Mr. Devil Season 3

Mr. Devil Season 3
Selamat tinggal gadis kecilku


__ADS_3

“Mr. Devil – Season III”


Author by Natalie Ernison


Setiap permasalahan tentu ada latar belakang, penyebab terjadi sesuatu hal. Sama dengan halnya, kehidupan Hogue. Hogue berkali-kali dipaksakan kedua orang tuanya untuk menikah, hanya untuk menjadikan calon pengantinnya sebagai tumbal keserakahan.


~ ~ ~


Arhk… lenguh Ell, saat Hogue menarik paksa tangannya. “Diam dan menurutlah” peringat Hogue.


Keduanya pergi dengan mengendarai mobil mewah milik Hogue. Hogue menyetir dengan tergesa-gesa, membuat Ell berkali-kali gemetar ketakutan.


“Apakah aku akan mati ditangan pria ini” lirih batin Ell.


***


Keduanya berhenti di area taman bermain, yang terlihat cukup tua. Ell memandangi area sekitarnya, dan berusaha mengingat sesuatu.


Hogue mencengkram kedua bahu Ell, menatap Ell dengan begitu dalam. “Apakah kau telah mengingat sesuatu?” tanya Hogue, sambil meraih tangan Ell. Menuntunnya untuk duduk di sebuah batu besar.


Ahk… lenguh Ell, menjambak rambutnya sendiri. “Kenapa Ellena?” tanya Hogue cemas.


“Kepalaku sangat sakit tuan..” lirih Ell. Hogue mendekap Ell dengan lembut. Membelai puncak kepala Ell sebagai penenang sejenak.


“Ellena. Kau tahu, selama belasan tahun ini. Aku belum pernah melupakanmu,” tukas Hogue sambil terus membelai puncak kepala Ellena. Namun Ellena benar-benar tidak mampu mengingat semua hal yang telah terjadi.


“Ibuku selalu memaksaku untuk menikah, namun tak satu pun yang mampu menarik hatiku. Aku pun memiliki kepribadian ganda. Aku bisa bersikap baik, juga bisa bertindak kejam. Aku lelah dengan kehidupanku,” ucap Hogue dengan lirih hatinya.


“Ellena, tempat ini adalah tempat favorite kita sejak kecil,” ucap Hogue sambil menatap wajah Ell.


“Mengapa sorot mata pria ini sangat tulus, saat mengatakan hal ini,” lirih batin Ell.


“Tuan, aku benar-benar tidak dapat mengingatnya..” ucap Ell sembari menundukkan wajahnya.


“Jika kau ingin pergi dari mansionku. Pergilah Ellena,” ucap Hogue dengan tatapannya yang sangat serius.


“A-apa tuan… aku boleh pergi?” tanya Ell meyakinkan pendengarannya. Karena ia tidak mengira Hogue akan berkata demikian.


“Yah. Aku sudah menyakitimu, aku tidak ingin kau terluka karena penyakitku.”


“Benarkah tu-an..” tanya Ell dengan hati-hati.


Hogue tersenyum sendu. “Iya Ellena, aku akan menunggumu mengingatku” Hogue memandangi langit dengan rasa yang berkecamuk tak karuan.


__ADS_1


“Besok kau boleh pergi. Namun, aku tidak berjanji untuk tidak menemuimu lagi,” peringat Hogue.


Ell sungguh tidak mengira akan semua yang telah Hogue utarakan padanya. Hogue bersungguh-sungguh dengan segala yang telah ia ucapkan. Akhirnya Ellena pun keluar dari mansion tersebut. Semua yang berada di mansion cukup terkejut dengan keputusan Hogue.


Terlebih lagi Henokh, ia tidak dapat menjangkau Ell saat siang hari. Henokh kini berada di ruang bawah tanah, sebagai tempat teraman baginya.


***


“Kediaman Ellena”


Ell kini kembali ke kediamannya. Ada rasa sedih dihatinya. Entah mengapa, tatkala mengingat sosok Hogue. Ell sepertinya merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.


Untuk bertahan hidup, Ell harus bekerja keras. Ia pun tetap bekerja di bawah kekuasaan Hogue. Namun hingga kini, Ell belum bertemu dengan Hogue.


Setelah beberapa bulan kemudian, Ell akhirnya mendapat kabar tentang keberadaan Hogue.


“Nona Ellena. Apakah nona tahu, saat ini tuan Hogue sedang mengalami masa kritis,” ujar salah seorang pegawai tempat Ell bekerja.


Ahk.. pekik Ell. Tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat sakit. “Ada apa nona?” tukas sang pegawai sembari menahan tubuh Ell yang terlihat kelelahan.


“Apa yang terjadi dengan tuan Hogue?” tanya Ell serius.


“Tuan sudah lama mengindap penyakit yang memang membuat umur tuan tidak akan lama,” ucap sang pegawai dengan wajah sendunya.


“apa yang terjadi?” Ell mulia berpikir. “Bukankah bagus jika pria itu menghilang. Aku bahkan sangat membencinya,” batin Ell.


***


“Mansion kediaman Hogue”


Semua orang sedang berkumpul, di sana sudah ada Mr. Ghand. Ell memantafkan langkahnya, dan terus melangkah. Tak lupa, Ell datang bersama beberapa pegawai.


“Nona Ellena! masuklah nona,” tukas salah seorang pengawal. Mr. Ghand hanya menatap sekilas ke arah Ell, dan Ell pun pergi menuju sebuah ruangan.


Di ruangan tersebut sudah ada keluarga Matthe, terutama bunda Liberttie.


“Selamat malam tuan, bagaimana kedaan tuan?” tanya Ell, lalu duduk di samping kasur tempat Hogue terbaring.


“Ayah, bunda, aku ingin berdua bersama Ellena,” tukas Hogue. Hogue terlihat begitu pucat lemah.


Hogue tersenyum dan menyentuh wajah Ell. “Terimakasih telah datang menjengukku,” ujar Hogue dengan tersenyum sendu.


Tanpa sadar, air mata Ell mengalir membasahi pipi mulusnya. “Tuan, aku—“ Ell menunduk. Ia pun bingung dengan dirinya sendiri.


“Ellena maafkan atas semua yang telah kulakukan padamu. Aku sangat mencintaimu” ucap Hogue dalam kedaan menangis pilu.

__ADS_1


Mendengar hal itu, perasaan Ell semakin terasa sakit.


Arghkk… hakk hhh… lenguh Ell sambil mencengkram kepalanya. Semua terasa berputar-putar, dan bayang-bayang masa kecilnya mulai bermunculan.


Bayangan dua orang anak kecil dengan perbedaan usia hampir sepuluh tahun. Mereka terlihat begitu bahagia, tertawa dan bermain bersama.


>>>


“Ellena, aku berjanji akan datang kembali, dan menikahimu” ucap seorang anak laki-laki yang mulai beranjak remaja.


Seorang gadis tersenyum polos. “Kak Hogue. Aku akan menunggumu,” ucap si gadis kecil.


Tsk… “Aku akan menjadi pria dewasa yang sukses. Aku akan menikahimu,” ucap si anak laki-laki dengan wajah polosnya.


Namun…


Si gadis kecil mengalami kecelakaan hebat, yang membuat sebagian memori pentingnya hilang. Selama bertahun-tahun lamanya, seorang remaja yang bernama Hogue pun tumbuh menjadi pria yang bisa terbilang sukses.


Beberapa tahun tahun kemudian…


Hogue terus mencari keberandaan Ellena. Ia tersadar setelah Ellena berada di mansionnya sebagai jaminan Mr. Brandon. Karena selama pengenalannya dengan Ellena saat masa kecil. Hogue tidak pernah mengenal keluarga Ellena. Hogue hanya mengenal nenek Clesia.


Ia telah telanjut melakukan tindakan kejam pada Ell, hal itu membuat Hogue sempat putus asa. Hingga akhirnya pergi untuk menenangkan pikirannya.


-----------


“Kak Hogue..” ucap Ell sembari tersungkur di lantai. Air matanya mengalir deras dan sudah tak terbendung lagi.



“Terimakasih telah mengingatku, kini aku bisa pergi dengan tenang…” ucap Hogue dengan tersenyum dan air matanya menetes seraya dengan matanya yang mulai tertutup.


“Kak Hogue! kau bajing*n! mengapa mengapa!” jerit Ell histeris.


“Aku mencintaimu gadis kecilku…” ucap Hogue dan ia pun tak lagi menunjukkan tanda-tanda kehidupan.


Tangis Ell pecah dan ia pun meraung-raung hebat. “Kau bajing*n! mengapa kau tinggalkan aku setelah apa yang terjadi selama ini..” lirih Ell.


“Hogue telah terlepas dari penyakitnya,” tukas Mr. Luke yang baru saja tiba.


Mrs. Liberttie hanya menunduk. Kini Hogue telah pergi untuk selama-lamanya. Tentu saja seluruh anggota keluarganya sangat sedih. Untuk jenis penyakitnya pun cukup di rahasiakan.


Kini Ellena sudah benar-benar terlepas dari Hogue. Namun sebuah kenyataan pilu begitu menyayat hati.


Hogue ialah pria remaja yang dulu sangat Ell kagumi. Namun takdir berkata lain bagi dirinya dan Hogue. Rasa cintanya pada Christo pun seakan-akan hanya rasa kekaguman sesaat.

__ADS_1


Ellena merasa semua yang terjadi dalam hidupnya hanyalah rasa sakit dan keputusasaan saja. Ia mulai membenci kehidupannya. Semua yang berharga di dalam hidupnya pun pergi secara perlahan.


***


__ADS_2