
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Tuan besar terlihat begitu marah pada Ellena, karena Ellena tak sengaja keluar dari kamar kediamannya. Tuan besar bahkan mencekik leher Ellena, dan membuat Ellena semakin ketakutan.
~ ~ ~
“Kakak manusia!” seru Teddy, Namie dari balik pintu kamar kediaman Ell. Ell pun beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka pintu.
“Teddy, Namie, ada apa?” ujar Ell membuka pintu.
“Saatnya pertemuan dengan tuan besar, kakak harus pergi sekarang!” Teddy Namie langsung menarik tangan Ell dan pergi bersama mereka.
Mereka pun tiba di depan pintu pertemuan. “Apa yang akan kita lakukan?” tanya Ell polos.
“Kakak manusia akan tahu sendiri,” tukas Namie lalu pintu pun terbuka dengan sendirinya.
Beberapa makhluk aneh pun berkumpul di sana. Manusia berkepala bintang dan bertubuh ular berkumpul di sana.
Ell mencengkram baju milik Teddy, Namie. Ell sangat ketakutan, bahkan sangat jelas tergambar di wajahnya.
“Selamat malam tuan besar” seru semua makhluk yang berada di sana, dengan menundukan kepala sebagai tanda hormat mereka.
Seorang wanita bertubuh seksi pun berdiri di hadapan semua makhluk, sedangkan tuan besar duduk di kursi singgasananya.
“Malam ini kita akan mengorbankan seorang gadis belia, dan darahnya tentu saja bagi tuan besar” ujar si wanita.
Lalu muncul dua makluk bertubuh manusia dan berkepala binatang aneh. Mereka membawa seorang gadis belia tak berbusana, telanj**g.
“Tetaplah fokus kakak manusia, jika tidak yang lain akan terusik,” bisik Namie. Ell pun mengangguk namun tangannya tak lepas dari baju milik Namie.
Arghhkkk…. jerit si gadis belia tak berbusana tersebut. Tubuhnya di letakkan di atas meja besi, dengan kaki tangan terikat. Ia terlihat kesakitan, dan kain yang menutup mulutnya pun terlepas.
“Tuan, apakah tuan ingin meminum darahnya di cawan?” tanya si wanita bertubuh seksi tadi.
Sang tuan besar hanya tersenyum miring, matanya seketika menatap ke arah Ell. Ell terlihat menangis, tak sanggup melihat penderitaan si gadis malang tersebut.
Ahkk…. hhh…. desah kesakitan sang gadis, saat pergelangan tangannya disay*t oleh dengan belati panas. Bahkan dari bekas sayat*n itu, muncul asap panas yang membuat permukaan kulitnya kian terkoyak sempurna.
Setiap tetesan darah pun ditampung dalam sebuah cawan emas milik tuan besar.
“Tuan besar, silakan” ujar si wanita.
“Bawa gadis manusia itu padaku!” titah sang tuan besar pada si wanita. Dengan sigap para pengawalnya menarik paksa tangan Ell.
“Kakak menurutlah” bisik Namie. Ell dengan terpaksa menuruti keinginan sang tuan besar.
“Minumlah” titah sang tuan besar pada Ell.
__ADS_1
What! meminum darah segar! Sungguh mustahil bagi Ell, Ell bukan manusia penghisap darah, lalu mengapa Ell harus meminumnya.
“Kau tidak mendengarkanku!” tukas sang tuan besar dingin. Semua makhluk fokus ke arah Ell bersama sang tuan besar, semua terperangah. Karena baru Ell yang berani menolak perintah sang tuan besar mereka.
“Hei manusia, apa kau tidak mendengar tuan besar!” seru si wanita seksi tadi. Namun…
Arghhkk…. seketika si wanita seksi tadi menjerit parau, saat sebuah rantai berduri-duri terpasang di lehernya. Rantai itu berasal dari tangan sang tuan besar.
Ahkk…. hh… si wanita melenguh dan akhirnya, lehernya pun terputus, dan darahnya mencuat ke segala penjuru.
Ell gemetar, bahkan ia hampir pinsan seketika. Ini adalah hal baru yang ia lihat seumur hidupnya. Wanita tadi pun tak bergerak, lalu tubuhnya di bakar di perapian menyala.
Sang tuan besar menatap ke arah Ell dengan tatapan tajam menusuk. Ell perlahan meraih cawan yang berisi darah tersebut, lalu berjuang untuk meminumnya. Namun, sang tuan besar justru menjauhkan cawan itu darinya.
“Aku paling tidak suka, jika ada yang berani mencampuri urusan pribadiku!” tukas sang tuan besar pada semua makhluk yang ada di sana.
“Kau!” ujar sang tuan besar meraih pinggul Ell hingga terjatuh di atas pangkuannya.
“Mulai malam ini kau akan selalu bersama Teddy dan Namie,” tukas sang tuan besar. Semua menunduk memberi hormat pada mereka.
***
Ell bersama Teddy, Namie pergi berkeliling ke luar kastil. Semua terlihat normal, dan seluruh makhluk menjalani kehidupan layaknya manusia biasa. Namun dari segi makanan, tentu berbeda. Di sana adalah alam kegelapan, dan para makhluk pun menyantap daging-daging mentah sebagai makanan.
Ohh… “Yah.. kau benar, selama ini aku bahkan belum pernah menyantap satu makanan pun, dan..—“
Ahkkk… Ell mencengkram area perutnya, tiba-tiba saja ia merasa haus dan lapar setelah Namie menanyakan hal itu padanya.
“Kita harus bawa kakak manusia ke kediaman nenek tua!” tukas Teddy.
“Siapa itu nenek tua!” Ell heran dan sangat heran dengan kedua remaja ini, yang selalu membuatnya penasaran.
Mereka pun tiba di depan sebuah rumah tua, tentu saja menyeramkan bagi Ell. Bahkan selama Ell berada di sana Ell selalu merasa ketakutan.
Mereka berdiri di depan pintu, terlihat gelap gulita. “Apa yang kalian inginkan!” ujar seseorang dari balik pintu dengan sorot mata putih kehitaman.
“Nenek tua, kami ingin meminta bantuanmu..—“
>>
“Bagaimana kakak manusia kau sudah merasa baikan?” ujar Teddy Namie, saat Ell terlihat begitu lahap menyantap ikan panggang dan sedikit nasi dari kediaman si nenek tua.
“Bagaimana kau bisa sampai di alam kegelapan?” tanya si nenek tua, yang ialah seorang manusia setengah kegelapan.
__ADS_1
Ell mulai menceritakan bagaimana ia sampai di sini, namun Ell tidak menceritakan tentang Henokh. Sepertinya Ell kehilangan ingatannya tentang keluarga bahkan orang-orang yang begitu ia cintai.
“Apakah hanya itu yang kau ingat?” tanya si nenek tua lagi.
“Benar nek, aku sudah tidak mengingat hal apa pun lagi..” tukas Ell pada si nenek tua.
“Bahkan namamu sendiri?” tukas si nenek tua lagi.
“Nama..—“ Ell mulai mencengkram kepalanya, dan rasa sakit itu muncul kembali. Karena selama ini ia hanya dipanggil si manusia, tanpa nama.
“Baiklah… sudah saatnya kau pulang..” ujar si nenek menghentikan usaha Ell untuk mengingat.
“Nenek terima kasih untuk ikan-ikan ini” ujar Ell bahagia. Karena si nenek tua memberikannya beberapa ikan segar di dalam keranjang, juga sedikit beras.
“Kau tunggulah di depan, ada yang ingin kubicarakan dengan kedua anak ini” ujar si nenek tersenyum. Ell pun menuruti perintah sang nenek tua. Ell duduk di ruangan depan dan memainkan ikan-ikan yang diberikan si nenek tua.
“Sepertinya gadis itu kehilangan ingatan terbaiknya, juga orang-orang yang ia sayangi pun terlupakan,” tukas si nenek tua.
“Mengapa nek, bukankah kakak manusia itu sangat baik, dan kami merasakannya” tukas Teddy heran.
“Ini hanya rahasia diantara kita, jangan dulu katakan pada gadis itu. Karena itu hanya akan menyakitinya,” peringat si nenek tua.
“Baiklah nenek, lalu apa?” ujar Namie penasaran.
“Tuan besar kalian telah menghapus ingatan dari si gadis manusia, dan apapun alasannya. Hanya tuan besar yang mengetahuinya secara jelas,” ujar si nenek tua.
“Kakak manusia yang malang. Apakah tuan besar mulai menyukainya,” sela Namie.
Sehhhttt….
“Lupakan apa yang kita bicarakan malam ini, karena ini akan sangat berbahaya. Sayangi dia, dan buat dia senyaman mungkin di kastil,” peringat si nenek tua.
Setelahnya, mereka pun pergi meninggalkan kediaman si nenek tua.
Teddy, Namie memandangi wajah Ell yang terlihat bahagia dengan ikan-ikan segar itu.
***
“Kastil tuan besar”
Saat tiba di kastil, mereka telah dihadang oleh seorang wanita bertubuh ular.
“Tinggalkan manusia ini sendiri!” tukas si wanita bertubuh ular, lalu melilit tubuh Ell dengan ekor ularnya.
“Kakak manusia!” teriak Teddy Namie…
****
__ADS_1