
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Ellena tersulut api emosi saat beradu pendapat dengan Henokh. Terlalu banyak kisah pahit hidupnya yang membuat Ellena menjadi sulit percaya cinta bahkan menaruh kepercayaan pada orang lain. Sekali pun orang-orang tententu itu memiliki niat tulus padanya. Henokh pun rela mengorbankan waktunya hanya demi menghibur Ell kala itu.
~ ~ ~
Ell kembali bekerja walau dalam kondisi pikirannya masih cukup kacau kali ini.
Drrttt… satu pesan belum dibaca.
Ell meraih ponselnya dan melihat isi dari pesan singkat tersebut. “Dasar kau wanita ular jal**g murahan! kita lihat saja, semua yang kau miliki saat ini akan lenyap secara perlahan!”.
Dada Ell seketika terasa berdebar setelah membaca isi dari pesan singkat tersbut.
Pesan yang mengandung unsur ancaman baginya. Ell tidak dapat memungkiri bahwa saat ini pikirannya menjadi tidak tenang. Ell mulai berpikir dari mana asal pesan singkat ini, dan seketika Ell teringat akan sosok nona Mishel. Tidak salah lagi, tentu hanya nona Mishellah yang memberikan Ell julukan “si ular jal**g”.
“Mengapa kak Mishel masih saja dendam denganku..” gumam Ell kala itu. Ell duduk kembali ke kursi kerjanya dan memijat pelan kepalanya. Karena beban pikiran Ell kini kian memberatkannya. Tak ada satu pun yang mampu mengerti beban pikiran Ell saat ini.
“Mengapa semua menjadi seperti ini..” lirih batin Ell. Ell sungguh tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini, nona Mishel yang masih menjadi persoalan baginya.
***
Di sebuah tempat pusat perbelanjaan.
Ell kini berada di tengah keramaian, tentu saja ia berniat untuk menghibur hati maupun pikirannya. Sekalipun Ell bukan tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang dengan membeli banyak barang-barang bermerek. Namun kali ini sepertinya Ell cukup berbeda.
Ia pergi seorang diri, berkeliling di area pusat perbelanjaan dan mulai memilih memilah pakaian. Dress, kemeja, blouse yang tentunya merupakan barang bermerek. Tidak sulit bagi Ell untuk membeli barang-barang mewah, mengingat dirinya yang ialah pimpinan perusahaan milik Mr. Brandon Cars, mendiang ayahnya.
“Semuanya menggunakan kartu debit, nona?” ujar salah seorang kasir wanita.
“Yah, semuanya totalkan saja,” tukas Ell dengan wajah datar.
Setelah melakukan pembayaran, Ell pun pergi menuju pusat kuliner. Di sana Ell mulai mencoba berbagai macam makanan kuliner setempat.
Ell mendapati salah satu kedai ice cream yang cukup terkenal. Kemudian Ell bergegas menuju kedai ice cream tersebut, dan memesannya dengan mengikuti antrean.
__ADS_1
>>>
Ell duduk seorang diri sembari menikmati ice cream coklat miliknya. Ell duduk tepat di samping kumpulan keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anaknya.
Keluarga itu terlihat begitu bahagia dan saling bercengkrama maupun bercanda dalam hangatnya ikatan keluarga.
Ell segera menghabiskan ice creamnya dan sesegra mungkin menjauh dari sana.
Hahh hhh hhh… Ell terengah-engah dan bertumpu pada tiang, tepatnya di depan loby utama tempat pusat perbelanjaan tersebut. Entah mengapa dada Ell terasa sangat sesak setelah mendengar percakapan keluarga tadi. Ell teringat akan keadaan keluarganya yang sedari ia masih kecil, tak sekali pun Ell merasakan hangatnya hubungan keluarga yang sesungguhnya.
Tak kuasa menahan rasa sesak yang secara tiba-tiba muncul di hatinya. “Apa yang kau lakukan di sini!” tukas sesoerang sembari menepuk bahu Ell. Ell spontan mendongak ke arah asal suara pria tersebut.
“Tuan Henokh..” ucap Ell, dan berdiri dengan benar dengan wajah yang terlihat begitu muram.
“Kau pergi sendiri sejak sore hari hingga malam!” tukas Henokh dengan raut wajah tak senang akan tindakan Ell.
“Yah, aku hanya..—“
“Hanya apa! kau sangat senang membuat orang lain mencemaskanmu! untung saja aku masih bisa melacak keberadaanmu. Kau.—“ tukas Henokh dengan perkataan beruntun, dan seketika ucapannya pun terhenti tatkala melihat mata Ell yang sudah mulai berkaca-kaca.
***
“Sampai kau akan belajar untuk terbuka tentang perasaan dan pikiranmu! apakah sampai aku benar-benar tidak dapat menemukan keberadaanmu!” tukas Henokh smebari mencengkram pelan rahang Ell, sedangkan tangan satunya masih dalam posisi mengemudi.
“Aku hanya merindukan waktu bebasku sendiri, tanpa harus dikawal oleh siapapun” tukas Ell lalu menurunkan tangan Henokh, dan menggenggamnya.
“Ellena Casey, kau adalh seorang ibu direktur sekaligus CEO perusahaan dari ayahmu. Tentu posisi itu adalah posisi tertinggi di perusahaanmu saat ini, jangan sampai ada yang berniat jahat padamu lalu menggunakan waktu lengahmu!” tukas Henokh dengan nada bicara yang penuh kecemasan.
“Aku rasa pekerjaan ini tidak pas untukku. Aku hanya dibayang-bayangi dengan rasa kecemasan dan beban pikiran. Mungkin lebih cocok bagiku untuk kembali menjadi seorang pengelola toko bunga..” ujar Ell dengan suara lirihnya.
“Baiklah, jika itu membuatmu lebih baik. Aku akan selalu mendukungmu, tapi ingat baik! posisimu saat ini sangat banyak diminati dan diinginkan oleh kebanyakan orang. Apakah kau akan menyerah hanya dengan beberapa kata saja!”
“I’m tired…” lirih Ell dan ia pun mulai terisak.
“Menangislah jika itu membuatmu lebih baik..” ucap Henokh sembari membelai puncak kepala Ell dan wajah Ell dengan sentuhan lembut tanganya.
Ell pun menahan tangan besar nan berurat milik Henokh, dan terus terisak. Henokh menghentikan mobil miliknya, tepat di depan mansion kediaman Henokh family.
__ADS_1
***
“Mansion kediaman Henokh family”
“Mengapa kita kemari, apa yang ingin kau perbuat padaku..” isak Ell dan masih berada dalam rangkulan Henokh.
“Diam dan ikutlah denganku!” tukas Henokh, dan terus membawa Ell menuju ruang bawah tanah.
Henokh membuka pintu yang terbuat dari besi dan terlihat begitu mencekam bagi Ell. Ell mulai merasakan bulu kuduknya yang terasa meremang, didukung dengan keadaan ruangan yang gelap meremang.
“Apa yang kau inginkan..” pekik Ell, saat Henokh tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya menuju sebuah ruang terbuka, yang cukup luas. Henokh menyeringai dan menurunkan tubuh Ell telat di hadapan sebuah kolam.
“Kolam” gumam Ell, tatkala melihat ada sebuah kolam yang cukup besar nan luas, bisa memuat puluhan orang di sana.
“Kau belum membersihkan dirimu, bukan! jadi, mari kita mandi bersama” ujar Henokh tepat di tengkuk leher Ell dan mengangkat tubuh Ell menuju kolam tersebut.
Byurr…
Henokh menjatuhkan tubuh mereka secara bersamaan. “Inihh sangat dingin!” jerit Ell dengan suaranya yang mulai terdengar bergetar karena ia kini sudah mulai menggigil.
“Selama puluhan tahun aku terus berada di sini, tak satu pun yang peduli padaku! apa kau tahu seberapa menderitanya keadaanku, aku bagaikan seorang anak trekutuk bagi keluarga Matthe!” tukas Henokh sembari melepaskan blazer kantor milik Ell.
“Lalu bagaimana kau hidup tuan?” tanya Ell sembari duduk di tangga kolam, sedangkan Henokh berdiri di hadapannya.
“Aku hidup dengan pasokan darah perawan. Berkali-kali pertahananku hampir goyah, karena tubuh mereka sangat menggugah birahiku. Namun aku tetap meyakini, hanya satu wanitalah yang dapat memberiku energy juga menjadi pasangan ranjang hebatku..” tukas Henokh dan mengecup bibir mungil milik Ell.
“Tapi ciuman pertamaku telah direnggut oleh tuan Hogue, pada saat dia mulai menjahiliku!” tukas Ell dengan tersenyum miring.
“Apakah pernyataanmu ini sengaja membuat perseturuan antara dua saudara kembar yang sudah berbeda alam! hmm..” Henokh mencengkram pelan rahang Ell dan ******* bibir Ell.
“Aku sangat ingin membakar kediaman keluargamu, saat kutahu bahwa kau mulai melakukan aksi balas dendammu pada beberapa pria lakn*t itu. Tapi ternyata kau sendiri pun tidak dapat bertahan lama dengan permainanmu sendiri!” kekeh Henokh sembari melakukan kegiatan kecilnya.
'‘Tuan Henokh kau sungguh baj**gan!” pekik Ell, saat Henokh sudah berniat memulai kegiatannya…
****
__ADS_1