
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
~ ~ ~
“Mansion Cullen family”
“Ayah! apakah salah jika menginginkan seorang wanita dengan begitu lebihnya!” ujar Christo sambil bersandar di sofa, tepatnya di sebuah ruang keluarga.
Seorang pria paru baya namun masih terlihat sangat gagah nan tampan, berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. “Christo. Kau memang anak ayah yang luar biasa” kekeh sang ayah dari Christo Farker.
“Mengapa ayah menertawaiku!” dengus Christo.
“Christo. Kau adalah anak kebanggaan ayah. Kau dan kakakmu Arseo, kalian adalah kebanggaan ayah dan bunda.” Tukas Cullen, ayahnda Christo Farker.
“Aku menyukai seorang wanita. Dia begitu anggun. Namun..—“ raut wajah Chrsito berubah sendu.
“Berjuanglah anakku. Ayah akan selalu mendukungmu, dan selesaikan urusanmu sendiri.”
Ehhemm… “Apa yang terjadi di sini? mengapa anak bungsu ibu begini?” tukas seorang wanita yang begitu anggun. Dialah Mrs. Jasmeen, ibunda Christo.
“Sepertinya pria kecil kita sedang jatuh cinta, sayang” ujar Mr. Cullen dengan nada terkekeh.
“Aku akan merebut sesuatu yang seharusnya milikku” tukas Christo dengan penuh keyakinan.
Hmm… “Christo, ketahuilah. Kau adalah dirimu sendiri, dan tidak sama seperti siapa pun. Jadi, selesaikan masalahmu sendiri. Ayah dan ibu hanya bisa memberimu dukungan” tukas Mrs. Jasmeen.
“Baik bu, ayah.” Christo sangat penurut pada kedua orang tuanya.
>>
“Christo sama sepertimu, tidak akan dengan mudah menyerah” ujar Mrs. Jasmeen sambil mengoles masker wajah di depan cermin.
Tsk… “Bukankah aku adalah suami yang hebat” tukas Mr. Cullen sambil mendekap sang istrinya, dan mengecup bahu sang istrinya.
“Ayah! aku sedang mengenakan masker wajah. Jangan mengganggu!” peringat sang istri, Mrs. Jasmeen.
Mr. Cullen tertawa lepas. “Sayang. Entah mengapa, walau kulitmu sudah tak sekencang dulu, namun aku selalu bergairah” tukas Mr. Cullen dan merebahkan sang istrinya. Tentu saja, Cullen tidak pernah berubah.
Bunda Jasmeen masih terlihat awet muda, karena darahnya kini menyatu dengan darah keturunan vampire. Namun Christo Farker, anak bungsu Mr. Cullen dan Mrs. Jasmeen tentu saja berbeda dari sang ayahndanya. Christo harus menyelesaikan permasalahannya sendiri.
***
Christo membuka sekilas kaca helm miliknya. Ia kini sedang menguntit keberadaan Ellena dari kejauhan.
Hahh.. “sangat lelah” keluh Ell sambil memijat bahunya. Sedari pagi Ell begitu fokus dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Kini waktu sudah menunjukkan 20.00. Ell harus segera kembali ke mansion.
“Nona Ellena!” tukas seseorang sambil meraih tangan Ell.
Ahkk.. pekik Ell. “Tu-tuaan Christo” ucap Ell dengan tersenyum bahagia. Namun tatkala mengingat dirinya sudah dibawah kendali Hogue. Senyum itu pun seketika surut.
“Ellena!’ Christo masih setia menggenggam erat tangan Ellena.
“Lepaskan tuan!” ucap Ell tanpa menoleh ke arah Christo.
“Aku ingin bicara denganmu. Terlalu banyak kisah yang hendak kubagikan” ujar Christo. Sambil menggenggam lembut tangan Ell.
“Aku sedang sibuk dan banyak urusan tuan” tukas Ell dan menghempaskan tangan Christo.
“Aku mencintaimu Ellena. Maaf, jika pengakuanku tidak tepat waktu” ujar Christo dengan wajah sendunya.
“Maaf tuan Christo, aku sudah memiliki kekasih” ujar Ellena dengan senyuman sendunya, lalu pergi meninggalkan Christo.
>>
Berlari dan terus berlari. Menangis dalam ketidak berdayaannya. “Aku juga sangat mencintaimu tuan Christo… tapi aku hanya seorang wanita yang kotor, tak pantas untuk pria sebaik dirimu..” lirih batin Ell.
Ellena sangat mencintai Christo, namun ia sungguh tak berdaya dengan keadaanya saat ini.
Gemuruh di langit seakan mewakili perasaan hancur Ellena saat ini. Mencintai namun tidak mampu memilikinya, itulah yang tepat menggambarkan suasana hati Ellena kini.
“Ellena!” seseorang mendekapnya dengan begitu erat.
“Tuan Christo” ucap Ellena sambil mendongak ke atas. Christo kini sedang mendekap erat dirinya.
“Aku hanya seorang wanita murahan, tidak pantas bersamamu tuan..” lirih Ellena.
“Apa pun yang telah kau alami dan lalui. Ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Mari kita hadapi bersama” tukas Christo menenangkan Ellena.
Ellena menggelengkan kepalanya. “Tidak! tidak mungkin tuan. Hidupku sudah hancur..” Ellena melepaskan pelukan Christo darinya.
“Siapa yang mengatakanmu hidupmu sudah hancur! apakah kau tahu apa yang sudah kau katakan Ellena!” bentak Christo, sembari menggoyangkan tubuh Ell.
Tangisan Ellena semakin pecah. Keduanya berada di bawah pohon besar, diringi dengan derasnya guyuran air hujan.
“Aku harus kembali pada tuanku” lirih Ell sambil mendorong tubuh Christo.
“beri aku kesempatan Ellena. Aku akan membebaskanmu dari semua ini” tukas Christo meyakinkan Ellena.
“Sudah cukup tuan. Aku tidak ingin menambah masalah dalam kehidupanku” tukas Ell, dan pergi dari hadapan Christo.
***
“Mansion kediaman Hogue”
Ell baru saja tiba dengan keadaan tubuh yang basah kuyup juga kedinginan.
__ADS_1
“Apakah kau baru kembali, setelah menemui pria lain!” ujar seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu kamar Ell.
“Tuan Hogue---“
“Mengapa? apakah kau terkejut melihatku?” ujar Hogue dengan tatapan yang dingin. Melangkah ke arah Ell.
“Jangan coba menemui pria lain. Atau kupatahkan kakimu!” peringat Hogue. Menarik paksa tangan Ell. Mendorong tubuh Ell ke dalam kamar, dan menguncinya dari luar.
“Mungkin lebih baik begini, agar aku tidak menyakitimu lagi..” gumam Hogue dan kembali ke mansionnya.
>>
Hogue kembali ke kamarnya, dan duduk termenung menuju jendela kamarnya.
“Keluarlah Henokh!” ujar Hogue sambil menatap ke luar jendela.
Seorang pria dengan sorot mata merah kehitaman pun muncul dari balik pintu kamarnya. Pria tersebut sangat mirip dengannya.
“Aku sangat menyukai gadis itu. Tidakkah kau berikan dia untukku!” ujar sosok kembaran Hogue yang bernama Henokh tersebut.
“Omong kosong! bahkan selama aku pergi, bukankah kau selalu menyentuhnya. Pada siang hari kau berperan menjadi diriku. Dasar busuk!” bentak Hogue sambil mencengkram leher Henokh.
Henokh tertawa lepas. “Hogue. Kau bahkan begitu menikmati kehidupan bebasmu. Sedangkan aku harus terkurung di dalam mansion ini!” teriak Henokh. Membuat lampu-lampu mansion berkedip.
~ ~ ~
Selama beberapa bulan lamanya, Hogue sedang pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya. Ia bahkan tidak pernah menyentuh Ellena. Selama ini yang selalu melecehkan Ellena ialah Henokh, saudara kembar kegelapannya.
Henokh Matthe ialah anak hasil persetubuhan antara Mr. Luke bersama seorang wanita keturunan kegelapan. Semasa hidupnya, Henokh hanya mampu keluar malam hari saj. Sedangkan jika keluar pada siang hari, ia harus menyerap energy dari tubuh seorang gadis perawan.
Energy yang berhasil ia serap ialah, energy dari tubuh Ellena. Ellena bahka tidak pernah mengetahui tentang kembaran dari Hogue.
Semua merahasiakannya rapat-rapat. Itulah sebabnya Henokh selalu muncul pada malam hari. Sehingga nyonya Tie tidak menyukai Henokh. Namun selama adanya Henokh, perekonomian keluarga Matthe cukup naik drastic. Hal itulah yang membuat nyonya Tie bersedia menerima kehadiran Henokh.
Selama ini, begitu banyak nyawa para wanita mati dengan mengenaskan. Semua ialah untuk tumbal bagi Henokh. Henokh harus meminum darah perawan, dan juga memakan jantungnya hidup-hidup. Ellena pun adalah calon korban keluarga Matthe selanjutnya.
Namun, Henokh terlihat peduli pada Ellena. Ia enggan untuk menyakiti Ellena. Pria yang pernah menyiksa Ellena ialah Hogue, sang kembaran manusianya. Namun setelahnya, Hogue pergi. Bahkan Ellena tidak pernah mengetahuinya, hingga kini.
~ ~ ~
“Hogue berikan gadis itu padaku” pinta Henokh penuh harap.
“Hentikan Henokh! kau sangat serakah! bukankah kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini!” bentak Hogue.
“Hogue! kau bahkan menikmati hasil dari pengorbanku. Atau kau mau keluarga ini kubuat mati semua!” peringat Henokh dengan sorot matanya yang begitu tajam.
“Henokh! Henokh!” teriak Hogue. Namun sosok Henokh pun menghilang.
Argkk… erang Hogue. “Ellena… aku tidak ingin kau menjadi korban” lirih Hogue. Sepertinya Hogue mulai tertarik dengan sosok Ellena.
__ADS_1
***