
“Mr. Devil – Season III”
Author by Natalie Ernison
Ellena merasa penasaran dengan suara yang terdengar dari luar kamar pribadinya. Bukan hanya suara-suara aneh, tetapi juga aroma amis yang sangat menyengat. Namun ketika Ellena berusaha mencari tahu, justru Johanez bersikap tidak seperti biasanya. Ini pertama kali seumur hidupnya, Johanez bersikap cukup kasar hingga berbicara dengan suara membentak.
~ ~ ~
“Kak Johanez!!” jerit Ell, tatkala melihat apa yang terjadi pada Johz.
Uhkk… Johz mencengram area dadanya dengan mulit bersimbah darah segar nan kehitaman.
“Kak Johz..” lirih Ell, dengan terisak. Berusaha memapah tubuh Johz menuju sofa yang terdapat di ruang bersama.
“Ellena, jangan cemaskan akuhh…” ucap Johz dan terus saja mengeluarkan darah dari mulutnya. Darah kini memenuhi area leher, dada dan bajunya kini bersimbah darah.
“Tolong! pelayan!” jerit histeris Ell kala itu.
“Kak Johz! apa yang terjadi… kak Johz..” isaknya.
“Aku akan baik-baik saja Ellena..” ucap Johz denganw ajah tersenyum sendu dan menahan rasa sakit di dadanya.
“Kalian kemana! bodoh….” jerit Ell lagi, dan terus menggoncang tubuh Johz. Mata Johz mulai terpejam secara perlahan.
Tak lama setelah itu, muncullah para pelayan rumah. “Kalian dari mana saja? lihat! lihat keadaan kak Johz..” ujar Ell dengan suara membentak. Ell terlihat sangat cemas dan tak hentinya menangisi keadaan Johz.
Para pelayan kemudian membawa tubuh Johz menuju kamar pribadinya, yang terletak di lantai dua dan berseberangan dengan kamar pribadi milik Ell.
>>
Ell terus terisak dan menggenggam tangan Johz. “Kak Johz, kumohon sadarlah kak..” ucap Ell lirih.
Perlahan-lahan, tangan Johz bergerak dan membuka matanya perlahan. Tangannya terasa berat, ternyata Ell sudah terlelap di sisi tempat Johz terbaring.
“Ellena..” ucap Johz lirih. Johz membelai lembut puncak kepala Ell dengan menggunakan tangan kirinya.
“Terima kasih atas kehadiranmu di sini..” ucap Johz. Johz terbangun, dan beranjak dari tempat ia berbaring.
“Tuan Johanez..”tukas para pelayan.
“Aku akan pergi, dan jaga adikku..” ujar Johz dengan suara pelan. Tak ingin membangunkan Ell, Ell bahkan tidur dengan posisi wajah menelungkup di sisi kasur.
Menjelang pagi…
__ADS_1
Hmm… “Kak Johanez..” gumam Ell, sambil meraba-raba tempat Johz terbaring.
“Kak Johz!” pekik Ell, terkejut tatkala melihat Johz sudah tak ada lagi di sana. Ell berlari ke luar dari kamar milik Johz, menuju lantai dasar.
“Kak Johz!” panggilnya sambil berlari menuruni anak-anak tangga.
“Maaf nona, tuan Johanez sudah pergi sedari pagi” ujar salah seorang pelayan rumahnya.
“Pergi! bukankah kak Johz masih dalam kondisi tidak baik, mengapa harus pergi!” tukas Ell dengan raut wajah yang dipenuhi rasa cemas.
“Nona nona! ada panggilan dari tuan Johanez!” seru salah seorang anggota keamana rumahnya. Ell meraih ponsel tersebut.
“Aku sudah baik-baik saja, dan aku harus pergi untuk mengurus suatu pekerjaan. Kau jaga kesehatan, dan jangan pikirkan hal lain lagi. Oke!” ujar Johz dari balik panggilan suara tersebut.
“Bagaimana mungkin kakak bisa bicara seperti ini! tidakkah kakak pedulikan kesehatan kakak!” tukas Ell kesal.
Terdengar suara tawa Johz, “Aku baik-baik saja, sekarang istirahatlah.”
Bip…
Johz memgakhiri panggilan suara, dan nomor yang dituju pun sudah tak dapat dihubungi. “Siapa pun pasti cemas jika berhadapan dengan situasi seperti ini,” gumam Ell kesal.
Tak lama setelah itu, Henokh tiba namun hanya seorang diri.
“Seharian di rumah, tidakkah itu sangat membosankan!” ujar Henokh yang baru saja tiba. Tanpa ba-bi-bu Henokh langsung meraih tangan Ell.
“Hei! ini rumahku, tidak bisakah gunakan tata karma!” pekik Ell kesal.
“Sekarang bersihkan dirimu, kita akan pergi bersenang-senang!” titah Henokh yang tak terbantahkan.
“Jika kau menolak, apakah masih bisa memaksaku!” tantang Ell dengan sikap acuhnya.
“Maka aku akan membawamu dengan keadaan begini!” ujar Henokh. Ell memandangi penampilannya yang hanya mengenakan gaun tidur saja, dan akhirnya ia menyerah.
“Aku akan bersiap-siap!” dengus Ell, dan segera membersihkan dirinya. Henokh pun hanya tersenyum, ia tahu Ell akan luluh dengan ancamannya.
***
Heneokh membawa Ell pergi ke sebuah pantai, dan bersantai di sana menikmati hembusan angin sepoi.
“Apakah tuan Henokh tidak bekerja! dan meliburkan diri sendiri hari ini?” ujar Ell sembari menyeruput air jeruk hangatnya.
“Apakah sesempit ini pemikiranmu! jika harus meliburkan diri demi orang tercinta, mengapa aku harus berpikir lagi!” tukas Henokh.
__ADS_1
“Tidakkah masih banyak pekerjaan penting yang tuan harus kerjakan! menemaniku, hanya akan membuang waktu.”Mendengar pernyataan dari Ell, membuat Henokh terlihat kesal.
“Kau sekarang sudah menjadi seorang pimpinan perusahaan, tapi masih saja bodoh! bukankah kau dulu seorang pendidik, mengapa sekarang otakmu tidak lagi cerdas!” cela Henokh, dengan menatap lekat kedua mata Ell.
Ell terlihat cukup kesal mendengar celaan Henokh, namun ia tahu itu adalah bentuk ungkapan kekesalan Henokh atas pernyataan Ell sebelumnya.
“Aku tahu tentang rasa sakit kehilangan seseorang yang dicintai, maka aku tidak ingin menyesal.”
“Apa yang tuan ketahui tentang kehilangan! bukankah selama ini hidup tuan selalu terpenuhi! pakah tuan tahu rasa kehilangan, ataukah itu hanya kalimat penenangan bagiku!” tukas Ell menyela pernyataan Henokh.
“Mengapa kau bicara seolah sangat tahu kehidupanku!” bentak Henokh.
“Bukahkah tuan selalu bertindak sesuka hati! sedangkan aku, aku yang selalu menerima perlakuan tidak adil! tuan tidak akan pernah mengerti! tidak akan!”
Prang…
Suara pecahan gelas, Ell menendangi meja yang ada di depannya, dan membuat gelas-gelas terjatuh karenanya.
“Ellena! apa yang kau lakukan!”
“Apa yang kulakukan! apakah mata tuan sudah buta! aku menghancurkan meja ini!” tukas Ell, emosinya begitu meluap. Kala itu Ell tiba-tiba teringat kedua orang tuanya, terutama sang ibunya.
“Ellena, apa yang kau pikirkan, mengapa kau harus seperti ini” ujar Henokh dengan ekspresi yang prihatin akan kondisi emosional Ell kala itu.
“Aku benci semua orang, kalian hanya bisa banyak bicara, tapi tidak akan pernah mengerti kondisi hati seseorang..” isak Ell, Ell tersungkur di lantai marmer yang berantakan akibat ulahnya tadi.
“Kau akan terluka!” pekik Henokh, meraih tangan Ell segera. Karena pecahan beling hampir saja mengenaik lutut Ell.
“Maafkan istriku, dia sedang depresi karena kepergian calon bayi kami. Aku akan membayar semua kerugian ini dua kali lipat” ujar Henokh pada pihak wisata pantai tempat dirinya bersama Ell. Tentu saja pihak wisata setempat tidak akan keberatan dengan syarat dari Henokh.
“Mengapa harus bicara omong kosong!” dengus Ell dengan wajah muramnya.
“Aku tidak ingin orang-orang mengira kita sedang bertengkar dan menilaimu dengan pandangan aneh.” Ell hanya terdiam saat mendengar pernyataan dari Henokh.
Keduanya pun beranjak pergi dari lokasi wisata pantai tersebut.
“Bahkan dengan kebaikanku saja tidak akan cukup untuk membayar semua penderitaanmu di masa lalu” batin Henokh. Melihat betapa tergoncangnya kondisi psikologis Ell membuat Henokh sangat prihatin.
Mengingat semua tindakan Hogue pada Ell, tidak akan cukup untuk membalut rasasakit Ell di masa lalu. Henokh sangat ingin melihat Ell bahagia saat berada di sisinya.
Namun, akankah cinta mereka bersatu kali ini? Ell pun sudah mulai membuka hatinya kembali pada Henokh.
Sanggupkan Ellena bangkit dari titik terendah kehidupannya, dan benar-benar memulai kisah barunya…
__ADS_1
****