Mr. Devil Season 3

Mr. Devil Season 3
Kembali untukmu, sayang!


__ADS_3

“Mr. Devil – Season III”


Author by Natalie Ernison


Ellena masih berharap akan kesadaran dan perubahan dari ayahnya. Namun yang terjadi sungguh jauh lebih menyakitkan baginya. Bahkan keberadaannya pun seakan tidak ada artinya lagi, dan sudah tergantikan oleh anak laki-laki dari sang ayah bersama ibu tirinya.


~ ~ ~


Setelah pertemuannya bersama ayah dan ibu tirinya, Ell lebih fokus dengan tanggung jawabnya sebagai pekerja di perusahaan Mr. Ghand.


Mr. Ghand sedang sibuk dengan laporan-laporan akhir bulan perusahaan. Setelah melihat statistic perkembangan mau pun income, ia terlihat sebal.


Phkk… membanting semua laporan-laporan di atas meja kerjanya. “Apa yang bunda inginkan sebenarya” gumamnya. Dengan segera, ia meraih gagang telepon dan mencoba melakukan panggilan suara.


“Hallo! tolong siapkan mobil, kita akan ke kediaman keluarga Matthe!” titahnya melalui panggilan telepon pada salah seorang rekan.


Mr. Ghand merenggangkan dasi miliknya. Raut wajahnya berubah, ia terlihat sangat marah kali ini.


Setelah beberapa saat kemudian…


“Selamat siang tuan Ghand, mobil dan semua data-data keuangan telah disiapkan,” ujar salah seorang rekan kerjanya.


“Kita berangkat sekarang!” tukas Mr. Ghand dan segera bergegas pergi. Ghand sangat gusar dan tak sabar ingin meluapkan kekesalannya.


***


"Kediaman Matthe family"


“Aku ingin bertemu dengan bunda, kau silakan tunggu saja di luar!” ujar Ghand, dan segera masuk.


“Ghand!” seru seorang wanita yang terlihat sedang bersolek di depan cermin besar.


“Bunda, apa maksud bunda dengan semua ini!” ujar Ghand, dan meletakkan beberapa berkas di atas meja.


Hmm… raut wajah Mrs. Liberttie terlihat langsung berubah tegang, dan meraih setumpukan berkas yang telah Ghand bawa.


Membuka halaman per halaman, dan menatap dalam ke arah Ghand. “Lalu apa maksud dan tujuanmu membawa laporan kepemilikkan saham dan juga data keuangan ini?” tukas Mrs. Liberttie dengan tatapan sinis.


“Seharusnya aku yang bertanya pada bunda. Mengapa saham perusahaan bisa berpindah hampir delapan puluh persen!” tukas Ghand dengan menahan segala amarahnya.


Tsk… “Kau pikir, kau siapa! hanya karena suamiku mengadopsimu, lalu kau pikir bisa memiliki saham keluarga Matthe!” cela Mrs. Liberttie sinis.


“Bukankah sebelum perusahaan berkembang dan bahkan hanya sebuah kantor biasa, ayah telah menyerahkan semua padaku..”


Mrs. Liberttie tertawa tatkala mendengar ucapan dari Ghand. “Ghanderso!” bentak Mrs. Tie dengan menatap sinis ke arah Ghand.


“Kau hanya anak adopsi keluarga Matthe! dan semua yang kau miliki adalah berkat pemberian dari keluarga Matthe! jadi, jangan banyak berharap!” tukas Mrs. Tie sinis.


“Yah, aku tahu bu. Tapi, bunda tidak bisa seenaknya mengambil alih kepemilikkan saham ini. Tidakkah bunda tahu, seberapa besar perjuanganku untuk membangun perusahaan ini!” lirih Ghand.


Mrs. Tie berjalan ke arahnya. “Kau hanya menumpang hidup di keluarga Matthe, dan jika semua itu kuambil alih. Tidakkah itu hakku, kau tidak berhak protes!” peringat Mrs. Tie sembari menyentuh wajah Ghand dengan tatapan sinisnya.


“Kau harus tahu diri Ghanderso! kau bukan anak kandung keluarga Matthe, kau hanya anak adopsi. Oke!” tegas Mrs. Tie


“Terima kasih bunda, aku mengerti” jawab Ghand, dengan tangannya yang gemetar menahan amarah.


“Ada ini bunda?” tukas Mr. Luke bersama Henokh yang baru saja tiba.


“Ayah..”jawab Mrs. Tie dan langsung merangkul sang suaminya.


“Ghand, bagaimana kabarmu?” ujar Mr. Luke sembari mengajak Ghand duduk di sofa yang berada di ruang keluarga.


“Baik ayah..” jawab Ghand seraya tersenyum seperti dirinya yang biasa.


“Apa yang membuatmu datang kemari Ghand? bukankah kau sedang sibuk dengan perusahaan!”


“Ia ayah, aku hanya merindukan kalian. Oleh sebab itu, aku datang kemari”


“Oh baguslah Ghand. Lalu bagaimana dengan Leerie?”


“Leerie bersama kakek dan neneknya, ayah” Ghand menyeruput kopi panas yang baru saja di hantar oleh seorang pelayan.


“Ayah berharap kau lebih fokus lagi dengan perusahaanmu..” ujar Mr. Luke sembari menepuk bahunya.


Ghand pun pergi dari kediaman keluarga Matthe. Ia begitu kacau, setelah mengetahui hampir keseluruhan asset saham perusahaan diambil alih oleh Mrs. Liberttie. Semua usaha kerja kerasnya selama belasan tahun pun benar-benar raip seketika.


Sedih dan kecewa memang. Namun, ia hanya seorang anak adopsi keluarga Matthe. Hal tersebutlah yang membuat Ghand tidak dapat berbuat banyak.

__ADS_1


***


Ellena seperti biasanya, sibuk mengurus keluar masuk barang-barang di perusahaan tempat ia bekerja kini.


“Permisi nona Ellena, nyonya pemilik bersama anaknya akan segera datang!” ujar salah seorang pegawainya.


“Ohh baiklah” jawab Ell singkat. Segera ia pergi menuju loby utama.


“Kau bekerja di sini?” ujar Mrs. Liberttie dengan menatap sinis ke arah Ell.


“Iya nyonya” jawab Ell dengan singkat dan memberi hormat.


“Bekerjalah dengan baik, jika masih ingin tetap berada di sini,” peringat Mrs. Liberttie dan pergi dari hadapan Ell.


Ell hanya berdiri dalam diamnya. “Demi masa depanku, aku harus bertahan” batinnya, dan ia pun kembali bekerja.


>>


“Wanitaku semakin cantik dan manis saja” ucap seorang pria dari balik kaca mobil yang pada saat itu Mrs. Liberttie tempati.


“Henokh! apakah kau tertarik dengan wanita itu?” ujar sang ibunya, Mrs. Liberttie


“Bunda pun tentu saja sudah mengetahuinya” tukas Henokh dengan terkekeh.


“Bukankah dia wanita suudaramu Hogue! apakah kau tidak berpikir bagaimana perangai Hogue saat memperlakukan wanita!”


Tsk… “Aku tahu Hogue tidak pernah menyentuhnya. Berhentilah ikut campur bunda!” peringat Henokh. Sang ibunya hanya terdiam saja, dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan.


***


“Kediaman Matthe family”


Argghkk… hahhkk.. agkkk… suara lenguhan para gadis yang berada di ruang bawah tanah.


“Ayah, sampai kapan kita akan terus memeliharanya?” ujar Mrs. Liberttie pada Mr. Luke


“Mengappa bunda berkata demikian, tidakkah itu anak kita bunda!” tukas Mr. Luke


“Tapi ayah…--“


“Diamlah bunda, dan turuti saja. Anak kita hanya dia, apakah bunda lupa akan hal itu!” peringat Mr. Luke dan pergi menuju ruang bawah tanah bersama sang istri.


“Bagaimana?” tukas Mr. Luke pada salah seorang pelayan.


“Tuan muda baru saja selesai mandi darah segar, tuan” jawab sang pelayang dengan emnunduk dan gemetar.


“Bodoh! kau sudah bertahun-tahun bekerja di sini, mengapa masih saja merasa takut!” bentak Mrs. Liberttie


“Sudahlah bunda, jangan membuat suasana menjadi tidak nyaman.”


Mereka pun menuju ruangan khusus bagi Henokh. Dengan dekorasi ruangan yang serba gelap meremang.


Arghk.. jerit Mrs. Liberttie saat mendapati beberapa mayat para wanita dalam keadaan tanpa busana, dan bersimbah darah.


“Tuan muda sedang berendam di kolam darahnya,” ujar salah seorang pelayan.


“Baiklah” jawab Mr. Luke.


Ia pun pergi menuju ruangan berikutnya lagi. Di sana sudah ada Henokh yang sedang bersandar setengah berbaring di dalam kolam darah. Kolam darah (air dipenuhi darah segar).


Hmm… “Apakah kau sudah sehat anakku?” ujar Mr. Luke sembari duduk di samping kolam darah milik Henokh. Kolam yang hanya cukup untuk dua orang saja.


“Sudah tahu, jika tidak mampu berlama-lama berada di luar. Tapi masih saja memaksa diri!” tukas Mrs. Liberttie


“Jika bunda tidak tahan berada di sini, lebih baik bunda pergi saja!” tukas Henokh sinis.


“Kau..—“


“Bunda..—“ tukas Mr. Luke sehingga sang istri tidak melanjutkan perdebatannya.


“Apa yang membuatmu menginginkan ayah untuk datang kemari?” ujar Mr. Luke


“Aku ingin ayah memanggil dewi kegelapan merah!” tukas Henokh, membuat ayah dan bundanya membelalak.


“A-apa maksudmu Henokh! bahkan untuk menyebut namanya saja itu sangat pantang!” bisik sang ayahnya dengan ekspresi wajah cukup ketakutan.


“Aku ingin keluar pada siang hari, dan syaratnya ialah meminum darah dewi kegelapan merah.”

__ADS_1


“Henokh itu permintaan yang cukup sulit” ucap sang bundanya dengan memelankan suaranya.


“Mengapa ayah!” tukas Henokh dengan terkekeh.


“Kau selalu sesuka hati, tidak cukup jantung para gadis perawan selama ini!” bentak sang bundanya.


“Bukankah bunda juga menikmati hasil kekayaan keluarga terkutuk ini!” cela Henokh.


“Sudah cukup! diam kalian!” bentak sang ayahnya, Mr. Luke.


“Ayah akan berusaha memanggil dewi kegelapan merah” ujar sang ayahnya dan segera menyiapkan segala hal yang dibutuhkan.


“Sebentar lagi aku akan menemuimu sayangku” gumam Henokh dengan tersenyum miring. Tentu saja, yang ia maksud ialah Ellena.


>>


Para pelayan maupu pekerja mansion lainnya, sibuk mempersipakan hal-hal demi memanggil sang dewi kegalapan merah yang Henokh inginkan tersebut.


“Ayah, ini sangat berbaya! kita harus mencari cara lain”


“Bunda cukup! apakah bunda ingin membuat kelimpahan keluarga Matthe surut, jika permintaan Henokh tidak dituruti!” tegas sang ayahnya.


“Tuan, semua sudah siap” ujar para pekerja mansion tersebut.


Sebuah lingkaran setan yang di buat dari dtetesan darah segar seorang gadis murni. Lilin-lilin merah, juga taburan bunga-bunga segar berwarna merah pula.



Srasshh… Mr. Luke juga Mrs. Liberttie menyayat pergelangan tangan mereka, lalu meneteskan darah segar ke dalam sebuah cawan yang akan diberikan bagi Henokh.


Swuusshhh… tiupan angin kencang membuat semua benda yang berada di sana bergetar. Lilin-lilin pun hampir padam.



“Siapa yang berani membangunkan istrahatku, hah!” gema suara memenuhi ruangan tersebut. Semua yang berada di sana sangat ketakutan, kecuali bagi Henokh.


“Dewi kegelapan merah, keluarlah!” teriak Henokh, membuat semua orang semakin ketakutan saja.


“Kau, pemuda..” ujar seorang wanita berpakaian serba merah dan mucul di tengah lingkaran yang telah di buat tersebut. Bahkan lingkaran tersebut pun menyala.



“Apa yang kau inginkan—“ tukas sosok wanita tersebut.


Namun Henokh terlihat begitu tak sabaran, sehingga ia langsung merebahkan tubuh sosok wanita tersebut.


Srakhh…. Henokh langsung menancapkan kedua taring tajamnya tepat di tenggorokkan sosok wanita kegelapan merah tersebut.


Ahkk.. “Kau keterlaluan, aku belum siap—“ lenguh sang dewi kegepalan tersebut.


Semua yang berada di sana hampir jatuh pinsan, ketika melihat aksi brutal Henokh yang selama ini belum pernah mereka saksikan sebelumnya.


Hah hh hh… Arghh…. arrghk… lenguhan dan jeritan Henokh memenuhi ruangan, dan terdengar sangat menyayat gendang telinga.


Hah hhh hh… deru napasnya memburu, dan langsung melayang menuju jendela dan raip bak hembusan angin.


“Henokh sangat kejam, aku belum menyiapkan diri. Ia bahkan jauh lebih kejam saat ini” tukas sosok dewi kegelapan tersebut.


***


Ellena baru saja menyelesaikan kerja lemburnya, hingga pukul 22.05 lewat. Karena jarak antara kantor dan kediamannya tidak jauh, ia pun memilih untuk berjalan kaki. Dengan niat ingin mampir di sebuah café dua puluh empat jam, untuk mengisi perutnya.


Bugh.. suara sesuatu menimpa dinding gedung area tempat Ell lalui kini. Namun ia tidak menghiraukan, mungkin saja kucing kawin, pikirnya.


Bibip bip bip… lampu gang tempat ia berjalan pun mulai meremang. “Ada apa ini, apakah pemerintah tidak menggantinya” gumam Ell dan melanjutkan langkahnya.


Bugh…


Sesuatu dari atas terjatuh tepat di hadapannya.


Hah hhh… deru napas Ell seakan melambat, tatkala melihat sosok pria sedang berdiri dan berjalan ke arahnya.



“Ellenaku sayang..” ujar sosok tersebut. Sepasang mata berwarna putih, bak mayat dan sepasang taring muncul dari balik gusinya.


Ell hendak berteriak sekencang mungkin, namun ia terhenti saat sosok pria tersebut mencengkram rahangnya.

__ADS_1



***


__ADS_2