuan Hogue, bukan!” cela sang ibu tirinya dengan sinis.


“Bagaimana bisa ibu berkata demikian! tidakkah ibu yang telah menjualku” tukas Ell kesal.


Mrs. Flie pun tertawa lepas. “Kau pada dasarnya hanyalah seorang jalang. Aku yakin, kau bahkan sangat bangga bisa berada di keluarga Matthe hanya dengan bermodalkan tubuh jalangmu!” cela Mrs. Flia.


"Hentikan! jika pertemuan ini hanya untuk menghinaku, lebih baik nyonya pergi!” tukas Ell kesal.


Tsk… “Jalang yang hebat hingga mampu naik ke atas ranjang Hogue!” cela Mrs. Flia sembari tertawa lepas. Kemudian pergi dengan sengaja menubruk bahu Ell.


Ell terdiam kaku. Bahkan sang ibu tirinya pun menganggapnya seorang jalang murahan. Ia hanya bisa menerima nasibnya kini.


***


“Mansion Kediaman Hogue”


Ahh hh.. desah kelelahan Ell. merebahka dirinya di atas kasur, dan mencoba memejamkan kedua matanya.


Sysshhh…. suara air shower terdengar jelas. “Bukankah aku sudah mematikan showernya, mengapa bisa hidup” gumam Ell. Lalu dengan terpaksa, Ell beranjak menuju kamar mandi hanya untuk mematikan shower.


Arghkk… jerit Ell, saat seorang wanita berpakaian serba merah dengan wajah pucatnya sedang duduk di tepi buthub miliknya.


“Si-siapa kau!” ucap Ell dengan terbata.


Sosok wanita berpakaian serba merah itu pun berdiri, dan bergerak maju tanpa menginjak lantai.


“Mengapa bisa ada wanita di mansion ini! siapa yang mengijinkanmu tinggal di sini!” bentak sosok wanita tersebut. Muncul dua pasang gusi tajam juga tatapan mata semerah darah.

__ADS_1


“Ak-uu..—“ Ell mundur, dan..


Greppp… sosok tersebut pun mencekik leher Ell.


“Dasar wanita jalang! berani sekali kau berada di sini!” bentak sosok tersebut, yang terlihat begitu marah.


Ahkk… “Mungkin sampai di sini akhir kisah hidupku..” lirih batin Ell, dan perlahan hampir menutup matanya. Karena hampir kehabisan udara dan tidak dapat bernapas.


Bhuakk… tubuh Ell terhempas mengenai sisi ranjang miliknya.


Ahkk… Ell memekik kesakitan, sambil mencengkram pinggulnya yang sangat nyeri akibat benturan.


“Dasar wanita jalang..—“


“Hentikan!” bentak seseorang dari balik pintu, saat sosok wanita tersebut sedang mencekik leher Ell.


“Pangeranku” ucap sosok wanita tersebut dan melepaskan tangannya dari leher Ell.


“Apa yang kau lakukan dengan pengantinku!” bentak pria tersebut yang ialah Hogue.


“Pengantin! akulah pengantinmu sayang” ucap si wanita tersebut sambil menggelayut pada tubuh Hogue.


“Pergi! mahkluk rendahan!” bentakan Hogue telah membuat sosok wanita itu meringuk ketakutan, lalu tiba-tiba menghilang.


“Ellena!” ujar Hogue sambil mengangkat tubuh lemah Ell. Membawanya ke dalam mansion utama.


Semua mata tertuju pada Hogue. Karena baru kali ini sang tuan mereka berlaku demikian terhadap seorang wanita.


Ell terlihat menahan rasa sakitnya. Bagian lehernya pun terlihat memar, dan sedikit goresan luka.


Argkhh… erangnya, sambil meninju tembok. “Aku sangat tidak ingin menyakitimu” lirih Hogue sambil menangis.


Arghkk… hakkk hhh… erangannya menggema ke segala penjuru mansion.


Setelah beberapa hari, minggu bahkan bulan. Hogue telah pergi dan tidak mengatakan akan pergi kemana pula.


Sejak malam ia mendapati Ell hampir terbunuh, Hogue sudah tak lagi terlihat keberadaannya.


***


“Di mana wanita itu?” ujar seorang wanita yang ialah ibu dari Hogue.


“Selamat datang nyonya” ucap para pekerja mansion sambil memberi hormat pada sang nyonya besar.


“Wanita yang nyonya maksud, apakah itu nona Ellena?” tukas salah seorang pengawal mansion.


Hmm… “gumam ibunda Hogue. Setelahnya, para pengawal menghantarkan sang bunda menuju sebuah rumah kecil, tempat kini berada.


Ibunda Hogue pun langsung memutar gagang pintu yang tidak terkunci tersebut. “Apakah anakku telah menyiksa wanita lagi” gumam sang ibunda, yang ialah Mrs. Liberttie Matthe.


Mrs. Liberttie Mathhe/ Mrs. Tie


“Kau kah yang bernama Ellena Casey!” ujar Mrs. Liberttie, membuat Ell begitu terkejut hingga menjatuhkan gelas yang sedang ia genggam.

__ADS_1


“Maaf nyonya” ucap Ell sambil memberi hormat.


“Tidak masalah” ucap Mrs. Liberttie dengan tersenyum lembut.


“Perkenalkan, aku ibu Hogue” ujar Mrs. Liberttie sambil memberi salam pada Ell.


Keduanya pun duduk di sebuah sofa, dan terlihat mulai akrab satu sama lain.


“Ellena, aku berharap kau akan menjadi istri anakku” ujar Mrs. Libertti/ Tie pada Ell, sambil menggenggam tangan Ell.


“Tapi, aku hanya seoang pelayannya saja, nyonya” jawab Ell lirih.


“Tidak. Anakku pasti mencintaimu” ucap Mrs. Tie sambil menyentuh wajah Ell dengan sentuhan lembut, bagai seorang ibu.


“Wanita ini sangat lembut dan berbeda jauh dari pribadi tuan Hogue” batin Ell.


“Ellena” ucap Mrs. Tie sambil membelai bahu Ell dengan senyuman sendunya.


“Yah, nyonya” jawab Ell. Ell bingung harus menjawab apa lagi setelahnya.


“Aku akan senang, jika Hogue akhirnya memiliki istri yang baik sepertimu. Aku tahu semua asal usul keluargamu, aku turut prihatin. Maafkan atas segala tindakkan anakku” ucap Mrs. Tie dengan nada lirih.


“Tidak nyonya. Mungkin begini lebih baik” jawab Ell dengan tersenyum sendu.


“Nyonya, aku—“


“Ellena, kau gadis baik. Aku ingin kau melahirkan cucu untukku” tukas Mrs. Tie dengan tatapan serius.


“Baiklah, mulai saat ini kau adalah calon menantuku” ucap Mrs. Tie tanpa menghiraukan apa yang hendak Ell utarakan.


***


“Kediaman Matthe family”


“Bagaimana, apakah ayah setuju dengan pendapat bunda?” ujar Mrs. Tie, ibunda Hogue.


Mr. Luke Matthe, ayah dari Mr. Ghand dan Hogue.


“Bunda, apakah bunda yakin Hogue akan berubah?” tukas Mr. Luke sembari memasukkan tangan kirinya ke dalam kantung.


“Ayah. Kita harus memanfaatkan gadis polos itu sebagai tumbal” tukas Mrs. Tie dengan menyipitkan matanya.


“Bunda, tidakkah itu tindakan yang kejam.” Tukas Mr. Luke, menatap sang istri dengan tatapan ragu.


Mrs. Tie pun tertawa. “Ayah… mengapa baru sekarang ayah berkata demikian. Setelah berapa banyak gadis-gadis yang menjadi tumbal” tukas Mrs. Tie.


“Bunda, cukup. Sudah cukup banyak korban tak bersalah” tukas Mr. Luke meyakinkan sang istrinya.


Bugh… Mrs. Tie memukul meja kaca dengan telapak tangannya. “Omong kosong! bukankah kembaran Hogue sangat membutuhkan darah! atau aku matikan saja anak itu” bentak sang istrinya dan pergi dari ruangan kerja Mr. Luke.


Hahh… Mr. Luke menghela napasnya. “Henokh… maafkan ayah...” lirih Mr. Luke dengan wajah sendunya.


****

__ADS_1


__ADS_2