
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Hogue sangat marah pada dirinya sendiri dan juga keadaan yang kini membuat Ellena tidak mengingatnya lagi. Sebenarnya, apa yang telah terjadi antara Ellena dan dirinya di masa lalu.
~ ~ ~
“Kediaman Ellena Casey”
Ell meringuk di balik selimut tebalnya. Isak tangisnya memenuhi ruangan kamar. “Mengapa dunia sangat kejam padaku, mengapa aku harus mengalami ini” isaknya hingga tergugu.
Arghkk… hhakkhh ahhkk… Ell melenguh sembari mencengkram kepalanya. Kepalanya terasa begitu sakit dan berputar-putar. Bayang-bayang tiga anak kecil, dua anak pasang anak laki-laki dan juga anak perempuan sedang bermain bersama.
Semakin bayangan itu muncul kembali, maka semakin sakit dan nyeri pula kepalanya. “Apa yang terjadi padaku..” arggkkk.. erangnya. Bayangan ketiga anak kecil yang saling tertawa dan satu anak laki-laki itu terlihat murung.
Ell beranjak dari tempat tidurnya, ia terjatuh dan kepalanya mengenai ujung sisi meja besi yang terletak di samping tempat tidurnya. Tetesan darah mulai menetes membasahi permukaan kepalanya dan mengalir hingga wajahnya.
Setelah beberapa jam kemudian…
***
Ahkk… lenguhnya, sembari menyentuh kepala yang kini sudah terbalut perban. “Di mana aku?” gumamnya sembari memandangi area sekitar.
Sebuah ruangan serba putih dengan beberapa peralatan medis sudah ada di sana. “Kau sudah sadar Ellena” ujar seseorang dari balik pintu.
“Tuan Ghand” ujar Ell dengan ekspresi terkejut.
“Syukurlah, jika kau sudah sadar” tukas Mr. Ghand sembari duduk di samping ranjang pasien. Karena kini Ell berada di dalam ruangan pasien, tepatnya di rumah sakit.
“Sejak kapan aku di sini?” tanyanya heran.
“Jangan terlalu banyak berpikir, sekarang kau harus segera pulih. Makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu” ujar Mr. Ghand, sembari menyodorkan semangkuk bubur hangat. Ell dengan ragu-ragu, akhirnya menerima suapan demi suapan dari Mr. Ghand.
“Maaf, jika aku terus merepotkan tuan” sesal Ell dengan wajah sendunya.
“Tidak masalah, tidak perlu dipikirkan lagi” tukas Mr. Ghand sembari menepuk punggung tangan Ell.
Namun Ell masih belum puas dengan pernyataan dari Mr. Ghand. Sangat wajar jika Ell ingin tahu, siapa yang telah memberitahukan keadaannya pada Mr. Ghand.
Setelah satu hari kemudian…
“Tuan, aku ingin kembali pulang” pinta Ell pada Mr. Ghand.
“Baiklah, tapi kau tidak perlu pergi bekerja untuk sementara waktu ini” tukas Mr. Ghand. Sungguh pria yang pengertian dan penuh perhatian.
Hari kedua berada di rumah sakit, akhirnya Ell pun akan segera pulang.
“Ibu…” panggil seorang anak laki-laki yang sedang berlari ke arahnya dengan senyuman bahagia.
“Leerie” ucap Ell dengan tersenyum sendu. Leerie berlari ke arah dirinya dan mendekapnya dengan penuh kasih.
“Anak baik” ujar Ell sembari mengusap gemas kepala Leerie.
“Aku meliindukanmu, ibu..” rengek Leerie sembari mendekap Ell dan terlihat begitu manja padanya.
Melihat hal itu, Mr. Ghand seakan salah tingkah karenanya. Ia sangat bahagia dan juga sangat ingin menyentuh Ell, namun ia berusaha menahan rasa itu. Ia takut, jika Ell menganggapnya sebagai duda mesum.
***
Sepanjang perjalanan, Leerie terus bersandar pada Ell. Berbincang-bincang sepanjang perjalanan, dan begitu menikmati waktu bersama.
“Ayah, bawalah ibu ke rumah” pinta Leerie dengan wajah memelas manja.
“Ellena—“ ujar Mr. Ghand menatap ke arah Ell, seakan meminta persetujuan dari Ell.
“Baiklah, ibu akan ikut denganmu” tukas Ell sembari mengusap kecil kepala Leerie. Leerie kecil terlihat begitu bahagia dengan persetujuan dari Ell yang sudah ia anggap sebagai sang ibunya.
__ADS_1
“Kita sudah sampai” ujar Mr. Ghand. Kini mereka berada di depan kediaman Mr. Ghand.
“Kediaman Mr. Ghand”
Kali ini bukanlah sebuah mansion, melainkan kediaman yang juga cukup mewah.
“Kau boleh beristirahat di sini” ujar Mr. Ghand yang sedang duduk bersama Ell. Sedangkan Leerie sudah terlelap dalam pelukan Ell.
“Tidak tuan, aku akan pulang malam ini” tukas Ell.
“Mengapa? apakah kau cemas dengan pendapat orang lain?”
Ell terlihat bingung akan jawabannya. “ Yah tuan..-“ akhirnya ia menjawab demikian, hanya karena bingung akan pernyataan apa lagi yang ia akan utarakan pada Mr. Ghand.
Tsk… “Di rumah ini ada nenekku yang sebenarnya (dalam artian, keluarga kandung/ sesungguhnya).”
“tapi tuan—“
“Mengapa terburu-buru, tinggallah di sini” tukas seorang wanita yang cukup tua renta. Berjalan ke arah tempat mereka kini duduk bersama.
Dengan sigap, Mr. Ghand melangkah cepat menuju sang wanita renta tersebut. “Bukankah sudah kukatakan, nenek harus bersama suster” peringat Mr. Ghand, sembari menuntun sang wanita renta tersebut, yang ialah sang nenek yang ia maksud.
“Nenek masih kuat,---“ tegas sang nenek. Ell hanya tersenyum, tatkala melihat betapa penurutnya Mr. Ghand di hadapan sang nenek.
“Kau yang bernama Ellena” tanya sang nenek dari Mr. Ghand
Nenek Phebe
“Benar nek..—“ Ell seketika menatap ke arah Mr. Ghand, tatapan yang penuh dengan pertanyaan.
“Emm.. nenek aku ingin melihat keadaan Leerie dan berganti pakaian” sela Mr. Ghand dan bergegas pergi.
“Aku nenek dari Ghandso” tukas sang nenek. Ghandso, ialah nama panggilan dari Mr. Ghand saat berada dalam lingkungan keluarganya.
“Ghandso adalah cucu nenek satu-satunya, dan kini ia harus mengasuh Leerie seorang diri. Terkadang nenek sangat cemas dengan kesehatannya dan..---“
“Kilas balik”
Mr. Ghand/ Ghandso terlahir dari keluarga yang berkecukupan, walau tidak sebanding dengan kesuksesan keluarga Matthe. Setidaknya, ia dapat menyelesaikan pendidikannya ke janjang lebih tinggi. Semua ialah berkat pertolongan dari Mr. Luke Matthe, ayah dari Hogue dan Henokh.
Seorang anak laki-laki kecil usia kisaran empat tahun, sedang duduk termenung di sebuah sekolah taman kanak-kanak. Ia menatap ke arah anak-anak lainnya, ketika anak-anak lainnya terlihat begitu bahagia bersama kedua orang tua mereka. Sedangkan anak laki-laki satu ini, ia hanya sendiri.
“Nak!” panggil seorang pria sembari menunduk ke arah sang anak lelaki tersebut.
“Iya paman” jawabnya dengan ekspresi datar.
“Siapa namamu?” ujar sang pria.
Dengan tersenyum tulus ia pun menjawab, “namaku, Ghandso.”
“Mari, ikutlah bersama paman,” ujar sang pria sembari mengulurkan tangannya.
“Apakah paman yang akan menjadi orang tua angkatku?” tanya sang anak yang bernama Ghandso.
Sang pria tersebut pun mengangguk, “Ia Ghand.” Ghandso kecil pun pergi bersama sang pria, yang bernama Mr. Luke tersebut.
***
“Mansion Kediaman Matthe family”
“Selamat datang tuan Luke” ujar para pelayan dengan menunduk memberi hormat.
Ghandso kecil terlihat canggung, dan hanya diam saja. “Ini kamarmu, mulai saat ini jangan panggil aku paman. Panggil aku ayah, dan nanti istriku ialah ibumu” ujar Mr. Luke sembari merangkul Ghandso kecil.
“Baik ayah” jawabnya datar.
__ADS_1
Mr. Luke pun pergi dari kamar yang terlihat cukup mewah tersebut.
>>
“Mengapa kau membawa anak itu kemari?” tukas Mrs. Liberttie dengan mendengus sebal.
“Dia adalah anak dari sahabat baikku, dan juka klienku yang sangat loyal sayang.”
“Apakah kau mulai meragukan rahimku untuk melahirkanmu keturunan!” tukas Mrs. Liberttie kesal.
“Bukan begitu sayang, tapi anak itu sudah menjadi yatim piatu,” bujuk Mr. Luke.
Ghandso kecil kehilangan kedua orang tuanya di usianya yang terbilang masih sangat kanak-kanak. Kedua orang tuanya pergi berlayar ke luar negeri dank ala itu ombak besar menerpa kapal yang mereka tumpangi. Sehingga membuat kedua orang tuanya meninggal dan pergi untuk selama-lamanya. Sejak saat itu, Ghandso menjadi anak yang pendiam.
Ghandso kini hanya seorang yatim piatu, ia hanya diasuh oleh sang nenek dan kakeknya. Namun karena Mr. Luke ialah klien sekaligus sahabat baik sang ayah, Mr. Luke memutuskan untuk mengadopsinya.
Mr. Luke dan Mrs. Liberttie sudah sekian lama belum memiliki keturunan. Ghandso sudah dianggap seperti anak kandung mereka sendiri, walau Mrs. Liberrtie tidak sebaik Mr. Luke.
>>
Tanpa sengaja, Ghandso kecil mendengar semua perbincangan antara Mr. Luke bersama sang istrinya. Ghandso hanya terdiam dan berusaha menahan hatinya. Sekalipun masih kecil, ia pun bisa merasakan kesedihan dalam penolakan akan keberadaan dirinya.
Setelah satu tahun kemudian, akhirnya Mrs Liberttie pun mengandung. Dalam kandungannya pun dinyatakan mengandung sepasang anak laki-laki kembar.
Semenjak kehamilan pertamanya sang istri, Mr. Luke begitu perhatian dan jarang ada waktu untuk bersama Ghando.
“Kau hanya anak adopsi, jadi jangan banyak berharap akan mendapat bagian dari harta suamiku!” peringat Mrs. Liberttie. Kala itu, Ghando pun masih usia kanak-kanak, namun Mrs. Liberttie sudah mencemaskan sesuatu yang belum tentu Ghandso pahami dan mengerti.
“Baik bunda” jawab Ghandso dengan menunduk. Seandainya, kedua orang tuanya masih ada, mungkin Ghandso tidak akan berada di sana. Bahkan keberadaannya pun hanya sebatas angin lalu dalam keluarga Matthe.
Hal yang menjadi rahasia keluarga ialah, Hogue dan Henokh tidak mengetahui bahwa Ghandso hanya anak adopsi. Mr. Luke meminta agar Mrs. Liberttie tidak memberitahukan hal tersebut.
Hingga akhirnya lahirnya sepasangan anak kembar yang tampan. Semenjak kehadiran Hogue dan Henokh, Ghandso semakin tak dianggap keberadaannya. Bahkan hubungannya dengan si kembar Hogue Henokh pun tidak terlalu baik.
Karena, Mrs. Liberttie jauh lebih menyayangi kedua anak kembarnya. Namun Ghandso harus menerima kenyataan itu, ia tidak boleh bersedih dan menyerah.Setidaknya, Ghandso kecil mendapatkan kehidupan yang layak. Itulah kenyataan yang harus ia hadapi. Ia pun menjadi pribadi yang cukup tertutup, hingga akhirnya menikah dengan paksaan dari keluarga Matthe.
***
Keduanya (Ellena dan nenek dari Mr. Ghand) saling berbincang-bincang, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul. 21.00.
>>>
“Maafkan nenek, jika terlalu banyak berbicara, sehingga membuatmu kehilangan waktu istarahat” sesal Mr. Ghand.
“tidak tuan, aku sangat senang. Karena nenek mengingatkanku pada nenek Clesia” ucap Ell dengan wajah sendunya.
“Kau baik-baik saja?” Mr. Ghand seketika terlihat cemas, saat melihat ekspresi sedih Ell.
Hmm… Ell hanya menggeleng, “tidak tuan, aku baik-baik saja” tukas Ell dengan tersenyum. Sementara Mr. Ghand meletakkan kedua tanganya pada kedua bahu Ell.
Ah, “maaf Ellena” ujar Mr. Ghand dengan ekspresi sedikit canggung.
“Ia tuan, sepertinya aku harus istirahat” tukas Ell.
Malam itu menjadi malam yang membuat perasaan Ell campur aduk. Setelah berbincang bersama nenek dari Mr. Ghand, Ell cukup banyak mengetahui mengenai kehidupan masa lalu Mr. Ghand. Hatinya seakan turut merasakan kepedihan hidup Mr. Ghand.
Ia bersyukur masih sempat menikmati pelukan kasih sayang sang ibu, walau akhirnya ia pun harus merasakan pedihnya memiliki seorang ibu tiri.
Apakah yang akan terjadi dalam kehidupan mereka kedepannya…?
****
#Author
Hallo all, sorry yah thor update babnya sampai berhari-hari. Karena pekerjaan dunia nyata cukup padat, dan thor harus curi waktu di sela pekerjaan untuk bisa tetap menulis bab selanjutnya. Juga review dari pihak editor terkadang berhari-hari. Tapi, thor bersyukur, karena kalian selalu memberi semangat. Thor sangat senang memiliki pembaca-pembaca yang bisa mendukung dan selalu menanti karya thor yang tidak seberapa ini.
Kalian semua tetap semangat dalam segala tugas tanggung jawabnya yah :)
__ADS_1
Love u all...