
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Dalam pertemuan Mr. Ghand bersama Ellena, Mr. Ghand pun menunjukkan sisi gelapnya. Ia hampir saja melakukan tindakan pemaksaan pada Ellena, beruntung ia masih tersadar dan berusaha melawan naluri iblisnya.
~ ~ ~
“Kediaman Mr. Ghandso”
“Aku tidak ingin meminum darah-darah menjijikan ini lagi!!!” arghkkk… erang Mr. Ghand sembari mencakar area tubuhnya sendiri, hingga mengeluarkan darah segar.
Harggkk.. arghkkk… dua taringnya sudah muncul dari balik gusi. Mata semerah darah kehitaman sudah nampak jelas, dan sudah siap menerkam mangsanya. Namun Mr. Ghand berupaya melawan nalurinya, ia tidak ingin seperti ini lagi, ia sangat ingin bersama Ellena.
Semakin ia mencoba untuk menahan nalurinya, maka semakin besar pula keinginannya untuk membunuh.
Hagkk hahh hahhh… Mr. Ghand terengah, dan setelah beberapa saat kemudian.
“Permisi tuan, ini darah perawan yang harus tuan minum malam ini,” ujar seorang asisten pribadinya. Bahkan sang asisten pun ialah seorang manusia setengah kegelapan.
“Tuan harus meminum darah, jika tidak..—“
“Jika tidak apa!” bentak Mr. Ghand sembari meraih krah leher baju sang asistennya.
“Tuan akan merasakan sakit yang teramat sangat,” tukas sang asistennya.
“Aku sangat bodoh! bodoh! aku tidak memikirkan anakku, keluargaku akan sangat kecewa dan jijik denganku..—“ lirih Mr. Ghand dengan terisak. Namun semua sudah terjadi tak ada yang perlu disesali.
“Tapi tuan sudah memilih pilihan seperti ini,” ujar sang asistennya sembari menepuk bahu Mr. Ghand.
Ia langsung meminum darah yang telah tersedia di dalam sebuah kantung. Meminumnya dengan deraian air mata penuh penyesalan, namun inilah yang harus ia lalui, dan buah dari pilihannya.
“Aku pun sangat sedih ketika memilih menjadi manusia setengah vampire, namun aku tidak ingin larut dalam perasaan bersalahku. Aku menjadi seperti saat ini pun semua berawal dari rasa sakit kecewa yang mendalam.” Ujar sang asistennya pada Mr. Ghand.
“Aku tidak pernah menyakiti Laura, sekalipun ia harus mengkhianatiku hanya karena Henokh bajing*n! tapi mengapa mereka terus merenggut semua usaha kerja kerasku, dan kini wanita yang sangat aku cintai pun di rampas..—“ lirih Mr. Ghand.
---Kilas balik sejenak---
“Kau harus menikah dengan Laura, puteri dari tuan Yabesh. Laura adalah anak tunggal, dengan menikahinya perusahaan kita akan berkembang pesat,” tukas Mr. Luke.
“Tentu saja sayang. Ghandso harus memilih istri yang cantik juga pewaris, sehingga hidupmu bisa lebih berguna!” timpal Mrs Liberttie.
Mr. Ghand hanya menunduk. Ia sangat penurut pada Mr. Luke dan Mrs. Liberttie. Terlebih lagi statusnya hanya seorang anak angkat, itulah yang membuatnya berusaha menuruti keinginan keluarga Matthe.
“Kuharap kau segera menikah, sehingga tidak menjadi budak harta keluarga ini!” cela Hogue kala itu.
“Hogue!” tukas sang ibunya, Mrs. Liberttie.
“Apakah kalimatku salah! bukankah kakakku yang tampan ini hanya menjadi pemasok harta bagi kalian.-“ cela Hogue, sekali pun kepada kedua orang tuanya, ia tidak akan peduli.
“Baiklah. Aku akan menikahinya, namun tolong beri aku waktu untuk mengenal dan belajar mencintainya” pinta Mr. Ghand.
“Kau hanya menikahinya dan memiliki anak. Apakah itu sulit! Laura pun anak yang sangat baik, tidak bermain dengan banyak pria, bahkan perawan!” tukas Mrs. Liberttie.
“Zaman sekarang, perawan itu tidak berguna! hanya bisa mengangk**g dan tol*l!” cela Hogue lagi.
“Hogue hentikan!” peringat sang ayahnya.
“Keluarga membosankan!” tukas Hogue lalu pergi dengan membanting pintu. Tak ada satu pun yang berani menantangnya, karena asset mau pun saham keluarga Matthe delapan puluh persen hasil keringatnya.
***
“Kediaman Mr. Yabesh family”
__ADS_1
“Terima kasih atas kunjungan tuan Luke sekeluarga. Kami sangat tersanjung akan hal itu,” ujar Mr. Yabesh kala itu. Mereka berada di satu meja makan, di mana Mr. Ghand duduk di samping seorang gadis cantik.
Dialah Laura Yabesh, puteri semata wayang Mr. Yabesh.
“Apakah keluarga Yabesh dan Matthe akan bersatu melalui pernikahan kita?” tanya Laura sembari duduk menyilang ke arah Mr. Ghand.
“Aku rasa begitu nona” jawab Mr. Ghand singkat. Ia bahkan lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Karena selama hidupnya dihabiskan hanya untuk belajar dan berbinis.
“Aku adalah puteri pewaris dan anak tunggal. Maka seluruh kekayaan keluarga Yabesh akan jatuh padaku,. Sehingga sangat mudah bagiku untuk melilih pria mana pun. Kau hanya pria arogan dan dingin,” tukas Laura sinis.
“Mengapa nona Laura berkata demikian? tidakkah nona berpikir terlebih dahulu tentang ucapan nona!” tukas Mr. Ghand dengan nada lembut dan tersenyum kecut.
“Tuan Ghand tentu anak yang sangat penurut, itulah yang membuatku menerima perjodohan ini. Aku yakin keluarga kita kelak akan bahagia,” tukas Laura dengan tersenyum kecil.
“Kuharap juga demikian” balas Mr. Ghand. Ia sebenarnya tidak menyukai perjodohan ini, namun ia terpaksa melakukannya.
Seiring berjalannya waktu, Mr. Ghand pun mulai belajar mencintai Laura, dan akhirnya mereka pun menikah. Pernikahan yang cukup megah nan mewah tentunya.
>>
Mr. Ghand mencintai Laura dengan sepenuh hatinya, terlebih lagi saat Laura mengandung anak pertama mereka. Mr. Ghand menjadi sangat perhatian dan cinta.
Namun…
“Kapan kau akan membagi waktumu denganku! kau hanya sibuk dengan pekerjaan!” bentak Luara.
“Laura, aku hanya pergi selama beberapa hari saja, dan semua demi keluarga kita” ujar Mr. Ghand menenangkan Laura.
“Aku menjadi menyesal menikah dengan pria sepertimu, kau hanya memikirkan pekerjaan daripada aku dan Leerie yang masih sangat membutuhkan seorang ayah!” bentak Laura lagi.
“Sayang..—“
“Lepaskan! malam ini jangan tidur denganku! aku tidak ingin bercinta dengan pria lemah sepertimu!” cela Laura.
Laura bahkan meludahi wajah suaminya, Mr. Ghand.
Mr. Ghand memang sangat sibuk dengan segala pekerjaan bisnis keluarga. Semua pun demi keluara Matthe dan Yabesh, sehingga tanggung jawabnya pun kian bertambah.
Laura yang merupakan anak yang biasa dimanja keluarganya pun selalu menuntut agar Mr. Ghand terus berada di rumah. Terkadang saat Mr. Ghand baru pulang bekerja, Laura selalu menyambutnya dengan kalimat membentak. Bahkan tak jarang kalimat kotor pun terlontarkan.
Mr. Ghand sangat sabar menghadapi sikap sang istrinya tersebut. Karena ia sangat mengasihi keluarga kecilnya. Kerap kali Laura menolah untuk bercinta, dengan alasan ingin bersama baby Leerie.
“Kau lemah! aku tidak puas dengan pelayananmu saat di ranjang! aku benci dengan pria sepertimu bajing*n!” teriak Laura.
“Laura, mengapa kau bisa berkata demikian. Bukankah kau yang selalu menolak jika aku ingin bercinta dengamu!” tukas Mr. Ghand.
“Itu! itu karena aku tidak puas denganmu!” bentak Luara dan membanting pintu. Sehingga Mr. Ghand pun harus tidur di sofa depan pintu kamar pribadi mereka.
Hingga suatu saat…
“Dasar pria tidak berguna! bahkan di ranjang pun tidak bisa memuaskanku!” keluh Laura sembari berjalan-jalan di area kolam renang pribadi keluarga Matthe.
Sedang berjalan menyusuri area kolam, ia pun melihat seorang pria telanjang dada sedang asyik berenang.
“Tuan Hogue!” ucap Laura secara tiba-tiba.
“Siapa kau!” tukas sang pria yang ia panggil Hogue.
“Tuan Hogue mengapa berlaga tidak mengenal kakak iparmu!” goda Laura tatkala melihat betapa seksi dan kekarnya tubuh pria yang hanya mengenakan kolor renang ini.
“Aku bukan Hogue, aku Henokh!” tukasnya yang ialah si kembar Henokh.
“Henokh! aku tidak pernah mendengarnya!” ucap Laura sembari duduk mendekati Henokh.
__ADS_1
“Mengapa kau berkeliaran malam-malam begini, tidak anakmu di dalam sana” peringat Henokh acuh.
“Henokh, tubuhmu sangat atletis” puji Laura.
Hmm… Henokh hanya berdehem dan tak mempedulikan Laura.
Berkali-kali Laura terus mencari-cari Henokh. Ia bahkan diam-diam selalu mencari keberadan Henokh. Ia benar-benar mabuk dengan pesona Henokh.
“Laura, kau ingin” ucap Mr. Ghand sembari mendekap Luara dan mengendus area leher Laura.
“Hentikan! Leeria akan terbangun” tukas Laura penuh penolakan. Berkali-kali Mr. Ghand memintanya untuk melayani, namun Laura terus menolak dengan berbagai alasan tentunya.
>>
“Mengapa kau di sini!” tukas Henokh yang kala itu sedang telanjang dada, setelah berenang di larut malam seperti kebiasaannya.
“Aku merindukanmu Henokh..” goda Laura.
“Fikirkanlah keluargamu, jangan banyak tingkah!” peringat Henokh. Namun Laura tak peduli akan hal itu, ia justru semakin gencar mendekati Henokh.
Suatu malam…
Hahgkk hhh… Henokh kala itu sedang berada dalam masa sangat haus darah dan sudah sangat memuncak.
“Henokh!” seru Laura sembari mendekap Henokh dari belakang.
“Hentikan! ini tidak lucu!” tegas Henokh. Ia tidak akan meminum darah wanita yang tidak perawan, namun kali ini ia sangat haus.
“Aku merindukanmu, aku harus mengancam para pelayan untuk dapat bertemu denganmu” ucapnya manja.
“Lepaskan Laura!” bentak Henokh dengan dua taringnya yang sudah siap menerkam mangsa.
“Henokh mengapa dengan gigimu?” ujar Laura mendekati Henokh.
“Pergilah Laura!” peringat Henokh, namun Laura justru melucuti gaun tidurnya dan kini sudah tak lagi mengenakan sehelai kain pun.
“Apa yang kau lakukan!” peringat Henokh sembari susah payah menahan hasrat menggebunya.
“Kau butuh darahku, silakan” ujar Laura dan terus mendekati.
“Pergi!” bentak Henokh. Laura justru mengecupnya, mere**s ****** ***** Henokh dan keduanya sama-sama terjatuh di sofa tepatnya di sebuah ruang bawah tanah, dan tak jauh dari pintu.
Sementara di sisi lain…
“Sayang, aku ingin bercinta..—“ ucap Mr. Ghand sembari berbaring di samping sesuatu yang terlihat seperti seseorang sedang berbaring, ia baru saja tiba dari kantor.
Namun ketika membuka sesuatu di balik selimut, ternyata hanya guling saja.
“Laura.—“ ucap Mr. Ghand sembari menghela napas berat.
Ia pun bergegas keluar dari kamar tersebut, dan menuju ruang tengah. “Kemana Laura?” tanyanya pada beberapa pelayan.
“Nyonya muda sedang berada di ruang bawah tanah” jawab salah seorang pelayan.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Mr, Ghand penuh selidik.
“Nyonya berkata ingin bertemu dengan tuan Henokh”
“Henokh..—“ seketika Mr. Ghand berjalan setengah berlari menuju ruang bawah tanah.
Setiba di sana, langkahnya pun terhenti dan lututnya terasa begitu lemas.
“Laura, apa yang kau lakukan..—“ ucap Mr. Ghand sembari mengepal kedua tangannya, dengan wajah penuh amarah.
__ADS_1
****