
“Ini dimana?” tanya Ayu saat Heru membuka pintu apartement, sejak tadi Ayu berusaha keras menahan diri agar tidak terus menangis sampai tidak menyadari Heru tidak membawa dirinya pulang ke rumah.
“Apartement Brandon tapi disewakan ke orang lain, cuman bulan kemarin udah keluar jadi saya yang nyewa” jelas Heru sesingkat mungkin. Kening Ayu berkerut tapi tetap melangkah masuk mengikuti Heru, tanpa meminta ijin ia duduk di sofa dan memijat-mijat pelipis. Terlalu banyak menangis membuat Ayu merasa pusing.
“Mau minum?” tawar Heru, pengaruh alkohol ditubuhnya mendadak menghilang setelah tadi melihat Ayu menangis. Ayu mengangguk singkat mengambil bantal dan memejamkan mata, ia ingin terlelap tapi langkah Heru membuat kesadarannya kembali.
“Minum dulu Yu.”
Ayu bangkit duduk meneguk sedikit air dan menatap Heru disampingnya, kening Ayu berkerut masih agak kesal dengan kejadian tadi. “Mas selama ini tidur dimana?”
“Disini”
“Kayak nggak punya rumah” dengus Ayu sebal.
Heru tidak menjawab, setelah melihat Ayu menangis tadi Heru memilih mengunci mulutnya serapat mungkin, ia takut salah bicara dan berakhir dengan Ayu mendiamkan dirinya. Salah Heru, di bar tadi ia berniat protes tapi sepertinya sikap yang ia ambil sudah melewati batas. Heru tidak bisa membayangkan seandainya gantian Ayu yang protes dan tidak mau berbicara lagi, wah, masalah mereka bisa semakin pelik!
“Diluar sana banyak orang nggak punya rumah dan tidur di emperan. Mas Heru punya rumah tapi ditinggal terus, kalo enggak mau, dikasih aja rumahnya buat orang-orang yang membutuhkan” omel Ayu. Heru meringis, ia ingin tertawa geli tapi ekspresi Ayu serius sekali. Tubuh Heru bergerak maju bersandar di bahu Ayu.
“Iya maaf, hari ini saya pulang ke rumah”
“Enggak usah pulang, tinggal aja di luar, udah tau saya dikit lagi mau berangkat tapi mas malah protes berhari-hari. Saya mau ngomong sama Mas Heru, saya mau minta maaf, saya ngaku saya salah. Tapi kalo mas ngambekan gini gimana saya bisa ngomong?”
“Iya...maaf”
“Saya berhari-hari ngerasa bersalah ke Mas Heru, saya berkali-kali mikir saya jahat banget, tapi mas malah ke bar, mabuk-mabukan gitu, saya enggak ngelarang mas mau ngapain, tapi mas itu udah ninggalin rumah dan tingkah mas jelas aja bikin saya khawatir setengah mati. Kalo kayak gini saya ngerasa nggak adil, kenapa harus saya aja yang ngalah? Kenapa harus saya yang ikut maunya Mas apa? Saya juga pengen sesekali didengerin mau saya apa” ujar Ayu, perlahan air matanya kembali turun dan ia menangis sesegukan. Heru menghela napas, ternyata Ayu bisa sestress ini menghadapi dirinya. Untuk ukuran cewek paling sabar yang pernah Heru kenal, kesabaran Ayu sepertinya sudah mencapai limit sendiri, tentu saja menghadapi keegoisan Heru selama berapa tahun ini akan membuat Ayu diam-diam meredam frustasi.
“Maafin saya...” bisik Heru pelan, tidak ada lagi yang bisa ia katakan dan tidak ada lagi pembelaan untuk dirinya. Sikap keras kepala dan egonya beberapa waktu lalu malah membuatnya kena batu harus merayu Ayu.
“Saya minta maaf karena enggak cerita kalo saya daftar kuliah di Inggris, saya salah mas, dan saya udah nggak mau ngebela diri lagi, bener kata Mas Heru saya egois. Tapi waktu mas bilang enggak setuju saya pergi, saya sedih banget mas” isak Ayu mengutarkan isi hatinya. “Bagi Mas Heru ke Inggris itu hanya masalah sepele, tapi bagi saya mimpi saya disana, mimpi yang mungkin hanya akan terjadi sekali dalam hidup orang-orang kayak saya, atau bahkan mungkin sampai mati juga enggak akan terjadi.”
__ADS_1
Heru diam, tidak bisa menjawab atau membantah perkataan Ayu. Di momen ini ia tahu benar keputusan Ayu tidak akan berubah dan pilihan sekarang berada di tangan Heru. Haruskah ia merelakan cintanya pergi sementara atau melepaskan cintanya pergi tanpa kembali?
Dan tentu saja Heru memilih opsi pertama.
“Jadi sekarang gimana mas?” tanya Ayu mendongak, matanya terlihat kemerahan dan sembab.
“Protes saya udah berakhir Yu, sekarang kalo bisa saya dua puluh empat jam sama kamu aja” jawab Heru buru-buru. “Maafin saya.....”
“Iya. Tapi sekali lagi Mas Heru kabur dari rumah, saya enggak mau nyamperin lagi, apalagi ke tempat kayak tadi, saya nggak suka asep rokok dimana-mana, nih sampe rambut saya aja bau rokok, terus bajunya mas Heru juga” balas Ayu gantian protes. Heru nyengir menunduk mengecup bibir Ayu lembut.
“Sebenarnya ada opsi mandi sih Yu, tapi kamu pasti nggak mau kalo saya ajak barengan, padahal maksudnya saya biar ngehemat air”
“Nggak mau! Dasar cowok! sukanya nyari kesempatan!” delik Ayu membuat Heru tertawa geli.
Perasaan Ayu mendadak ringan, begitupun dengan Heru. Masalah mereka selesai, tapi tetap saja bagi Heru terasa ada yang menjanggal. Mengingat Ayu akan meninggalkan dirinya membuat semangatnya merosot. Ah, cinta itu halangannya suka rumit banget ya? Sedih.
Suara ombak terdengar dari kejauhan, angin sepoi-sepoi berhembus kesana kemari membuat mata Dano semakin terasa berat. Dano mengambil bantal berbaring di sebelah Laras, cewek itu terlihat masih bersemangat meskipun hampir seharian ini keduanya berkeliling di area penginapan. Sumba. Tempat yang mendadak menjadi opsi pertama Laras untuk menghabiskan cuti.
“Kalo ke Bali bisa kapan aja, tapi ke Sumba jarang-jarang”
”Ra, Sumba itu masih dalam wilayah Indonesia, kecuali kalo tiap tahun letak Sumba pindah planet, itu baru alasan kamu masuk akal” sungut Dano tapi tetap mengikuti mau Laras. Meskipun sempat keki karena rencananya untuk mengajak Laras ke beberapa tempat di Bali gagal, senyum Dano tetap mengembang lebar saat mendengar deru ombak dari pertama kali menginjakkan kaki di penginapan.
“Apa saya bangun vila aja disini ya?”
”Yang mau tinggal siapa? Kamu kerja, tiap bulan ke Kalimantan. Kamu inget pulang rumah aja udah syukur apalagi punya vila?”
“Saya minta orang jaga Ra, kayak vila di Bogor. Hmm...apa disewain aja ya?” pikir Dano, Laras berpaling sekilas, ucapan cowok itu terdengar seperti angin lalu tapi raut wajahnya justru terlihat sangat serius.
“Udah mikir beli vilanya nanti aja, mending kamu geser, panas tau. Kamu peluk-peluk aku gini, aku jadi pengap.”
__ADS_1
Dano malah merapatkan pelukannya sampai Laras memekik pelan. Dano tertawa geli. “Kamu tuh kebiasaan. Kalo moodnya lagi bagus tiba-tiba aja nyosor nyium sana sini, peluk-peluk, nggak mau jauh-jauh. Tapi giliran saya yang meluk duluan malah nggak mau, katanya panas lah, ngantuklah, saya disuruh jaga jarak lima meter” omel Dano.
“Lagian kamu hobi banget nempel-nempel di cuaca panas kayak gini”
“Nanti kalo saya nempel ke cewek lain baru deh kamu nyadar betapa berharganya saya” balas Dano dramatis. Laras ketawa menyentuh pipi Dano dam mengecup lembut bibir cowok itu.
“Kalimantan kemarin gimana?”
“Masih sama, nggak ada yang berubah. Wilayah Kalimantan masih sama persis kayak dipeta” jawab Dano. “Tapi kemarin kerasa lebih capek sih karena Heru nggak ikut”
“Maklumin aja, lagi pusing Heru mau ditinggal Ayu”
“Saya tuh sempat dongkol Ra, tapi saya kasihan tiap kali lihat Heru, lesu banget kayak ayam mau mati. Saya nggak bisa bayangin kalo itu terjadi sama saya. Apa saya juga bakal kayak gitu ya kalo kamu pergi dari saya?”
“Kamu mau coba?”
“Ih amit-amit, nggak mau. Saya ke Kalimantan aja kangen banget sama kamu, apalagi kalo kamu keluar negeri bertahun-tahun, bisa merana saya sepi sendiri tidak ada yang menemani”
“Bisa aja kamu”
“Lah emang bener kok, makanya saya mau meluk kamu. Udah kamu nggak usah nolak, itu mataharinya udah mau terbenam” tunjuk Dano.
Laras balik badan menatap keluar jendela kamar sementara Dano langsung memeluknya erat dari belakang. Cantik. Pemandangan matahari terbenam paling cantik yang pernah Laras lihat.
“She fell first” gumam Laras tiba-tiba teringat sebuah film dengan adengan para pemeran utama sedang melihat sunset dan mengakui perasaan mereka satu sama lain.
“But he fell harder...”
Laras berpaling pada Dano, agak terkejut karena cowok itu ternyata tau lanjutan dari perkataannya, dan saat itu senyum Laras mengembang lebar menerima ciuman manis dari Dano.
__ADS_1