Ms. Norak

Ms. Norak
Ibu datang


__ADS_3

Ratih, ibu Laras mendadak datang ke Jakarta, katanya ingin liburan sambil menengok Laras dan Sri. Laras jelas kelabakan, hubungannya dengan Angga sudah berakhir namun mendadak kembali harmonis sejak Ratih menginjakan kaki di rumah.


“Inget ya ini cuman pura-pura. Aku bakal cari cara gimana nyampain ke keluarga kalo kita udah putus” dengus Laras ketika berada di mobil Angga.


Angga diam, tapi sepertinya ia tidak berpikir begitu. Kedatangan Ratih menjadi jackpot bagi Angga untuk mendekati Laras. Selama seminggu ini Angga benar-benar akan menunjukan penyesalan sekaligus keseriusannya pada Laras. Setiap hari Angga selalu ke rumah Laras dengan alasan mengunjungi Ratih atau sekedar mengajak jalan-jalan. Laras yang tahu tujuan Angga hanya bisa mendengus jengkel. Laras merasa jengah dengan sikap Angga, tapi tidak bisa menolak. Tingkah cowok itu di depan Ratih benar-benar memuakkan, seakan tidak ada lagi cowok sesempurna Angga yang akan datang ke dalam hidup Laras.


“Ra, sini aku bawain” kata Angga mengambil keranjang belanjaan dari tangan Laras.


“Tuh lihat, Angga perhatian banget sama kamu” bisik Ratih senang. Laras mendengus dengan ekspresi masam masuk ke rumah. Laras benci sekali dengan Angga, cowok itu pintar mengambil hati Ratih.


“Sri, Laras mana?” tanya Angga ketika selesai menaruh bahan makan di kulkas.


“Nyiram bunga di belakang.”


Angga mengangguk menyusul Laras, tampak cewek itu sedang menyemprot bunga di pot dengan wajah tertekuk.


“Ngapain kamu?” tanya Laras berpaling ketika Angga mengambil semprotan dan ikut berdiri di sebelah Laras.


“Bantuin kamu.”


Laras menghela nafas, niatnya untuk menjauh dari Angga justru membuatnya berakhir bersama cowok itu. Laras mengutuk keras pot bunga Sri yang berjejeran sangat banyak.


“Aku tahu kamu masih marah sama aku Ra. Tapi aku mau minta kesempatan buat nunjukin kalo aku benar-benar menyesal dengan perbuatan aku.”


Hati Laras bersorak menang, Angga baru saja memohon padanya.


“Buat apa? Buang-buang waktu”


“Aku mau nunjukin penyesalan dan keseriusan aku ke kamu Ra.”


Laras balik badan dan berkacak pinggang. “Apa alasannya? Karena kamu ngeliat aku bukan lagi Laras yang membosankan? Aku berubah dari luar?” tanya Laras ketus.


Angga menghela nafas. “Bukan Ra, lebih dari itu. Aku cinta sama kamu.”


Mata Laras membulat marah. Omong kosong. Seorang Angga bisa merasakan cinta? Tukang selingkuh berani mengatakan cinta pada orang yang ia lukai? Gila!


“Ra, Mas Angga ayo masuk, ibu buatin pisang goreng.”


Laras tidak menjawab panggilan Ratih. Terlanjur kesal ia mengangkat semprotan di tangan dan tanpa ampun menyemprot tepat ke muka Angga, dan setelah itu Laras melangkah masuk.

__ADS_1


...*****...


“Ra, cincin kamu kemana?” tanya Ratih keesokan harinya ketika duduk di serambi. Matanya melirik jari manis Laras kosong tidak terlingkar cincin putih pemberian Angga dulu.


“Dilepas bu”


“Kok dilepas? Ayo di pakai cincinnya, kalo hilang gimana?”


Laras meringis, seandainya Ratih tau Laras membuang cincin itu, mungkin sekarang akan menjadi sidang terbuka untuk dirinya. “Ee…itu”


“Ketinggalan di rumah aku bu, waktu itu Laras main, terus pas masak dilepas, lupa dipakai sampai sekarang” bohong Angga dari samping. Ratih mengangguk-angguk percaya sementara Laras tersenyum masam.


“Nanti dipakai ya Ra. Cincin jangan kelamaan dilepas, kata orang dulu cincin yang dilepas itu bisa buat hubungannya nggak berjalan lancar.”


Amin.


“Iya bu” angguk Laras kontradiktif, wajahnya berpaling pada Angga dan untuk pertama kalinya Laras tersenyum. Namun senyumnya menunjukan bahwa ia memang ingin hubungan mereka benar-benar berakhir.


...*****...


    Akhir-akhir ini Laras selalu terlihat bersama Angga, terutama setiap pulang kampus, hal ini untuk menyenangkan hati Ratih yang kerap kali memuji Angga. Sikap Ratih jelas menunjukan kebanggannya pada Angga, calon menantu yang tampan, pintar, dan berasal dari keluarga baik.


    “Kenapa nggak jujur aja Ra kalo udah putus?” tanya Manda penasaran, menurutnya masalah ini akan selesai seandainya Laras mau jujur mengenai hubungannya dengan Angga.


“Ya itu kalo ibu nerima, kalo aku disuruh maafin Angga gimana? Tau kan ibuku gimana? Cewek itu harus nurut, mau nerima pasangannya apa adanya, dan bla bla kampret!”


“Termasuk kalo Angga nyosor sana sini bakal dimaafin juga sama ibumu?”


“Ibuku suka latar belakang keluarga Angga”


“Kalo gitu mah aduin aja keluarga Liem sama Radja” saran Amel sembarangan.


“Hubunganku sama Dano nggak seserius itu, mana bisa diadu? Ada-ada aja kamu” dengus Laras menyeruput es kelapanya gemas.


Ponsel Laras bergetar, ada pesan masuk dari Dano.


“Aku duluan ya, mau ngerjain tugas pancasila”


“Sama Dano?”

__ADS_1


“Iya”


“Hubunganku sama Dano nggak seserius itu” tiru Amel mengejek. Laras menepuk punggung Amel lalu melangkah pergi kembali ke kampus.


“Lama banget Ra, ganteng saya hampir hilang nungguin kamu” kata Dano menyambut Laras masuk perpustakaan.


“Lebay, nggak sampai lima belas menit juga.”


Dano nyengir lebar. “Ngerjainnya di tempat lain yuk, kalo disini saya ngantuk”


“Nggak bisa, aku harus balik cepat. Besok ibu mau balik”


“Ntar saya anterin pulang Ra, biar nggak telat, sekalian makan, kamu nggak laper apa? Lihat muka saya udah mengering karena dehidrasi dan kurang asupan karbohidrat”


“Iya-iya cerewet” balas Laras terpaksa mengikuti Dano pergi ke tempat lain.


...*****...


Dano tidak berbohong ketika ia bilang akan mengantar Laras ke rumah. Disambut hangat oleh Ratih, Dano dengan cepat akrab dan sukses menarik perhatian Ratih, ia bahkan sampai diajak makan malam. Dano secara terang-terangan melemparkan senyum penuh kemenangan pada Angga yang menatapnya jengkel.


“Nggak pulang No? Orang rumah nggak nyariin?” sindir Angga bertanya.


“Enggak. Lu juga kok nggak pulang?”


“Gue bebas disini, rumah tunangan gue soalnya”


“Tunangan lu yang mana? Kok gue nggak tau? Sri?” tanya Dano pura-pura bodoh membuat kedua tangan Angga mengeras. Kalo bukan karena ada Ratih disini, Angga pasti sudah melepaskan bogem ke wajah  Dano.


“Ini loh nak Dano, tunangannya Mas Angga” vkekeh Ratih menunjuk Laras tidak menyadari aura ingin baku hantam di ruangan itu.


“Oh Laras? Ya ampun, saya kira tadi Angga sama Laras sepupuan”


“Ah nak Dano bisa saja. Ayo dimakan dulu, nanti kalo ikannya dingin kurang enak” kata Ratih.


Laras menghela nafas, daritadi wajahnya tegang setengah mati, takut ada piring terlempar di udara.


“Lain kali Ra, kalo mau diadu di ring tinju aja. Aku ngeri” bisik Sri pelan.


“Aku juga” balas Laras berbisik.

__ADS_1


__ADS_2