
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Setelah mengetahui tentang kisah perih masa lalu Mr. Ghand, Ell merasa bahwa Mr. Ghand telah banyak melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Namun itu bukanlah keulurhan kisah dari kehidupan Mr. Ghand. Melainkan, itu baru sebagian kecil yang Ell baru ketahui.
~ ~ ~
“Kediaman Brandon Cars family”
Mrs. Flia bersama Mr. Brandon, sedang duduk di sebuah ruang keluarga.
“Aku sudah tidak sabar menanti kedatangan anakku” ujar Mrs. Flia dengan wajah sumbringahnya. Sementara Mr. Brandon duduk santai sembari menyeruput kopi hitamnya.
Tak lama setelahnya, sebuah mobil mewah berwarna silver pun tiba. “Selamat malam, tuan dan nyonya. Tuan mudah sudah tiba” tukas salah seorang supir pribadi keluarga Cars.
“Johanez!!” teriak Mrs.Flia sembari berlari ke arah seorang pria dengan setelan jas berwarna biru.
“Ibu, ayah..” ujar seorang pria tinggi tegap sembari mendekap Mr. Brandon dan juga Mrs. Flia.
“Bagaimana dengan usaha bisnismu di usa?” ujar Mr. Brandon, sang ayahnya.
Hmm.. “Semua baik-baik saja, ayah” tukasnya. Johanez Cars, ialah anak hasil percintaan Mr. Brandon bersama Mrs. Flia sebelum mereka diresmikan sebagai sepasang suami istri. Johanez ialah saudara lelaki dari Ellena, satu ayah, beda ibu.
“Besok aka nada pertemuan dengan perusahaan Matthe Group. Ibu yakin, kau akan terlihat unggul” puji sang ibunya, Mrs. Flia.
Johanez merenggangkan dasinya. “Sudahlah bu, aku lelah selama perjalanan, aku ingin istirahat” tukasnya.
“Tentu saja sayang” ujar sang ibunya. Mrs. Flia begitu bahagia menyambut kedatangan Johanez, begitu pula sang suaminya, Mr. Brandon.
Keesokan harinya…
“Bibi, kemana adik perempuanku?” tanya Johanez, yang kala itu sedang mengeringkan rambutnya, menggunakan handuk. Ia baru saja selesai membersihkan diri.
“Nona Ellena sudah tidak lagi berada di dalam keluarga Cars, tuan” bisik sang pelayan wanita dengan menunduk.
“Bibi!” panggilnya lagi, dan menahan langkah sang pelayan.
“Tuan muda, aku tidak berhak berbicara banyak” tukas sang pelayan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Johanez masih belum terlihat puas dengan jawaban sang pelayannya. Sehingga ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Kini tiba waktunya, keluarga Brandon Cars akan pergi menghadiri acara pertemuan dengan para klien-klien besar.
“Kau adalah anak ibu, harapan ibu. Jadilah sempurna” ujar Mrs. Flia dengan sorot mata yang penuh dengan ambisi besar. Johanez hanya tersenyum, seakan menyetujui pernyataan sang ibunya.
Mereka pun pergi menuju acara pertemuan.
***
“Hotel X”
Sebuah bangunan yang cukup megah nan mewah. Inilah tempat diselenggarakan pertemuan antara para bos besar, pimpinan-pimpinan muda sukses.
Senyuman penuh kebahagiaan kini terpancar nyata dari wajah Mrs. Flia, Mr. Brandon dan anak lelaki mereka, Johanez.
Mr. Brandon Cars
“Selamat malam tuan dan nyonya Brandon. Oh, apakah ini anak pertama dari tuan Brandon?” tukas seorang pria paruh baya.
“tentu saja, ini anak kami satu—“
__ADS_1
Mrs. Flia Cars
“Selamat malam paman” sela Johanez, tak ingin sang ibunya melanjutkan gaya bicara angkuhnya.
“Johanez! mengapa! bukankah bagus, jika mereka tahu siapa kau di dalam keluarga Cars” keluh sang ibunya dengan mendengus sebal.
“Ibu, sudahlah. Nikmati saja acaranya, aku ingin berkeliling.” Johanez pun meninggalkan sang ibunya.
Saat sedang berkeliling, tanpa sengaja ia menubruk seorang wanita hingga membuat segelas soft drink tumpah mengenaik dress yang ia kenakan.
“Maaf nona, sungguh maaf” sesal Johanez. Seketika sang wanita mendongak ke arahnya.
“Ellena!” ujarnya dengan wajah terkejut.
“Kakak” jawab Ell dengan senyuman sendu.
“Kau sudah lebih dewasa, bagaimana kabarmu? mengapa menikah tidak memberitahuku!” ujar Johanez sembari menepuk bahu Ell.
Johanez Frankyl Cars
“Menikah” tukas Ell dengan menarik sudut bibir atasnya, membentuk senyuman kecut.
“Yah, bukankah kau ingin menikah dengan pria mapan, sehingga kau meninggalkan rumah!”
Hmm.. “Yah, benar. Aku ingin pergi, kakak nikmatilah pesta ini” Ell pun bergegas pergi dengan perasaan yang kalut. Ia pun tak ingin berusaha berkilah, dan membiarkan Johanez menerka mengenai kepergiannya dari kediaman keluarga Brandon Cars.
“Sepertinya ada sesuatu yang adik kecilku sembunyikan” batin Johanez. Ia hendak mengikuti langkah Ell, namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Henokh meraih tangan Ell menuju sisi tembok gedung.
>>
“Jangan terlalu percaya diri! aku hanya ingin menunjukkan padamu, bahwa dunia ini sangat luas nan indah” tukas Henokh dan meluruskan tatapan Ell menuju ke area tengah ruang pesta.
“Apa maksudmu tuan?”tukas Ell heran.
“Lihatlah, betapa berharganya kakak lelakimu, dibandingkan dirimu yang bahkan tidak masuk daftar keluarga.” Mr. Brandon bersama Mrs. Flia memperkenalkan Johanez kepada para klien bisnis, sedangkan Ellena tidak masuk dalam daftar kepemilikan saham dan lainnya.
“Hentikan!” bentak Ell dengan penuh kekesalan.
“Apa yang dapat kau andalkan! apakah aku ingin marah padaku!” tukas Henokh dengan tatapan merendahkan.
“Kak Johanez pantas menerima penghargaan itu, karena dia adalah anak kebanggan kelaurga. Bahkan kehadiranku pun tidak diinginkan oleh ayahku..” tukas Ell dengan bibir yang gemetar.
Air mata mulai mengalir membasahi pipi mulusnya. Sekuat dan sebisa mungkin Ell mencoba untuk menahan isaknya. Namun ia sungguh tak mampu menahan rasa sedih itu. Ia pun pergi dari hadapan Henokh, dan berjalan menuju loby hotel berbintang tersebut.
>>>
“Ellena!” panggil seseorang dari balik tembok arah parkiran.
“Tuan Ghand” ujar Ell dengan berbalik arah. Ia tak ingin ada yang melihat kesedihannya.
“Apakah kau baik-baik saja?” ujar Mr. Ghand mencoba mendekatinya. Ell hanya mengangguk, dan melangkah menjauh.
“Ellena!” panggil Mr. Ghand lagi, dengan berani, ia meraih tangan Ell.
“Cukup sudah, aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu terluka” tukas Mr. Ghand sembari mendekap Ell ke dalam pelukannya.
Ell terus terisak pilu. Karena dalam acara pertemuan klien tersebut, ia harus mendengarkan sesuatu yang sangat memilukan. Mr. Brandon, sang ayahnya mengumumkan bahwa Johanez adalah pewaris tunggal keluarga Cars.
__ADS_1
Namun bukan soal warisan yang menjadi masalah utama, melainkan posisi Ellena sebagai anak pun seakan hilang. Nama belakannya saja tidak menggunakan nama belakang kebanggan keluarga Cars.
***
“Jika kau bersedih, maka ingatlah hal-hal yang membuatmu bahagia” tukas Mr. Ghand kala itu. Kini mereka berada di area taman bunga, yang letaknya tak jauh dari kediaman Ell.
“Mengapa aku baru tahu jika ada taman seindah ini, tuan” ujar Ell dengan tersenyum sendu. Wajahnya masih terlihat sangat sembab, setelah meratapi semua yang ia saksikan malam ini.
Huh… Mr. Ghand menghela napasnya sembari memandangi bintang-bintang yang seakan turut merasakan kelutnya perasaan kedua insan ini.
“Saat aku mendengar berita, bahwa ayah dan ibuku telah pergi untuk selamanya. Aku merasa seperti hidup di dalam kegelapan malam, aku benar-benar sedih. Bahkan diusiaku yang masih sangat balita, aku sudah harus merasakan perihnya kehilangan orang terkasih. Namun aku tahu bahwa jalan hidupku masih panjang, sehingga aku mampu menghadapi perihnya berjuang.” Tukas Mr. Ghand dengan tersenyum sembari menatap bintang-bintang yang kian bertebaran di langit.
Yah, kehidupan Mr. Ghand pun tidaklah mudah. Ia harus berjuang menjadi anak kebanggaan keluarga Luke Matthe. Untuk mendapatkan sebuah pengakuan, ia harus berjuang keras dan menepikan keinginan pribadinya.
“Leerie adalah hartaku yang paling berharga. Aku ingin kehidupannya menjadi jauh lebih baik dariku” ucapnya lirih.
“Apakah sangat perih kehidupan masa lalu pria ini. Mengapa aku menjadi ingin tahu lebih tentang kehidupannya” batin Ell.
“Mari kita hadapi bersama” ucap Ell sembari menepuk bahu Mr. Ghand. Mr. Ghand seakan tidak percaya dengan apa yang kini terjadi.
Benarkah ini Ellena, wanita yang sekian lama ia inginkan. Apakah wanita ini bersungguh-sungguh dengan ucapannya? pertanyaan yang terngiang-ngiang di benak Mr. Ghand.
“Ellena aku..—“
Drrttt… Drttt…. tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan berdering kencang dari balik kantong celananya.
“Ia hallo nek, ia aku akan segera pulang” tukas Mr. Ghand.
Ell menatapnya, seakan menanti kelanjutan dari penggalan kalimat yang sempat terhenti. “Leerie sedang demam tinggi, dan aku harus segera pulang. Aku akan mengantarmu terlebih dahulu” sesal Mr. Ghand. Ia sangat ingin mengutarakan sesuatu hal yang sangat penting, namun keadaan Leerie jauh lebih penting dari segalanya lagi.
“Tidak masalah tuan, maaf aku tidak bisa ikut bersama tuan. Karena ini sudah cukup malam.”
“Tidak masalah, kau harus beristirahat” tukas Mr. Ghand. Kemudian bergegas hendak menghantar Ell kembali.
Sementara itu…
Hahh hhh hhh… desah napas yang cukup berat terdengar jelas dari balik pohon yang berada di area taman tempat Ell bersama Mr. Brandon kala itu.
“Apakah aku harus berdiam seperti orang bodoh! maaf Ghand, aku tidak bisa melepaskan Ellena untukmu!” gumam Henokh yang kini sedang berdiri di balik pohon. Dengan sorot mata yang merah kehitaman, dan dua taring sudah terlihat siap untuk menancapkan leher siapa saja.
***
“Kediaman Ellena Casey”
Ellena melucuti seluruh pakaiannya dan menggantikannya dengan lingeri transparan.
Bugh…
Bunyi sesuatu yang jatuh di samping kasurnya, tepatnya dari balik jendela kamarnya. Angin sepoi sudah menerpa gorden, dan suasana gelap kala itu.
Arghkk… jeritan Ell tertahan, tatkala sesuatu yang tajam dan menyakitkan tertancap di bahunya. Dua pasang taring kini menembus permukaan kulitnya.
Ahkk hh hh… Ell melenguh parau, ini sangat sakit dan tak terkatakan lagi. Tetesan demi tetesan darah segar mengalir dari bahu hingga area tubuh Ell.
Henokh kini mendekap tubuh Ell dari arah belakang, sembari menikmati setiap tetesan darah segar Ell.
Ahkkk.. hhh… lenguh Ell, matanya mulai sayup. Samar-samar dua pasang tatapan mata yang tajam dengan mulut yang bersimbah darah segar.
“Tuan Hen-okh, tolong akhiri semuanya. Aku sangat lelah..” ucap Ell sembari menyentuh wajah Henokh dan akhirnya menutup kedua matanya.
__ADS_1
****