
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Ingatan akan masa lalu Ellena pun perlahan-lahan pulih. Walau ia harus merasakan sakit yang teramat pada
kepalanya. Setiap serpihan kenangan yang mulai muncul akan memunculkan rasa nyeri pada kepalanya pula.
~ ~ ~
“Ingat! aku tidak suka kau terlalu dekat dengan Johanez. Kau bahkan belum sepenuhnya tahu, apa yang akan Johanez perbuat padamu” peringat Henokh, sembari mengusap puncak kepala Ell.
“Yah kak, aku harus melanjutkan apa yang telah aku pernah buat” tukas Ell dengan tersenyum tulus pada Henokh.
“Jangan pernah melakukan perbuatan menjijikan pada pria lain lagi, atau aku akan langsung membakar pria-pria itu, dan kau akan kubuat bergadang hingga pagi” tukas Henokh dengan tersenyum penuh makna.
“Aku akan mengingatnya kak” jawab Ell. Kini Ell harus kembali pada pekerjaannya. Sementara ini, Ell harus tetap melanjutkan pekerjaannya di perusahaan sang ayah, Mr. Brandon.
“Perusahaan xx”
Berkutat dengan segala kesibukannya, dan terlalu fokus. Sehingga Ell tidak menyadari kehadiran Johz di belakangnya.
“Sayang” bisik Johz tepat di tengkuk lehernya.
“Kak Johz, jangan begini” pekik Ell, melepaskan pelukan Johz.
“Aku merindukanmu. Terlalu banyak hal terjadi akhir-ahkhir ini. Kesehatan ibu memburuk, dan aku bahkan tidak sempat mengurus tentang foto-foto tersebut. Karena yang terpnting adalah, kau baik-baik saja” tukas Johz dengan wajah sendunya.
“Kak Johz, maafkan aku. Kakak harus menjadi alat balas dendamku, kakak tidak akan pernah mengerti seberapa sakitnya yang telah aku alami” batin Ell.
“Kak, aku harus menyelesaikan laporanku. Bukankah kakak tidak ingin aku menjadi wanita yang payah!” ujar Ell membujuk Johz.
Hmm.. “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu” dengus Johz. Lalu pergi dari hadapan Ellena.
“Apakah aku harus datang ke rumah dan menjenguk wanita ****** itu!”batin Ell.
***
Berpenampilan yang rapi dan terhormat. Ellena kini siap untuk berhadapan dengan kedua orang tuanya, mau pun ibu tirinya.
“Kediaman Brandon Cars family”
“No-nona Ellena—“ ucap salah seorang asisten rumah kediamannya. Dari ekspresi sang asisten, tergambar jelas diwajahnya yang penuh kerinduan akan kehadiran Ellena.
“Nona Ellena, bagaimana keadaan nona selama ini?” lirih sang asisten. Ellena sejak kecil selalu bersama sang asisten yang ia anggap sudah seperti bibinya sendiri. Tak pernah ada tembok atau jarak antara anak majikan dan asisten rumah tangga. Ellena selalu memperlakukan dengan baik semua pekerja rumah mereka.
“Aku baik-baik saja” ucap Ell lirih.
“Apa yang kau lakukan di sini?” seru Mrs. Flia dari tangga lantai dua rumah megah kediaman keluarganya.
__ADS_1
Ell hanya mendongak dengan tatapan penuh dengki. “Ini adalah rumah orang tuaku, jadi hakku untuk berkunjung” tukas Ell geram.
“Kau harus sadar dengan posisimu saat ini. Apakah kau sudah dibuang oleh keluarga Matthe!” cela Mrs. Flia dengan terbahak.
Cih… “Kau hanya sebatas istri yang tak layak dipanggil ibu!”
“Tentu saja kau tidak layak memanggilku ibu. Ibumu sudah berada di neraka jahanam” cela Mrs. Flia dengan terbahak. Ell mengepal kedua tangannya, sangat ingin rasanya memukul mulut kejam wanita ini. Namun Ell harus bersabar untuk itu.
“Ellena!” seru Mr. Brandon yang baru saja tiba.
“Ayah” ucap Ell dengan menahan rasa sedih hatinya. Ell sangat merindukan sentuhan, belaian, kasih sayang ayahnya. Tidakkah Mr. Brandon merindukan putrinya, sekali pun tidak mencintai ibu Ellena.
“Apakah kau sudah sehat?” tukas sang ayahnya dengan tersenyum. Melihat hal itu, Mrs. Flia geram dan tak tahan.
“Sayang, masuklah. Tidakkah kau kelelahan” ujar Mrs. Flia pada Mr. Brandon.
“Ellena, ayah ingin bicara denganmu. Bisakah?” ujar sang ayahnya. Namun karena melihat ekspresi dengki sang ibu tirinya, Ell pun menolak.
“Aku hanya ingin mampir sebentar, aku harus segera kembali ayah,” ucap Ell. Lalu pamit pergi dari kediaman keluarganya.
Seharusnya Ell berada di rumah megah ini. Bahkan semua pengorbanannya, seakan tak ada artinya lagi kini. Apakah jalan hidup Ell begitu sulit dan seperih ini.
***
“Resto xx”
Ellena menikmati makan malamnya seorang diri. Pikirannya begitu kelut, tatkala mengingat semua yang telah terjadi. Ia sudah menjalin hubungan secara diam-diam bersama Johanez, juga Mr. Ghand.
“Kak Henokh” ucap Ell terkejut.
“Ellena kecilku terlihat begitu rapuh, walau sekeras mungkin mencoba untuk balas dendam” batin Henokh.
“Mengapa kakak tahu aku berada di sini?” tanya Ell penuh selidik.
“Mengapa aku harus tidak tahu di mana wanitaku berada! bukan kah hanya dari aroma tubuh dan darahmu saja aku sudah dapat melacaknya!” tukas Henokh dengan tersenyum miring.
“Apakah selama ini kakak juga tahu apa yang telah aku lakukan bersama tuan Ghand, juga kak Johanez?”
“Tentu saja aku tahu. Namun aku harus menahan diriku sekeras mungkin. Jangan salahkan aku, jika puluhan gadis-gadis remaja menjadi santapan kekesalanku!” tukas Henokh, sembari mencengkram rahang Ell.
“Maafkan aku kak, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku merindukan keluargaku..—“ ucap Ell dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Perlahan mengunyah makanannya dengan susah payah.
“Kau sangat rapuh, mengapa harus menahan diri dan tidak datang padaku” tukas Henokh.
“Aku memang sangat rapuh. Aku pun takut dengan apa yang akan terjadi di hadapanku” ucap Ell dengan nada lirihnya.
“Ellena, jangan pernah bersama pria lain lagi! cepat akhiri permainanmu!” tukas Henokh, dan menggenggam tangan Ell.
“Aku belum bisa melakukannya kak” Ell menarik kembali tangannya.
__ADS_1
“Dan aku akan menunggu kau mencariku sendiri” tukas Henokh, lalu beranjak dari kursinya tepatnya di hadapan Ell.
“Aku tidak percaya cinta” tukas Ell, dengan sorot mata sayu nan kosong. Seakan Ell sudah sangat lelah dengan hidupnya.
“Kak Henokh.-“ ucapan Ell terhenti, tatkala melihat Johanez sudah berdiri di meja sebelahnya.
“Kak Johanez” ucap Ell heran, dan menatap ke arah Henokh.
“Sekarang aku tahu siapa aku di hidupmu. Aku hanya alat bagimu, bukan!” tukas Johanez dengan bibirnya yang bergetar menahan segala perasaan yang berkecamuk.
“Selesaikan urusan kalian secara damai” tukas Henokh. Lalu duduk di meja pojok.
>>
“Henokh adalah klien bisnisku. Aku tidak menyangka kau akan setega ini padaku, Ellena..—“ lirih Johanez.
“Kak Johz, aku…--“
“Apakah aku terlalu bodoh untuk kau peralat! bahkan untuk marah padamu pun aku tidak mampu Ellena..—“ Aku tahu kau sangat membenci ibuku, dan usahamu pun berhasil. Apa kau sangat puas membalas sakit hatimu padaku, bahkan aku yang selalu berusaha menjadi pria terbaik bagimu.”
“Kakak tidak akan tahu seberapa sakit yang telah aku lalui. Semuanya dirampas dengan keji, bahkan ayah! ayah sangat jahat padaku..—“ isak Ell. Henokh masih berusaha menahan diri, agar tidak menarik Ellena dari hadapan Johz.
“Ellena! usia ayah tidak lama lagi. Sebenarnya ayah sangat mencintaimu, namun ayah harus menahan semuanya, karena janjinya pada tuan Luke!”
“Apa maksud kakak?”
“Ayah sudah mengetahui hubungan kita, aku jujur pada ayah. Semenjak saat itu, ayah telah menceritakan segalanya padaku. Semua yang terjadi selama ini tidaklah seperti apa yang kau lihat Ellena.”
“Ayah.. umur ayah, mengapa?” isak Ell, sembari menggenggam tangan Johz.
“Kakak! cepat katakan!”
“Ayah sedang dirawat di rumah sakit, namun sekarang sudah pulang kembali. Ayah sangat ingin bertemu denganmu.”
“Tidak mungkin! ayah bahka tidak pernah menginginkanku!” lirih Ell.
“Aku bukan anak kandung ayah dan ibu, aku hanya anak adopsi ibu” tukas Johz. Ell semakin terkejut.
“Apa—“
“Ayah telah menceritakan semuanya, bahkan ingin aku tetap menjadi kakakmu. Lalu dalam sebuah pertemuan, tuan Henokh mengajakku bicara, dan semua sudah kuketahui. Aku akan mencintai Mishel. Mishel dan bibi tidak bersalah. Semua adalah kesalahan ibu” tukas Johz.
Ellena beranjak dari tempat duduknya. “Aku ingin bertemu ayah!” tukas Ell.
“Aku akan pergi mendampingi” tukas Henokh.
Ell terus terisak sepanjang perjalanan menuju kediamannya. Bersama Henokh juga Johanez.
__ADS_1
***