Ms. Norak

Ms. Norak
Dunia Dano


__ADS_3

Hubungan Laras dan Dano kembali seperti semula. Seolah tidak pernah menghilang, keduanya kini semakin lengket satu sama lain. Dimana ada Laras, disitu pasti ada Dano siap mengikutinya kemanapun, yang sewot tentu saja Manda, karena kedua temannya kini sudah memiliki pawang masing-masing sementara dirinya harus pasrah diikuti Brandon.


“Orang kan bilang kalo doa itu harus spesifik. Gue doa tiap malam udah spesifik banget. Tuhan aku mau Nikol, eh yang datang beda” keluh Manda pada suatu hari.


“Belum aja dia jatuh cinta sama Brandon. Tampangnya ngedumel gitu, tapi sebenarnya mulai nyaman” bisik Amel langsung kena pelotot tajam Manda.


“Gue bisa dengar!”


Amel nyengir. “Lagian lu ngapa anti banget sama Brandon? Orangnya baik kok, cuman hobi gambar aja di kulit”


“Anak band nggak ada yang bener” balas Manda jutek. Amel angkat bahu menyeruput es teh.


“Ra, ngomong Ra” senggol Manda mencari pembenaran.


“Iya bener, aku setuju sama kamu” balas Laras acuh tak acuh sibuk menyalin tugas. Ponselnya bergetar, ada pesan masuk dari Dano, senyum Laras mengembang seketika, ia buru-buru membereskan buku.


“Mau ketemu Dano?” tanya Amel. Laras mengangguk malu-malu membuat Manda mendengus.


“Semua berada dalam hubungan kecuali gue, semoga semua pasangan berbahagia harinya senin terus!” teriak Manda.


Laras ketawa lalu pamit pergi. Kakinya melangkah ringan menyusuri koridor kampus menunju parkiran gedung hukm.


“Lama nunggu?” tanya Laras menepuk punggung Dano yang sedang asik merokok di sebelah mobil, cowok itu mendongak lalu menggeleng.


“Enggak, cuman sebulan”


“Lebay” balas Laras masuk mobil.


“Kita mau kemana sih?” tanya Laras. Sejak semalam Dano ribut-ribut mau jalan-jan, katanya ingin refreshing sebelum masuk masa UTS.


“Main layangan.”


Laras meringis. Mobil Dano melaju menuju sebuah tempat yang cukup jauh dari kampus mereka. Dano memarkirkan mobil di dekat ruko tua, mereka turun dan berjalan masuk ke dalam gang di sebelah ruko dan berhenti di rumah makan lesehan dekat kolam ikan besar.


“Bang Dano.”


Seorang anak lelaki kelas enam SD berlari menghampiri Dano, alat pancing berada di bahu sementara kaos dan wajahnya terlihat dekil bukan main.


“Kagak mandi ya lu?”


“Udah kemarin sore” jawabnya kalem. Dano ketawa mengacak-acak rambutnya.


“Siapa nih bang? Cantik banget, pacarnya ya?” tanyanya menatap Laras lekat-lekat, ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Ahmad, ketua geng SD di kampung itu. Laras nyengir mengulurkan tangan.


“Harum banget bang tangannya, pantas abang suka”


“Bisa aja lu” kekeh Dano. “Ibu mana?”


“Itu di dapur, sama Bang Riko, cuman jangan diganggu. Bang Riko lagi galau”


“Galau kenapa?”


“Biasa, kalah judi” jawab Ahmad lalu pamit dan berlalu pergi.


“Tempat pemancingan ini milik ketua RT sini, cuman warung yang jualan disewakan untuk warga RT”


“Kamu biasa kesini?”


“Iya, bantuin ibunya Ahmad. Ikan gurame mereka yang paling enak se-Jakarta” angguk Dano. Mereka masuk ke dalam warung terbuka bertuliskan ‘Ikan Ibu Asti.”


“Bu, ada Dano.” Riko berteriak ketika melihat Dano, ia menghampiri cowok itu dan meninju pelan perutnya. “Pasti mau UTS kan makanya lu kesini?” tawa Riko sudah hafal dengan kebiasaan Dano.


“Entar, gue panggilin nyak” ujar Riko pergi setelah menerima kertas pesanan dari Dano.


“Kamu kenal mereka dari mana?”


“Dulu Bu Asti kerja di rumah saya, terus karena udah nikah jadi sekarang yang kerja di rumah Mbak Yanti. Mereka adik kakak” jelas Dano.


Asti keluar dari dapur, ia terlihat senang melihat Dano, tanpa basa-basi memeluk cowok itu erat. Tidak jauh beda dari Yanti, Asti juga sangat ramah. Wanita paruh baya itu tidak henti-hentinya berbicara, sampai kemudian Riko muncul dengan tampang sungut.


“Nyak gasnya habis”


“Yaudah lu isi aja gasnya pake napas lu!” jawab Ibu Asti nyablak. Riko merenggut sementara Laras dan Dano terbahak-bahak.


“Emang gitu nyak gue. Udah gue suruh jadi stand up comedy tapi enggak mau” ujar Riko menaruh pesanan Dano di atas meja, ia kemudian ikut duduk dan menarik nafas panjang.


“Lelah bang?” tanya Dano iseng.


“Iya nih. Tarif Ppn naik makanya gue cemas sama keberlangsungan negara ini”


“Gaya lu bang, kayak tau bayar pajak aja.”


Riko ketawa geli. “Mulai minggu depan gue udah bisa bayar pajak. Gue keterima kerja jadi satpam di bank depan, langsung kartap, kagak pake babibu”


“Wah selamat bang, udah bisa berhenti judi dong kalo gitu?”


“Iye, mulai minggu depan hidup gue udah bener”


“Berarti minggu ini enggak?” tanya Laras polos. Riko angkat bahu dengan senyum tengil.

__ADS_1


“Gue mau ke depan nih, lu mau nitip? Rokok atau permen yosan?”


Gantian Dano nyengir secara sukarela menyerahkan sedikit harta benda dari sakunya. Riko tersenyum bahagia mengambil lima puluh ribu dari tangan Dano.


“Gue duluan, lu berdua kalo mau mesra-mesraan disini silahkan, tapi jangan ciuman, entar diarak warga” kata Riko berlalu pergi.


“Mau kemana bang?” tahan Ahmad baru muncul.


“Bantu kucing Pak RT ngurus ijazah” jawab Riko sembarangan buru-buru ngancir. Tidak lama setelah itu Asti keluar.


“Mana abang lu? Suruh beli gas di warung depan”


“Udah pergi nyak” jawab Ahmad langsung merengut tahu ia yang akan disuruh.


“Yaudah sano lu yang beli gas di warung depan”


“Enggak bisa nyak, saya sibuk”


“Sibuk apa lu? Ngurus negara?”


“Mau fokus nganggur kayak Bang Riko” jawab Ahmad asal langsung kena lempar sendal jepit. Dano ketawa ngakak hampir tertelan tulang ikan.


“Kamu kalo meninggal disini, aku enggak mau jadi saksi” dengus Laras, Dano nyengir melanjutkan makan.


“Enak kan ikannya?”


“Iya” angguk Laras setuju, ia jarang menemukan tempat makan murah namun enak di Jakarta. Kalau kata Manda ‘menemukan penjual yang niat masak di Jakarta itu ibarat mencari jarum dalam jerami, alias susah!’ Ah, Laras jadi ingin mengajak Manda dan Amel untuk makan disini.


“Saya suka disini”


“Kenapa? Karena tempatnya bagus?”


Dano menggeleng menunjuk ke arah pancingan di belakang Laras. “Bukan, karena saya nggak bakal terlihat aneh kalo duduk mancing sendirian di situ” 


“Kamu ngerasa kesepian ya?” tanya Laras bercanda namun dijawab Dano dengan anggukan serius. “Sesepi apa?”


Dano menegak airnya dan berpikir, ekspresinya terlihat serius. “Saya selalu ngedengerin cerita orang. Tapi cerita saya enggak”


“Kalo gitu mulai sekarang kamu bisa cerita ke aku” kata Laras lugu. Dano meletakan sendok sembari menatap Laras lekat-lekat, tangan kirinya meraih tangan kiri Laras.


“Saya suka kamu masuk ke dunia saya, tapi hati-hati kalo kamu nyaman sama saya, kamu nggak bisa keluar.”


Degup jantung Laras langsung berdetak tidak karuan, entah karena elusan jemari Dano pada tangannya atau karena perkataan cowok itu.


...*****...


“Samuel, sini!” panggil Amel semangat, tanpa ragu ia mencium Samuel membuat Laras sedikit mengambil jarak dari dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.


“Sini” kode Laras pada Dano. Laras sadar betul sejak tadi mata Dano tidak terlepas darinya, namun suasana club justru membuat Laras merasa aman dengan tatapan Dano.


“Kamu udah minum berapa gelas?” tanya Laras agak berteriak ketika Dano menghampirinya. Dano angkat bahu, tangannya menarik Laras mendekat.


Semakin lama bersama Dano dan Laras tanpa sadar mulai memasuki dunia cowok itu. Rasa alkohol dulu tidak begitu bersahabat untuk Laras, asap rokok kerap kali membuat kepalanya pusing, dan kerumunan orang cenderung membuat Laras merasa tidak nyaman. Namun sekarang semua itu menjadi candu. Entah sudah berapa banyak alkohol yang ia tegak, asap yang ia hirup, dan suara teriakan keras justru membuat Laras semakin bersemangat.


“Kepala aku pusing” kata Laras menyandarkan kepalanya di dada Dano. Efek alkohol semakin terasa membuat fokus Laras kemana-mana, ia bisa merasakan tangan Dano memeluknya erat dan perlahan menuntun langkah mereka keluar dari situ.


“Perut aku enggak enak” kata Laras ketika berada dalam mobil, kepalanya semakin pusing dan matanya semakin terasa berat, dan setelah itu Laras tidak bisa mengingat apapun lagi.


...*****...


Mata Laras mengerjap-ngerjap merasakan matahari bersinar tepat mengenai wajahnya. Laras bergumam merasa terganggu, ia balik badan sambil merenggangkan  badan. Guling aku berotot ya sekarang, batin Laras masih memejamkan mata. Laras lantas menaikan kaki mencoba memeluk 'gulingnya' erat, namun aneh karena guling itu terasa hangat dan tidak empuk seperti biasa. Apa benar-benar berotot? Memang guling bisa nge gym?


 Perlahan kesadaran Laras kembali, ia tersentak membuka mata dan tepat di hadapannya Dano sedang tidur. Laras melongo  langsung memperhatikan  sekelilingnya. Ruang besar, sofa, PS, jelas kamar itu bukan milik Laras. Ekspresinya semakin terkejut ketika berpaling dan menemukan pemilik kamar sedang berbaring di sebelahnya. Dano. Cowok itu terlelap, sinar matahari yang masuk membuat keningnya berkerut-kerut dan tanpa sadar ia balik badan memeluk Laras erat.


Laras masih melongo, ia buru-buru mengintip ke dalam selimut. Dano hanya mengenakan celana pendek dan Laras mengenakan kaos kebesaran milik Dano.


Tunggu. Kaos milik Dano?


“Aaaahhhhhh!” Laras berteriak kencang membuat Dano tersentak dari tidur, belum sempat kesadarannya kembali kaki Laras sudah lebih dahulu bergerak menendang Dano sampai jatuh dari atas tempat tidur. Laras langsung menarik selimut membungkus erat tubuhnya, tidak mengacuhkan Dano merintih kesakitan karena wajahnya lebih dulu mengenai lantai.


“Ada apa sih Ra?” intip Dano, wajahnya memerah kesakitan.


Laras melotot menunjuk Dano. “Kamu ngapain disini?!”


Dano bengong sejenak lalu naik ke atas kasur. “Ini kamar saya Ra”


“Ya kalo gitu kenapa aku disini?!”


Dano menatap heran. “Semalam kamu mabuk Ra, saya bawa kesini karena kalo saya anterin kamu pulang, ada Sri. Nggak enak aja kalo misalnya kamu dilaporkan ke orang tua kamu”


“Sri nggak kayak gitu” dengus Laras, Dano angkat bahu kembali berbaring, rasa kantuknya hilang tapi rasa malas untuk bergerak masih tertinggal.


“Saya cuman milih opsi yang bagus, biar enggak kenapa-kenapa”


“Terus kenapa kamu nggak pakai baju?”


“Kamu muntah di baju saya, jadi saya lepas”


“Terus kenapa nggak pakai yang baru?” cerca Laras, tingkahnya benar-benar seperti polisi yang sedang menginterogasi maling.

__ADS_1


“Nggak kepikiran” balas Dano kalem.


“Baju aku…. Siapa yang ganti?” tanya Laras, pipinya merona merah.


“Mbak Yanti” jawab Dano pendek. “Udah Ra, sana mandi, bangunin saya kalo udah selesai.”


Laras mendengus mengambil bantal lalu menimpuk wajah Dano sebal, ia melangkah pergi ke kamar mandi. Dano hanya diam memejamkan mata, ia menarik nafas mencoba menenangkan diri.


Apa yang terjadi semalam memang hanya akan ia simpan untuk dirinya sendiri.


...*****...


^^^Beberapa jam sebelumnya…^^^


Dano membopong tubuh Laras masuk ke dalam rumah, cewek itu bergumam pelan dengan mata terpejam, keningnya berkerut-kerut seperti marah pada sesuatu.


“Mas Dano, ya ampun Neng Laras kenapa?”


“Mabok stella” jawab Dano sembarangan, ia cukup kesulitan membaringkan Laras di sofa. Peluh Dano menitih, efek alkoholnya sudah menghilang digantikan rasa lelah, Dano tidak menyangka membawa Laras yang mabuk bisa semerepotkan ini. Sepanjang dimobil tadi Laras terus mengeluh atau mengomel dengan mata terpejam, ia juga bergerak tidak nyaman, efek panas alkohol dalam tubuh.


“Neng Laras tidur disini?” tanya Yanti buka suara.


“Kamar. Mbak boleh tolong ambil air nggak?”


Yanti langsung buru-buru membawakan segelas air.


“No…Dano…” gumam Laras memanggil, matanya terbuka sedikit lalu duduk dengan tampang bingung, wajahnya mendongak menatap Dano.


“Ra, yuk ke atas. Tidur di kamar saya”


“Mas siapa? Jangan nyentuh-nyentuh.” Laras menepis tangan Dano kasar. Dano bengong sejenak sementara Yanti tertawa geli.


“Saya Dano, ayo Ra, disini banyak nyamuk”


“Aku nggak suka sayur, lagian aku nggak kebiasan makan di rumah orang” ujar Laras meracu. Ia bangkit berdiri di sofa dan melingkari tangannya di leher Dano.


“Mas ini siapa? Ganteng banget. Sini mas ayo menari”


“Saya balik ke kamar ya Mas Dano, semangat” kekeh Yanti berlalu pergi.


“Gendong, gendong” rajuk Laras meloncat masuk ke dalam pelukan Dano dan melingkari kakinya di pinggang cowok itu.


“Ra, nggak lagi-lagi deh saya biarin kamu minum. Besok-besok kamu minum jus aja” kata Dano menghela nafas.


Laras tertawa, wajahnya bersemu kemerahan. Tangannya menyentuh kedua pipi Dano dan tanpa ragu menundukan kepala menempelkan bibirnya. Dano diam menerima ciuman Laras, lembut namun membuat hasratnya perlahan bergejolak keluar.


“Manis…” gumam Laras ketika melepas ciumannya, ia tersenyum dan membenamkan wajahnya di bahu Dano.


Dano menghela nafas, terpaksa melangkah menuju kamar dengan Laras tetap berada di pelukannya. Dano bisa merasakan jantungnya berdetak tidak karuan, entah karena ciuman Laras atau karena senyum cewek itu membuatnya terlihat sangat manis dimata Dano.


Deg.


Tubuh Dano menegang. Tepat ketika ia membuka pintu kamarnya dan saat itu juga Dano bisa merasakan gigitan kecil Laras di bahunya. Wajah Laras kembali mendongak dan kali ini tanpa mengatakan apapun ia menarik wajah Dano lalu menciumnya lagi.


Ciuman yang awalnya lembut perlahan menjadi menuntut. Dano bisa merasakan alkohol dari bibir Laras dan tangan cewek itu terus menyentuh area leher belakangnya. Dano merinding, Laras benar-benar membuat hasratnya naik.


Insting Dano bekerja, kakinya melangkah dan tanpa melepas ciuman mereka ia membaringkan tubuh Laras diatas kasur. Kali ini Dano yang mengambil alih, ciumannya berpindah ke area pipi, leher, dan semakin turun ke bawah.


Dano mendongak melihat reaksi Laras yang terlihat sangat menikmati sentuhannya. Senyum Dano mengembang, ia tidak pernah merasa sepuas ini ketika melihat seorang perempuan menampilkan  ekspresi erotis padanya. Dano melepas bajunya, tato yang berada di lengan dan lehernya semakin terlihat jelas. Ia kembali pada Laras, memberikan kecupan dan gigitan ringan di telinga cewek itu.


“Dano….” panggil Laras bergumam, matanya terbuka menatap Dano lekat-lekat.


“Iya Ra? Saya disini” jawab Dano berbaring di samping Laras, ia berusaha keras menahan hasratnya setiap kali melihat senyum Laras.


“Ini artinya apa?” tanya Laras menyentuh tato di dua lengan Dano. Lengan kanan bertuliskan 'person' dan kiri bertuliskan 'in eden.'


“Seseorang di surga”


“Aku juga tau.” Laras tertawa geli, ia bangkit berdiri dan merayap naik ke atas tubuh Dano. Laras duduk sementara Dano masih berbaring sembari tangannya menyentuh pinggang Laras pelan.


“Makasih…Kamu baik sama aku. Aku suka diri aku yang sekarang.”


Jari jemari Laras bermain pelan di atas dada Dano.


“Aku enggak nyangka, kalo dunia kamu bisa semenyenangkan ini.”


Dano tersenyum, senang mendengar pengakuan Laras.


“Aku mau disini, sama kamu. Aku mau terjebak di kehidupan kamu lebih lama”


“Kamu sendiri yang minta Ra.” Dano bangkit dari tidurnya, ia menarik wajah Laras pelan dan mencium lembut bibir cewek itu.


“Mulai sekarang kamu enggak bisa keluar dari hidup saya” lanjut Dano berbisik pelan, tangannya menurunkan dress Laras pelan sembari terus mengecup area dada cewek itu.


“No…Baju..” Laras tiba-tiba menjauh mengambil kaos Dano tadi, wajahnya memucat, dan tanpa diduga ia menunduk.


“Hoek…hoek.”


Dano melongo, Laras baru saja muntah tepat diatas tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2