
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Henokh membawa Ellena ke kediamannya, dengan niat ingin meminta restu dari kedua orang tuanya. Henokh ingin segera membawa hubungan mereka ke jenjang yang jauh lebih serius, ia ingin menikahi Ellena dengan cara yang tepat. Namun sebuah tamparan besar harus Ellena terima, tatkala Ellena harus menerima kenyataan pahit lagi dalam hubungannya.
~ ~ ~
Cukup lama bagi Ell untuk dapat memulihkan perasaannya, dan menaruh rasa percaya pada cinta yang baru. Namun kini Ell harus menerima kenyataan yang jauh lebih pahit lagi, kenyataan akan kehidupan Henokh yang belum sepenuhnya Ell ketahui.
Ell terdiam membisu, tak tahu harus berkata apalagi. Tubuhnya terasa begitu lemas, dan kepalanya mulai pusing memikirkan semua ini.
“Pembicaraan ini kita akhiri sampai di sini. Mungkin Ellena harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu,” tukas Mr. Luke memecahkan keheningan malam itu.
“Yah, Henokh kau antarkan Ellena pulang. Biarkan dia berpikir dengan jernih terlebih dahulu,” tambah Mrs. Liberttie.
“Baiklah, ayah bunda.,” jawab Henokh lalu membawa Ell pulang dari mansion kediaman keluarganya.
***
“Sebelumnya aku sudah pernah pertanyakan padamu, apakah kau akan tetap setia denganku. Sekalipun kenyataan di depan kita tidak semudah yang kita bayangkan saat ini. Inilah kenyataan yang kau harus tahu.”
“Sejak awal aku sudah memikirkannya, tentang hubungan ini. Namun aku tidak pernah berpikir akan hal itu, aku tidak dapat memikirkannya saat ini…” lirih Ell. Ell meraih tangan Henokh dan meletakkan di wajahnya sendiri.
“Tuan Henokh… apakah tidak ada alternative lain lagi… aku tidak sanggup..—“ isak Ell pecah lagi.
Henokh menyentuh wajah Ell dengan kedua telapak tangan besar miliknya. Mendekati wajah Ell dan menatap kedua mata Ell dengan tatapan sendu. “ Aku sudah pernah katakan, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Namun aku takut, jika kau yang akhirnya melepaskan cinta kita.”
Hmm… Ell menggeleng dan terus terisak. “Mengapa kau berkata seperti itu.. aku akan bertahan hingga akhir.. hingga akhir…” isak Ell. Henokh mendekap Ell dan mengecup kening Ell dengan kecupan lembut.
“Tetaplah menjadi wanita yang kuat, dan teruslah kuat untuk tetap bertahan denganku. Aku hanya tidak ingin menyembunyikan semuanya darimu.”
Ell masih sangat mencintai Henokh. Hanya karena hal ini bukanlah alasan bagi Ell untuk segera menyerah. Justru Ell lebih mencari solusi dari permasalahan yang saat ini ia hadapi. Jika permasalahan keluarganya bisa ia hadapi dan selesaikan. Masakan perihal ini Ell harus cepat menyerah.
***
“Permisi nona Ellena, ada tamu penting yang ingin bertemu dengan nona” ujar salah seorang staf Ell di kantor.
“Oh baiklah, aku akan segera ke sana.” Ell membereskan pekerjaannya dan pergi
menuju ruang tamu khusus di ruangannya.
Baru saja tiba, sudah ada seorang wanita paruh baya yang duduk di sana. “Ellena..” seru wanita tersebut dan langsung berdiri menyambut kedatangan Ell.
“Nenek..” balas Ell dan berlari menuju si wanita tersebut, yang ialah nenek atau ibu dari ayahnya Mr. Brandon. Keduanya saling berpelukan melepas rindu yang kian lama tertahan semenjak pertengkaran beberapa tahun lalu.
Setelah saling berbincang-bincang, Ell kembali terlihat sangat murung di hadapan sang neneknya. “Ada apa Ellena.. bukankah sekarang semua yang seharusnya menjadi milikmu telah kembali!” tukas sang nenek.
__ADS_1
“Nenek aku akan segera menikah dengan tuan Henokh, anak dari tuan Luke Matthe.”
“Keluarga Matthe!” sang nenek Ell terlihat cukup terkejut namun juga bahagia akan hal itu. “Nenek sangat setuju, Ellena.. tuan Henokh adalah pembisnis sukses setelah mendiang kembarannya Hogue.”
“Apakah nenek setuju dengan keputusanku?”
“Tentu saja Ellena. Henokh anak yang baik, nenek tahu itu..” tukas sang neneknya dengan tersenyum bahagia.
“Tapi nek..—“ Ell terlihat lesu.
“tapi apa Ellena, apakah kau ragu dengannya?” tanya sang neneknya penuh selidik. Ell hampir saja mengatakan sesuatu hal yang belum tentu neneknya dapat mengerti.
“Jika aku mengatakan hal itu, nenek tentu saja tidak akan mengerti dan akan sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan..” batin Ell.
“Ada apa Ellena.. kapan nenek akan bertemu dengan calon cucu nenek..” sang nenek terlihat sangat bahagia setelah mendengar hal tersebut.
“Tentu saja nek, aku akan mengenalkan nenek pada tuan Henokh..” ucap Ell dengan tersenyum, namun jauh dalam lubuk hatinya begitu pilu.
***
“Di sebuah resto xx”
“Selamat malam tuan Henokh!” sapa Ell yang baru saja tiba bersama sang neneknya. Sedang Henokh sudah duduk manis menanti kedatangan Ell bersama tamu istimewa yang telah Ell janjikan padanya.
“Ini adalah nenekku,” ucap Ell dengan tersenyum pada nenek Clesia.
Ell hanya tersenyum sendu, dan hanya Henokh yang mengetahui arti senyuman milik Ell.
“Terima kasih nek, aku akan mengusahakan yang terbaik.” Henokh mencoba meyakinkan nenek Clesia. Nenek Clesia pun begitu mempercayai Ell pada Henokh, terlepas dari permasalahan yang saat ini sedang Ell pergumulkan.
Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Ell pun kembali bersama nenek Clesia juga supir pribadi sang neneknya.
“Aku akan mengantarkan kalian pulang,”
“Tidak perlu tuan, aku akan pulang bersama nenek dan supir.”
“Baiklah, besok aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Ell pun bergegas pulang.
***
“Kediaman Ellena family”
“Apakah pernikahanku bersama tuan Henokh akan baik-baik saja.. apakah aku sanggup..” lirih batin Ell.
Sepanjang malam Ell terus terjaga matanya terasa begitu sulit untuk terlelap. Pikiran Ell melalang buana kemana-mana, dan semua terlalu berat untuk dipikirkan.
Beberapa hari kemudian…
__ADS_1
Ell lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tetap berada di rumah. Sedangkan semua pekerjaan sudah ia serahkan pada salah seorang asisen dan orang-orang kepercayaan. Untuk sementara waktu, Ell ingin menghabiskan waktu untuk beristirahat sejenak.
“Ellena, apakah kau memesan perancang busana juga juru camera kemari?” ujar nenek Clesia pada Ell yang sedang asyik memasak di dapur.
“Tidak nek..”jawab Ell heran. Ell memilih untuk memastikan apa yang terjadi, dan ternyata Henokh sudah ada di sana.
“Aku hanya ingin memudahkanmu saja,” tukas Henokh, lalu menuntun Ell ke tempat area pemotretan prewedding yang sedang di siapkan oleh para event organizer.
“Bukankah ini cukup merepotkan, tuan..”
“Tidak, tentu saja tidak. Ini lebih santai, dan kau tidak perlu menghabiskan waktu ke luar.”
Ell mulai di rias oleh para tat arias ternama, dengan beberapa gaun yang akan menambahkan kecantikannya pada saat pemotretan dimulai.
Setelah beberapa saat kemudian…
“Tuan, nona.. semua sudah siap!” ujar salah seorang juru foto profesional, bersama para event organizer.
Henokh mendekap pinggul Ell dan menuntun ke area pemotretan yang telah tersedia. Tak butuh waktu berjam-jam, dekorasi pun selesai dengan sangat cepat di area perumahan kediaman Ellena family.
Mereka pun memulai sesi pemotretan dengan gaya formal. Henokh terlihat begitu menawan dengan setelan jas rapi miliknya.
Sedangkan Ell mengenakan dress berwarna hitam yang cukup panjang, dan hanya memperlihatkan bagian lengan juga sebagian area punggungnya.
“Mengapa aku mengenakan dress seperti ini!” keluh Ell tatkala melihat dress yang telah Henokh siapkan tak sesuai keinginannya.
“Karena aku tidak ingin orang lain juga melihat bentuk indah tubuhmu, cukup aku saja yang tahu. Jadi, menurutlah..” bisik Henokh padanya dengan terkekeh.
“Dasar curang..” dengus Ell, namun ia tetap mengikuti setiap sesi pmotretan.
“Bagian selanjutnya ialah gaya kasual, tuan dan nyonya” ujar salah seorang perancang busana khusus.
Namun lagi, lagi Ell kesal. Karena busana yang Henokh pilih untuknya ialah kaus kasual biasa beserta rok dan sneaker santai.
Mereka mulai berpose kembali, namun Ell sedikit heran dengan penampilan Henokh. Henokh hanya mengenakan celana jeans dengan dada terbuka. “Tuan, mengapa kau seperti ini,” bisik Ell kesal.
“Agar para wanita merasa iri denganmu, jika kau akan memiliki suami yang bertubuh profosional.” Kekeh Henokh, dan Ell pun tak kuasa menahan tawanya. Ini cukup menyenangkan dan Ell menikmatinya.
Semua sesi pemotretan sudah hampir rampung, kini saatnya bagi Henokh untuk…
__ADS_1
****