
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Henokh mengutarakan sesuatu hal yang membuat Ellena cukup sedih. Pernyataan dari Henokh seakan-akan suatu tanda bahwa dirinya tak akan lama lagi bersama Ellena. Namun, mungkin saja itu hanyalah suatu ungkapan saja, sehingga membuat Ellena semakin mencintai dirinya.
~ ~ ~
Ell terus terisak di dalam pelukan Henokh, kini keduanya sedang berada di pinggir pantai. Karena sejak kecil Henokh sangat menyukai pantai, dan ia pun ingin menikmati indahnya pantai bersama seseorang yang istimewa pula.
“Aku tidak suka jika tuan mengatakan hal yang seperti itu lagi.. apakah begini cara tuan, jika sudah merasa bosan dengan wanita..” isak Ell sambil memukul dada kukuh milik Henokh. Melihat hal tersebut, Henokh pun menyeringai.
Henokh mengusap puncak kepala Ell dan tersenyum penuh arti. “Sweety… apakah kau begitu menyukai tubuhku..” kekeh Henokh yang sedari tadi tak kuasa menahan tawa gemasnya.
“Apa.. apa yang tuan katakan..” dengus Ell. dengan sesenggukan, karena terus menangis, akhirnya tangisannya pun berhenti. “Dasar menyebalkan..” dengus Ell sebal.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sweety. Jika bukan dirimu, lalu siapa lagi yang akan menemaniku bermain di ranjang..” kekeh Henokh, sambil mencubit gemas pipi kembung milik Ell yang sedang kesal padanya.
“Kau keterlauan, tuan Henokh..” dengusnya lagi. Namun Henokh tak akan membiarkan wanitanya kesal dan bersedih terlalu lama. Henokh mendekap Ell dan mengecup bibir lembut kening Ell.
“Apakah kau yakin untuk hidup dengan pria yang penuh dosa ini?” tanya Henokh dengan wajah seriusnya.
“Mengapa bicara seperti ini, apakah menurutmu salama ini aku hanya sekedar angin lalu..” balas Ell dengan menatap lekat kedua mata indah milik Henokh.
“Kau tahu, aku tidak pernah berpikir kau angin lalu bagiku…kau akan selalu menjadi milikku, Henokh Matthe..” tukas Henokh dan langsung ******* bibir ranum milik Ell.
Ehhmm.. “Permisi tuan Henokh dan nona Ellena, ini makanan pesanannya sudah siap” ujar salah seorang pengawal pelayan resto yang area wisata pantai tersebut.
Ell sangat malu, karena perbuatan mereka telah disaksikan oleh pelayan resto tersebut. “Terima kasih, letakkan saja dan lain kali jangan sembarang datang jika kami sedang sibuk..” tukas Henokh dingin.
“Ma-maaf tuan Henokh, sekali lagi maaf.. aku tidak akan mengulangi hal ini lagi,” ujar sang pelayan ketakutan. Karena Henokh adalah pelanggan setia resto miliknya Henokh kerap kali memesan dagiing setengah matang darinya.
“Bukankah kita yang membuatnya tidak nyaman..” ujar Ell, dan duduk menghadap makanan yang sudah tersedia di samping mereka.
“Begini saja sweety..” ujar Henokh, mendekap pinggul Ell. henokh menaik meja makan mereka, dan membiarkaan Ell tetap berada dalam pelukannya.
__ADS_1
“Jika seperti ini, aku tidak akan bisa menyelesaikan makan malam ini.”
“Aku akan menyuapimu..” ujar Henokh, dan membuat Ell terdiam hingga tersipu.
Suapan demi suapan pun cukup membuat Ell kenyang. “Enak..” ujar Henokh, menyekap sisa makanan yang tertinggal di pinggir mulut Ell.
“Yah… sangat enak..” balas Ell sendu. Ini adalah hal pertama baginya. Bahkan orang tuanya tak pernah berbuat seperti ini padanya. Namun, seorang pria yang tak pernah ia pikirkan justru membuatnya merasa sangat nyaman.
“Apakah hanya kau saja yang merasa kenyang, lalu aku tidak..”
Ohh.. “Apakah tuan Henokh memintaku untuk..—“ ujar Ell sembari meraih piring yang berisikan daging setengah matang, kesukaan Henokh.
Henokh membalasnya dengan senyuman penuh makna, dan tentu saja Henokh senang akan perhatian Ell padanya.
“Jika tuan menyukai daging, maka aku akan memasakannya untuk tuan..” ujar Ell, membersihkan mulut Henokh dengan tissue basah.
“Sejak kecil aku hanya bisa menikmati daging setengah matang dan bahkan mentah.. karena aku hanya seorang anak hasil hubungan gelap ayah dengan wanaita kegelelapan. Entah mengapa dalam rahim bunda, dikirim janin yang sudah menyatu dengan darah daging ayah dan ibu..”
“Apakah bunda tuan tahu hal ini..?”
Mendengar kisah pilu Henokh, Ell kembali bermanja pada Henokh, memeluk dan membelai dada berotot milik Henokh. Berharap hal itu dapat menenangkan pikiran pria terkasihnya.
Bagaimana pun juga, kisah itu ialah kisah pilu keluarganya.
***
“Mansion kediaman Matthe family”
Henokh membawa Ell pergi ke mansion kediaman kedua orang tuanya.
“Selamat malam nona Ellena..” ujar para pelayan menyapa Ell yang sedang duduk di ruang keluarga Metthe.
“Yah bibi.. aku akan menunggu tuan Henokh di sini,” jawab Ell, sambil memainkan ponsel miliknya.
Karena semua pekerjaannya ada di ponsel kesayangannya, dan setiap saat Ell harus mengontrol keadaan perusahaannya.
__ADS_1
“Ellena.. selamat datang kembali..” ujar Mr. Luke bersama Mrs. Liberttie beserta Henokh yang juga muncul bersama mereka.
“Selamat malam tuan dan nyonya Matthe..” jawab Ell dengan menunduk sebagai tanda hormatnya.
Mereka pun duduk bersama di sebuah ruang keluarga, ditemani dengan berbagai cemilan lainnya.
“Henokh, katakan saja apa yang ingin kau utarakan pada keluarga ini!” ujar Mr. Luke.
Henokh menghela napasnya sejenak dan meraih tangan Ell. “Aku ingin menikahi Ellena. Jadi, aku meminta restu ayah dan bunda,” tukas Henokh, dan cukup membuat kedua orang tuanya terkejut.
“Kau yakin Henokh?” sela Mrs. Liberttie, hal itu membuat Ell bergetar gugup.
“Tentu saja aku yakin, bukankah kalian selaku menginginkanku untuk segera menikah!” tukas Henokh dingin.
“Henokh, tenanglah.. kami hanya ingin memastikan pilihanmu. Kami pun tahu Ellena berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Tapi,, apakah kau yakin Ellena akan sanggup bersanding denganmu!” ujar Mr. Luke.
Ell menatap ke arah Henokh dengan berbagai jenis pertanyaan sudah terkumpul di pikirannya. Namun Ell tahu saat ini, bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
“Yah Henokh, lebih kau jujur pada Ellena. Bunda akan selalu merestui pilihanmu, jika itu yang terbaik..” ujar Mrs. Liberttie. Ell semakin tak mengerti dengan alur perbincangan ini, dadanya kian berdebar-debar.
Mr. Luke menatap ke arah Henokh, dan Henokh hanya mengangguk.
“Ellena, apakah kau yakin ingin bersanding dengan Henokh? walau kenyataan yang akan kau dengar ini memilukanmu!” tukas Mr. Luke serius.
“Yah tuan, aku siap mendengarkannya..” ujar Ell mengangguk, tanganya sudah mulai berkeringat, Henokh mengeratkan tangannya pada tangan Ell.
“Henokh adalah seorang pewaris keturunan makhluk kegelapan, dan seumur hidupnya akan selalu membutuhkan darah segar perawan. Apakah kau sanggup jika suamimu harus sellau membutuhkan seorang gadis perawan untuk kelangsungan hidupnya.” Tukas Mr. Luke pada Ell, Ell mengangkat wajahnya, dan semua kalimat yang belum terucap pun seakan tertahan di bibirnya.
Ell menatap ke arah Henok, berharap Henokh akan berkata sesuatu yang mampu menenangkannya. Dengan menarik napas perlahan, Ell mencoba untuk mengatakan sesuatu.
“Apakah tidak ada cara lain!” lirih Ell, air matanya hampir saja terjatuh. Kenyataan ini sungguh sangat memilukan hatinya.
Sebagai seorang wanita, tentu saja hal ini begitu menyakitkan baginya. Bagaimana mungkin Ell rela, jika suami yang begitu ia cintai terus menerus berhadapan dengan para gadis-gadis perawan.
“Apakah kau merasa keberatan dan ragu padaku!” tukas Henokh, memecahkan kebisuan Ell.
__ADS_1
Ell spontan menangis, hatinya terasa begitu teriris akan kenyataan yang sebenarnya. Akankah Ell mampu menghadapi kenyataan ini, akankah ada cara lain lagi selain cara itu…
****