
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Setelah cukup lama tidak menyentuh Ellena, Henokh akhirnya kembali beraksi. Ia sungguh tidak tahan melihat Mr. Ghand terus bersama Ellena, ia pun sangat menginginkan Ellena.
~ ~ ~
“Tidak semudah itu aku membiarkanmu mati! kau harus merasakan semua rasa sakitku dulu” tukas Henokh sembari mengangkat tubuh Ellena. Ia membawa tubuh tak berdaya Ellena melayang bersamanya.
***
“Mansion kediaman Henokh Matthe”
Semua pekeranya hanya menunduk memberi hormat, kala Henokh tiba bersama Ellena yang sedang berada di dekapannya.
“Apakah pertumpahan darah akan kembali terjadi lagi..-“ bisik para pelayan antara satu dengan lainnya.
Henokh membawa tubuh Ell menuju ruang bawah tanah, tempat ia berada selama puluhan tahun lamanya. Meletakkan tubuh Ell di atas kasur king size serba gelap. Bahkan pencahayaan dalam ruangan tersebut pun begitu gelap gulita.
Setelah beberapa saat kemudian…
Ell mulai membuka matanya perlahan, menatap sekeliling. Namun rasa nyeri pada bahunya sudah tak lagi terasa.
“Sudah sadar?” tukas seseorang yang sedang duduk di atas sofa, membuat Ell mendesah kaget.
“Kutanyakan sekali lagi, apakah kau sudah sepenuhnya sadar?” tukas Henokh sembari mencengkram rahang Ell. Tidak terlalu sakit, namun membuat kedua mata mereka saling menatap.
“Yah tuan,” jawab Ell sembari mengangguk. Henokh melepaskan tangannya dari rahang Ell dengan cukup kasar. Sehingga membuat rahang Ell sempat terasa kaku.
“Ganti pakaianmu!” bentak Henokh, sembari melemparkan sebuah gaun terbuka, yang cukup memperlihatkan setiap lekuk tubuh Ell.
“Apa yang kau tunggu! bukankah kau ingin menjadi nyonya Matthe sehingga bisa membalaskan dendam pada kedua orang tua bajing*nmu!” bentak Henokh lagi.
“Jangan tuan.. jangan..—“ isak Ell. Henokh memaksanya untuk melucuti seluruh pakaian yang kini sedang ia kenakan.
“Diam! kau tidak berhak menolakku!” bentak Henokh. Matanya mulai kemerahan dan rahangnya mengeras.
Ahkk.. pekik Ell saat Henokh mengoyakkan seluruh pakaiannya. Ia menangis pilu, ia bahkan tak mampu memberi perlawanan pada Henokh. Bahkan tubuh Ell masih sangat lemah, pasca Henokh yang telah banyak menghisap darahnya.
“Jangan tuan.. kumohon jangan..—“ isaknya semakin pilu. Henokh mencumbunya, menggerayangi seluruh tubuhnya. Bahkan Henokh sudah terlihat penuh nafsu. Gairah Henokh memuncak, tatkala melihat ekspresi memelas Ell dan isak Ell yang tak henti-hentinya.
Henokh terus memainkan tubuh Ell dan...*************/**/😜
__ADS_1
Ell mencengkram spreinya dengan peluh yang kian bercucuran. Tubuh Ell menegang tatkala ia merasakan sesuatu yang cukup aneh***** di area tubuhnya********** Ell tak sanggup lagi, namun Henokh terus membuatnya mabuk kepayang.
Henokh *************** Mata Ell terpejam merasakan sensasi yang Henokh telah lakukan padanya.
Hah hah hah.. deru napas Ell kian memburu, dan akhirya Henokh menghentikan perbuatannya.
“Apakah kau sudah mengingatku hah!” teriak Henokh tepat di wajah Ell. Ell hanya mampu terisak.
“Apa salahku padamu tuan.. mengapa.. mengapa kalian semua begitu kejam.—“ lirih Ell yang kini berada di bawah tubuh Henokh.
“Tatap aku! tatap!” teriak Henokh membuat Ell semakin meringuk ketakutan.
Ell benar-benar sudah sangat lelah dengan segala penderitaannya. Ia pun mendorong tubuh Henokh hingga ia kini berada di posisi atas tubuh Henokh.
“Aku memang sangat membenci ibu tiri jal**gku itu! juga ayah bajing**nku! mengapa tidak langsung saja kita bermain tuan” tukas Ell sembari membelai dada kekar milik Henokh.
Hmm.. Henokh tersenyum miring. “Kau sungguh wanita yang mampu mambuatku terus bergairah. Cepat lakukan!” titah Henokh.
Ell merasa cukup tegang. Apakah ia benar-benar menjadi wanita milik Henokh malam ini.
Tanpa banyak berpikir, dan memang sudah tak dapat lagi pergi dari cengkraman Henokh. Ell pun berinisiatif mencumbu Henokh. Membelai seluruh area tubuh Henokh. Kala itu Henokh hanya diam saja, melihat sejauh mana kemampuan Ell menggodanya.
Ternyata Ell cukup berani memainkan tubuh Henokh**********+++18+***
Ell terlihat sangat pucat ketakutan. Milik Henokh sungguh bukan ukuran yang biasa. ia menelan salivanya dengan susah payah. Henokh sudah megambil ancang-ancang hendak********,**
Ahkk… Ell melenguh dan ********
Melihat ekspresi kesakitan Ell Henokh pun menghentikan niatnya. Lalu beranjak dari atas kasur tersebut. Sementara it, Ell masih merasa gemetar.
“Mengapa tuan Henokh tidak melanjutkan nafsu bejatnya padaku?” batin Ell kala itu. Namun ia pun merasa cukup lega karenanya.
“Jangan berlaga, jika kau saja belum pernah melakukan sek*!” tukas Henokh yang kini berbaring di samping Ell. Ell berbalik kea rah tembok. Air matanya kian mengalir, meratapi semua yang telah ia lalui malam ini.
“Apa yang kau tangisi, bukankah kau wanita yang kuat” tukas Henokh sembari membelai bahu hingga lengan polos Ell. Keduanya sama-sama tak berbusana sedeikitpun.
“Aku ingin bermain kecil” tukas Henokh sembari menji***** daun telinga Ell. Tangannya mulai**********
Emhh… Ell hanya mampu menahan desahannya walau akhirnya ia mendesah tak karuan. “Hanya begini saja kau sudah memberikan ekspresi liar. Lalu bagaimana jika aku menyatukan tubuh kita!” tukas Henokh.
Mata Ell terlihat begitu sayup, dan akhirnya ia terlelap dalm pelukan Henokh.
~ ~ ~
__ADS_1
Keesokan harinya, Ell terbangun dan kini sudah berada di dalam kamar yang berbeda.
Ia mulai melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Cukup banyak bekas tanda-tanda-tanda merah hingga kebiruan yang terlihat di area leher hingga pinggangnya.
Ell kembali terisak. Ia sungguh tidak pernah berpikir jika hidupnya akan seperti ini. Ini terlalu menyakitkan baginya, dunia sungguh tidak adil baginya.
Apakah Ell harus menjadi seoramg ****** bagi Henokh dan memberikan balasan setimpal pada keluarganya. Sungguh semuanya membuat kepala Ell begitu pening. Ia tak sanggup membalaskan dendam pada keluarganya sendiri, terutama sang ayahnya.
Walau bagaimana pun juga, Ell ada semua karena ayah ibunya. Bagaimana mungkin Ell berlaku kejam pada orang tuanya sendiri. Sekali pun sang ayah telah banyak membuat kecewa dan penderitaan dalam hidupnya.
“Ibu, aku merindukanmu” isak Ell. Ia pun berniat untuk pergi mengunjungi mendiang ibunya, tentu saja berjiarah menuju pemakamannya.
Ell pun sudah bersiap-siap menuju pemakaman dengan pakaian serba gelap.
“Aku ingin mengunjungi ibuku” tukasnya kala itu, saat Henokh sedang bekerja di ruang kerja pribadinya.
“Kemarilah” titah Henokh sembari melepaskan pekerjaannya.
“Apakah boleh, tuan!” tukas Ell.
“Berikan aku sebuah kecupan, maka kau kuijinkan” tukas Henokh dengan tersenyum miring.
Tanpa diduga, Ell langsung mengecup bibir Henokh dan****** .”Begini sudah cukup!” ujar Ell sembari menyatukan kedua dahi mereka.
“Hmm.. yah..” jawab Henokh dengan terbata, seakan ia pun merasa sedikit gugup dengan tindakan Ell.
“Terima kasih tuan. Aku akan langsung pulang. Jika tuan membutuhkan pelayananku, datanglah ke kediamanku.” Tukas Ell lalu beranjak pergi.
“Aku akan menemanimu” ujar Henokh sembari meraih mantel miliknya.
“Mengapa tuan, bukankah pekerjaan tuan sangat padat!”
“Apakah salah jika aku pergi bersama calon istriku!” tukas Henokh sembari merangkul Ell.
***
Di sebuah pemakaman keluarga.
Mendiang ibunya, dimakamkan di area pemakaman yang cukup elit.
Ell mulai menaburi bunga-bunga dan juga air dari dalam botol yang berisikan sari bunga-bunga segar.
“Bu, aku merindukanmu. Apakah kau merindukanku bu? aku tahu ibu sudah bahagia dan tenang di alam sana. Ibu tak perlu lagi mencemaskanku, aku akan menjadi wanita yang cukup kuat untukmu bu, dan..—“ isak tangis Ell mulai deras. Ia hanya tersungkur dengan isak tangisnya yang semakin terdengar pilu.
__ADS_1
Henokh hanya berdiri di samping Ell dan kembali ke mobil. Henokh seakan mengeraskan hatinya untuk merasa simpati. Pantang baginya untuk turut simpati pada Ell. Walau sebenarnya Henokh sangat ingin memberi Ell pelukan dan memberikan bahunya bagi Ell.