
"Mr. Devil – Season III"
Author by Natalie Ernison
Johanez sangat bersedih disaat ia harus menyaksikan adik kecilnya terbaring lemah tak berdaya. Rasanya ia sangat ingin berada di sisi Ellena, menemani dan menjadi pria yang bisa diandalkan. Namun kenyataan berkata lain, ia sangatlah sadar jika kehadirannya tidak akan lebih dari sekedar suadara.
~ ~ ~
"Kediaman Ellena family"
Duduk dengan ditemani layar laptop dan juga tumpukan berkas-berkas perusahaan. Dengan kondisi tubuh yang cukup lemah, Ell masih saja keras kepala tidak menuruti nasihat Johz padanya.
"Bagaimana keadaan nona?" ujar Johz yang baru saja tiba di kediaman Ellena family.
"Nona Ellena masih bersikeras untuk tetap bekerja, tuan..—" jawab sang pekerja kediaman Ellena family.
"Ellena!" ucap Johz sembari melempar tas kerjanya dengan sembarangan. Berjalan setengah berlari menuju kamar pribadi Ell. Namun setiba di sana, Ell tidak terlihat. Johz pun bergegas menuju ruang kerja Ell.
"Ellena!" panggil Johz. Seketika Ell terkejut hingga menjatuhkan gelas yang berisikan air mineralnya.
"Kak Johz, aku..—"
"Harus berapa kali kuingatkan, kau harus beristirahat Ellena! aku akan bekerja keras demi perusahaan, kau tidak perlu cemas! semua keuntungan perusahaan semua diatas namakan dirimu."
"Kakak, aku tidak mencemaskan hal itu! aku sangat percaya padamu kak,--"
"Ellena, apakah kau cemas jika aku akan mengambil keuntungan dari perusahaan! bisnis juga perusahaan adopsiku sudah cukup merepotkanku, Ellena. tolong singkirkan pemikiran seperti itu, utamakan kesehatanmu."
"Aku tidak pernah berpikir sejahat itu kak! apakah hanya karena kesalahan di masa lalu, kakak menjadi curiga padaku!" lirih Ell sembari membanting laptop miliknya.
"Ellena, jangan lakukan itu.. tenangkan pikiranmu. Aku tidak curiga denganmu, masa lalu biarlah berlalu. Aku tidak ingin mengingatnya..—" Johz mendekap dan menenangkan Ell.
Saat ini emosi Ell tidak terkontrol. Ell bahkan berani membanting laptop miliknya, dan kondisinya pun terlihat kian memburuk.
"Aku tidak bisa hanya diam saja melihat keadaan perusahaan saat ini kak! aku ingin menjadi wanita yang lebih kuat lagi, tidak pasrah dengan keadaan.." isak Ell sembari terus memukul lengan Johz.
"Ellena, tenanglah... sebisa mungkin aku akan berusaha untuk membantu, namun aku juga harus mengurus pekerjaanku, oke." Ell hanya mengangguk pilu, menandakan bahwa ia setuju dengan perkataan Johz.
>>>
Semenjak kejadian Ell yang melakukan percobaan balas dendam pada keluarganya melalui kehadiran Johz, kini Ell kerap kali dihantui perasaan bersalah. Terkadang Ell mencurigai bahwa Johz tidak menaruh kepercayaan secara penuh terhadap dirinya.
Di sebuah ruangan pimpinan, Johz duduk sembari memijat pelan kepalanya. Pikirannya benar-benar sedang kacau balau tak karuan.
"Pak Johanez, sepertinya income perusahaan kali ini mulai merosot. Semua beban pengeluaran tuan Brandon juga Mrs. Flia dibebankan pada perusahaan," tukas salah seorang orang kepercayaan Mr. Brandon.
__ADS_1
"Aku pun sangat bingung. Bagaimana bisa Ellena menanggung beban sebarat ini, pantas saja daya tahan tubuh Ellena turun.." gumam Johz. Karena setelah ia kembali bergabung dengan perusahaan yang saat ini Ell kelola. Ia baru tahu seberapa besar pengeluaran dan juga kerugian perusahaan. Sedangkan para pegawai harus tetap menerima gaji dari kinerja mereka.
"Lalu dari mana Ellena mendapatkan uang dalam jumlah besar seperti ini! dan untuk gaji para pegawai?" tukas Johz sembari melemparkan berkas-berkas perusahaan di atas meja kerjanya.
"Sebenarnya selama ini nona Ellena menggunakan biaya pribadinya untuk bisa menutupi gaji para pegawai" ujar pria yang kini duduk di hadapan Johz.
"Apa! mengapa Ellena tidak pernah memberitahuku perihal ini?" tukas Johz. Johz sangat tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ell. Johz sangat prihatin dengan keadaan Ell selama ini, ia baru tahu betapa beratnya beban yang harus Ell tanggung.
"Nona Ellena telah lama menyimpan hal ini. Secara pribadi, kami para pegawai sangat mencemaskan kesehatan nona Ellena. Namun nona Ellena tidak suka, jika dikasihani."
Johz bersandar di sisi ruangan kantornya, sembari memandangi pemandangan area kantor miliknya, dengan perasaan yang berkecamuk pula.
***
"Kediaman Ellena family"
Johz baru saja tiba di kediaman Ellena family, dan ia cukup bertanya-tanya, tatkala melihat ada mobil mewah terparkir di area halaman depan rumah.
Rupanya itu adalah mobil baru Ell, yang akan ia gadai sebagai jaminan gaji para karyawan. Johz semakin geram dengan sikap diam-diam Ell.
"Mobil siapa ini?" gumamnya sembari masuk ke dalam. Matanya pun tertuju pada lantai dua, tepatnya di ruang bersama.
Setiba di sana, langkah Johz terhenti dan amarahnya pun mereda seketika. Ell terlihat sedang asyik bermain dengan boneka-boneka lamanya, yang sudah sekian lama tak terlihat. Tertoreh senyuman hangat Johz saat melihat Ell begitu asyik dengan boneka lamanya.
"Kakak! kakak masih mengingat ini!" ujar Ell sembari tersenyum lembut.
"Tentu saja aku ingat, adikku" ujar Johz. Ell terkekeh dengan mata yang berkaca-kaca, kala mengingat kenangan manisnya bersama Johz.
"Kak Johz, bolehkah aku memelukmu!" pinta Ell dengan lirih.
"Tentu saja adikkuh.." balas Johz dengan mata berkaca-kaca pula. Keduanya saling melepas rindu yang bertahun-tahun hampir terlupakan.
"Kak Johz, maafkan aku kak..." isak Ell. Kini hanya penyesalan yang memenuhi pikiran dan hatinya. Ia menyesal atas apa yang telah pernah ia perbuat pada Johz. Johz selalu menyayanginya dengan tulus hati, sekali pun Ell telah membuat luka baru di hatinya.
"Aku tidak pernah ingin mengingat masa lalu kita. Kau tetap gadis kecilku.." ucap Johz dengan deraian air mata haru biru.
Johz benar-benar enggan untuk mengingat kembali kisah masa lalunya yang cukup membuat luka. Masa kini yah masa kini, tak perlu mengingat masa lalu menyakitkan bagi dirinya pribadi, pikirnya kala itu.
Sementara di sisi lain...
***
__ADS_1
"Mansion kediaman Henokh family"
"Selamat datang kembali tuan Henokh" ucap para pelayan mansion kediaman Henokh family. Saat itu, Henokh baru saja tiba dari perjalanan panjangnya, dan terlihat cukup berbeda dari dirinya yang biasa.
"Tuan Henokh, gadis perawan murni sudah berada di dalam ruangan bawah tanah" ujar asisten Trush sembari menunduk penuh rasa hormat.
"Bawa gadis ****** itu kemari!" titah Henokh pada sang asistennya. Mereka pun bergegas menyeret seorang gadis dengan postur tubuh bak model, anggun terawat. Henokh memandangi tubuh seksi si gadis dengan tatapan biasa.
Tak ada nafsu menggebu, seperti setiap ia sedang berhadapan dengan Ellena. Henokh terlihat biasa saja, ia bahkan tidak tertarik dengan semua wanita yang selama ini menjadi pemasok darah baginya.
"Apakah kau sangat membutuhkan uang, sehingga kau berniat menjual dirimu padaku!" tukas Henokh sembari melangkah menuju di gadis seksi tersebut.
"Wanita mana pun pasti akan sangat bangga bisa tidur dengan seorang pria seperti anda, tuan Henokh Matthe," tukas si gadis dengan gaya sensualnya.
"Apakah kau sangat menginginkan milikku!" tukas Henokh sembari melepaskan ikat pinggang miliknya, dan merenggangkan restleting celananya.
"Tentu saja tuan Henokh.." ujar si gadis dengan menggigit bibir bawahnya, seolah tak sabar ingin segera menikmati surga dunianya.
"Lakukan sendiri!" titah Henokh. Mendengar pernyataan Henokh, si gadis tersebut pun dengan berani mendekati Henokh. Henokh memberi kode para para pengawalnya untuk keluar dari ruangan tengah yang berada di lantai dua.
Si gadis seksi tersebut mendorong tubuh kekar Henokh hingga terjatuh di atas sofa. Ia merangkak ke atas tubuh Henokh yang kini sudah telanjang dada, karena ulah nakal si gadis. "Tuan, apakah tuan tahan lama!" ujar si gadis sembari menepuk-nepuk ***** kebanggaan Henokh.
Henokh tersenyum miring, bahkan Ellena saja tidak pernah berbuat agresif begini padanya. "Menurutmu, apakah staminaku kurang memuaskanmu!" ujar Henokh dengan senyuman miringnya, dan matanya mulai menggelap.
Saat ini Henokh sangat ingin menancapkan dua taringnya di leher si gadis. Henokh hanya bernafsu pada wanitanya, Ellena. Gadis-gadis yang datang padanya hanya sebatas pemasok darah baginya.
"Tuan Henokh, kapan kita akan memulainya" ujar si gadis dengan saya bicara sensualnya.
"Aku tidak bernafsu denganmu!" tukas Henokh dan...
Khrakhh...
Henokh langsung menggigit leher jenjang si gadis seksinya, dan menghisap darahnya hingga si gadis benar-benar kehilangan banyak darah.
Ahkk hhkkk... lenguh si gadis dengan tubuhnya yang gemetar, tubuhnya membiru seketika itu juga.
Bugh...
Henokh membanting tubuh malang si gadis dari atas hingga terjatuh ke lantai dasar, tepatnya di anak-anak tangga kediamannya. Semua pekerja mansion sangat terkejut, dan tidak hanya sekali ini saja. Melainkan sudah berkali-kali Henokh berbuat demikian, terutama pada gadis-gadis yang sangat agresif.
Henokh bahkan belum memperawaninya, dan sesungguhnya Henokh belum pernah memperawani wanita. Hasratnya akan terpuaskan ketika ia menghisap darah perawan murni, dan keperjakaannya hanya untuk satu wanita yang ia benar-benar cintai sepenuh hati.
"Bakar gadis ****** itu!" titah Henokh, bahkan saat si gadis malang tersebut masih bernafas dan sangat skarat. Namun perintah tetaplah perintah mutlak yang harus para pekerjanya turuti.
__ADS_1
Tiba-tiba saja bayangan wajah wanitanya, Ellena muncul di benak Henokh. Henokh tersenyum miring, sembari menggigiti bibir bawahnya. Rupanya Henokh sudah tak tahan ingin bertemu dengan Ell dan berbuat hal-hal lainnya. Pikirannya sudah melayang jauh dengan fantasy-fantasy nakalnya.
****