
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
“Ibu! aku sangat merindukanmu…”isak Ell, seraya tersandar di tembok.
“Nona Ellena…” seru seseorang dari balik tembok. Tangisan Ell tak kunjung reda, bahkan semakin pecah saja.
“Maafkan aku, karena aku tidak dapat melakukan apa pun untukmu” sesal Mr. Ghand yang kini berada di hadapan Ell.
“Akuhh tidakk tahu harus kemana lagi tuan..” isak Ell. Mr. Ghand ingin langsung mendekap lembut dirinya, namun ia menyadari ada jarak yang harus dijaga. Keduanya pun tersandar di balik tembok bangunan tua.
“Maki saja aku, jika itu membuatmu lebih baik” ujar Mr. Ghand sembari berusaha menenangkan Ell.
“Mengapa semuanya hanya bisa mengecewakanku tuan… menga-pha..” isak Ell.
“Hadapilah semuanya dan jadilah nona Ellena yang tangguh. Seperti Ellena yang kukenal dulu” ujar Mr. Ghand sembari menepuk kedua bahu Ell.
“Aku tidak sanggup tuan. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun..” lirih Ell.
“Percayalah padaku nona, dan aku akan menyediakan bahuku sebagai tempatmu bersandar. Disaat kau sudah merasa letih.” Mr. Ghand terlihat sangat peduli pada Ell, bahkan sejak pertama kali bertemu.
Setelah hampir satu jam lebih, akhirnya Ell pun terdiam. “Kemana kau akan pergi?” tanya Mr. Ghand yang kini duduk di atas batu bata bersama Ell.
“Aku ingin pergi dari kota ini, tuan” ujar Ell dengan lirih hati.
Hmm.. Mr. Ghand tersenyum lembut pada Ell. “Apakah sungguh-sungguh ingin pergi menjauh?” tanya Mr. Ghand lagi.
“Iya tuan. Tidak ada lagi yang bisa kuharapkan dan andalkan. Bahkan aku pun tidak diinginkan oleh keluargaku,” ucap Ell dengan penuh lirih.
“Malam ini istrahatlah dulu di apartemen kediamanku, dan besok baru kita bicarakan semuanya.” Tukas Mr. Ghand. Ell pun menerima tawaran dari Mr. Ghand, karena memang benar, ia tak punya tempat lagi.
***
“Apartemen kediaman Mr. Ghand”
“Kau tidurlah di kamar ini, aku akan pergi,” ujar Mr. Ghand sembari meraih mantel hitam miliknya.
“Tuan hendak kemana?” tanya Ell, ia pun sudah terlihat sangat lelah juga mengantuk.
“Aku tahu kau tidak akan nyaman jika aku juga di sini. Maka aku akan menyewa kamar di depan,” tukas Mr. Ghand. Sungguh pria yang sangat pengertian, ia bahkan sangat peduli pada perasaan Ell.
“Terima kasih banyak tuan, maaf aku sangat merepotkan,” sesal Ell.
Mr. Ghand terkekeh saat mendengar pernyataan Ell padanya. “Kau tidak merepotkan. Yasudah, istrahatlah,” ujar Mr. Ghand sembari mengusap kepala Ell.
Ell sudah tak mampu menahan rasa kantuknya, ia pun tertidur pulas.
Keesokan harinya…
Ell bersama Mr. Ghand sedang menyantap sarapan pagi mereka.
“Tuan, bisakah tuan membantuku?” ujar Ell disela sarapan pagi mereka.
“tentu saja nona” jawab Mr. Ghand dengan senyuman lembutnya.
“Aku ingin mendapatkan pekerjaan,” tukas Ell sambil menghentikan suapannya.
“Tentu saja aku akan membantumu” jawab Mr. Ghand. Sungguh bukanlah hal yang sulit baginya untuk memberikan Ell pekerjaan.
“Te-terima kasih banyak tu-ann..” ucap Ell penuh haru. Matanya terlihat berkaca-kaca. Karena kini Ell sudah tidak memiliki tempat untuk bersandar lagi.
***
Mr. Ghand segera membawa Ell ke sebuah bangunan yang tidak terlalu tua.
“Ini adalah tempat penyimpanan stok barang perusahaan. Kau akan menjadi bagain penanggung jawab keluar masuknya barang-barang dari luar mau pun dalam negeri.”
“Baik tuan, aku akan berusaha.”
__ADS_1
Hm… Mr. Ghand tersenyum lembut pada Ell. Mereka pun menuju ruangan kantor yang Ell tempati.
Ell mulai mempelajari setiap detail laporan input output barang-barang.
“Nona Ellena, kau akan tinggal di rumah minimalis. Apakah kau keberatan?”
Hmm.. Ell menggelengkan kepalanya. “Terima kasih atas semua kebaikan tuan,” ucap Ell dengan penuh rasa terima kasih.
“Itu sudah sepatutnya kulakukan,” ujar Mr. Ghand.
Sepanjang hari Ell terus mempelajari setiap detail laporannya. Ell sungguh cepat dalam mempelajari setiap laporan mau pun data-data yang ada. Karena Ell termasuk unggul dalam akademisnya selama bersekolah juga di perguruan tinggi.
***
“Kediaman baru Ellena”
Ell kini tinggal di sebuah kamar yang tidak terlalu besar juga kecil (sedang untuk sendiri). Tempat tersebut terdiri dari dua lantai, dan Ell tinggal di lantai ke dua. Ia berada di area yang cukup jauh dari lingkungan keluarganya, dan semua yang berhubungan dengan masa lalunya.
Drrttt… “Selamat malam Ellena. Turunlah, aku berada di halaman kediamanmu.” Mr. Ghand.
“Mr. Ghand” gumam Ell. Segera ia menyibak tirai jendela kamarnya. Mr. Ghand sednag berdiri menghadap jendela kamarnya, dengan tersenyum.
Ell berjalan setengah berlari menuju Mr. Ghand. “Tuan!” seru Ell dengan terengah.
“Aku baru saja dari mini market dan membelikan ini untukmu” ujar Mr. Ghand sembari menyodorkan sekantong makanan.
“Mengapa tuan harus repot seperti ini?” ujar Ell dengan rasa tidak nyaman.
“Tidak, ini hal biasa saja. Aku membelikan satu untukmu dan Lerrie” tukas Mr. Ghand lalu beranjak pergi.
Mr. Ghand selalu baik padanya, bahkan setelah apa yang telah keluarga Matthe perbuat padanya. Mr. Ghand masih tulus menerima Ell, tanpa memandang masa kelam yang pernah Ell lalui.
>>>
Ellena masih sibuk dengan segala pekerjaannya, dan malam ini ia akan menghadiri acara makan malam bersama rekan kerjanya. Tentu saja bersama Mr. Ghand sebagai pimpinan cabang, yang bergerak di bagian proferti tersebut.
Kali ini Ell membawa pakaian gantinya. Ia bahkan membersihkan diri di kantor tempat ia bekerja.
“Nona Ellena, di sini!” seru Mr. Ghand sembari melambaikan tangannya pada Ell.
“Maaf jika aku membuat tuan terlambat” sesal Ell.
“Tentu saja tidak, kau bahkan sudah sangat cepat,” tukas Mr. Ghand.
Keduanya pun bergegas pergi menuju tempat acara pertemuan.
***
Gedung pertemuan terlihat begitu elegant, dihadiri oleh para pengusaha mau pun bos besar. Hal ini pun bukanlah hal baru bagi Ellena, karena sebelumnya pun ia ialah seorang anak yang berasal dari keluarga terpandang. Terlepas dari semua permasalahan pelik yang ia telah lalui.
Mr. Ghand pun terlihat begitu menawan nan berkharisma dengan setelan jas mau pun kemeja yang ia kenakan.
“Ghand, kemana Lerrie?” ujar Mr. Luke menyapanya.
“Lerrie sedang berada di rumah kerabatku, ayah” jawab Mr. Ghand.
“Apakah kalian baik-baik saja?” ujar Mr. Luke sembari meneguk segelas anggur merah yang dihantarkan oleh para pelayan.
“Tentu saja yah, kami baik-baik saja.—“ keduanya pun saling bercengkrama satu dengan yang lain.
Mr. Ghand sedang bercengkrama dengan rekan bisnis juga klien lainnya. Tanpa sengaja ia melihat kedua orang tuan Ell turut serta hadir dalam acara tersebut. Mr. Brandon bersama Mrs. Flia, sang ibu tiri dari Ell.
“Apakah Ell akan baik-baik saja” batinnya. Ia mulai mencemaskan perasaan Ell, tatkala melihat kedua orang tuanya.
“baik para hadirin sekalian, kita akan menyambut Mr. Luke Matthe dan Mrs. Liberrtie Matthe, juga sang pewaris keluarga Matthe, tuan muda Henokh..” ujar seorang pembawa acara.
Semua mata tertuju pada seorang pria tampan yang berjalan dengan begitu elegant menuju panggung utama. Dialah tuan muda Henokh Matthe, sebagai pengganti Hogue Matthe.
Namun Ell tidak sempat mendengar pengumuman tersebut. Sehingga ia masih belum mengetahui mengenai keberadaan tuan muda Henokh, sang kembaran dari Hogue.
Huhh… “Sungguh suasana yang sangat tidak nyaman” gumam Ell, lalu segera keluar dari area gedung pertemuan.
__ADS_1
Mr. Ghand sudah terlihat begitu panik. Ia belum siap, jika harus melihat Ell bersedih lagi. Ia mencari dan terus mencari keberadaan Ell.
“Kemana kau Ellena” lirih Ghand. Tanpa lelah, ia terus menyusuri area gedung nan luas tersebut.
>>
Di sebuah taman bunga kecil, tepatnya di samping gedung pertemuan. Ell terlihat sedang duduk, sembari menyentuh bunga-bunga yang kian bermekaran.
“Ellena!” seru Ghand, dan menghampiri Ell dengan terengah-engah.
“Yah tuan..—“
“Apakah kau baik-baik saja?” tukas Ghand cemas, dan menyentuh kedua bahu Ell.
Ell terlihat sedang berkaca-kaca. Wajahnya terlihat begitu sendu, dan terlihat begitu banyak kesedihan di sana.
“Tu-aann..” lirih Ell. Akhirnya, air matanya pun menetes tak henti. Bibirnya gemetar dna tubuhnya pun seakan tak mampu lagi berdiri.
“Apakah kau bertemu dengan..—“
Hmm… Ell hanya mengangguk, sembari terisak.
“Maaf, maaf jika aku membawamu kemari. Ini salahku..” sesal Ghand.
“Tidak tuan. Aku saja yang terlalu berharap pada ayahku..—“ lirih Ell. Ia terus menunduk.
Ingin rasanya Ghand mendekap erat wanita yang kini sedang menangis di hadapannya. Namun, ia tahu akan posisinya saat ini. Ghand terus menahan dirinya, dan hanya menyentuh bahu Ell sebagai penenang bagi Ell.
Ahh.. “tuan…” isak Ell semakin pecah saja.
“Aku akan mengantarmu pulang..—“ tukas Ghand. Lalu menuntun Ell menuju parkiran mobil miliknya.
Sepanjang perjalanan, Ell terus terisak tanpa henti. Setiba di halaman kediaman Ell, Ghand menghentikan mobilnya, dan membiarkan Ell bersamanya sejenak.
“Nona…” panggilnya. Namun Ell enggan untuk menghiraukannya.
----------
Beberapa saat lalu…
Tepatnya di dalam ruangan pertemuan acara. Ell berpapasan dengan sang ayah bersama ibu tirinya.
Hmm… Mrs. Flia tersenyum sinis, sungguh tatapan yang penuh dengan kebencian.
“Ayah…” panggil Ell. Namun sang ayahnya hanya diam saja, bahkan sang ibu tirinya enggan untuk membiarkan Ell berbicara dengan ayahnya.
“Anakku akan segera kembali dan menjadi pewaris keluarga Cars. Jadi, berhentilah untuk bermimpi menjadi pewaris!” cela Mrs. Flia sinis.
“Dasar rubah licik!” balas Ell. Mrs. Flia seketika tertawa keras.
“Aku rubah! lalu kau hanya seorang ******, dan ibumu pun hanya wanita ******..” cela Mrs. Flia lagi.
“Berhentilah mengatakan hal buruk tentang ibuku!” bentak Ell kesal dan hendak memukul Mrs. Flia.
“Ellena!” seru Mr. Brandon menghentikan tindakannya.
“Kau tidak berhak berbuat seperti itu! jika kau masih ingin dianggap dalam keluaga Cars! bersikap baiklah” peringat Mr. Brandon sinis dan menepis tangan Ell.
“Ayah.. mengapa ayah membela wanita rubah ini!” tukas Ell kesal.
“Kau sama seperti wanita kampungan itu! hanya akan menjadi pengacau! jadilah wanita yang dapat diandalkan, jika ingin membuat keluarga Matthe tertarik padamu” tegas sang ayahnya, Mr. Brandon.
“Maafkan aku tuan dan nyonya. Tidak seharusnya aku berada di sini.” ucap Ell lirih, dan pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
-----------
“Aku sangat ingin memelukmu. Namun aku terlalu takut jika kau akan menghindariku, dan bahkan kehilanganmu..” lirih batin Mr. Ghand. Ia hanya bisa bersandar di kursi mobil miliknya, dan terus menemani Ell. Ell pun tak henti-hentinya menangis pilu.
***
__ADS_1