
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Pertemuan tak terduga antara Ellena dan Christo cukup membuat keduanya menjadi sedikit canggung. Beruntung, karena Christo menyadari akan posisinyaa kini hanyalah sebatas teman bagi Ellena. Ellena pun tak ingin kisah barunya menjadi tidak indah hanya karena kehadiran sosok dari masa lalu.
~ ~ ~
“Mansion kediaman Luke Mathhe family”
Henokh pergi berkunjung ke mansion kediaman kedua orang tuanya. “Tuan Henokh..’ ujar para pelayan menunduk.
“Aku ingin bertemu ayah dan ibuku,” tukas Henokh, dan langsung masuk menuju kamar pribadi kedua orang tuanya.
Henokh pun sudah berdiri tepat di depan ruangan atas. “Bunda!” panggilnya.
“Henokh! anak ibu, sejak kapan kau tiba?” sambut Mrs. Liberttie hangat.
“Aku sangat baik bunda, kemana ayah?” Henokh terlihat mencari-cari keberadaan sang ayahnya.
“Ayah ada di dalam, sedang mengurus dokumen-dokumen perusahaan.” Henokh bersama ibunya pun pergi hendak menemui ayahnya.
“Ayah! lihat siapa yang datang?” ujar Mrs. Liberttie pada Mr. Luke yang terlihat sibuk menyusun berbagai berkas maupun dokumen.
“Henokh! setelah sekian lama, apakah perusahaan lancar!” tukas Mr. Luke sembari menuntun Henokh untuk duduk bersama mereka di sofa tepatnya di ruang kerja Mr. Luke.
Setelah berbincang-bincang, mereka pun mengadakan makan malam bersama keluarga besar Mathhe.
>>>
“Malam ini terlihat begiu istimewa, terlebih lagi aku kini melihat cucu pewaris Matthe.” Ujar seorang pria paru baya, yang merupakan kakek dari Henokh, kakek Matthe.
“Tentu saja kakek, bukankah kakek yang menginginkanku untuk lebih maju dalam pekerjaanku,” tukas Henokh mencandai sang kakeknya. Mrs. Liberttie menelan perlahan makan malamnya, karena pernyataan Henokh cukup menohok.
“Henokh, bukankah sudah seharusnya kau melakukan hal itu sayang,” sela sang ibunya, Mrs. Liberttie dengan senyuman terpaksa.
“Iya Henokh, kau adalah cucu kakek. Tentu saja kau akan mendapat bagian terbaik dari hak waris keluarga,” tukas sang kakek Matthe.
“Benarkah itu kakek! apakah seluruh keturunan keluarga Matthe akan mendapatkan hak waris?”
“Benar Henokh. Keturunenmu kelak akan mendapatkannya,” ujar sang kakeknya dengan penuh senyuman bahagia.
“Lalu bagaimana dengan anak dari Ghandso? mengapa Leerie harus pergi ke luar negeri, bukankah keluarga ini adalah tempatnya bernanung!” tukas Henokh santai dan menyeruput darah segar yang telaj terisi dalam cawan miliknya.
“Ohh, apakah Leerie dikirim ke luar negeri! bukankah dia anak dari cucuku seharusnya..—“
__ADS_1
“Ayah, kita lebih baik lanjtkan saja makan malam ini, bukankah ayah harus beristirahat..—“ potong Mrs. Liberrtie.
>>>
Setelah menyelesaikan makan malam, kakek Matthe pun kembali ke mansion kediamannya bersama sang supir juga beberapa pengawalnya. Sementara Henokh kini berada di dalam sebuah ruangan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dirinya.
“Henokh, mengapa kau bicara seperti di hadapan kakek Matthe?” tukas Mrs. Liberttie emosional.
“Apakah ada yang salah dari ucapanku! bukankah aku bicara fakta, bunda!” tukas Henokh santai dan masih menyeruput darah segar miliknya.
“Kau bahkan meminum darah di hadapan kakek Mathhe, tidakkah kau bisa menghargai kebersamaan dalam keluarga!”
Hmm.. Henokh tersenyum miring, dan terlihat enggan untuk menyetujui pernyataan dari ibunya. “Jika kebersamaan dalam keluarga, apakah mungkin ibu mengirimkan Ghandso ke rehabilitas! bukankah Ghandso sebenarnya tidak gila, namun karena terus menerus menerima obat dari bunda, akhirnya seperti itu!” tukas Henokh.
“Henokh!”
Plakk… sela Mr. Luke dan mendaratkan pukulan di wajah Henokh. Mr. Luke terengah menahan emosinya, namun juga ada perasaan bersalah atas tindakannya tersebut.
Cih… “aku sempat berpikir akan keluarga yang baik, namun ternyata di sini hanya dipenuhi oleh orang-orang munafik busuk!” tukas Henokh, lalu membanting cawan yang berisi darah tadi. Darah pun tumpah di di lantai hingga dinding.
“Henokh! apa yang kau lakukan! ini sangat menjijikan, aroma darah menjijikan!” bentak Mrs. Liberttie kesal.
“Yah itu memang darah yang menjijikan, dan aku anak kalian tentu jauh lebih menjijikan lagi karena telah candu dengan cairan ini.” Setelah mengatakan hal tersebut, Henokh pun pergi dari hadapan ayah dan ibunya.
“Aku sudah memiliki calon istri terbaik. Jadi, jangan berlaga untuk mengaturku!”
“Kau yakin! akankah wanita itu hanya akan menjadi pemasok makananmu!” cela Mrs. Liberttie lagi.
“Apakah kalian pikir aku tidak memiliki perasaan pada wanita, dan tidak berniat untuk memiliki keluarga!” tukas Henokh masih dalam posisi membelakangi kedua orang tuanya.
Mendengar hal tersebut, Mrs. Liberttie pun tertawa lepas. “Bukankah semua wanita hanya menjadi santapanmu, bahkan wanita yang akan menjadi istri dari Hogue pun demikian. Kau masih berlaga bahwa kau normal, hh..”
Henokh terdiam kaku mendengar pernyataan dari ibunya. Rahangnya mengeras dan menggertakan gigi, menahan segala emosinya.
“Jika bunda masih banyak bicara, maka aku akan bakar hangus mansion ini!” ancamnya, lalu melangkah pergi dengan acuhnya.
“Henokh! kau anak tidak tahu diri!” jerit Mrs. Liberttie kesal.
***
Henokh bersandar di kursi mobil miliknya, dan memejamkan kedua matanya sejenak. Perasaan begitu berkecamuk tak karuan lagi, emosinya hampir meluap tak karuan.
Drrttt… My sweety memanggil…
Saat melihat layar ponselnya dan melihat nama yang tertera di panggilan masuk, Henokh pun terlihat antusias walau dalam kegundahannya. Menggeser tombol berwarna hijau, dan mulai berbicara.
__ADS_1
“Hallo sweety!” ujarnya dengan senyuman mesum seperti biasanya.
“Tuan, malam ini aku menginap di kediaman taman lama karena sesuatu hal, jadi aku akan segera beristirahat. Byee..”
Mendengar hal tersebut, wajahnya pun berubah muram tak suka. “Ellena! di mana kau sekarang! cepat katakan!” tukasnya. Namun panggilan pun berakhir.
Mata Henokh menggelap dan seketika mulai meredam saat Henokh mencoba menarik napasnya perlahan. Mencoba menenangkan pikiran dan tidak curiga.
“Hei, mengapa hanya karena hal itu aku seperti ini!” gumamnya, dan kemudian terkekeh sendiri.
***
“Kediaman Febbe”
Ell kini berada di kediaman Febbe, sahabat sejak masa kuliahnya. Setelah sekian lama tak saling bertemu, dikarenakan Febbe yang ialah seorang dokter. Febbe bertugas di luar kota, tepatnya di desa-desa yang cukup terpencil.
“Ellena, kau tidurlah di kamar sebelah. Aku akan segera menyusulmu,” ujar Febbe sembari memainkan laptop miliknya.
“Febbe ayolah, kita telah sekian lama tidak bermain perang bantal,” rengek Ell memohon agar Febbe tidur bersamanya.
“Maaf Ellena, tidurlah aku akan segera menyusul. Oke!” tukas Febbe lembut.
Hmm.. Ell mendengus, “baiklah ibu dokter, aku akan kembali ke kamarku.” Ell pun kembali ke kamar yang akan ia tempati.
Ell menggantikan pakaiannya dengan mengenakan piyama tipis nan sedikit transparan. Berbaring dan menarik selimut tebal miliknya.
“Mengapa begitu mudah mematikan ponsel, sweety..—“ ujar seseorang dengam suara yang sedikit berbisik yang membuat Ell terbangun dari pembaringannya.
Ahkk.. pekik Ell dan pacuan jantungnya terasa lebih cepat, efek kejut dari suara tersebut. “Tuan Henokh, mengapa tuan di sini!” ujar Ell dengan suara pelan, tentu saja takut jika Febbe mendengarnya.
“Bukankah aku yang seharusnya bertanya, mengapa pergi mendadak, hmm..” Henokh menahan kedua tangan Ell, dan ia pun kini berada di at** tu**h Ell.
“Tuan, jangan macam-macam.. ini kediaman sahabatku, jangan..—“ Henokh menahan ucapan Ell dengan kecupan menuntutnya.
Tiba-tiba saja ada suara yang sedang memanggil Ell. “Ellena, kau masih terbangun!” seru Febbe dari balik pintu kamar. Ell mulai panic, namun Henokh enggan untuk melepaskan kecupannya.
“Ellena—“ seru Febbe lagi, dan gagang pintu pun terlihat berputar.
Mata Ell kian membelalak, tak tahu apa yang akan ia jelaskan jika Febbe melihat hal ini pikirnya.
Henokh menyeringai dan melepaskan kecupan sejenak. Saat Ell hendak mengucapkan sesuatu, lagi-lagi Henokh meraup bibir ranum miliknya dengan kecupan yang jauh lebih menuntut.
***
__ADS_1